
Rama dan Pak Yanto berbincang ringan sembari menunggu Hasna kembali. Terdengar sesekali mereka tertawa kecil, sepertinya seru sekali topik yang mereka bahas.
Tawa mereka terhenti saat seseorang menghampiri meja yang mereka tempati.
"Rama?"
Rama menoleh dan seketika ekspresi di wajahnya berubah mengeras. Hal yang begitu ia hindari, justru menghampirinya saat ini.
Pak Yanto merasakan perubahan pada wajah majikan mudanya. Beliau juga menyayangkan akan kejadian ini. Luka majikan mudanya baru saja sembuh, dan sekarang di robek paksa oleh situasi.
"Boleh gabung?" Tanpa persetujuan orang itu sudah ambil posisi di hadapan Rama.
"Mau apa kamu?" Tanya Rama dingin. Rahangnya mengeras, ke dua tangannya terkepal erat di pangkuan.
Pak Yanto merasakan hal buruk akan terjadi, gegas ia mencari Hasna ke toilet.
"Maaf, Den. Bapak mules izin ke toilet sebentar."
Laki-laki itu segera meninggalkan keduanya. Sekarang yang terpenting, membawa Hasna untuk segera berada di samping Rama. Jangan sampai tuan mudanya itu terpancing emosi, karena kedatangan mantan kekasih Rama yang tiba-tiba.
"Lama nggak ketemu. Gimana kabar kamu?" Tanya Resty basa basi. Perempuan itu tersenyum manis.
Rama tetap terdiam tak ada keinginan untuk menjawab. Dia terlihat muak dengan perempuan di hadapannya itu.
"Kamu terlihat makin tampan." Puji Resty, berharap mendapatkan pujian yang sama dari Rama.
"Cepat katakan apa mau mu, dan segera pergi dari sini." Tegas Rama.
"Santai dulu. Rupanya kamu masih marah ya sama aku? Maafkan aku Rama, aku sungguh menyesal. Aku menyesal udah ninggalin kamu waktu itu. Aku_"
"Hentikan omong kosongmu itu. Dan segera pergilah dari sini." Potong Rama.
Pak Yanto menunggu Hasna di depan toilet wanita, berharap istri Rama itu segera keluar dari sana. Sudah lebih dari lima belas menit namun Hasna tak kunjung keluar juga.
"Aduh, Neng Hasna lama sekali. Cepetan keluar dong Neng, suasana genting ini." Gumamnya.
"Pak Yanto?" Hasna terkejut kenapa sampai Pak Yanto menunggunya di depan toilet seperti ini.
"Syukurlah Neng Hasna segera keluar." Terlihat raut kelegaan di wajah Pak Yanto.
"Ada apa, Pak? Ada sesuatu sama Mas Rama?" Terka Hasna.
"Bukan hanya sesuatu Neng, tapi bahaya." Hasna mengerutkan keningnya, bahaya apa yang Pak Yanto maksudkan.
Pak Yanto segera meminta Hasna kembali. Ia menceritakan jika Rama tengah bersama mantan kekasihnya di meja yang mereka pergunakan untuk makan siang tadi.
Saat hampir sampai, Pak Yanto tidak ikut kembali ke meja. Justru lebih memilih memperhatikan dari kejauhan. Lebih baik masalah diselesaikan oleh yang bersangkutan, dirinya tak perlu ikut campur.
Resty masih berusaha menarik simpati Rama dengan menceritakan kehidupan rumah tangganya. Dia mengatakan jika dirinya ternyata hanyalah istri simpanan. Ia terpaksa menikahi suaminya kerena telah hamil saat itu. Hingga memiliki dua orang anak, tapi posisinya tetaplah menjadi yang kedua. Dan apa yang dikatakan Resty, sungguh membuat Rama semakin muak.
"Aku sungguh menyesal meninggalkan kamu yang tulus mencintaiku. Aku hanya terbuai kesenangan sesaat." Ucapnya penuh sesal.
Wajah perempuan itu berubah sendu. Jika dulu itu adalah kelemahan Rama, tapi tidak untuk sekarang. Ia tak akan mengulangi kebodohan yang sama.
Jadi selama mereka berhubungan, Resty sudah memiliki hubungan lain dengan pria itu. Rama baru mengetahui fakta itu hari ini. Ternyata dugaannya selama ini salah. Ia mengira Resty terpaksa melakukan pernikahannya, tapi justru ia di tipu mentah-mentah oleh perempuan berwajah lugu itu.
"Rama, plis maafin aku. Aku tau perasaan kamu masih sama padaku. Jadi_"
"Perasaan apa yang Mbak maksudkan?" Resty menoleh ke arah sumber suara. Menghentikan pergerakannya yang akan meraih tangan Rama. Seorang perempuan berjilbab telah berdiri di antara dirinya dan Rama.
Resty memindai penampilan Hasna. Cantik, walau tanpa polesan make up. Gadis yang sederhana. Hampir seumuran dengan Nayla, adik Rama. Tapi siapa dia?
"Maaf, kamu siapa? Tindakan kamu sungguh tidaklah sopan. Tiba-tiba saja menyahut pembicaraan orang." Sarkas Resty. Ternyata perempuan itu sudah berubah. Bukan perempuan lembut seperti saat bersama Rama.
"Saya?" Hasna menunjuk dirinya sendiri.
"Saya..." Hasna lalu mengambil posisi tepat di samping Rama. Menggenggam tangan kanan Rama yang terkepal kuat.
"Kenalkan, saya Hasna, istrinya Mas Rama." Hasna menoleh dan tersenyum manis pada Rama. Tak berniat menoleh pada Resty saat mengatakan jika ia istri dari Rama. Laki-laki itu menarik sedikit sudut bibirnya.
__ADS_1
Resty membuka mulutnya, tidak percaya dengan apa yang barusan ia dengar. Rama sudah menikah? Tidak pernah terdengar kabar pernikahan mantan kekasihnya itu. Tapi kini tiba-tiba saja muncul perempuan yang mengaku sebagai istrinya.
"Aku tidak percaya, jika kamu adalah istri Rama. Pasti kamu hanya membantu Rama bersandiwara, kan?" Ucap Resty.
"Sandiwara yang seperti apa yang Mbak maksudkan?" Tanya Hasna. Perempuan itu terlihat tenang seperti biasa.
"Kamu berpura-pura menjadi istri Rama, kan? Aku tau gadis seperti kamu pasti mau melakukannya, karena diberikan harga yang pantas, iya kan? Pasti Pak Yanto yang meminta kamu membantu majikannya." Sungguh pedas sekali ucapan perempuan itu. Membuat Rama semakin tersulut emosi. Tangannya kembali terkepal kuat, namun dengan lembut Hasna mengusapnya. Membuat Rama melonggarkan kembali genggamannya.
"Maaf, Mbak mengatakan kalimat barusan untuk saya? Atau untuk mbak sendiri?" Pertanyaan yang sangat menohok.
Karena tanpa sengaja, Hasna telah mendengar apa yang Resty ceritakan pada Rama tentang pernikahannya.
"Apa maksud kamu?" Sentak Resty.
"Saya rasa Mbak bisa berpikir bijak. Terlebih usia Mbak yang lebih dewasa dari saya. Seorang perempuan tidak akan mau disentuh dan menyentuh laki-laki yang tidak halal baginya. Karena perempuan terhormat akan selalu menjaga harga dirinya di hadapan laki-laki yang bukan suaminya." Hasna setenang mungkin saat mengatakannya.
Baik Resty maupun Rama merasa tertampar oleh perkataan Hasna barusan. Bagaimana tidak, saat berpacaran mereka melakukan hal yang bagi mereka wajar dilakukan oleh sepasang kekasih. Berpegangan tangan, berpelukan, mencium kening dan pipi. Yang terpenting tidak melakukan tindakan di luar batas, seperti hubungan suami istri.
"Kamu jangan sok suci dengan berbicara seperti itu kepadaku. Apa kamu yakin jika laki-laki yang menjadi suami kamu itu laki-laki baik-baik? Apa dia pernah bercerita bagaimana kalakuan kami saat berpacaran dulu? Jika tidak, akan aku beri tahu." Tantang Resty.
"Tidak perlu repot-repot memberi tahu, karena saya tidak memerlukan itu. Semua memiliki masa lalu, baik itu Mas Rama, Mbak sendiri, juga saya tentunya. Tapi, masa lalu cukuplah sebagai pengalaman agar kita tidak terjatuh di kubangan yang sama." Resty mantap Hasna dengan tatapan tidak suka, sungguh banyak bicara sekali perempuan muda di hadapannya itu.
"Saya dan Mas Rama tidak membutuhkan masa lalu yang Mbak ceritakan barusan, karena Mas Rama akan terus melangkah merajut masa depan bersama saya, bukan Mbak." Rama menoleh, dan mengeratkan genggaman tangannya.
"Terlalu banyak bicara kamu. Terlihat alim tapi bermulut tajam." Cibir Resty menahan geram. Dan justru membuat Hasna semakin tersenyum.
"Banyak bicara itu di perlukan, jika memang keadaan mengharuskannya demikian. Dan saya akan diam jika ucapan saya di rasa tidaklah berguna."
Rama tak perlu angkat suara, ia yakin hasna bisa mengatasinya.
"Dan satu lagi, perempuan baik-baik akan menjaga harga diri suaminya. Bukan malah mengumbar keburukan dan menceritakan pada orang di masa lalunya. Karena apa? Karena tidak semua orang bisa bersimpati." Hasna menoleh pada Rama yang menatapnya lembut.
"Diam kamu, terlalu banyak bicara." Bentak Resty.
"Aku pastikan jika rumah tangga kalian tidak akan bahagia, karena Rama masih menyimpan cintanya untuk aku. Dan kamu hanya pelariannya sesaat." Setelah mengatakan itu, Resty pergi meninggalkan keduanya.
Hasna memperhatikan pergerakan perempuan cantik itu. Perempuan dewasa yang pernah ada di masa lalu suaminya.
Rama menarik Hasna ke dalam pelukannya. Hanya itu yang ia butuhkan untuk meluapkan emosinya. Bukan karena rasa kecewanya pada Resty, tapi karena Hasna yang bisa menerima dirinya yang begitu buruk di masa lalu. Sedangkan dirinya, mendapatkan Hasna yang selalu menjaga harga dirinya sebagai perempuan.
"Maaf." Lirih Rama.
"Maafkan aku." Terasa anggukan di dadanya.
Rama mengurai pelukannya, menatap wajah teduh istrinya.
"Terima kasih. Terima kasih karena kamu mau menerima semua masa laluku. Aku bukan orang yang baik Hasna." Ucapnya sendu.
"Mas, saat aku menerima pinangan Mas Rama, saat itu juga aku menerima kekurangan Mas Rama, dan segala hal buruk yang Mas Rama miliki. Karena menerima kelebihan pasangan jauh lebih mudah." Hasna menatap dalam manik pekat milik suaminya.
"Cukuplah mencari aku untuk melampiaskan rasa, saat hati Mas Rama mulai tergoda. Cukup lihat aku, saat Mas Rama menemukan yang jauh lebih indah. Pulanglah, jika hati Mas Rama mulai goyah. Kembali dan cari aku, karena aku rumah untuk mas Rama pulang." Rama mengangguk mendengar ucapan sang istri. Mata jernih itu memancarkan ketulusan.
Hasna adalah tujuannya saat ini. Hasna adalah rumah baginya. Hasna adalah tempatnya untuk pulang. Hasna adalah tempat baginya mendapatkan kenyamanan.
***
Di perjalanan pulang, berkali-kali Pak Yanto melirik sepasang suami istri yang duduk di kursi penumpang dari spion tengah mobil. Laki-laki paruh baya itu sesekali menyunggingkan senyumannya.
Kejadian hari ini sungguh membuatnya kagum akan sosok menantu keluarga Suryanata. Perempuan muda yang sungguh bijak menyikapi masa lalu suaminya. Tanpa emosi apalagi drama pertengkaran antara dirinya dan perempuan di masa lalu suaminya itu. Hasna mampu membuat lawannya mundur dengan teratur mengibarkan bendera kekalahannya.
Rama membawa istrinya ke dalam pelukan, sesekali mencium puncak kepalanya. Entah bagaimana Rama melukiskan perasaannya hari ini. Semua begitu tiba-tiba.
Masa lalu yang perlahan mulai hilang dari ingatannya, kini muncul kembali bagaikan mimpi buruk. Rasa marah dan kecewa akan penghianatan, seketika hadir. Membuka luka di masa lalu.
Lalu Hasna, perempuan yang berada dalam dekapannya kini, menjadikan dirinya sebagai tameng agar Rama tak kembali terperosok dalam kubangan yang sama, dengan luka yang lebih parah.
Hasna, perempuan dengan segala kelembutan yang dimilikinya, mampu membuat perempuan masa lalu Rama itu tak mampu lagi mendekati suaminya. Tanpa menunjukkan amarah Hasna berhasil membuat perempuan itu menyingkir dengan sendirinya.
Dan kini, perempuan teristimewa di hati Rama adalah istrinya. Hasna perlahan menunjukkan pesona di balik kesederhanaan yang dimilikinya, hingga membuat Rama tak sanggup lagi berpaling darinya.
__ADS_1
Perlahan rasa itu mulai tumbuh, dan mengakar seiring berjalannya waktu. Rasa yang telah lama mati, kini perlahan hadir kembali. Hasna, perempuan itu yang membawa kembali rasa yang telah Rama bunuh selama lima tahun lamanya.
"Jadi langsung pulang, Den?" Tanya Pak Yanto.
"Kita jalan-jalan dulu, Pak. Bapak cari hotel terdekat untuk beristirahat. Saya akan jalan-jalan berdua dengan istri saya." Rama memandang istrinya yang tersenyum padanya.
Hasna, sebutan itu sudah berganti dengan istri saya. Membuat dada perempuan itu berdebar.
***
Pak Yanto segera beristirahat setelah mendapatkan kartu akses hotel. Sedangkan Rama memilih untuk langsung mengajak istrinya menghabiskan waktu berdua.
"Gimana kalau kita nonton? Anggap saja ini kencan pertama kita." Ajak Rama.
Kencan pertama? Kata yang tak pernah terlintas di benak Hasna. Memang apa saja kegiatan yang pasangan lakukan saat kencan?
"Nonton?" Rama mengangguk.
"Oke. Mau nonton apa?" Tanya Hasna.
"Kamu sukanya genre apa? Romance? Drama? Horror? Action? Komedi? Thriller?"
"Terserah Mas Rama saja." Hasna menoleh sekilas karena berada dibalik kemudi.
"Oke, ada film action yang baru saja rilis. Kita nonton itu. Kamu setuju?" Hasna mengangguk.
Hasna membelokkan mobil di sebuah mall terbesar di kota itu, dan langsung menuju lantai empat di gedung bioskop. Hari ini mereka akan menghabiskan waktu seperti pasangan pada umumnya.
Satu jam lagi film akan mulai. Hasna berinisiatif membelikan minuman dan makanan ringan untuk mereka nikmati di dalam sana.
Keduanya sudah duduk di seat sesuai nomor tiket. Menikmati adegan demi adegan yang di suguhkan di layar lebar itu. Namun fokus Rama bukan itu, tapi wajah istrinya yang terlihat menegang saat adegan perkelahian antara tokoh utama dengan beberapa lawan sekaligus.
Sungguh menggemaskan, sesekali Hasna menarik nafasnya panjang kemudian menghembuskannya perlahan. Kadang hingga menahan nafasnya untuk beberapa detik seolah merasai ketegangan. Kadang menghembuskan nafas lega saat adegan menegangkan usai. Hingga film usai, Rama tak kunjung mengalihkan pandangannya.
"Mas?"
"Ya?" Rama masih fokus menetapnya intens.
Hasna reflek membetulkan jilbab yang ia kenakan, mungkin saja berantakan. Namun Rama tetap bergeming.
"Ada yang aneh?" Hasna meraba wajahnya.
"Tidak." Rama menggeleng.
"Lalu?"
"Kamu cantik." Hasna tersipu mendengarnya. Kalimat receh yang mampu membuat dadanya berdebar -debar.
"Udah ah, semua udah pada keluar." Rama mengedarkan sekeliling, ternyata sudah sepi, hanya tinggal beberapa yang hampir mendekati pintu keluar.
Hasna berdiri dari tempatnya, namun Rama menarik tangannya hingga membuat perempuan itu jatuh tepat di pangkuan.
Deg, deg, deg
Kedua manik itu bertemu, jarak pun semakin terkikis. Hingga bibir keduanya bertautan. Hanya beberapa detik saja, membuat keduanya merona.
"Ehemmm...mohon tidak melakukan aksi yang tidak senonoh di area gedung bioskop." Ternyata aksi keduanya terpergok penjaga teater.
Hasna menyembunyikan wajahnya di balik telapak tangannya. Malu, sangat malu rasanya. Melebihi saat Rama menciumnya di hadapan Bian.
"Maaf, dia istri saya. Kami permisi."
Rama segera menarik tangan Hasna keluar dari sana. Benar-benar memalukan. Rama merutuki kebodohannya. Kenapa ia bisa terbawa suasana, padahal tadi yang mereka tonton film action bukannya romance.
***
udah di penghujung tahun nih. selamat tahun baru ya manteman. semoga makin terhibur dengan ceritanya.
terima kasih juga atas dukungan kalian.
__ADS_1
salam penuh cinta dari Rama dan Hasna.