
Keesokan pagi, Garil bersiap-siap menghadiri meating bersama klien dari luar kota. Yang mana kliennya kali ini mengajak kerjasama dengan menjanjikan saham besar keperusahaannya dan sebuah projek besar yang akan mereka bangun.
Dengan pakaian yang rapi Garil segera berangkat ke kantor lebih awal, lirih Mama Ika dengan senyum tipis memanggil Garil untuk memakan sarapannya dulu sebelum berangkat. Senyum Garil membalas, menghampiri dan mengambil roti dari tangan mamanya.
"Garil berangkat dulu ya Mah, Pah. Makasih rotinya" riang Garil.
Mama Ika merasa senang dengan tingkah Garil, karena selama 5 tahun terakhir ia tidak melihat senyum tulus Garil seperti hari ini. Ia pun bertanya pada suaminya apakah ia tahu kenapa Garil begitu bahagia hari ini, sahut ayah Garil kalau hari ini dia sedang ada projek besar bersama salah satu klien baru dari luar kota yang bisa membuat perusahannya jauh lebih maju.
"Kok dia nggak cerita sama Mamanya sih," cemberut lucu Mama Ika.
"Ya kan dia anak Papa, bukan anak Mama" candaan sang suami.
...
Tiba di kantor, Garil melihat Yola sudah ada di ruangannya. Eluh wajah Garil bertanya kenapa pagi-pagi seperti ini dia sudah ada di kantornya.
"Tolong ya, hari ini jangan ganggu dulu. Gue hari ini lagi ada klien yang sangat penting."
"Sepenting apa sih!" sebel Yola.
"Penting banget, karena ini menyangkut nama perusaahan dan bakal nentuin apakah perusahaan bisa lebih maju atau cuma seperti ini aja. Sekarang udah ya. Kalau kamu mau di sini, tetep di sini. Gue mau pergi."
__ADS_1
Bete Yola memegang tangan Garil sambil mengatakan kalau dia akan ikut, Garil menjawab kalau dia tidak bisa ikut kali ini.
"Kenapa nggak bisa?. Aku kan calon istri kamu, jadi aku harus ikut" keras kepalanya.
"Terserah deh" ucap Garil yang tak mau banyak berdebat.
Garil bersama Yola dan beberapa karyawan serta sekretaris menunggu kliennya itu di depan pintu masuk kantor. Keluh Yola menunggu klien Garil yang tak kunjung datang sambil mengibaskan tangan kepanasan.
"Astaga panas banget!. Emang harus ya sayang, kita nunggu dia disini. Udah kayak nyambut ratu aja deh."
"Kan aku nggak minta kamu ikut. Jadi, kalau kamu mau pulang ya silahkan."
"Nggak. Aku nggak mau pulang, aku mau di sini aja."
Ssttt..
Pintu mobil terbuka diiringi langkah kaki yang begitu anggun. Terpukau sekaligus terkejut saat Garil dan Yola melihat kliennya itu, yang mana wajah dari kliennya itu sama persis dengan Shena. Sejenak Garil terdiam tak percaya sekaligus terharu, Garil langsung memeluk erat Shena tanpa melihat situasi dan kondisi karena rasa bahagianya itu. Syok Yola terdiam seribu bahasa dengan wajah yang terlihat begitu cemas.
"Sen, akhirnya kamu kembali. Aku tau kamu masih hidup, aku tau kamu baik-baik aja dan nggak akan ninggalin aku. Aku seneng banget bisa liat kamu lagi, aku nggak nyangka klien istimewa aku kali ini kamu. Saking bahagianya, aku nggak tau harus mengekspresikan kebahagiaan aku."
Kesal Yola meminta Garil melepaskan pelukannya pada Shena, "Lepasin. Kamu apa-apaan sih Ril, bisa-bisa kamu ngelakuin ini di depan aku. Lepasin!"
__ADS_1
Dengan paksa, klien itu juga meminta Garil melepaskan pelukannya.
"Apa-apaan ini. Sen?, apa itu Sen?" bingungnya.
"Kamu Shena!. Aku Garil, Sen" wajah bahagia Garil memegang pundak Shena.
"Nggak nggak. Gimana bisa dia masih hidup, pasti dia bukan Shena. Shena udah nggak ada, dia bukan Shena" batin Yola.
"Maaf ya Mas, saya bukan Shena. Saya Sevia. Disini saya menghadiri meating sama pemilik perusahaan ini. Tapi, kenapa saya mendapat sambutan yang tidak profesional" kata Sevia dengan kecewa.
Iapun memutuskan untuk pulang dan tidak melanjutkan meatingnya, Garil langsung menghentikan dan memegang tangannya. Kerut alis Sevia melepaskan tangan Garil.
"Tolong lepasin. Sekali lagi saya tekankan, saya bukan Shena. Saya Sevia."
"Aduh, Bos. Harusnya Bos bisa kontrol emosi" ucap sekretaris Garil.
Sekretarisnya pun langsung mengehentikan kliennya itu, ia meminta maaf atas ketidak profesional bosnya. Ia juga menjelaskan alasan bosnya melakukan hal itu karena ada wanita yang mirip dengannya, wanita yang sangat di cintai namun pergi meninggalkannya. Garil segera turun menghampiri kliennya dan meminta maaf dengan sungguh-sungguh atas perbuatannya yang tidak menyenangkan.
Hela nafas Sevia, "Baik, untuk kali ini saya akan maklumi."
Apakah Sevia itu Shena?. Atau cuma wajah mereka aja yang sama, tapi aslinya berbanding terbalik?.
__ADS_1
Mending lihat ada episode-episode selanjutnya ya👌.