
Dikantor, tak fokus Sevi memikirkan memikirkan video semalam. Batinnya bertanya-tanya, apakah sebenarnya dia adalah Shena.
"Kenapa, kisah gue sama Shena hampir sama. Kenapa juga gue harus amnesia. Dan siapa laki-laki yang ngasih gelang ini ke gue" lirih Sevi sambil memegang potongan gelang ditangan.
Berfikir Sevi untuk menanyakan hal itu pada Mami dan Papinya, saat mereka sudah pulang dari luar kota.
...
Beberapa hari berlalu, Sevi yang telah konsultasi ke dokter sebelumnya pun mendapat sedikit memori ingatannya dimasa lalu yang perlahan mulai kembali. Ia pun teringat dengan lelaki yang telah memberinya sepotong gelang itu.
"Fidin?" ucap Sevi terbangun dari tidurnya.
Seiring berjalannya waktu, Sevi pun mengingat satu persatu masalalunya begitu juga dengan Garil.
Ternyata benar, selama ini Sevi memanglah Shena. Termenung Sevi didalam kamar sendiri dengan perasaan yang bimbang, ia tak menyangka jika harus dihadapkan dengan situasi yang membingungkan seperti ini. Antara masalalu yang belum selesai, dan masa depan yang belum pasti.
"Aku harus gimana. Sekarang, aku mulai darimana dan harus aku akhiri seperti apa?. Chika, apa kabar kamu sekarang, kamu dimana?"
"Artinya, gue juga bukan anak kandung Mami sama Papi?" lanjut Sevi mengusap wajah dengan raut wajah sedihnya.
...
2 Minggu kemudian, yang mana hari ini adalah hari pernikahan Garil dan Yola. Datang Sevi yang dijemput Davin, bergandeng mesra menuju tempat acara.
Hela nafas Sevi tetap tenang, mencoba mengikhlaskan Garil bersama Yola tanpa memberi tahu Garil yang sebenarnya.
__ADS_1
"Mungkin, ini yang terbaik. Lagi pula, kisah Garil dan Shena itu hanya masalalu, sekarang aku adalah Sevi. Dan aku juga nggak mau ngecewain laki-laki yang bersamaku sekarang" batin Sevi dengan senyum tulus menatap Davin.
Balas Davin menggoda Sevi, "Kenapa, senyum-senyum gitu?" mencolek tipis.
Geleng Sevi dengan senyum malu-malu.
"Oh iya sayang, aku mau ke toilet dulu ya" lanjut Sevi.
"Mau ditemenin nggak?" candaan Davin.
"Hehe, nggak nggak usah."
"Hati-hati," bisik Davin.
"Eh Bik, toilet ada dimana ya?" tanya Sevi pada salah seorang pelayan.
"Mbaknya lurus aja, terus nanti belok ke kiri."
"Oh iya Bik, makasih ya."
Sendiri Yola keluar dari kamarnya dengan pakaian pengantin dan senyum liciknya merasa tak sabar untuk bertemu dengan Garil.
Tiba-tiba, saat disudut ruangan, Yola dihadapkan dengan Vano. Wajah cemas Yola mencoba menghindar dengan gugup berjalan mundur. Namun, Vano justru terus mendekat sampai badan Yola menatap dinding.
"Ka-kamu, mau ngapain. Ngapain kamu disini?" gugup Yola.
__ADS_1
Badan Vano terus mendekat dengan kedua tangan mengunci tubuh Yola. Berjalan Sevi untuk kembali ke tempat acara, namun tak sengaja justru melihat Yola dan Vano bersama, mengintip dari kejauhan.
"Vano sama Yola?" lirihnya.
"Aku, mau menghadiri pernikahan calon ibu dari anakku ini" cetus Vano.
Tertegun kaget Yola bertanya-tanya bagaimana bisa Vano tahu kalau itu adalah anaknya, begitu juga dengan Sevi yang ikut kaget tak percaya sembari menutup mulut.
"Nggak, ini anak Garil, bukan anak lo!. Lepasin gue!" panik Yola mencoba menyangkal.
Tak percaya Vano dengan senyum menggelengkan kepala, "Sayang sayang, kamu kira aku nggak tau. Pertama kali kamu pergi ke dokter untuk memeriksakan kandungan kamu, aku juga ada disana (mengintip dari balik pintu). Jauh, sebelum kasus kamu sama Garil. Jadi, udah pasti mungkin kalau anak yang kamu kandung ini adalah anak Garil."
"Tapi tenang, aku nggak akan kasih tau Garil tentang ini. Karena aku sayang sama kamu, aku juga mau kamu bahagia (senyum licik). Sekarang, aku akan ikuti cara main kamu. Aku cuma mau pengen ngucapin selamat ke kamu, sebelum kamu jadi istri orang lain, tapi tetap jadi ibu dari anak aku" lanjut Vano berjalan pergi.
Panik Yola dengan desis nafas cepat, memegang kepala dengan bingung, rasanya ia sudah terjebak dilingkaran masalah.
"Sekarang apa yang harus gue lakuin?"
"Ternyata, anak yang dikandung Yola bukanlah anak Garil, tapi anak Vano" lirih Sevi tak percaya.
Saat akan melangkahkan kaki untuk pergi, tak sengaja Sevi menabrak vas yang ada disampingnya dan menimbulkan suara yang membuat Yola menoleh panik. Bergegas Sevi pergi, namun Yola justru melihat dan langsung mengejar.
"Sevi?. Apa jangan-jangan, dia denger semuanya?" kata Yola.
...
__ADS_1