BERIKAN AKU CAHAYAMU

BERIKAN AKU CAHAYAMU
Flashback II


__ADS_3

Masih lanjutan episode sebelumnya ya guys 🤗.


Jelas Mami Dena mengatakan bahwa Sevi memanglah anak kandungnya, hanya saja ia terpaksa harus terpisah dengan Sevi selama bertahun-tahun dan kembali dipertemukan dalam kecelakaan yang sudah menimpa Sevi 5 tahun silam.


"Maksud Tante?"


"Iya, Sevi itu anak Tante. Anak kandung Tante."


Singkat Mami Dena menceritakan kejadian di masalalu yang menyebabkan Sevi terpaksa jauh darinya.


Flashback, kala itu saat usia Sevi yang baru menginjak 1 tahun, terjadi kecelakaan pada keluarga kecil mereka. Yang mana mobil yang mereka kendarai saat itu telah mengalami rem blong, dan menyebabkan seorang wanita yang sedang hamil harus kehilangan anaknya yang masih dalam kandungan sehingga membuat rahim wanita itu bermasalah dan tidak dapat mengandung lagi.


"Keluarga itu, tidak lain adalah orang yang sudah membuat Tante harus jauh dari Sevi."


"Maksud Tante, Om Sandi?" insting Garil.


Angguk Mami Dena mengiyakan. Iapun merasa prihatin dan bersalah atas kejadian kecelakaan itu. Dan untuk menebus rasa bersalahnya, Mami Dena dan Papa Glen memutuskan untuk merawat Sevi bersama dengan keluarga Sandi.


Tanpa fikir panjang, Sandi beserta istrinya menyetujui tawaran itu. Beberapa Minggu berlalu semua berjalan baik, hingga satu bulan kemudian terjadi kejadian yang tak mereka duga. Yang mana Sandi telah membawa Sevi pergi secara diam-diam.

__ADS_1


Selama bertahun-tahun mereka mencari Sevi, namun tak kunjung menemukan titik terang yang membuat mereka begitu terpukul atas kejadian itu.


Hingga akhirnya, saat ia berada di rumah sakit beberapa tahun lalu, ia melihat seorang gadis terbaring tak berdaya keluar dari ambulance dengan keadaan yang memprihatinkan dan beberapa luka di tubuhnya.


Entah bagaimana bisa saat melihat gadis itu hatinya terasa sesak dan sakit bak teriris, dengan langkah kaki berjalan mendekati si gadis.


Lembutnya sentuhan ia berikan dengan tatapan tulus yang dibalas tipis oleh si gadis namun dengan tangan yang terus mengepal.


"Mah, apa yang Mama lakuin?" ucap Papa Glen sembari memegang lembut pundak istrinya.


Tak berselang lama perawat pun membawa gadis itu pergi, diiringi tangan sang gadis yang lemas tak berdaya membuka perlahan kepalan tangan. Sebuah kalung pun menjulur jatuh tertinggal dari tangan si gadis, kerut Mami Dena melihat kalung itu berjalan lirih mengambilnya.


Hening sejenak menatap kalung yang tidak asing dimatanya, yang mana kalung itu sama persis dengan kalung pemberian keluarganya yang telah ia berikan pada Sevi. Iapun mencoba liontin itu, terkejutnya saat melihat foto masa kecil Sevi yang masih terpasang di dalam liontin.


Papa Glen pun ikut dibuat terkejut saat melihat foto itu.


"Sevi?" ujar Papa Glen.


Sejenak mereka saling menatap paham, "Anak kita?" ucap mereka serentak.

__ADS_1


Segera Mami Dena dan Papa Glen pun berlari kecil menyusul gadis itu yang telah masuk ke dalam ruang ICU. Tangis mereka pun pecah melihat keadaan anaknya yang berbaring tak berdaya.


"Sus, tolong selamatkan gadis itu ya. Saya mohon!"


"Pastinya kita akan berusaha semaksimal mungkin, Buk" bergegas perawat itu masuk ke ruangan.


Beberapa jam berlalu dengan cemas Mami Dena dan Papa Glen menunggu kabar, akhirnya dokter pun keluar.


"Maaf sebelumnya, Bapak sama Ibuk ini siapa pasien?"


"Kita orang tuanya, Dok. Anak saya baik-baik saja kan?"


Tenang dokter itu mengatakan kalau keadaan pasien baik-baik saja dan telah melewati masa kritisnya. Namun, dokter itu juga menjelaskan bahwa terdapat benturan hebat pada kepala pasien yang membuat pasien pastinya akan kehilangan memori ingatannya dimasa lalu dan akan sembuh seiring berjalannya waktu.


"Saya permisi dulu."


Untuk memastikan, Papa Glen dan Mami Dena berinisiatif untuk melakukan tes DNA menggunakan rambut gadis itu.


Setelah beberapa jam menunggu, hasil tes pun keluar yang menyatakan bahwa DNA mereka dengan gadis itu cocok. Senang sekaligus sedih mereka telah kembali bertemu dengan sang anak meskipun dengan keadaan yang memprihatinkan.

__ADS_1


Dan saat itulah mereka memutuskan untuk pindah ke Singapura dan memberikan pengobatan pada anaknya di sana, sekaligus menyelesaikan pekerjaan sang suami yang belum terselesaikan.


...


__ADS_2