BERIKAN AKU CAHAYAMU

BERIKAN AKU CAHAYAMU
Pertemuan kesekian kali


__ADS_3

Diwaktu yang bersamaan, Fidin melihat Shena dalam bahaya. Iapun segera turun dari mobil dan membantunya, berkelahi hebat dengan ayah Shena. Dengan rasa takut Shena berteriak meminta bantuan, tak lama beberapa warga yang lewat segera menghampiri dan menolong.


"Kenapa neng, ada apa?" Tanya salah satu warga.


Sahut Shena dengan khawatir, "Pak tolongin temen saya."


Wargapun segera membantu teman Shena (fidin), dan mengamankan ayahnya.


"Lepasin, jangan ikut campur. Dia anak saya, saya cuma mau mengambil dia kembali!" Teriak ayah Shena memberontak.


"Apa bener neng yang diucapkan bapak ini?"


"Dia memang ayah saya. Tapi sekarang dia penjahat, dia selalu maksa saya dan mau jual saya hanya demi harta. Bahkan dia selalu melakukan kekerasan pada saya, dia bukan ayah saya. Tolong bawa dia pergi.." Ucap shena menahan tangis.


Wargapun segera membawa ayahnya pergi dan melaporkan pada pihak polisi. Fidin langsung menghampiri Shena dan mencoba menenangkannya sambil mengelus lirih pundak Shena. Shena yang tak bisa membendung kesedihannya, secara tak sadar memeluk Fidin dengan tangis sesak.


Bingung Fidin mengelus pelan rambut Shena, "Udah, lo jangan nangis lagi. Mending kita pulang, biar gue anter lo."


Shena melepaskan pelukannya sambil mengelap air mata dengan tangan, "Sorry, tapi mobil gue?."


"Yaudah, nanti biar gue hubungi temen gue. Lagian ban mobil lo kempis juga."


Angguk lirih Shena menahan kesedihan, Fidin mencoba memapahnya namun Shena menolak lembut dengan mengatakan kalau dia bisa sendiri.

__ADS_1


"Eh sebentar," Shena kembali kedalam mobil dan mengambil kotak kenangannya.


Dengan santai Fidin bertanya pada shena kotak apa yang ada ditangannya, datar Shena menjawab Fidin kalau ia tak perlu mengetahuinya. Fidin terdiam mengangguk dan segera masuk kedalam mobil, lirik shena melihat wajah Fidin yang babak belur akibat ulah ayahnya.


"Astaga muka lo, berdarah lagi. Sini biar gue obatin, mana kotak p3k?" Ucap Shena.


Tolak fidin mengatakan kalau wajahnya tidak kenapa-napa, Shena pun memaksa dan mengatakan kalau dia bertanggung jawab atas semuanya.


"Udah, dimana kotak p3k nya?."


Lirik fidin memberitahu kalau kotak yang ia cari ada dibelakang, "Lagi sedih masih sempet-sempetnya mikirin orang lain."


Sahut Shena meraih kotak p3k, "Gue nggak mikirin, gue cuma mau bantu aja."


Lirih Shena mengelap luka diwajah Fidin, "Mau bilang bukan tapi iya, mau bilang iya tapi faktanya seperti yang lo liat barusan. Gue nggak tau."


"Kenapa bisa ayah sekadar itu sama anaknya sendiri?" Heran fidin.


"Ya buktinya bisa kan. Tapi maaf gue nggak bisa cerita banyak sama orang asing."


"Nggak papa, gue paham" Diam Fidin dengan tatapan penuh makna.


Selesai mengobati luka fidin Shena bertanya apa yang sedang dilihatnya, senyum tipis Fidin mengalihkan pandangan dan fokus pada jalan.

__ADS_1


"Lo sendiri?"


Kerutan bibir shena menggeleng, "Nggak. Gue punya temen yang selalu ada buat gue, dan gue dapet keluarga baru saat gue kehilangan keluarga lama gue."


"Mama lo?"


Lirik Shena dengan senyum tipis, "Hhe, mama gue udah nggak ada."


Dengan wajah bersalah, fidin meminta maaf karena sudah lancang bertanya seperti itu.


"Nggak, nggak papa. Karena itu faktanya."


Tak lama Shena menunjuk kedepan meminta fidin menghentikan mobilnya.


"Ini rumah lo?" Tanya fidin.


"Rumah temen gue," Kata Shena.


Saat akan turun Shena menawarkan fidin untuk mampir terlebih dahulu, tolak fidin dengan sopan mengatakan kalau sekarang ia tidak bisa dan mungkin lain kali.


"Iya udah, gue nggak bisa maksa lo sih (senyum Shena). Tapi makasih banyak, karena lo tadi udah nolongin gue. Sekali lagi makasih ya."


"Sama-sama, gue pulang dulu" Sejenak menatap saling memberi senyum tipis.

__ADS_1


__ADS_2