
Ditengah perjalanan, Shena merasakan dingin dengan badan yang menggigil. Lirik Fidin melihat Shena dan bertanya apakah ia kedinginan.
"Hehe, ya kalo cuacanya kayak gini. Kalo nggak ngerasa dingin, kebangetan kali ya" candaan Shena.
Fidin melepaskan jaketnya, heran Shena menatap dan mengehentikan Fidin. Sipit mata Shena menyorot bertanya apa yang akan ia lakukan, terdiam sejenak dan meneruskan melepas jaket.
"Lo dingin kan?. Jadi ini lo pakek biar rasa dingin lo berkurang" ucap Fidin menempelkan jaketnya dipundak Shena.
Shena pun melepaskan jaket itu dan mengembalikannya pada Fidin, "Udah nggak usah, gue nggak papa. Lagian lo cuma pakek kaos kayak gitu, pasti lo kedinginan. Udah, lo pakek lagi aja" paksa Shena.
Fidin pun juga memaksakan kehendaknya dan menyuruh Shena untuk tetap memakai jaket itu, sebagai tanpa perhatiannya yang belum bisa ia ungkapkan.
"Udah, lo jangan bandel dan jangan bawel. Tinggal pakek, dan diem" tegas Fidin.
Tatapan heran Shena mengerutkan kening, "Sakit baru tau rasa" bisiknya.
"Ya jangan didoain" sahut Fidin.
"Denger lagi" lirih Shena.
__ADS_1
"Ya denger lah, orang punya kuping" sambung Fidin.
Terdiam Shena memainkan bibir. Beberapa saat, mobil lewat dengan kecepatan tinggi. Seketika air mengenai seluruh badan Shena dan Fidin, terdiam Shena menahan kesal lalu membuka mata. Menghelakan nafas dengan wajah lucunya, mengelap air yang ada diwajah.
"Emang dasar tu mobil ya, dia kira cuma dia aja yang punya mobil apa. Udah tau ujan, bawa mobil ngebut. Nggak liat ada orang apa, dasar resek (bicara Shena dengan kesal sambil menggigit gigi). Haa.. bawa payung biar nggak keujanan, malah basah semua badan" lirih Shena merengek.
"Lo kok diem aja sih!" lanjut Shena.
Bingung Fidin menjawab, "Ya terus, gue harus gimana. Mau gue teriakin juga tu mobil udah jauh, mending diem daripada buang-buang nafas."
"Iya iya" datar Shena.
"Ngeliat lo kedinginan kayak gini, pengen rasanya gue kasih lo pelukan hangat. Gue harap, gue bisa terus deket sama lo. Bukan sekedar temen, tapi lebih dari itu" batin Fidin tersenyum dengan tatapan penuh arti.
"Lo mau ngapain sih."
Terdiam Fidin lalu memegang payung, "Payungnya kejauhan, gue keujanan. Negatif thinking banget lo."
Kerut bibir Shena menatap datar, "Ya sorry."
__ADS_1
Tak lama merekapun sampai, Shena menawarkan Fidin untuk masuk dulu dan menikmati teh hangat. Tolak Fidin mengatakan kalau ia mau segera pulang saja dan mungkin lain kali ia akan mampir.
"Emm, biar gue anterin lo pulang ya?. Gue nggak enak sama lo yang udah nganter gue pulang, biar gue ambil kunci mobil dulu" tergesa Shena.
"Udah, nggak perlu. Gue bisa pulang sendiri, lagian rumah gue juga nggak jauh. Nanti gue bisa naik taksi.
Paksa Shena untuk bisa membantu Fidin, ucap Fidin terus menolak dan segera pergi. Teriak Shena memanggil lirih, toleh Fidin memainkannya alis.
"Ada apa?"
Shena mencoba mengembalikan jaket Fidin, namun karena jaket yang basah iapun berniat meminjamkan jaketnya dan menyuruh Fidin untuk menunggu sebentar. Tak lama Shena datang dengan jaket ditangannya, mengulurkan tangannya dan memberikan jaket itu untuk Fidin pakai.
"Udah nggak usah" tolak Fidin.
Paksa Shena menaruh jaket itu ditangan Fidin, "Gue nggak mau lo sakit karena gue. Jadi, lo pakek dulu jaket gue. Karena jaket lo kan basah dan kotor juga, jadi biar gue cuci dulu. Nih, pakek."
Kerut bibir bawah Fidin, "Iya, gue pakek. Yaudah, gue pulang dulu" senyum tipis.
"Hati-hati. Dan makasih juga, maaf ngerepotin. Lagian, gue anter lo nya nggak mau."
__ADS_1
"Iya sama-sama" lirih Fidin berjalan pulang.
***