
Malam hari, bersiap-siap Sevi dengan dress dan tampilan yang Anggun sambil merapikan rambut didepan kaca, yang mana Davin telah mengajaknya untuk diner romantis.
"Tumben banget Davin ngajakin gue diner romantis. Mmm, mau liat gue, seromantis apa sih dia kalo diner berdua" senyum-senyum Sevi.
Tuk tuk..
"Permisi, Mbak" ketukan pintu seorang pembantu.
"Iya Bik, masuk aja" ucap Sevi.
"Itu Mbak, dibawah ada Mas Davin."
"Oh iya Bik, bentar lagi Sevi turun. Makasih ya, Bik."
Angguk pembantu itu lalu keluar. Dengan segera, Sevi mengambil tasnya dan segera turun, berkaca sebentar untuk merapikan pakaiannya.
"Hai Mi, Pi. Hai sayang" sapa Sevi.
Ucap mereka membalas sapaan Sevi, lalu terdiam dengan senyum kagum melihat penampilan Sevi. Lirih Mami Dena memuji penampilan anaknya yang begitu terlihat amat cantik.
"Siapa dulu Maminya, Mami Dena" balas Sevi menggoda.
"Papanya?" sambung Papa Glen.
"Papa Glen dong" sahut Sevi.
Lirih Sevi meminta izin untuk pergi keluar bersama Davin, angguk mereka dengan setuju memberi izin anaknya.
"Tante sama Om, titip Sevi ya, Davin" lembut Mami Dena.
"Tenang aja Tan, Om. Tanpa Tante minta, Davin akan selalu jagain Sevi kok. Yaudah Tan, kita pergi dulu ya."
Bersalaman.
Ditengah perjalanan, lirik Davin terus memandang Sevi, balas Sevi menoleh dan menggoda kekasihnya itu.
__ADS_1
"Udah, nggak usah diliatin gitu. Aku tau kalo aku cantik, jadi biasa aja, santai" PDnya.
"Bedak kamu berapa lapis?" humor Davin.
Toleh Sevi menatap Davin dengan wajah bete menahan tawa, "Ihh, sayang. Bukannya dipuji gitu, malah dikatain" menyilang kan tangan.
"Ihh, kok ngambek. Udah jangan ngambek gitu, aku cuma becanda aja (mencolek dagu Sevi). Kamu tu cantik, cantik banget malah."
"Oh.. maksud kamu, kalo aku nggak cantik, kamu nggak mau gitu?"
"Ya nggak gitu, Sayang. Cantik itu, bukan cuma dilihat dari fisiknya, tapi dari hatinya. Dan kamu, punya keduanya."
Senyum malu-malu Sevi salah tingkah.
...
Tiba mereka di salah satu resto, lirih Sevi bertanya pada Davin kenapa resto itu sepi tak ada pengunjung.
"Menurut kamu?"
Toleh Sevi sejenak menatap, "Kamu sewa?"
"Ihh, sok romantis deh."
"Belom tau aja kamu, ini cuma segelintir" lucu Davin seolah bersyair.
"Prett.." cibir Sevi.
Sweet Davin menggandeng jemari Sevi menuju meja yang sudah ia BO.
"Selamat menikmati, Sayang."
"Terimakasih, Sayang."
Tiba-tiba, saat Sevi akan menyuap makanan ke mulutnya, ia mendapat kilasan bayang-bayang samar yang mengganggu pikirannya, lirihnya memegang kepala. Kerut Davin bertanya pada Sevi dengan nada khawatirnya berjalan menghampiri.
__ADS_1
"Kamu kenapa Sayang, kepala kamu sakit?"
"Nggak nggak, aku nggak papa kok. Kita lanjutin makan aja ya."
Angguk Davin kembali duduk.
...
Ditengah perjalanan pulang, tiba-tiba Davin menghentikan laju mobilnya. Tanya Sevi apakah mobil yang mereka tumpangi mogok, geleng Davin menjawab kalau ia sengaja menghentikan mobilnya.
"Kenapa?"
Lirih Davin membuka seat belt dan turun dari mobil tanpa menjawab sepatah kata. Kerut bingung Sevi menyusul Davin yang sedang berdiri di depan mobil.
"Kamu kenapa sih, Sayang?. Kenapa tiba-tiba berhenti?"
Hela nafas Davin menatap Sevi sambil mengambil tarikan nafas, "Malam ini, aku tanya dan aku mau tau jawaban kamu."
"Apa?"
Tiba-tiba, bersimpuh Davin dihadapan Sevi dengan mempersembahkan sebuah cincin yang begitu indah.
"Jadi pasangan hidupku, dan menikah denganku."
Melongo Sevi seperti jantungnya berhenti berdetak, "Ka-kamu, ngelamar aku?"
Angguk Davin dengan senyumnya. Namun, bukannya menjawab, Sevi justru menangis tersegu. Khawatir Davin segera bangkit sambil menenangkan kekasihnya, lirihnya bertanya dengan lembut kenapa ia justru menangis.
"Jangan nangis dong, aku nggak mau maksa kamu. Kalau, kalau kamu nggak mau, juga nggak papa. Tapi jangan nangis gini.
Sedih Sevi menghapus air matanya lalu menepuk lirih pundak Davin, "A-aku nangis bukan karena aku nggak mau. Ta-tapi, aku nangis karena aku bahagia, aku seneng."
"Itu artinya, kamu mau?"
Angguk Sevi dengan wajah menangis bahagianya nan lucu. Senyum Davin memegang lembut jemari Sevi dan memasukkan cincin ke jemarinya (Sevi).
__ADS_1
Hangat mereka saling memeluk.
...