
Drrrtt...drrrtt...
Siska mengalihkan fokusnya dari televisi pada benda pipih yang tergeletak di atas kursi. Perempuan itu segera meraih dan memeriksa siapa yang mengirimkan pesan untuknya.
"Kak Tiwi?" Gumamnya.
Siska segera membuka pesan yang dikirimkan oleh sang Kakak.
~Dek, tolong jemput Nino di tempat bimbel ya. Kakak masih di bengkel, mobil Kakak pecah ban soalnya.~ Tiwi.
Kakak perempuannya meminta agar ia menjemput sang keponakan. Tidak mungkin jika ia menolak. Tapi bagaimana dengan Marissa?
"Gimana ini? Bentar lagi Marissa pasti akan kebangun. Kalau nggak ada yang awasi, pasti tuh anak bekalan nekat ke acara Rama." Gumam Siska sambil melihat jam yang melingkari pergelangan tangannya.
Walaupun tak memiliki undangan, tapi berita pernikahan pengusaha muda itu sudah ada di pemberitaan media online. Marissa bisa saja dengan mudah mendapatkan informasi mengenai kapan hari pernikahan Rama berlangsung.
~Bisa ya, Dek. Mas Arman lembur soalnya. Lima belas menit lagi Nino keluar kelas. Kasihan kalau dia nunggu lama.~ Tiwi.
Belum sempat membalas pesan pertama, pesan kedua sudah masuk lagi ke ponselnya. Bagaimanapun Nino menjadi prioritasnya kali ini. Bocah berusia tujuh tahun itu lebih membutuhkan dirinya. Akan sangat membahayakan jika sampai membiarkannya menunggu seorang diri di tempat bimbelnya.
Siska segera mengirimkan pesan pada Tomi. Semoga saja laki-laki itu bisa membereskan masalah Marissa.
~Tomi, sori banget. Gue ada urusan urgent. Bentar lagi Marissa akan sadar. Lo bisa bantu pantau dia?~ Siska.
Siska memeriksa Marissa yang berada di dalam kamar. Terlihat perempuan itu mulai menggeliat. Bisa gawat jika Marissa terbangun saat ini juga. Tapi rupanya Marissa hanya merubah posisinya tidurnya saja, yang membuat Siska bisa bernafas lega.
Balasan Tomi masuk sesaat setelah Siska menutup kembali pintu kamar Marissa.
~Oke, tunggu sampai gue dateng. Gue langsung otw sekarang.~ Tomi.
~Nggak bisa kalau sampai nunggu lo dateng. Moga aja, Marissa masih dalam pengaruh obat.~ Siska.
Tanpa menunggu balasan dari Tomi, perempuan itu segera pergi meninggalkan kontrakan Marissa. Sebelumnya Siska menuliskan notes untuk sahabatnya itu, yang ia tinggalkan di atas meja kecil di dekat tempat tidurnya.
***
Setelah mendapatkan kabar jika Siska akan meninggalkan Marissa seorang diri, Tomi bergegas untuk pergi ke kontrakan Marissa. Segera ia menyambar kunci mobilnya dan kembali ke tempat yang baru beberapa jam ia tinggalkan. Ia tak ingin membuang-buang waktu, dan segera melajukan kendaraannya membelah jalanan di malam hari.
Tomi mengumpat kesal manakala beberapa kali terjebak kemacetan. Sedangkan dirinya tengah diburu waktu. Berkali-kali Tomi melihat jam di pergelangan tangannya, memastikan jika kemacetan tidak akan membuatnya terlambat untuk sampai di tempat Marissa.
Tin, tin, tin
__ADS_1
Beberapa kali Tomi membunyikan klaksonnya, berharap kendaraan yang berjajar di depannya segera melaju. Namun percuma saja, karena macetnya begitu panjang.
"Sial." Umpatnya sembari memukul kemudi dengan sangat kesalnya.
Tin, tin, tin
"Halo, Sis. Gue kejebak macet. Lo bisa ke kontrakan Marissa lagi nggak?" Ucap Tomi melalui sambungan telepon.
"Sori banget, Tom. Gue udah terlanjur sampai rumah. Mana kakak gue belum nyampek. Si Nino lagi tidur soalnya." Ucap Siska.
Jarak rumah Siska lumayan jauh daripada posisi Tomi saat ini. Hanya saja karena macet yang tak berkesudahan, membuatnya harus menunggu di titik yang sama hampir satu jam lamanya.
"Ya udah, makasih." Sambungan pun terputus.
Tomi membuka pintu mobilnya, mencoba mencari tahu sebab kemacetan panjang yang tak biasanya saat weekend begini.
"Maaf, Pak. Ada apa, ya? Kenapa macet parah seperti ini?" Tanya Tomi kepada seorang tukang ojek online yang berada lima meter di depannya.
"Itu Mas, ada kecelakaan tunggal di depan. Truk angkut oleng, nabrak pembatas jalan. Masih di evakuasi sama petugas. kayaknya bakalan lama macetnya, soalnya jatuhnya truknya melintang." Jawab tukang ojek itu.
Tomi menghembuskan nafasnya kasar. Kalau sudah begini, tidak bisa yang dapat ia lakukan. Kecuali menunggu petugas sampai selesai melakukan evakuasi. Semoga saja Marissa tidak melakukan hal yang nekat.
***
"Mas temannya Mbak Marissa, ya?" Tanya seorang ibu-ibu pada Tomi.
"Iya, Bu." Tomi mengangguk sopan.
"Mbak Marissa baru saja keluar." Jawab ibu itu.
"Keluar?" Tomi sedikit memekik dai hadapan ibu-ibu itu.
"Iya, Mas. Sekitar setengah jam yang lalu." Ucap ibu itu.
"Sendirian saja atau bersama temannya?" Tomi berusaha memastikan.
"Sendirian, Mas. Soalnya temannya yang biasanya kemari udah pulang dari dua jam yang lalu." Ucap sang ibu.
Gawat, jika Marissa benar-benar nekat pergi ke acara Rama. Sudah dapat pastikan apa yang akan terjadi dengan kehadiran perempuan itu.
"Baiklah, Bu. Terima kasih." Tomi gegas melajukan mobilnya menuju gedung hotel tempat di mana acara resepsi Rama berlangsung.
__ADS_1
Untung saja jalanan tidak semacet tadi, jadi masih ada harapan jika Tomi bisa mencegah perbuatan Marissa. Semoga dirinya tidak terlambat.
***
Acara resepsi dimulai setelah sholat maghrib, sesaat setelah acara akad nikah. Banyak tamu undangan yang berdatangan. Sebagian tadi telah datang sesaat sebelum acara akad dimulai. Mereka masih bertahan di ballroom karena ingin mengikuti acara resepsi yang akan di mulai setelah ini.
Suasana di luar begitu tertib, para penjaga yang dikerahkan untuk mendampingi petugas penerima tamu di pintu utama, melakukan tugas mereka dengan baik. Memeriksa identitas yang di sesuaikan dengan nama di daftar tamu yang sudah disambung di server keamanan. Sehingga jika ada yang datang tanpa menunjukkan undangan, tidak akan diperkenankan masuk, karena pengamanan benar-benar diperketat.
Semua tamu wajib menunjukkan undangan untuk bisa masuk ke dalam sana. Bahkan undangan dilengkapi kode khusus untuk mencocokkan siapa saja yang benar-benar ada dalam daftar tamu.
Penjagaan di luar hotel di perketat, begitu pun di sekitar ballroom. Ada beberapa penjaga yang di tempatkan di titik-titik tertentu. Keluarga Suryanata hanya ingin menghindari hal-hal yang tidak pernah mereka duga sebelumnya. Mengingat kejadian buruk yang menimpa putra mereka beberapa waktu lalu.
Seorang tamu diantara tamu yang baru saja datang, tengah meyakinkan petugas bahwa dirinya adalah salah satu tamu yang benar-benar di undang oleh Rama. Tapi petugas tidak mempercayainya sama sekali. Mengingat orang itu tidak dapat menunjukkan undangan yang telah dilengkapi kode khusus agar bisa memasuki tempat acara.
"Kami mohon, tolong segera tinggalkan tempat ini." Ucap salah satu petugas.
"Saya akan pergi, setelah saya bertemu dengan Rama Suryanata." Sungut orang itu.
Dua orang bertubuh besar menghampiri seseorang yang berusaha menerobos keamanan, yang tak lain adalah Marissa.
"Kami sudah mengtakannya dengan baik-baik. Jika sampai anda mencoba untuk menerobos paksa keamanan, maka jangan salahkan kami jika kami melakukan tindakan yang lebih dari ini." Penjaga bagian keamanan berusaha memperingatkan Marissa.
Sungguh sial sekali, hampir satu jam dirinya terjebak kemacetan, dan akhirnya bisa sampai di hotel tempat acara resepsi pernikahan Rama berlangsung, justru dirinya tidak diizinkan masuk. Dengan sangat terpaksa, Marissa segera pergi dari sana. Ia tidak mau jika nanti dirinya mendapatkan malu karena berusaha menerobos paksa keamanan.
Marissa kembali masuk ke dalam mobil miliknya. Perempuan itu benar-benar kesal karena tidak diizinkan masuk ke dalam. Padahal perempuan itu juga ingin memastikan apakah perempuan bernama Hasna Ayudia yang menjadi istri dari Rama adalah Hasna yang sama dengan perempuan yang ia kenal sebagai kerabat Rama selama ini. Hanya karena selembar undangan, ia tetap tertahan di pintu keaman dan akhirnya memutuskan untuk kembali pulang dengan tangan hampa.
***
Para tamu undangan sudah memenuhi ballroom dan tengah menikmati hidangan yang telah di sediakan. Rama juga Hasna kembali naik ke atas pelaminan setelah melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim.
Semua mata tertuju pada kedua mempelai yang berjalan saling beriringan itu. Nampak sekali aura kebahagiaan yang memancar dari wajah keduanya.
Para tamu yang hadir di awal banyak yang memutuskan untuk undur diri, tak sedikit pula tetap bertahan untuk menikmati sajian dan hiburan berupa live musik.
Hasna dan Rama berdiri di atas pelaminan untuk menerima ucapan selamat dari para tamu yang datang malam ini. Dengan di dampingi Mama juga Papa mertua yang mengapit keduanya.
"Selamat atas pernikahan Pak Rama. Semoga berbahagia selalu bersama istri." Ucap salah satu undangan.
"Terima kasih atas kedatangan dan do'a restunya."
Keduanya menerima ucapan dengan senyuman yang tak pernah surut dari kedua sudut bibir mereka. Malam ini benar-benar malam yang sangat berkesan bagi keduanya.
__ADS_1
Kini seluruh dunia telah mengetahui pernikahan mereka. Tak ada lagi status yang ditutupi. Mereka telah mengetahui jika Hasna Ayudia adalah istri dari Rama Suryanata.
***