
Tanya Chika terduduk diatas kasur, memegang kedua pundak Shena apa yang sebenarnya terjadi dengannya dengan penuh kecemasan. Malu Shena atas kejadian yang menimpanya, langsung memeluk erat Chika menangis tersedu tak bisa berkata-kata.
Lirih Chika mendengarkan Shena, memegang lembut dagunya menghapus air mata Shena dan menatap matanya. Meminta pembelanjaan pada Shena tentang apa yang sebenarnya terjadi.
"Coba lo jelasin pelan-pelan sama gue, lo kenapa Sen?. Lo jangan nangis gini."
Dengan air mata yang menetes, Shena pun perlahan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Ekspresi terkejut Chika tak menyangka dengan perbuatan keji yang Fidin lakukan, tak kuasa Shena menahan tangis saat menceritakan kejadian yang menjijikkan dalam hidupnya.
"Tubuh gue udah ternodai Cik, gue benci sama Fidin!" pecah tangis Shena memukul tubuhnya.
Prihatin Chika memeluk erat Shena dan memintanya untuk tidak menyakiti dirinya sendiri.
Malam hari, terdiam melamun Shena tidur dengan memiringkan badan. Beberapa kali ponsel Shena berbunyi, namun ia tidak memperdulikannya. Lirih Chika memberikan ponsel Shena dengan mengatakan kalau itu panggilan dari Garil, sahut Shena kalau ia tidak ingin berbicara dengan Garil.
Chika yang tak mau membuat Shena semakin tertekan, perlahan keluar kamar dan menjawab telefon dari Garil. Cemas Garil bertanya kenapa Shena tak menjawab teleponnya, iapun mengatakan apakah Shena baik-baik saja. Jawab Chika kalau ia akan mengatakannya besok dikampus, karena hari ini Shena tidak bisa diganggu dulu.
__ADS_1
"Apa yang terjadi sama Shena?. Bilang sama gue!" tekan Garil penasaran.
Tak mau menjawab, Chika langsung mematikan telefon Shena agar tidak ada panggilan yang masuk dan mengganggu Shena. Masuk Chika terduduk disamping Shena, membujuk Shena untuk makan terlebih dahulu karena daritadi dirinya belum makan.
"Gue nggak laper Cik, gue mau tidur" lirih Shena.
Hela nafas Chika melirik Shena, mengambil selimut dan perlahan berbaring.
"Kasian Shena, susah payah dia bangkit dari traumanya. Tapi sekarang, dia harus ngadepin masalah seperti ini" tutup mata Chika.
Keesokkan pagi, terdiam Shena berjalan tanpa sepatah kata menuju ruang kampus bersama Chika. Bingung Chika melihat mahasiswi/i yang mentapnya dengan tatapan tajam sambil berbisik seolah sedang membicarakannya, tanya Chika dengan tegas pada salah satu temannya kenapa mereka menatapnya seperti itu.
"Heh, gue heran sama lo Cik. Kenapa sih lo mau aja temenan sama cewek yang jadi noda dikampus ini!" ucap temannya.
Bingung Chika menjawab apa yang sebenarnya mereka maksud diiringi tatapan penuh pertanyaan dari Shena, sahut temannya itu menyuruh mereka untuk melihat apa yang sebenarnya terpampang dipapan pengumuman hari ini.
__ADS_1
Penasaran Shena, berjalan bergegas dan melihat apa yang sebenarnya terjadi sampai seluruh mahasiswa/i menatapnya seperti itu.
"Eh Sen, tunggu!. Apaan sih, nggak jelas kalian semua" bergegas Chika menyusul Shena.
Tergesa Shena melihat papan pengumuman yang dipenuhi dengan mahasiswa/i, saat ia melihat. Iapun dikagetkan dengan foto-foto dirinya dan Fidin yang terpampang jelas dipapan pengumuman saat kejadiannya itu terjadi. Chika pun ikut terkejut dan bertanya-tanya bagaimana hal itu bisa terjadi diiringi suara orang-orang sekitar yang membicarakan Shena.
Senyum senang Yola melihat Shena yang terpojokkan, dengan muka duanya yang sok polos bertanya pada Shena apakah ini benar dirinya. Terdiam Shena menahan malu dihadapan seluruh teman-temannya, disusul Dara dan raya yang ikut menyudutkannya dan menghinanya.
"Gue kira lo cewek baik-baik. Ternyata, lo gak selugu wajah lo ya" kata Dara.
Tegas Chika meminta teman-temannya untuk diam, karena Shena tidak seburuk yang mereka bicarakan. Tiba Fidin kaget melihat papan pengumuman yang berisi fotonya dan Shena. Sakit hati dan benci Shena menatap tajam wajah Fidin sekaligus malu, dengan tangis berlari pergi meninggalkan mereka semua.
"Sen, lo mau kemana!" teriak Chika segera melepas satu persatu foto-foto Shena yang tertempel dipapan pengumuman.
Berlari Fidin mengejar Shena.
__ADS_1
Nggak akan ada cewek yang baik-baik aja ketika hal itu terjadi pada diri mereka. Inget ya Reader, berteman itu boleh. Tapi harus hati-hati juga dalam memilih teman, kadang lain dimulut lain juga dihati👌.