
Beberapa hari berlalu, hingga tibalah malam pertunangan Davin dan Sevi, yang mana acara pertunangan itu diadakan dirumah Sevi (Taman). Duduk Davin dengan raut wajah yang terlihat gugup menunggu kedatangan Sevi yang tak kunjung datang.
"Nih (menjulurkan tisu), lap dulu keringat lo. Ini baru tunangan, bukan ijab kabul, udah keringat dingin gitu" bisik Garil menggoda Davin.
"Apaan sih, Bang (mengambil tisu dari tangan Garil). Gue cuma kepanasan aja" malu-malu Davin.
Datang Mami Dena menyambut hangat calon besannya, lirihnya ikut menggoda Davin untuk sabar menunggu Sevi yang sedang bersiap-siap. Davin hanya membalas dengan senyum malunya.
Waktu terus berjalan, namun Sevi tak kunjung turun. Papa Glen pun meminta istrinya untuk memanggil Sevi agar acara pertunangan ini segera dilangsungkan. Baru Mami Dena melangkahkan kaki, Sevi pun datang dengan gaun merah nan anggun didampingi Livi.
Semua orangpun dibuat melongo terpukau melihat kecantikan Sevi, terutama Davin. Disisi lain, penampilan Sevi itu justru mengingatkan Garil dengan sosok Shena yang menyukai warna merah, khususnya saat acara ulang tahunnya kala itu.
"Bener-bener semirip itu. Tapi sayang, dia Sevi, bukan Shena" batin Garil dengan tatapan terus terpaku pada Sevi.
Lirik Yola melihat Garil dengan sorot mata yang terpaku pada Sevi, geramnya dengan tatapan sinis melihat Sevi.
"Garil!. Jangan ngasih tatapan itu ke dia (Sevi). Aku harap, kamu nggak lupa siapa dia. Dia Sevi, calon tunangan, dan calon istri adik kamu, Davin" ucap Yola dengan lirih.
"Liat Sev, semua orang ngeliatin lo. Mereka semua, terpukau sama kecantikan lo" bisik Livi.
"Husstt, jangan ajak gue ngomong, gue nervous tau" sahut Sevi terus berjalan kearah Davin.
Henti langkah kakinya saat tiba di tempat acara, senyum merekah diwajah Sevi dan Davin saling menatap.
__ADS_1
"Kamu cantik. Perfect" kata Davin.
"Kamu memang cantik, cantik banget" lembut Mama Ika membelai rambut Sevi.
"Terimakasih, Tante."
"Yaudah, sekarang udah lengkap. Kita mulai aja acaranya, jangan ditunda lama-lama" sambung Mami Dena.
"Bener banget, Bu Bes" lanjut Mama Ika.
Tak menunggu waktu lama, acara pertunangan pun dimulai. Cincin saling disematkan dijari manis masing-masing, dengan senyum serta tepuk tangan bahagia para tamu undangan.
Prok prok prok..
...
Lusa kemudian, berjalan Sevi masuk ke salah satu resto yang sudah ia sewa sebelumnya untuk meating malam bersama salah satu rekan kerjanya. Tiba didalam, dengan kebetulan ia bertemu dengan Garil dan juga Yola yang ternyata juga ada ditempat itu.
Sapa hangat Sevi pada mereka berdua, "Hei, kalian ada disini juga. Kesekian kalinya, kita ketemu diresto ya."
"Sok asik banget sih" batin Yola dengan kesal.
"Eh iya, kita lagi makan malam. Mau makan malam juga?" tanya Garil.
__ADS_1
"Apaan sih Garil, sok asik juga deh!"
"Oh nggak, aku lagi ada meating. Tapi kayaknya partner meatingnya telat, katanya tadi macet."
"Yaudah, duduk sini dulu aja. Sekalian nungguin."
Kerut alis Yola kesal dan menyenggol lirih tangan Garil, "Apaan sih kamu?"
Sevi yang melihat Yola tidak suka dengannya pun menolak dengan sopan dan mengatakan kalau ia akan menunggu rekan kerjanya di meja yang sudah ia sewa. Melirik sejenak ia ke pintu masuk, dan melihat rekan meatingnya telah sampai.
"Itu dia, udah sampai" kata Sevi.
Terkejut Yola menelan ludah saat melihat rekan kerja yang dimaksud Sevi adalah Vano. Sapa Vano pada mereka dengan menjabat tangan.
"Hai. Oh iya kenalin, ini calon kk ipar saya, dan ini calon istrinya."
Yola hanya terdiam mengalihkan pandangan, dengan tangan yang lemas membalas jabat tangan Vano. Kemudian Sevi mengajak Vano untuk duduk ke meja yang sudah ia sewa.
"Kita kesana dulu ya," lanjut Sevi.
"Kita pulang," ajak Yola bergegas bangkit dari duduk.
Bingung Garil hanya mengerutkan kening dan mengikuti Yola, dari kejauhan Yola dan Vano saling menatap sejenak.
__ADS_1
...