BERIKAN AKU CAHAYAMU

BERIKAN AKU CAHAYAMU
Aku akan pulang


__ADS_3

Kesal Yola meluapkan emosinya dengan barang-barang yang ada di dalam mobilnya diiringi tangis kebencian pada bayang-bayang masalalu (Shena) yang membara.


"Brengsek!. Lo nggak bisa lakuin ini sama gue Garil!. Lo, nggak punya hak untuk hancurin hati gue!. Haah!"


Citt.. duarr..


Menghentikan mobil secara mendadak, dan tak sengaja mobil yang ada di belakangnya menabrak lirih. Kesal Yola membuka seat belt dengan paksa, dan segera turun. Teriak kekesalannya sambil menunjuk ke arah mobil yang menabrak mobilnya.


"Keluar lo!. Lo punya mata nggak sih!"


Perlahan orang yang berada di dalam mobil itu keluar, tersorot dari kaki pria dengan penampilan yang macho dengan kaca mata. Tatapan terkejut Yola saat melihat laki-laki itu yang tidak lain adalah Vano (seorang laki-laki yang menjadi alasannya meninggalkan Garil dan memilih untuk kuliah di Jerman kala itu).


Vano langsung membuka kaca mata yang di pakainya, dengan ekspresi yang sama terkejut saat melihat wanita yang ada di hadapannya benar-benar Yola.


"Ka-kamu, ngapain disini!"


"Kamu tenang aja, aku dateng ke sini karena ada pekerjaan yang harus aku selesain dalam beberapa bulan ke depan aja."


"Terserah, nggak penting juga buat aku" ucap Yola segera pergi.

__ADS_1


Henti Vano menarik tangan Yola, sinis Yola menatap dan melempar keras tangan Vano.


"Lepasin!"


Lirih Vano meminta maaf dan bertanya pada Yola kenapa saat itu ia pindah dari Jerman tanpa memberitahunya.


"Hehe, kasih tau lo?. Kenapa gue harus kasih tau sama cowok yang udah duain cinta gue!"


"Sorry, gue nggak bermaksud duain lo. Gue bener-bener khilaf, gue minta maaf" memegang tangan Yola.


Yola kembali melempar tangan Vano dengan penuh emosi, "Gue udah nggak peduli sama lo!"


Segera masuk ke dalam mobil dan pergi meninggalkan Vano, lirih Vano bicara dengan senyum tipis menatap kepergian Yola.


Wajah lelah Sevia yang baru pulang, lirihnya menyapa salah seorang pembantu rumahnya.


Ramah Bik Ani (pembantu) menawarkan minuman pada Sevia, sahut Sevi kalau dia hanya ingin istirahat saja.


"Duluan ya bik."

__ADS_1


"Iya Non."


Masuk ke dalam kamar dan menaruh tas di tempatnya, berjalan menuju kamar mandi untuk membasuh muka. Sesaat Sevi keluar sambil mengelap wajahnya dengan handuk, menatap dirinya didepan cermin dan sesaat ia teringat dengan perlakuan Garil padanya. Lirihnya bertanya pada diri sendiri apakah ia semirip itu dengan mantan Garil.


"Ngapain gue pikirin, bukan urusan gue juga kan" tersadar.


Terduduk Sevi di meja kerjanya dan kembali membuka laptop untuk mengerjakan beberapa pekerjaan kantor yang belum ia selesaikan. Beberapa saat berlalu tiba-tiba ponselnya berbunyi, senyum Sevi saat melihat seseorang menelfonnya.


"Hai sayang" sapa Sevi dengan bahagia.


"Hai juga sayang" balas Davin.


Davin merupakan pacar dari Sevi, dan mereka sudah menjalin hubungan kurang lebih 3 tahun dan berniat memperjelas hubungan mereka ke jenjang yang lebih serius. Davin memberitahu Devi kalau ia akan menetap di Indonesia dan akan pulang dalam 1 Minggu lagi.


"Beneran!, kamu mau tinggal di Indonesia?"


"Beneran dong. Dan nanti, kalau aku udah pulang ke Indonesia, aku bakal kenalin kamu sama orang tua aku."


"Aku nggak tau mau bilang apa lagi, yang pasti aku seneng banget. Aku akan tunggu kamu, dahh.." senang Sevi.

__ADS_1


Senyum bahagia Sevi menggenggam erat ponselnya.


***


__ADS_2