BERIKAN AKU CAHAYAMU

BERIKAN AKU CAHAYAMU
Kamu?


__ADS_3

4 hari kemudian, Sevi bersama Garil datang ke lokasi proyek yang akan mereka bangun. Teliti Sevi menjelaskan beberapa bagian-bagian proyek yang akan di buat. Namun, Garil justru tak fokus dengan proyek yang ia jalankan, melainkan fokus pada wajah Sevi saja. Terdiam menatap lembut wajahnya.


Lirik Sevi, mengerutkan kening melihat Garil yang melamun disaat dia sedang menjelaskan dengan panjang lebar. Lirihnya memanggil Garil beberapa kali, tapi Garil tetap tidak mendengarkan. Senggolnya sedikit keras dan membuat Garil terkejut, gugupnya mengusap wajah.


"Dari tadi, saya bicara panjang lebar. Bapak, nggak dengar?"


"I-iya, s-saya denger."


"Apa?"


"Ya-ya, dengerin kamu."


Hela nafas Sevi, "Tolong ya Pak, saat kita sedang kerja. Ya tolong fokus aja sama pekerjaan, jangan yang lain."


"Saya juga minta tolong, jangan panggil saya dengan sebutan Bapak. Panggil aja saya Garil, karena kayaknya kita juga seumuran. Dan muka saya nggak tua-tua banget kan."


"Tapi, kita rekan kerja. Dan soal panggilan, menurut aku bukan masalah besar. Mau aku panggil Pak atau Garil, itu nggak akan berpengaruh sama pekerjaan kan?. Jadi lebih baik, sekarang kita balik fokus sama proyek ini."


...


Pagi hari yang indah, senyum sumringah Sevi berada di depan kaca rias sambil merias diri. Dengan pakaian rapi, ia bersiap-siap untuk menjemput Davin ke bandara, karena hari ini adalah hari kepulangannya ke Indonesia.


Beberapa saat, tiba Sevi di bandara menunggu kedatang pesawat yang di tumpangi Davin. Beberapa menit menunggu, Davin tak kunjung mengabarinya. Wajah cemas Sevi sambil melihat jam tangannya.

__ADS_1


"Harusnya jam segini dia udah sampek" berjalan mondar-mandir.


"Sayang."


Tertegun sejenak Sevi saat mendengar suara itu, lirihnya berbalik badan dan melihat Davin yang sudah berdiri di belakangnya. Spontan ia langsung memeluk erat Davin, bahagianya bisa kembali melihat Davin setelah beberapa bulan lalu Sevi memutuskan untuk pulang ke Indonesia setelah menyelesaikan studinya di Singapura.


"Davin.. daritadi aku telfon kamu, aku chating tapi kenapa nggak kamu bales sih."


"Hehe, kenceng banget sih meluknya. Segitu kangennya ya?" goda Davin.


"Kok gitu sih nanyanya. Emang kamu nggak kangen aku?" tatapan tajam Sevi.


"Hehe, ya pasti kangen lah" ucap Davin membalas pelukan Sevi.


"Oh, maksudnya gaya-gayaan mau kasih kejutan gitu?" ejek Sevi.


Angguk Davin mengerutkan bibir dengan senyum tipis, ia pun segera mengajak Sevi untuk pergi.


...Malam hari, kling klung.....


Suara bel rumah Garil berbunyi, segera Garil turun dan mengira kalau itu adalah sekretarisnya yang sengaja ia telfon untuk memberikan flashdisk yang ia minta.


Mama Ika yang berada di ruang tamu pun langsung membukakan pintu, saat pintu dibuka ia dikejutkan dengan kedatangan Davin dan langsung memeluknya.

__ADS_1


"Sayang!.."


"Mama" senyum tipis Garil.


Mama Ika juga dikejutkan dengan Shena yang datang besama Davin, segera ia melepaskan pelukannya pada Davin menatap melongo wanita yang ia pikir adalah Shena.


"Shena.."


Kerut alis Sevi dibuat bingung kenapa Mama Davin memanggilnya dengan sebutan Shena, begitu juga dengan Davin. Lembut Mama Ika memegang lembut pundak Sevi dan memeluknya.


"Shena, kamu masih hidup sayang?"


Lirih Davin bicara pada mamanya kalau wanita yang ia peluk itu bukan Shena, melainkan Sevia. Mama Ika tetap kekeh dan mengatakan kalau wanita itu adalah Shena.


"Maaf Tan, saya Sevi bukan Shena."


Tatapan lembut Mama Ika sambil melepaskan pelukannya. Turun Garil dengan sedikit terkejut melihat Davin bersama Sevi datang bersama.


"Sevi?" lirih Garil.


"Kamu?" kerut alis Sevi.


***

__ADS_1


__ADS_2