
Yola pulang dengan wajah penuh emosi dan menangis, berjalan cepat menuju kamar membanting pintu. Cemas Mama Rita (Mama Yola), menaruh buku yang ia baca dan bergegas menghampiri Yola. Dibalik pintu, Mama Rita mendengar teriakan Yola dan tangis histeris sambil membanting barang-barang. Pintu yang dikunci tak bisa membuat Mama Rita masuk, teriak Mama Rita memanggil Yola mengetuk pintu.
(Note: Mama Rita selalu memanjakan Yola dengan kasih sayangnya, dan menganggap apapun yang Yola lakukan selalu benar).
"Sayang, kamu kenapa?. Buka pintunya!" teriak Mama Rita khawatir.
Beberapa kali Mama Rita mengetuk pintu dan meminta Yola membukakan pintunya, Yola yang tak mau mendengar menatap cermin dengan penuh kebencian. Teriak Mama Rita memanggil Papa Yola, Papa Yola yang mendengar suara teriakan langsung bergegas menghampiri.
"Kenapa Ma?" ucap Papa Han (Papa Yola).
"Yola Pah, tadi tiba-tiba dia pulang sambil nangis-nangis. Terus sekarang pintunya dikunci, Mama khawatir" kata Mama Rita.
Papa Han mencoba mengetuk pintu sambil mendobrak, namun pintu itu tidak mau terbuka.
"Sayang, buka dong pintunya. Jangan bikin Mama khawatir!" bujuk Mama Rita.
Sesaat, Yola keluar dengan mata sembab dan rambut yang berantakan menatap datar orang tuanya. Senang Mama Rita melihat Yola, memegang pipinya sambil membenarkan rambut Yola. Mama Rita kembali bertanya pada Yola apa yang sebenarnya terjadi dengannya, sambung Papanya yang juga khawatir.
Tersenyum Yola seolah emosinya berubah, menjawab pertanyaan kedua orang tuanya dengan santai mengatakan kalau dia tidak kenapa-napa.
"Kamu kenapa si sayang?, kamu tadi teriak-teriak nangis gitu. Kamu kalau ada masalah, cerita sama Mama Papa.
__ADS_1
"Hhe. Yola beneran nggak papa Mah, Pah. Maafin Yola udah bikin kalian khawatir."
Tatapan bingung kedua orang tuanya melihat tingkah Yola yang aneh. Yola meminta agar orang tuanya kembali dengan mengatakan kalau ia ingin istirahat.
"Biar Mama temani kamu ya?"
"Nggak Mah, nggak perlu. Yola mau istirahat dulu ya" tenang Yola memegang pundak mamanya lalu segera masuk kamar.
Terhenti Garil yang sudah tiba dirumah Chika, Shena menaikan alis melihat Chika dan Exel yang masih berdiri didepan rumah dan segera turun dari mobil.
"Kalian ngapain disini, bukannya buruan masuk hhe" ejek Shena.
"Yaudah, kita pulang dulu ya" ucap Exel mengajak Garil.
"Kenapa buru-buru, kalian nggak mau masuk dulu?" lirih Shena.
Angguk Chika mengiyakan ucapan Shena, lanjut Garil mengatakan kalau ini sudah malam.
"Pastinya, kalian juga capek. Jadi kita pulang aja" terusnya.
Angguk Shena, mereka lalu berpamit saling mengelus lembut pundak.
__ADS_1
"Kita pulang dulu ya," lirih Garil dan Exel bersamaan.
"Hati-hati" senyum tipis Shena melambaikan tangan.
"Dah ayang," sambung Chika.
Gandeng tangan Shena dan Chika segera masuk. Terduduk dikamar sambil bersandar memakai baju tidur saling menghelakan nafas.
"Santai dulu deh, capek gue liat drama si Yola tadi. Rasanya ya Sen, pengen gue remes aja mulut si Yola tadi. Gemes banget gue sama dia. Lagian kan dia yang ninggalin, dia juga yang selingkuh. Ngapain pakek acara kayak tadi, malu-maluin diri sendiri aja deh" ucap Chika.
"Ya mana gue tau" letih Shena.
Lirik chika kembali bertanya pada shena apakah benar dia tidak kenapa-napa, sahut Shena sambil menutup mata mengangkat mengiyakan.
"Tapi lo tau nggak sih sen, waktu lo nyemplung tadi. Garil sama Fidin langsung sigap banget nolongin lo, terus mereka berdua berenang kearah lo. Udah kayak cowok-cowok di drakor gitu" tersenyum senang Chika membayangkan dengan mata menatap langit-langit menggenggam kedua tangan.
"Dih lo, temennya lagi susah lo malah seneng. Udah ah mau tidur, capek"
"Ya nggak gitu Sen. Senangnya baru sekarang, tadi gue juga sedih kali"
Next👇.
__ADS_1