
Sehari sudah Shena tak pulang, cemas Chika menunggunya sambil berdiri mengintip dari jendela.
"Astaga Sen, lo kemana sih. Mana ponsel nggak aktif."
Klung klung..
Ponsel Chika berbunyi yang mana itu adalah panggilan dari Garil yang menanyakan Shena apakah ia belum kunjung pulang, geleng lirih Chika dengan wajah yang terlihat sedih menjawab sejujurnya.
"Gue udah sempet kerumahnya, tapi dia nggak ada. Gue bingung mau cari dia kemana lagi. Eh tunggu, kayaknya ada satu tempat yang belum gue datengin deh" lirih Chika.
Penasaran Garil bertanya dan mengatakan kalau ia akan ikut mencari, lirih Chika meminta Garil untuk sementara ini menunggu sampai keadaan Shena sedikit tenang.
"Lo tenang aja, nanti kalau Shena udah sama gue. Gue bakal kabarin lo" ucap Chika mematikan telefon dan segera pergi.
Saat Chika keluar, ia dikagetkan dengan keberadaan Fidin didepan rumahnya. Menahan kesal, chikapun bertanya apa yang sebenarnya ia mau dan apakah ia tetap tidak puas sudah menghancurkan hidup Shena.
__ADS_1
"Lo nggak tau malu ya!"
Pasrah Fidin menerima hinaan Chika, "Oke, sekarang terserah lo mau hina gue kayak gimana. Cuman sekarang, gue mau ketemu sama Shena. Izinin gue ketemu dia, ada hal penting yang harus gue jelasin sama dia."
"Hehe, hal penting?. Gak ada hal penting dan bisa dipercaya yang keluar dari mulut lo!. Sekarang lo pergi, gue minta lo pergi!"
Paksa Fidin meminta agar ia diizinkan sekali saja bertemu dengan Shena, keras Chika berteriak mengatakan kalau Shena tidak ada.
"Shena nggak ada dirumah, puas lo sekarang!"
"Maksud gue, dia nggak pulang dari kemaren karena lo (tekan Chika). Sekarang lo udah tau kan, gue minta sekarang lo pergi dari rumah gue. Gue ada urusan" menyingkirkan Fidin dari jalannya.
Tertegun sejenak, kembali Fidin menghalangi jalan Chika dengan memegang tangannya. Kesal Chika bertanya apa yang sebenarnya ia inginkan sambil melempar keras tangan Fidin.
"Nggak udah pegang-pegang tangan gue."
__ADS_1
"Oke, gue minta maaf. Gue belum bisa bilang ini sama Shena, karena dia begitu marah sama gue dan nggak mau dengerin gue. Cuma lo yang bisa bantu gue saat ini, jadi tolong dengerin dulu penjelasan gue."
"Yaudah yaudah, lo mau bilang apa?. Bilang sama gue sekarang. Gue nggak punya waktu banyak."
Ucap Fidin mengatakan kalau dia bicara yang sejujurnya tanpa ada rekayasa, iapun mengatakan kalau dia memang sengaja memasukkan obat kedalam minuman Shena. Tapi dia sama sekali tidak ada maksud untuk menyakitinya, karena maksudnya hanyalah ingin menggagalkan pertemuan dengan Garil. Ia lalu menjelaskan beberapa kejadian yang terjadi, sampai membuatnya dan Shena berada dalam satu kamar.
"Kalau emang yang lo bilang itu bener, apa buktinya. Lo nggak punya bukti, gimana bisa orang percaya sama lo?"
Sahut Fidin kalau ia mempunyai bukti itu, karena ia selalu memasang kamera cctv didalam mobilnya. Ia lalu memperlihatkan rekaman itu pada Chika, dimana rekaman itu memang menunjukkan jam dan tanggal kejadian. Namun sayang, kamera itu hanya terfokus pada Shena dan hanya terdengar suara Fidin dan orang yang ia maksud.
Terkejut Chika melihat itu, namun tetap tidak percaya sepenuhnya dengan apa yang diucapkan Fidin dan mengatakan kalau itu bisa jadi hanya akal-akalannya saja.
"Video ini, tanpa gue potong sedikitpun. Dan kalaupun gue ngerencanain itu, gak mungkin susah payang gue ngejelasin ke kalian semua. Dan nggak mungkin juga gue mempermalukan diri gue sendiri dengan nyebarin video sama foto itu."
Tertegun sejenak Chika berfikir kalau yang dibilang Fidin itu ada benarnya.
__ADS_1
***