
Tiba di toko buku, Shena keluar dari mobil dengan senang mengatakan kalau dia sudah lama tidak membeli buku. Senyum Garil segera mengajak Shena masuk ke dalam toko.
Senyum Shena, "Yukk.."
Shena melihat buku-buku yang tertata rapi dengan kagum, "Wahh.. surga nya ilmu."
Mencari-cari buku yang ia butuhkan lalu bertanya pada Garil apakah dia tidak ingin membeli buku juga, balas Garil dia sudah banyak sekali buku yang tidak pernah ia baca.
Kaget shena sedikit berteriak, "Apa!.. lo nggak suka baca buku?. Oke, sekarang lo harus rajin-rajin baca buku, biar gue cari buku yang cocok buat lo. Biar gue yang belanja."
Sahut Garil menolak, "Ahh, nggak lah. Buku gue dirumah banyak nggak gue baca. Kalo gue mau, gue bisa baca buku dirumah."
Lirih Shena menyuruh Garil untuk diam.
Mencari beberapa buku untuk Garil, Shena pun menemukan buku yang salah satunya berjudul "Buku adalah jembatan ilmu", dengan senyum melihatkan buku itu pada Garil.
"Nah, ini nih buku yang cocok sama lo."
Menyuruh Garil untuk membawa beberapa buku yang sudah ia pilih, pasrah Garil sedikit keberatan dengan banyaknya buku yang Shena pilih.
"Udah banyak banget ni buku, lo yakin mau baca buku sebanyak ini?" ucap Garil.
Toleh Shena terkejut melihat tumpukan buku yang sudah ia pilih sampai menutupi wajah Garil.
"Lah, kok udah banyak aja?"
Sahut Garil menahan berat, "Nggak, kurang banyak!"
__ADS_1
Tawa geli Shena membantu Garil dengan mengambil beberapa buku di tangannya.
"Hhe, udah udah. Ni udah banyak banget."
Lirih garil senyum tipis, "Kirain mau nambah lagi."
"Oh, kalo mau nambah lagi ya boleh. Yaudah, gue ambil lagi nih."
Tahan Garil, "Eh jangan, udah berat ini. Besok lagi kita balik kesini, kalo buku lo sebanyak ini udah lo baca semua tapi.
"Siap bos."
Berdiri Shena didepan kasir dan mencoba membayar, tanya Garil pada Shena apa yang akan ia lakukan. Dengan santai Shena mengatakan kalau dia akan membayar, sahut Garil kalau ia yang akan membayar buku-buku itu.
"Ini banyak banget, biar gue yang bayar."
"Mbak, Mas. Ini jadi di bayar apa nggak?" tanya penjaga kasir.
"Eh iya mbak, maaf. Udah diem, bir gue yang bayar."
Shena menatap dengan wajah kesal namun lucu dan mengucapkan terimakasih. Senyum Garil mengangguk dan segera mengajak Shena pulang. Henti langkah Garil menoleh datar pada Shena, kerut kening Shena dengan bingung bertanya pada Garil kenapa ia melihatnya seperti itu.
"Ada yang salah?"
"Iya salah, mana coba buku yang lo beli?"
Tunduk Shena melihat tangan dan baru sadar kalau buku-bukunya lupa ia bawa, "Oh iya ketinggalan, hehe.
__ADS_1
Shena berjalan mengambil buku, "Maaf mbak, bukunya ketinggalan."
Tawa lirih Garil mengelus lembut rambut poni Shena, "Dasar cewek" gemasnya.
Senyum salah tingkah Shena melihat Garil sambil menahan beratnya buku yang ia bawa. Lirih Garil meminta buku Shena mengatakan kalau ia yang akan membawakan bukunya.
Sahut Shena menahan berat, "Biar gue aja yang bawak, ini berat."
Kerut bibir Garil dengan senyum tipis mengambil kantong berisi buku-buku dari tangan Shena, "Ya karena berat, makannya biar gue yang bawak. Udah sini."
Segera keluar dari toko dan masuk kedalam mobil, didalam mobil Garil mengajak Shena untuk makan terlebih dahulu dan bertanya makanan apa yang ingin dia makan.
Sahut Shena dengan seru menatap buku, "Nggak ah, gue nggak laper. Gue mau baca buku aja."
Garil menghidupkan mobil dan bergegas pergi, "Emang baca bku bisa bikin kenyang?"
Jawab Shena membaca buku, "Iyalah."
Senyum Garil menggelengkan kepala kembali membujuk Shena untuk makan, tapi Shena tetap menolak dan menyuruh Garil ikut membaca buku.
"Gila sih, ini buku bagus banget. Coba deh lo baca" memperlihatkan isi buku.
Senyum Garil mengatakan kalau ia sedang menyopir dan tidak bisa membaca buku.
"Iya juga ya, yaudah deh biar gue yang bacain buat lo" ucap Shena.
Tatapan lembut Garil yang melihat Shena begitu bahagia saat membaca buku.
__ADS_1
***