
Sabtu malam, keluar dari kamar mandi menuju meja rias sambil mengeringkan rambut, Chika mengajak Shena yang sedang duduk dikasur membaca buku untuk pergi gowes besok pagi.
Shena menolak mengatakan kalau dia tidak punya sepeda.
Lanjut Shena, "Lagian ngapain juga gowes, capek."
Chika berbalik badan menoleh Shena dan membujuk kalau gowes itu bisa meningkatkan mood dan imun kita, apalagi akhir-akhir ini moodnya kurang baik.
Seru Chika menghampiri Shena, "Dan yang paling penting, lo bisa ngeliat dan ngerasin betapa sejuknya kota kita. Gowes ya, kalau untuk sepeda gue ada kok. Besok kita ambil kerumah gue dulu, ya ya ya.."
Shena memainkan senyum, "Hmm. Yaudah deh, gue juga bosen sih dirumah."
"Nah gitu dong, nanti gue bakal kabarin mereka (Garil dan Exel)" balas Chika dengan senyum.
Shena bertanya dengan heran, "Mereka siapa?"
Chika tersenyum gugup dan tidak memberitahu Shena kalau Garil akan ikut, "Itu, pembantu rumah gue. Nanti gue mau ngabarin mereka biar sepedanya dilihat dulu ada yang rusak apa nggak."
Kerut bibir Shena mengangguk.
Keesokan pagi..
Shena dan Chika masih tertidur, beberapa saat chika terbangun membuka sedikit mata dan segera membangunkan Shena dengan wajah lemas.
Sahut Shena layu dengan mata tertutup, "Ihh apaan sih Cik, hari ini tu libur."
Chika mengusap mata menghelakan nafas lalu segera duduk dengan mata sayu lemas menarik lirih tangan shena, "Ihh Sen, kita kan mau gowes. Buruan bangun (menjatuhkan badan ke badan Shena)."
Shena sedikit risih meminta Chika untuk bangun dari badannya, "Aduhh Cik, beratt tauk (mendorong lirih badan Chika)."
Chika bangun dan kembali menyuruh Shena untuk bangun.
Shena memiringkan badan, "Iya iya, ntar gue bangun. Lo mandi dulu aja."
Chika segera terbangun dari tempat tidur berjalan lemas menuju kamar mandi, "Iyadeh, gue mandi dulu."
Beberapa menit, Chika keluar dari kamar mandi melihat Shena yang masih tidur dengan mengeluh, "Sen, bangun dong!. Katanya mau bangun. Gue udah selesai mandi nih, buruan lo mandi."
Shena masih tidak bangun, Chika melihat air dimeja langsung mengambilnya lalu menyiram sedikit ke wajah Shena. Shenapun kaget dan langsung terbangun berteriak banjir membuat Chika tertawa lirih.
Menoleh kearah Chika dengan wajah sinis berteriak, "Cik, resek banget sih lo."
Senyum Chika, "Lo juga sih, disuruh bangun malah tidur lagi. Udah sana buruan mandi, keburu siang ntar panas kulit gue bisa terbakar."
Shena menatap jijik dan segera beranjak dari tempat tidur, "Lebay deh lo. Belum aja jadi butiran debu lu."
Sahut Chika tertawa lirih, "Hih, butiran debu. Aku tanpanya baru butiran debu."
Shena dan Chika saling melempar ejekan.
Keluar dari kamar mandi dan segera mengajak Chika berangkat, Chika yang berada dikasur sambil bermain ponsel segera beranjak dari tempat tidur menuju meja rias, mengoleskan bedak dan sedikit lipstik.
Shena melihat heran, "Heh ciyk, kita tu mau gowes cari keringat. Ngapain lo bedakan segala."
__ADS_1
Sambil asik berbedak Chika pun menjawab kalau penampilan juga harus tetap dijaga dan siapa tau nanti dijalan bertemu dengan buaya darat. Chika menyuruh Shena untuk sedikit berdandan tapi shena menolak.
Lanjut Shena, "Udah buruan ah, gue tinggal juga lo."
Sahut Chika, "Iya iya, rempong banget sih."
Lirih Shena, "Lo yang rempong."
Saat keluar, sedikit terkejut Shena melihat mobilnya yang sudah terpakir di depan rumah. Senang Chika dan memuji kebaikan Garil dan Exel yang sudah memperbaiki, bahkan dengan senang hati mengantarkan pulang mobilnya.
"Iya kan Sen?"
"Kadang."
Segera Shena menyuruh Chika masuk ke mobil. Di tengah perjalanan, bingung Shena melihat Chika yang tertawa sendiri melihat ponsel.
"Lo baik-baik aja kan Cik?"
"Ihh, lo Sen. Emang lo pikir gue kenapa, gila gitu?"
Sahut Shena tersenyum tipis, "Lah siapa yang bilang lo gila, gue kan tanya apa lo baik-baik aja."
Beberapa menit..
Saat tiba dirumah, Chika langsung mengajak Shena masuk. Dimana dirumah Chika hanya ada tante dan beberapa pembantu, Chikapun bertanya pada salah satu pembantu rumahnya dimana sepeda yang akan mereka pakai.
"Bik, diamana sepedanya."
...
Tiba ditempat gowes, Shena dan Chika segera mengeluarkan sepeda mereka dari dalam mobil. Dengan senyum tipis shena mengambil nafas dan mengajak Chika untuk segera bersepeda. Shena mencoba mengayuh sepedanya, Chika menahan dan menyuruh Shena untuk menunggu sebentar.
"Tunggu apa?"
Chika menoleh-noleh mencari Garil dan Exel, dengan senyum tipis melihat mereka yang bersepeda dari arah belakang.
"Akhirnya dateng juga yang ditunggu-tunggu."
Shena menatap Chika heran dan ikut menoleh kebelakang, dengan terkejut mengerutkan kening melihat Garil dan Exel.
"Lo ngajak mereka juga Cik, Ngapain?"
"Ya nggak papa kali Sen. Biar seru aja ada temen cowoknya, kan biar bisa lebih akrab juga" lirih Chika dengan senyumnya.
"Kalo tau ada mereka gue nggak jadi ikut tadi."
"Jangan gitu dong Sen. Kasian tau mereka pengen banget akrab sama lo, masak iya lo kayak gini. Udah ya biarin mereka."
Garil dan Exel datang dan menyapa, Chika membalas sementara Shena hanya menatap datar.
"Udah nunggu lama ya" tanya Garil.
Sahut Chika, "Nggak kok, kita juga baru sampek. Yaudah langsung aja ya."
__ADS_1
Mereka saling mengangguk.
Chika dan Exel asik berbincang dengan tawa riang diwajah mereka menikmati pemandangan dan sejuknya pagi hari saat bersepeda. Sementara Shena yang bersepeda dibelakang mereka dengan muka datarnya tersenyum tipis. Garil yang berada dibelakang Shena langsung menghampiri dengan bersepeda mengiringinya.
"Ditekuk banget tu muka. Seharusnya ya kalo pagi-pagi gini, apalagi kalo kita lagi gowes nih. Paling enak kalo kita bener-bener menikmati pemandangan dengan senyum senang, tawa riang dan lupain beban kemarin."
"Sok tau deh" lirih Shena.
Tawa lirih Garil, "Ya tau lah kan gue udah ngerasain. Karena banyak banget yang harus kita syukuri hari ini, jadi ya udah happy aja. Anggep aja luka kemarin tu udah sembuh."
Shena menghelakan nafas menatap Garil, "Ya mungkin bisa ngomong kayak gitu, tapi Lo nggak ngerasain jadi gue."
Garil tersenyum, "Ya, mungkin emang gue nggak ngerasain. Tapi, masak iya sih satu orang yang buat lo sedih bisa ngalahin banyaknya orang yang buat lo bahagia" memainkan alis.
Hati Shena yang sedikit tersentuh menatap Garil lembut sambil memainkan bibir.
"Hmm" tersenyum tipis dan mencoba membuat senyum bahagia diwajahnya.
"Nah gitu dong, kan cantik" Garil menggoda.
"Btw, makasih ya."
"Makasih buat apa?" bingung Garil.
"Karena, lo benerin mobil gue."
"Santai aja. Lagian,kan bukan gue yang benerin. Jadi kalo lo mau makasih, ya sama orang bengkelnya. Bukan gue" ucap Garil dengan candaan.
Senyum Shena dengan mata yang fokus ke jalan, lirik Garil melihat Shena. Ia ikut merasa bahagia melihat lingkaran kebahagiaan di wajah Shena.
1 jam lebih berlalu, merekapun selesai bersepeda kembali ditempat mereka memulai gowes.
"Hhe, akhirnya selesai juga. Seger-seger capek ya" tawa Chika.
Shena minum sambil mengelap keringat dengan lengan bajunya dengan wajah yang terlihat lelah, Garil mengambil sapu tangan menatap mengelap lembut keringat sheyna. Merekapun saling menatap tenang.
Chika dan Exel yang melihat mereka bisa akur seperti itupun ikut senang.
Chika menggoda, "Hmm hmm. Soswett.."
Refleks Shena menjauhkan wajahnya dari tangan garil, "Gue bisa sendiri kok."
"Ayo pulang" lanjut Shena mengajak Chika.
Chika mengangguk segera memasukkan kembali sepedanya kedalam mobil yang dibantu Garil dan Exel.
"Kita pulang duluan ya" ucap Chika.
Lirih Shena dengan datar, "Kita pulang dulu" ucapnya pada Garil.
Senyum Chika mengulangi ucapan Shena, mencoba mencibirnya sambil menatap Exel. Malu-malu Shena, menarik tangan Chika dan mengajaknya masuk ke mobil.
***
__ADS_1