
Lanjutan episode diatas ya reader😊.
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian👍.
Shena hanya terdiam menatap garil tanpa sepatah kata keluar dari mulutnya.
"Kenapa diem?. Lo denger kan apa yang gue omongin." Ucap garil memegang lembut kedua pundak shena.
Shena mengangguk menjawab gugup, "I-iya gue denger, terus?.."
Garil yang tidak mau terlalu memaksa shena untuk mengiyakan ucapannya pun memberikan shena sebuah pilihan. Dimana jika shena hanya menganggap mereka sebatas teman maka cukup memegang tangan kiri, jika ia memilih untuk menjalin hubungan (pacar) harus memegang tangan kanan, dan dipilihan terakhir jika shena ingin menjalin komitmen harus memegang kedua tangan.
Garil menutup mata dan menyuruh shena untuk segera memilih diiringi dengan rintikan air hujan yang membasahi seluruh tubuh mereka. Perlahan shena mengangkat sebelah tangannya meletakkan ditelapak tangan kanan garil dan perlahan juga garil membuka mata. Shena langsung meletakkan lagi sebelah tangannya di tangan kiri garil, dan memutuskan untuk menjalin komitmen.
Tanya garil dengan nada sedikit lesu, "Kenapa komitmen?."
Tarikan nafas shena memberikan senyum termanisnya, "Sebenernya.. gue juga sayang sama lo. Tapi kenapa gue memilih buat jalin komitmen?, karena ketika kita memilih untuk berkomitmen maka disitulah kita harus bisa jaga komitmen kita."
"Terus kenapa gue nggak memilih pacaran?, karena gue nggak mau ketika kita ada masalah dan nggak bisa menyelesaikan nya secara dewasa.. terus kita milih jalan buat putus. Akhirnya terciptalah kata mantan, gue nggak mau. Lagian komitmen itu asik sih, karena disitu kita bisa jadi pacar, sahabat, temen dan yang pasti nggak akan ada kata mantan sih." Sambung shena memegang sebelah dada garil
__ADS_1
Senyum garil mengangguk lalu menggenggam tangan shena yang ada dipundaknya, "Oke, komitmen?."
"Komitmen!." Lanjut shena.
Saling memeluk erat, menikmati tiap rintik hujan dengan tawa lepas diwajah mereka.
"Shena.. gue sayang sama lo, gue cinta sama lo.." Teriak garil bicara pada semesta.
Melotot shena menutup mulut garil, "Ihh jangan teriak-teriak, malu ah." melihat sekeliling tempat.
"Nggak akan ada yang denger, kan gue udah sewa tempat ini khusus buat kita (menyentil hidung shena)."
"Hha, niat banget. Ternyata lo bucin juga ya.."
"Sekarang kita hapus panggilan lo gue. Tapi.. aku kamu."
Lirih shena memainkan rambut garil, "I.. love.. you."
"I.. love.. you.. more." Memegang lembut rambut shena.
__ADS_1
Entah apa terlintas dalam pikiran shena, berlari menuju tempat duduknya tadi.
"Mau kemana?."
"Tunggu sebentar!." Lari shena.
Sesaat datang dengan membawa ponsel ditangannya, garilpun langsung bertanya apa yang akan ia lakukan dengan ponselnya.
"Mengabadikan momen. Karena tepat dimalam tanggal 10 ini ada cowok asing yang bisa buat gue sebahagia ini."
"Dan ditanggal 10 ini, gue baru tau cewek yang dulunya anti yang namanya laki-laki, bad girl ternyata bucin akut." Ejek garil.
Pose bahagia, receh dan jail mereka sebagai awal momen terdekat mereka. Saling merangkul, berbaring diatas hijaunya rerumputan dan dibawah tirai hujan menatap langit dengan 2 tangan yang saling menggenggam erat.
"Eh bintang itu indah ya?."
"Mana bintang?, perasaan nggak ada." Tanya shena sambil mencari.
"Iyalah nggak ada, malam ini bintangnya lagi bersembunyi karena nggak tahan melihat dua insan yang sedang jatuh cinta."
__ADS_1
"Hha..dasar bucin tukang gombal. Yang paling bener tu, bintangnya bersembunyi karena mendung."
Next👇.