Bidadari Penghapus Luka

Bidadari Penghapus Luka
Bab 100


__ADS_3

Marissa menggeliat saat hangat sinar mentari pagi menerpa wajah cantiknya. Perempuan itu membuka kedua matanya, dan mengerjap menyesuaikan cahaya yang masuk di pengelihatannya.


Marissa memperhatikan sekeliling. Tempat yang asing. Seketika ia terduduk mengingat kejadian semalam. Tomi yang membawanya kemari. Entah dimana, ia tak begitu mengingatnya. Apalagi mereka melakukan perjalanan di malam hari.


Marissa melirik jam di pergelangan tangannya. Sudah hampir jam sembilan. Gegas ia turun dari ranjang dan keluar kamar.


Rumah terlihat sepi, tak ada siapapun di dalam sana. Tomi pun tak nampak batang hidungnya. Kemana laki-laki itu? Bahkan Tomi meninggalkan dirinya seorang diri.


Cklek


Perhatian Marissa teralihkan pada suara pintu yang terbuka. Seorang wanita yang ia taksir usianya sekitar lima puluh tahun masuk ke dalam rumah.


"Kamu sudah bangun, Nak? Tanya wanita tua itu.


Marissa tetap bergeming di tempatnya. Kedua netranya memindai penampilan wanita dihadapannya itu. Sangat sederhana dengan daster rumahan dan kerudung instan berwarna hijau.


"Saya Rahayu, ibunya Tomi." Ucap wanita itu seraya mengulurkan tangannya.


Marissa kembali menatap wanita tua itu. Selama memiliki hubungan dengan Tomi, ia tak pernah mengenal keluarga laki-laki itu, karena memang Tomi merantau ke kota untuk kuliah dan bekerja. Penampilan Bu Rahayu benar-benar jauh berbeda dengan Bu Diana, ibu Rama. Ragu-ragu ia membalas uluran tangan wanita tua itu, dan menjabatnya.


"Tomi bilang, kemarin kalian datang hampir tengah malam. Maaf ibu tidak bisa menyambut kedatangan kalian." Ucap Bu Rahayu dengan senyuman yang begitu hangat.


"Duduklah, Nak. Ibu akan mengambilkan sarapan untukmu. Sudah jam segini, kamu pasti lapar." Senyuman tak pernah luntur di wajah keriputnya.


Wanita itu menggandeng tangan Marissa dan membawanya menuju meja kecil yang berada di dekat dapur. Sepertinya meja makan. Marissa duduk tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Memperhatikan wanita itu mengambilkan makanan untuknya. Nasi dengan lauk ayam goreng serta sup juga pelengkap lainnya.


"Ibu tidak tahu, apa makanan kesukaan kamu. Tapi sayuran sangat baik untuk ibu hamil." Ucap Bu Rahayu dengan lembut. Tangan tua itu mendorong pelan piring berisi makanan itu ke hadapan Marissa.


Marissa menatap wanita yang duduk dihadapannya itu. Bagaimana wanita itu tahu jika dirinya tengah hamil?


"Maafkan anak ibu, ya. Karena dia menikahi kamu secara siri." Marissa menautkan kedua alisnya.


Menikah sirri? Jadi Tomi mengatakan jika ia telah menikah siri dengannya?


"Semoga saja, kalian bisa segera meresmikan pernikahan kalian. Ibu akan selalu mendoakan yang terbaik untuk kalian." Ucap Bu Rahayu dengan sangat tulus.


"Makanlah, Nak. Ibu ke kamar sebentar." Bu Rahayu beranjak, dan masuk ke salah satu bilik kamar.

__ADS_1


Marissa melihat piring yang berisikan penuh dengan makanan. Jujur saja makanan seperti ini bukan seleranya. Tapi entahlah, tiba-tiba saja ia ingin sekali mencicipinya. Segera ia menyuapkan sesendok makanan ke dalam mulutnya. Rasanya sungguh nikmat sekali. Marissa menyuapkan kembali hingga makanan itu pun tandas.


***


Marissa memperhatikan sekeliling ruang tamu. Tidak ada yang istimewa. Semuanya serba sederhana, namun sangat rapi tertata. Kursi kayu yang berjajar mengelilingi meja yang berada di tengah. Sebuah meja kecil di sudut ruangan, dengan vas bunga di atasnya, membuat ruangan terlihat manis.


Perhatian Marissa terfokus pada bingkai foto yang terpampang di dinding. Sebuah foto keluarga. Foto Bu Rahayu dengan seorang laki-laki, mungkin suaminya, ayah Tomi. Dulu, Tomi pernah mengatakan jika ayahnya meninggal karena penyakit gagal ginjal. Lalu ada juga foto sorang anak laki-laki, yaituTomi, dan seorang anak perempuan.


"Itu foto Tomi dengan adik perempuannya. Namanya Raisa." Ucap Bu Rahayu dari arah belakang Marissa.


Wanita itu tersenyum hangat menatap Marissa. Nampak sekali raut bahagia di wajah tuanya. Semenjak Tomi mengatakan jika Marissa istrinya dan tengah hamil, Bu Rahayu semakin bersemangat menyiapkan segala keperluan putra dan menantunya.


"Raisa masih kuliah di luar kota, minggu depan waktunya dia pulang. Tinggallah lebih lama di sini. Biar ibu ada temannya." Ucap Bu Rahayu. Beliau selalu merasa kesepian, karena kedua anaknya tidak berada di rumah bersamanya. Sedangkan sang suami, telah meninggalkannya hampir sepuluh tahun silam.


Marissa sedikit memaksakan senyumannya. Tinggal lebih lama di sini? Yang benar saja. Tomi bukan siapa-siapa baginya.


"Assalamu'alaikum." Terdengar salam dari luar rumah.


"Suami kamu sudah pulang." Ucap Bu Rahayu dengan senyuman yang sumringah.


Wanita itu berjalan ke arah pintu dan membukakannya. Ternyata benar, memang Tomi yang datang. Marissa memperhatikan keduanya. Laki-laki itu mencium punggung tangan ibunya, kemudian masuk kedalam. Pandangan mereka bertemu, namun tak ada kata yang terucap. Tomi berlalu begitu saja ke dalam dengan membawa beberapa kantong barang dan satu ransel di punggungnya.


"Belum, Bu. Sebentar lagi." Tomi mengeluarkan barang belanjaannya dan menatanya di meja kecil yang berada di dapur.


"Makanlah dulu, istri kamu sudah makan barusan." Tomi menghentikan gerakannya, lalu kembali menyusun barang bawaannya.


Marissa hanya memperhatikan keduanya tanpa ada niatan untuk bergabung dengan mereka. Bu Rahayu sosok wanita yang begitu ramah dan hangat. Mungkin sifat itulah yang menurun pada putranya. Tomi laki-laki yang menyenangkan, bahkan jarang sekali terlihat marah. Oleh karena itu saat kemarin malam Tomi sedang emosi, Marissa tak berani menjawabnya.


"Ibu hanya memasak ini. Jika kamu memberitahukan dari awal kedatangan kalian, ibu akan memasakkan makanan kesukaanmu. Karena hanya ada ini yang tersisa di kulkas." Bu Rahayu mengambilkan makanan untuk Tomi.


"Tapi Alhamdulillah, istri kamu menyukainya." Bu Rahayu menoleh dan tersenyum ke arah Marissa yang mematung di ruang tengah.


Pandangan Tomi teralihkan pada Marissa yang tetap pada posisinya. Terlihat perempuan itu tengah memperhatikan interaksi antara dirinya dan sang ibu.


"Makanlah." Bu Rahayu menyodorkan sepiring makanan di hadapan Tomi. Laki-laki itu mengalihkan pandangannya pada sang ibu.


"Makasih, Bu." Tomi mengulas senyuman pada wanita yang telah melahirkan dirinya.

__ADS_1


Marissa menatap Tomi yang tengah tersenyum. Setelah hampir lima bulan lamanya ia baru melihat laki-laki itu tersenyum kembali.


Tomi mulai menikmati makanan di hadapannya dan sesekali berbincang hangat dengan ibunya. Entah apa yang Marissa rasakan, tapi ada sesuatu yang aneh menjalari dadanya.


Tomi sesekali melirik ke arah Marissa di sela perbincangannya dengan Bu Rahayu. Hingga pada akhirnya Marissa kembali ke dalam kamarnya.


"Tomi, boleh ibu bertanya sesuatu sama kamu?" Tomi menghentikan suapannya dan menatap ke arah sang ibu.


"Maaf jika nantinya ucapan ibu menyinggung. Tapi ibu juga berhak tau apa yang telah terjadi dengan anak ibu." Tomi menghela nafas panjang, lalu mengangguk perlahan.


"Apa kalian benar-benar telah menikah, atau kalian menikah saat mengetahui jika Marissa hamil?" Tanya Bu Rahayu.


Pertanyaan ibunya membuat Tomi susah menelan makanan yang sudah sampai kerongkongan. Apakah ia harus jujur pada ibunya? Tapi Tomi tidak mau jika ibunya sampai kecewa. Tomi meletakkan sendok yang ada di tangannya. Diraihnya tangan sang ibu dan digenggamnya hangat.


"Bu, maafkan Tomi. Tomi sudah mengecewakan ibu." Ucap Tomi yang tidak berani menatap kedua mata sang ibu.


Laki-laki itu tiba-tiba duduk bersimpuh di hadapan sang ibu. Meletakkan kepalanya di pangkuan wanita yang telah melahirkannya itu.


"Ampuni Tomi, Bu. Tomi gagal menjadi putra yang baik buat ibu." Ucap Tomi.


Bu Rahayu seolah paham akan arti ucapan putranya itu. Tangan tua itu yang sempat terulur ditariknya kembali.


"Sebenarnya kami belum menikah, tapi anak dalam kandungan Marissa memang anak Tomi. Kami tidak sengaja melakukannya, Bu." Bulir bening itu akhirnya menerobos paksa kedua mata tua itu.


"Tomi bukan anak yang pantas untuk dibanggakan. Ampuni Tomi, Bu. Tomi khilaf." Bu Rahayu merasakan pakaian yang dikenakannya basah. Putranya itu menangis di pangkuannya. Tangan tua itu akhirnya terulur menyentuh kepala sang putra. Diusapnya lembut puncak kepala putranya itu.


"Apa saat kamu melakukannya, kamu mengingat ibu juga Raisa? Kami sama-sama perempuan. Bagaimana jika nantinya adik kamu mengalami hal yang sama dengan apa yang Marissa alami? Hanya dengan membayangkannya saja, ibu tidak sanggup, Nak." Ucap Bu Rahayu dengan isakan yang mulai terdengar.


"Kamu sudah merusak masa depan anak gadis orang, Nak. Pertanggung jawabkan perbuatan kamu itu. Ingat, apa yang pernah ayahmu sampaikan sebelum kamu ke kota untuk melanjutkan pendidikan waktu itu?" Terasa anggukan di pangkuan.


"Seberat apapun masalah yang tengah menimpamu, hadapi, jangan pernah berlari. laki-laki sejati tidak akan pernah lari dari masalah, tapi laki-laki sejati akan tetap menghadapi masalah dan berusaha menyelesaikannya." Ucap Tomi menirukan perkataan mendiang ayahnya dengan mata basah yang menatap wajah teduh ibunya. Bu Rahayu menangkup wajah Tomi dengan kedua tangannya.


"Selesaikanlah masalahmu dengan Marissa, Nak. Jangan pernah lari dari tanggung jawab. Bukan hanya Marissa yang menjadi tanggung jawabmu saat ini, ada anak dalam kandungan Marissa juga. Dan kamu juga masih memiliki tanggung jawab yang lebih besar lagi dari itu semua. Pertanggung jawabkan semuanya dihadapan Allah. Nikahi Marissa. Berikan status yang jelas pada bayi yang tengah dikandungnya. Meskipun nantinya anak itu tidak pernah bernasab kepadamu." Ucap Bu Rahayu yang menatap lurus manik putranya yang basah.


***


maaf, maaf. kemarin memang sengaja tidak up, karena ada acara dari pagi sampai malem.

__ADS_1


Alhamdulillah sekarang bisa up kembali.


Nggak berasa udah up bab ke 100. terima kasih pada teman-teman pembaca setia yang udah ngikutin sampai sejauh ini.semoga suka, semoga terhibur, dan selalu menjadi salah satu bacaan favorit manteman tersayang.


__ADS_2