BERIKAN AKU CAHAYAMU

BERIKAN AKU CAHAYAMU
Tersegu-segu


__ADS_3

Masih lanjutan episode sebelumnya ya guys.


Didalam mobil Shena masih terbayang-bayang ayahnya yang bersikap kasar padanya, menangis lirih membekas dan menahan sakit dengan tangan menghapus air mata yang terus menetes. Garil melihat Shena dengan tidak tega dan ikut merasakan sakitnya diposisi Shena, lembut Garil tangan Shena dan mencoba menenangkan lalu meminta maaf pada Shena malam ini ia harus mengalami semua kejadian ini karenanya.


Sahut Shena dengan menangis tersegu-segu, "Lo nggak salah, tapi takdir gue yang salah. Pertama Allah udah ambil Mama, dan sekarang laki-laki pertama yang hadir di hidup gue, cinta pertama yang gue kenal justru matahin hati gue. Sebenernya ada apa sih sama hidup gue, kenapa gue harus hidup kalo cuma untuk ngeliat ini semua."


Shena yang tidak bisa menahan lagi kesedihan dan air matanya memeluk Garil dengan tangisan yang sudah tidak bisa dibendungnya. Garil semakin sedih melihat keadaan Shena lalu menghentikan mobil, menenangkan Shena dengan memeluk erat sambil mengelus lembut kepala Shena.


"Gue yakin kalo nanti suatu saat bakal ada sosok laki-laki yang bisa ngehargain lo, yang bisa buat lo bahagia, dan bisa nutup luka-luka lama lo. Jangan nangis terus ya (menatap wajah Shena dan menghapus lirih air matanya), aku nggak akan biarin kamu kenapa-napa dan nggak akan biarin kamu disakitin lagi. Aku bakal selalu ada buat kamu meski kamu berada diposisi sulit sekalipun" emeluk erat shena.


Tangis Shena mengatakan kalau dia hanya butuh seseorang yang selalu menguatkannya karena selama hanyalah Chika teman yang bisa dia percaya dan tidak tau apakah dia bisa percaya pada ucapan Garil, tapi dia berharap apa yang Garil ucapkan itu bisa dia buktikan dan tidak mematahkan kepercayaannya.


Lirih Garil, "Aku nggak bisa janji, tapi aku bakal buktiin. Dan aku bakal selalu lindungi kamu dari ayah kamu, jadi kamu nggak perlu takut. Sekarang kita pulang ya."

__ADS_1


Angguk lirih Shena Sepanjang perjalanan ia hanya diam melamun. Garil mencoba mengajaknya berbicara tapi yang di berikan hanya lah anggukkan, bingung Garil dan membiarkan Shena untuk menenangkan pikirannya sambil mengamati dari spion mobil.


Tiba dirumah..


Shena terus melamun, lirih Garil bicara kalau mereka sudah sampai. Tersadar Shena sedikit terkejut, keluar Garil dengan sigap membukakan pintu untuknya. Garil mencoba membantunya, namun Shena menolak bantuannya dengan mengatakan kalau dia bisa sendiri.


"Gue mau pulang, lo beneran nggak papa kan?"


Lirih Shena memasang wajah lemas, "Nggak, gue nggak papa kok. Makasih ya."


Angguk Shena dengan senyum tipis, "Hati-hati."


Toleh Garil membalas senyuman Shena.

__ADS_1


Klukk..


Pintu kamar dibuka, Chika yang melihat kesedihan di wajah Shena segera beranjak dari tempat tidur dengan khawatir bertanya ada apa dengannya. Terdiam Shena tak menjawab, menaruh tasnya sembarang dan terduduk di kasur.


"Sen, lo kenapa. Garil nggak apa-apain lo kan?, bilang sama gue."


Tanpa banyak berkata, Shena langsung menangis dan menyandarkan kepalanya di bahu Shena. Bingung Chika kenapa sahabatnya sesedih itu, ia kembali mengulangi pertanyaannya.


"Lo jangan buat gue khawatir dong Sen. Bilang sama gue Garil apain lo?"


Geleng Shena menjawab kalau Garil tindak menyakitinya, tapi justru ayahnya yang mempermalukannya di depan umum.


"Maksud lo.. (terhenti)"

__ADS_1


Angguk Shena menatap Chika, "Iya, gue tadi ketemu ayah gue."


***


__ADS_2