
1 tahun berlalu, dimana hari-hari mereka selalu dipenuhi canda tawa dan kebersamaan. Sendiri Shena terduduk disebuah resto sambil bermain ponsel, dimana ia sudah membuat janji bersama Garil sebelumnya.
Hari ini tanggal 3 Maret, tepat hari ulang tahunnya. Sengaja Garil tidak menjemput Shena karena ingin memberikan sebuah kejutan untuknya. Diam-diam Fidin membuntuti Shena karena sebelumnya ia tahu kalau Shena akan menemui Garil, iapun membuat rencana untuk menggagalkan rencana pertemuan mereka.
Kira-kira, apakah pertemanan manis yang dijalin Fidin bersama Shena dan Garil selama ini hanya pembohongan belakang untuk ia bisa mendapatkan Shena dan menghancurkan hubungan mereka?.
Yaudah lah ya, daripada nebak-nebak tapi nggak ketebak mending lanjutin aja ceritanya👇😉.
Perlahan Fidin mendekati Shena, seolah-olah kaget melihat Shena, "Eh Sen, lo disini juga?"
Sedikit terkejut Shena mengangguk, kembali menyapa Fidin. Tanya Shena apakah ia juga mau makan ditempat itu, angguk Fidin dengan senyum palsu mengiyakan.
"Boleh gue duduk disini" lanjut Fidin.
Dengan senang hati tanpa menaruh curiga, Shena mengizinkannya untuk duduk.
"Kamu mau makan juga, biar aku pesen makanan ya?" basa basi Fidin.
Canggung Shena menolak dengan lembut kalau ia sedang menunggu Garil dan akan memesan makanan saat Garil sudah datang. Kembali basa-basi Fidin menawarkan minuman, tidak enak Shena menolak dan mengiyakan tawarannya.
"Ya-yaudah deh, jus strawberry aja" ucap Shena.
__ADS_1
Senyum Fidin segera memanggil pelayan dan memesan 2 minuman untuk mereka.
"Oh iya, gue mau ke toilet sebentar" kata Shena.
Tak lama minuman itu datang, lirik Fidin melihat sekeliling dan Shena yang belum keluar dari toilet. Perlahan ia mengeluarkan botol kecil dari kantongnya, yang mana itu adalah obat bius yang akan membuat Shena tak sadar. Cepat ia memasukkan obat itu ke dalam gelas minum Shena, segera memasukkan kembali kedalam saku saat melihat Shena yang datang.
Senyum Shena terduduk, balas Fidin menawarkan agar Shena segera meminum minumannya yang sudah datang.
"Hehe, iya makasih."
Segera Shena meminumnya, diiringi Fidin menatapnya dengan tatapan tajam. Beberapa menit kemudian, Shena merasa aneh. Penglihatannya seolah kabur dengan mata sayu, tanya Fidin seolah khawatir.
"Lo kenapa Sen?" ucap Fidin.
Senyum tipis Fidin menghampiri Shena, memegang pundak dan menawarkan untuk ia segera pulang. Tolak Shena dengan nada lemas mengatakan kalau nanti Garil mencarinya.
"Udah, nanti lo kabarin aja daripada lo kenapa-napa disini. Ayo, biar gue anter!"
Angguk Shena segera berdiri diiringi Fidin menaruh uang diatas meja membayar minuman mereka. Saat akan masuk kedalam mobil badan Shena terasa begitu lemas, spontan ia memeluk Fidin dan langsung jatuh tak sadarkan diri.
Senyum Fidin menatap wajah Shena, segera memasukkannya kedalam mobil dan pergi dari tempat itu. Lembut Fidin menatap Shena penuh arti, menyingkirkan helai rambut yang menutup wajah.
__ADS_1
"Cantik. Tapi sayang, hati kamu bukan buat aku. Tapi untuk malam ini, kamu akan menghabiskan waktu sama aku Sen. Bukan sama Garil."
Tiba Garil diresto itu dengan seikat bunga yang ia bawa ditangannya. Tersenyum menoleh-noleh mencari Shena, namun ia tidak melihatnya ada ditempat itu.
"Kemana Shena?. Katanya tadi udah dateng, tapi kok nggak ada?"
Lirih Garil bertanya pada pelayan yang lewat disampingnya, menunjukkan foto Shena yang
sebelumnya sudah ia kirim pada Garil.
"Iya mas ada apa?" kata pelayan tadi.
"Iya mbak, maaf. Saya cuma mau nanya, tadi lihat cewek ini nggak disini?. Pakai baju kayak gini juga?"
Ingat pelayan itu, lalu memberitahu Garil kalau tadi memang ada wanita seperti difoto itu sambil menunjuk kearah meja yang menjadi tempat duduk.
"Terus, sekarang sekarang dia dimana mbak?"
Lanjut pelayan itu mengatakan kalau tadi ada laki-laki yang membawanya pergi, pamit pelayan itu segera pergi.
"Laki-laki?" fikir Garil.
__ADS_1
***