
Tiba dirumahnya, turun dari mobil dan membukakan pintu mobil untuk shena dan segera mengajaknya masuk kedalam rumah sambil menggandeng tangan. Senyum shena mengangguk berjalan sedikit canggung.
"Kenapa?," Tanya garil.
"Malu," Ucap shena.
"Udah nggak papa," Mengelus lembut pergelangan tangan shena.
Garil langsung mengajak shena ditempat yang sudah di siapkan, sambutan hangatpun diberikan orang tua garil untuk shena dibarengi jabatan tangan.
"Tan, Om" Senyum shena.
"Hai sayang, kangen tante beberapa hari nggak liat kamu. Ayo duduk," Mempersilahkan shena duduk.
Mama ika memperkenalkan shena pada suaminya (papa garil), shena hanya tersenyum mengangguk.
"Oh kamu shena, ayo ayo dimakan jangan malu-malu. Kamu tau nggak, mamanya garil ini tu beberapa hari ini selalu nyeritain kamu terus, orang om belum pernah liat kamu jadi om nggak tau lah ya (senyum papa garil sambil memotong stick."
Merekapun saling tersenyum malu.
"Ihh, papa kok diceritain sih" Ucap mama ika.
Lanjut papa garil, "Kamu tu ngingetin om sama waktu mudanya mama ika ini, cantik persis kayak kamu."
Sahut mama ika bercanda sedikit kesal, "Oh, maksud papa mama sekarang udah nggak cantik lagi ya?."
"Nggak gitu ma. Maksud papa dulu mama canti, sekarang tambah cantik" Perdebatan kecil diiiringi candaan.
Shena dan garil hanya menahan tawa melihat perdebatan mereka, sambil menikmati hidangan makanan yang tersedia.
...
__ADS_1
2 jam berlalu, pertemuan mereka yang diwarnai canda dan tawa serta perbincangan hangat dengan begitu singkatnya shena harus pulang karena waktu yang mulai larut.
"Shena pulang dulu ya om, tante. Makasih semuanya, shena seneng banget bisa ngobrol banyak sama tante sama om."
"Tante juga seneng banget, padahal masih banyak yang pengen tante obrolin lagi sama kamu. Nanti, kalo tante udah pulang kita ngobrol-ngobrol lagi ya." Sahut mama ika sambil memegang pundak shena lalu memeluknya.
"Iya tan, shena pulang dulu ya. Shena pulang ya om."
Elus lembut mama ika pada rambut shena.
"Ayok," Lirih garil.
"Garil anter shena dulu ya ma," Lanjutnya.
"Iya sayang, hati-hati"
Dalam perjalanan, shena dan garilpun saling mengejek dan melemparkan candaan yang terlihat diraut wajah mereka.
Pujian shena, "Nggak papa, seneng aja. Orang tua kamu baik deh, ramah lagi."
Dengan PD garil membenarkan keran baju dengan gagah lalu mengelus rambut, "Hehhem, anaknya?."
Tatapan bingung shena mengerutkan kening dengan senyum tipis, "Hee, biasa aja sih (berubah datar)."
Begitupun raut wajah garil yang juga berubah datar.
Senyum shena, "Nggak nggak, kamu juga kok."
Gemas garil memainkan rambut shena, kesal shena yang risih.
"Ihh garil jahat banget, kusut kan rambut gue" Manyun bete.
__ADS_1
Tawa lirih garil kemudian membenarkan kembali rambut shena, "Hhe iya iya maaf, sini aku benerin. Abisnya kamu gemesin sih (geram menjepit kedua pipi shena)."
Terik lirih shena kesakitan meminta garil melepaskan tangannya sambil menepuk-nepuk lirih tangan garil.
"Aduhh sakit, lepasin (mulut yang susah untuk bicara)."
Sambil tertawa garilpun melepaskan pegangannya.
Tatapan sinis shena, "Nggak usah ketawa, nggak lucu."
"Lucu ah, kalo kayak gitu bibir kamu jadi mirip ikan. Hha, sini cubit lagi (mencoba memegang pipih shena)."
"Nggak mau!."
Garil melihat sekilas kalung yang shena pakai.
Perjalanan yang sedikit memakan waktu membuat shena merasa begitu ngantuk dengan kepala seakan terjatuh menahan ngantuknya.
Lirik garil, "Ngantuk?."
"Iya.."
Garil memainkan alis dengan mata yang menyorot pada pundaknya, bingung shena menatap garil.
"Apa?."
Hela nafas garil lalu mengelap pundaknya, senyum shena yang paham maksud garil langsung memegang erat tangan garil dengan kepala bersandar pada bahu garil.
"Kenceng banget pegangannya."
Lirik mata shena keatas menatap garil, "Ya kan biar nggak lepas."
__ADS_1
Senyum malu garil menggaruk pelan kepala.