BERIKAN AKU CAHAYAMU

BERIKAN AKU CAHAYAMU
Pulih


__ADS_3

Malam hari, terduduk Garil sembari meminum secangkir kopi di dalam kamar.


Klung klung klung..


Dering bunyi ponselnya, yang mana itu panggilan dari Yola.


"Yola? (lirihnya). Hallo, iya kenapa?"


Jelas Yola meminta Garil untuk segera melangsungkan pernikahan mereka lusa.


"Lusa?"


"Iya lusa. Kita nggak bisa terus-terusan menunda pernikahan kita Garil. Kamu tau kan kalau aku sedang hamil, dan perut aku pastinya makin hari akan semakin membesar. Aku nggak mau tau, pokoknya lusa kita harus menikah. Kita nggak perlu mikirin masalah yang sama sekali nggak ada hubungannya sama kita!" tekan Yola mematikan sambungan telepon.


Sejenak Garil berfikir sembari menghelakan nafas, yang mana ia juga memikirkan hal yang sama seperti yang Yola fikirkan. Ia tak bisa terus menunda pernikahannya dengan Yola dan memikirkan sesuatu yang bukan lagi menjadi tanggung jawabnya.


"Gue nggak mau kali ini pernikahan gue sama Garil mengalami masalah. Dan soal Sevi, harus segara gue sudahi. Tapi gimana caranya, apa yang harus gue lakuin sama dia?" bingung Yola.


...


Keesokan pagi, dengan pakaian rapi turun Garil dari tangga untuk berangkat ke kantor. Kerut alis Garil melihat Davin yang turun dari tangga dengan raut wajah senangnya. Teriak lirih Garil memanggil Davin menanyakan apa yang membuatnya begitu bahagia.


"Sevi bang, Sevi udah sadar" ucap Davin.


"Sevi udah sadar!" spontan teriakan bahagia Garil.


"E-ee, maksud gue Sevi udah sadar ya (berubah santai). Syukurlah, jadi lo sekarang mau ke rumah sakit?"

__ADS_1


"Iya, yaudah gue berangkat duluan bang."


"I-iya hati-hati."


Lega Garil sekaligus bahagia saat mendengar bahwa kondisi Sevi telah membaik dan kembali sadar. Namun, sebelum ia berangkat ke kantor ia telah membuat janji untuk menjemput Yola.


30 menit kemudian, terduduk Yola menunggu Garil yang tak kunjung datang.


Kling klung..


Tak berselang lama bel rumahnya pun berbunyi, senyum senang Yola mengira bahwa itu adalah Garil.


"Hai say-.." terhenti Yola sedikit terkejut saat melihat siapa yang ada di depan pintu rumah.


Bukan Garil, namun justru Sandi yang berdiri menghalangi pintu rumahnya. Kembali Yola di buat panik sembari melihat sekeliling rumah.


"Tenang Bos, jangan panik gitu."


"Nggak usah basa-basi, lo mau apa lagi dengan datang kesini, hah!"


"Gue butuh duit" terang Sandi.


"Apa!. Duit?. Nggak, nggak ada duit lo paham!"


"Ayolah Bos, ini terakhir kalinya, gue bener-bener butuh sekarang."


Tekan Yola mengatakan kalau ia tidak akan memberi sepeser uang pun padanya, ia juga mengingatkan atas kesepakatan yang mereka buat beberapa hari yang lalu bahwa semua telah berakhir saat itu.

__ADS_1


"Lo jangan coba-coba untuk memeras gue ya!" lanjutnya.


Lirik Yola melihat mobil Garil yang telah sampai dari kejauhan. Iapun meminta Sandi untuk segera pergi meninggalkan rumahnya sebelum Garil datang. Namun, Sandi tetap kekeh dan akan terus berdiri di tempat yang sama sebelum apa yang ia mau diberikan.


Bingung Yola dengan rasa panik, tak fikir panjang lagi Yola pun mengatakan kalau ia akan memberikan uang itu padanya.


"Nanti gue kasih, sekarang lo pergi. Cepet pergi!"


Senyum Sandi mengangguk berjalan pergi, "Oke, saya tunggu."


Dari jarak yang tak cukup jauh, Garil melihat orang yang baru saja menemui Yola. Kerut alisnya melihat orang yang menurutnya tidak asing dan pernah ia lihat.


"Siapa laki-laki itu?"


Melihat dari gelagat berjalan dan postur tubuh, ia teringat oleh Sandi.


"Nggak, nggak mungkin. Ngapain juga dia ada di rumah Yola."


Citt..


Mobil pun berhenti dan keluar dari mobil, disambut hangat dengan ucapan selamat pagi dari Yola. Namun, dengan rasa penasaran, Garil pun menanyakan siapa laki-laki yang habis dari rumahnya (Yola).


Gugup Yola mencari alasan dengan mengatakan kalau itu hanya seseorang yang menanyakan alamat rumah.


"U-udahlah, nggak penting juga. Mending sekarang kita berangkat" ujar Yola berjalan menuju mobil.


...

__ADS_1


__ADS_2