
Masih lanjut episode diatas ya guys👌.
Malam hari, Chika duduk dikasur mengerjakan beberapa tugas kuliah dan Shena keluar dari kamar mandi mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk. Dengan kepala yang diperban kecil duduk dikasur sedikit mengeluh karena tugas yang begitu banyak.
Seru Shena, "Ini ni beban hidup, bukannya dikurangin malah ditambahin."
Lirih Chika sedikit melawak, "Kayaknya yang salah bukan tugasnya Sen, tapi yang ngasih deh."
Sahut Shena melucu, "Salut banget gue, yang ngasih tugas emang nggak punya tugas lain."
"Ya kan emang tugasnya."
Merekpun segera mengerjakan tugas mereka, Chika menatap Shena dan bertanya apakah keningnya masih terasa sakit.
Sambil mengerutkan alis Shena membalas, "Lah perasaan gue daritadi nggak bilang kalau kening gue sakit tu."
Chika menelan ludah menatap aneh Shena, "Elo kali yang sakit. Masak iya kepala berdarah tapi nggak sakit, aneh deh lo."
Lirih Shena, "Lo kali yang aneh. Udah buruan kerjain tu tugas, ntar nggak selesai nyuruh gue yang ngerjain lagi."
Garil duduk dikasur sambil bermain game bersama Exel, seketika teringat dengan Shena dan menghentikan permainannya sedikit berfikir. Exel bertanya ada apa dengannya, Garil mengatakan kalau dia sedang memikirkan Shena apakah dia baik-baik saja.
__ADS_1
Exel asik bermain game memberi saran pada Garil kenapa dia tidak mencoba menelfonnya saja, setuju Garil dan langsung menelfon. Garil menelfon Shena melalui whatsapp tapi tidak aktif, mencoba menelfon melalui nomor pribadi dan tetap tidak aktif.
Garil memasang wajah sedikit kecewa, "Hmm. nggak aktif."
Exel sedikit menenangkan, "Yaudah kali, siapa tau dia lagi sibuk belajar. Shenakan emang kerjaannya belajar.. terus."
Garil memberi saran menoleh Exel dan memintanya mencoba menelfon Chika.
Heran exel, "Lah kenapa Chika, mau main api lo ya?
Sahut Garil, "Apaan sih, kan Chika temen Shena. Makannya gue nyuruh lo nelfon dia."
Seru Exel tertawa lirih, "Hhe.. iya iya."
Klung-klung..
Hp Chika berbunyi, teriak Shena pada Chika. Balas Chika meminta Shena untuk menjawab. Karena tak mau, Shena pun mengatakan kalau itu adalah panggilan dari Exel. Saat mendengar nama Exel, Chika langsung bergegas mengambil ponselnya.
"Cepet banget.." lirih Shena.
Sumringah Chika menyapa Exel, balas Exel memanggil Chika dengan sebutan sayang. Tiba-tiba, Garil langsung mengambil ponsel Exel. Kerut alis Chika bertanya pada Garil kenapa ia mengambil ponsel Exel. Tak banyak menjawab, Garil pun bertanya di mana Shena sekarang. Kerut bibir Chika sedikit kesal lalu mengarahkan ponselnya di wajah Shena.
__ADS_1
Lirih Shena sambil memainkan laptop, "Apa sih Cik?"
Sejenak Shena melirik, dan dengan senyum lebar Garil menyapanya. Hela nafas Shena dan melanjutkan lagi tugasnya, bingung Garil harus memulai kata dari mana. Basa-basi Garil bertanya pada Shena apakah kepalanya masih sakit, sahut Shena menjawab kalau tidak sama sekali.
"Lo udah minum obat kan?"
Cibir Exel dengan wajah lucunya melihat Garil yang sok peduli, lirik Garil meminta Exel untuk diam.
"Gue nggak kenapa-napa kali, santai aja."
"Garil tu basa-basi aja Sen, aslinya dia tu kangen sama lo. Berhubung hp lo nggak bisa di hubungi, alhasil dia mengorbankan gue" ejek Exel.
Datar Garil menatap Exel, "Ee, dasar mulut cewek" lirihnya.
"Bodo amat."
"Sekarang lo mau ngapain, udah jangan ganggu mereka (Chika dan Exel). Biarin dia telfonan."
"Gue cuma mau pastiin lo baik-baik aja. Karena, setelan gue liat lo, gue jadi lebih tenang."
Malu-malu Shena, "Apaan sih."
__ADS_1
***