
Setelah Garil pulang, Shena hanya duduk terdiam di dalam kamar. Chika yang melihat Shena merasa begitu kasihan dan berusaha menghibur.
"Oh iya sen, kita belajar yuk gue ambil dulu bukunya ya."
Lirih Shena dengan muka lemas, "Gue lagi males."
Chika terdiam sebentar lalu bicara lirih pada Shena untuk bisa melupakan kejadiannya tadi, dan mengatakan kalau dia tidak sendirian dan tidak perlu takut.
Shena dengan wajah yang begitu tertekan, "Gue nggak takut sama sekali Cik. Cuman yang gue nggak ngerti, kenapa ayah gue sendiri jahat sama gue dan mau ngejual gue. Sebenernya apa sih salah gue, gue ini anaknya sendiri tapi kenapa dia jahat banget sama gue. Gue nggak suka ini, gue benci sama ayah gue.. gue benci!" teriak Shena menangis tersedu-sedu sambil memeluk erat Chika.
Lanjut Shena menatap Chika, "Kebahagiaan gue selalu direnggut dari gue, apa gue emang nggak pantes bahagia. Terus kalo gue nggak di kasih kebahagiaan, kenapa gue harus hidup." tanya Shena sambil menangis.
Chika ikut merasakan sakit yang Shena rasakan, menghapus air mata Shena dan memeluk erat. "Elo nggak boleh ngomong gitu Sen, lo pantes bahagia kok. Lo bisa bahagia, dan kita bakal cari kebahagiaan itu."
__ADS_1
Tangis Shena, "Kebahagiaan yang mana Cik."
Chika yang tidak bisa berkata-kata hanya memeluk erat Shena dan memintanya untuk menenangkan diri dan menyuruhnya tidur.
Beberapa saat, Chika sudah tertidur sementara Shena memiringkan badan dengan tatapan kosong masih memikirkan kejadiannya tadi.
Garil pulang membuka pintu segera duduk dikasur dengan wajah yang lelah, Exel bermain ponsel melihat Garil sedikit kaget dengan tanda lebam di pipi Garil. Spontan Exel meletakkan ponselnya dan bertanya pada Garil apa yang terjadi padanya.
Heboh Exel, "Kenapa bisa lebam gini Ril, siapa yang nonjok lo. Bilang sama gue, biar gue tonjok balik."
Garil menceritakan pada Exel tentang kejadian yang terjadi di restoran, dan tanda lebam di pipinya karena ayah Shena. Tertegun sebentar, Exelpun bertanya pada Garil apakah dia baik-baik saja dan bertanya bagaimana dengan Shena. Sahut Garil kalau dia tidak kenapa-napa, tapi dia merasa kasihan dengan keadaan Shena yang pasti sangat tertekan.
Lanjut Garil, "Gue nggak habis pikir sama bokap dia, kenapa bisa sejahat itu sama anaknya sendiri. Shena pasti tertekan banget, padahal dia udah mau cari kebahagiaannya lagi. Tapi Ayahnya selalu ngehancurin."
__ADS_1
"Atau jangan-jangan.. dia bukan ayah Shena lagi!" ucap Exel sembarang.
Garil sedikit berfikir, "Ahh nggak usah ngaco deh. Dahlah gue mau ke kamar mandi dulu."
Shena yang tidak bisa tidur lalu bangun dan duduk bersandar, membuka laci dan mengambil foto sang mama. Bicara lirih dengan menatap foto mamanya kalau dia sangatlah rindu.
Terus Shena menangis lirih, "Shena harus gimana ma?"
Chika yang mendengar suara, menoleh membuka mata dengan sayup sambil mengusap wajah. Lalu duduk memegang pundak Shena dan bertanya kenapa dia menangis, Chika melirik kearah foto yang dipegang Shena.
"Sen.. udah dong jangan sedih terus, gue tau kok kalo lo kangen sama Mama lo dan pasti banyak banget sesuatu yang pengen lo ceritain sama Mama lo. Tapi sekarang situasinya udah beda Sen, lo nggak bisa terus-terusan larut dalam kesedihan. Di sini kan ada gue, Lo bisa cerita apapun sama gue" menghapus air mata Shena.
Chika menyuruh Shena tidur lalu mengambil foto ditangannya dan meletakkan foto itu dimeja.
__ADS_1
***