Bidadari Penghapus Luka

Bidadari Penghapus Luka
Bab 115


__ADS_3

Acara pengajian dan doa bersama di laksanakan di rumah pribadi Rama menjelang keberangkatannya untuk umroh bersama Hasna. Dan selama itu pula Mama, Papa beserta Nayla menginap di rumah mereka.


"Keperluan kamu udah kamu siapin semua kan, Sayang?" Tanya Mama yang membantu Hasna berkemas.


"Sudah semuanya, Ma. Kami tidak membawa banyak barang. Hanya barang-barang yang sekiranya penting saja." Jawab Hasna.


"Nanti berapa hari kalian di sana?"


"Insya Allah sekitar dua minggu."


"Kalian jaga diri ya. Mama pasti sangat merindukan kedatangan kalian. Udah malem, kamu istirahat gih." Mama mengusap lembut bahu Hasna lalu beranjak meninggalkan perempuan itu seorang diri di kamar.


Tak berselang lama, Rama pun kembali setelah membereskan ruang tamu yang dipakai untuk acara doa bersama, yang dibantu oleh Papa, Ivan juga Pak Mamat. Karena memang rumah mereka tanpa asisten rumah tangga. Untung saja anak buah Hasna yang mengantarkan katering tadi mau membantu mereka dengan senang hati.


"Udah malem, kita istirahat dulu." Ucap Rama yang baru keluar dari kamar mandi.


***


Sebelum jam makan siang, Rama dan juga Hasna sudah bersiap untuk berangkat, mengingat jadwal penerbangan mereka sebelum jam tiga sore. Sedangkan pihak travel langsung menunggu mereka di bandara.


"Kalian hati-hati, ya. Jangan lupa beri Mama kabar setelah kalian sampai." Ucap Mama.


"Iya, Ma." Hasna memeluk Mama dan mencium punggung tangan wanita itu.


"Jaga hasna baik-baik." Ucap Papa yang memeluk Rama dan menepuk pelan pundaknya..


"Mbak Hasna, aku pasti kangen nanti." Nayla memeluk Hasna begitu erat.


"Kami masuk dulu, assalamu'alaikum." Ucap Rama.

__ADS_1


"Wa'alaikumussalam."


Rama menggandeng tangan Hasna dan menyeret koper besar, sedangkan Hasna hanya memakai tas yang tidak begitu besar. Keduanya langsung masuk ke dalam bandara untuk check in.


***


Selama meninggalkan tanah air, Rama menyerahkan urusan kantornya pada Ivan juga Tania. Kedua sepupu itu bekerja dengan sangat profesional. Jadi tidak ada yang perlu Rama khawatirkan jika ia meninggalkan kantor terlalu lama. Hanya saja ia tetap memantau dari laporan yang Ivan atau Tania berikan kepadanya.


Serangkaian kegiatan ibadah di tanah suci mereka lakukan dengan penuh kekhusyukan. Hasna memanjatkan doanya di Jabal Rahmah, bukit bertemunya manusia pertama dengan pasangannya. Nabi Adam dan ibu Hawa. Di sana juga ia pernah meminta Allah mempertemukan dirinya dengan laki-laki yang memang telah dipersiapkan untuknya di masa depan, yang kini telah menjadi suaminya, Rama. Lalu sekarang, ia meminta akan adanya benih kasih sayang antara dirinya dan Rama, yang akan tumbuh di rahimnya.


Pun saat di hadapan Ka'bah, pertama kalinya Hasna menyaksikan Rama terduduk bersimpuh dengan mata yang berair. Laki-laki itu menangis di hadapan kiblat para umat muslim itu. Berkali-kali melakukan ibadah di sana, berkali-kali pula mata laki-laki itu basah.


Ibadah umroh pertama bagi Rama, namun sungguh sangat berkesan untuknya. Menjadi tamu mulia di rumah Allah bersama perempuan yang begitu istimewa dalam hidupnya. Perempuan yang pernah ia tolak kehadirannya, namun dia adalah perempuan yang sama, yang ingin Rama pertahankan untuk menemani di sisa hidupnya.


"Allah, dosaku sangat banyak bahkan tak terhitung. Ampuni segala dosa-dosa hamba. Hamba pernah menjadi manusia kufur akan kenikmatan yang engkau berikan. Hamba pernah merasa jika apa yang Engkau takdirkan, tidak baik untuk hidup hamba. Engkau memilihkan perempuan yang tidak pernah hamba inginkan kehadirannya, namun Engkau mengokohkan hatinya agar tetap bertahan di sisi hamba. Engkau yang Maha membolak balikkan hati manusia. Dan sekarang, perempuan itu yang sudah memiliki sepenuhnya hati hamba."


"Jagalah hati ini, agar tetap bertaut dengan hatinya kerena Mu. Tutuplah pandangan mata ini jika nanti ada keindahan yang dapat merusak fitrah hamba sebagai seorang suami. Engkau adalah Dzat yang membolak balikkan hati, tetapkan dan peliharalah hati ini agar selalu menjaga fitrah cinta kami sebagai suami istri. Ringankanlah langkah ini untuk menuntun keluarga kecil hamba dalam kebaikan. Kokohkan selalu lengan ini, agar bisa selalu menggenggam erat tangan istri hamba untuk menggapai ridho Mu."


Hasna mengusap pelan punggung suaminya yang masih betah bersimpuh menengadahkan kedua tangannya dihadapan Ka'bah. Mata laki-laki itu basah, namun bibirnya menyunggingkan senyuman. Tangan kanan Rama terulur menyentuh perut Hasna dan mengusapnya lembut.


"Ya Allah, karuniakanlah keturunan yang Sholih sebagai penerus perjuangan baik kami di dunia, dan kelak akan menolong kami di akhirat, Aamiin."


"Ayo kita kembali ke hotel, sudah terlalu larut." Ucap Rama seraya mengusap sisa air mata yang menggenangi kedua netranya.


***


Tidak terasa dua minggu sudah Rama dan Hasna menghabiskan waktu mereka di tanah suci. Dan hari ini rencananya mereka akan sampai kembali ke tanah air. Keluarga Suryanata nampak tidak sabar menantikan kehadiran putra dan menantu mereka.


Sepasang suami istri itu akhirnya tiba di tanah air. Di bandara, keluarga sudah menunggu mereka di pintu kedatangan. Nayla berlari dan memeluk Hasna. Gadis itu merindukan kakak ipar kesayangannya.

__ADS_1


Hasna menghampiri Bu Diana dan mencium punggung tangannya. Wanita paruh baya itu pun memeluk erat menantu perempuannya dengan penuh rindu. Karena wajah cantik yang selalu di penuhi senyuman itu tak beliau lihat selama dua minggu balakangan ini.


Sedangkan Rama memeluk sang Papa. Karena selama berada di tanah suci, petuah ayahnya tentang tugas dan kewajibannya sebagai seorang suami selalu terngiang-ngiang di telinganya. Dan itu salah satu penyebab dirinya betah berlama-lama bersimpuh di hadapan Ka'bah. Menyesali semua perbuatannya kepada sang istri di awal pernikahan mereka dulu. Bahkan menyalahkan keluarganya yang telah memaksakan agar ia mau menikahi perempuan asing bernama Hasna.


Namun semua telah berubah seiring waktu. Cintanya kepada sang istri telah tumbuh dan mengakar kuat di hatinya. Bahkan ia tidak akan pernah sanggup jika nantinya harus kehilangan istri tercintanya.


"Bagaimana kabar kalian?" Tanya Papa setelah pelukan terurai.


"Alhamdulillah, baik, Pa. Papa dan Mama?" Tanya Rama.


"Kalau Papa alhamdulillah selalu baik-baik saja. Tapi kalau Mama..." Papa menoleh sekilas pada Mama yang masih betah memeluk Hasna.


"Mama kenapa?" Tanya Rama.


"Mama kamu selalu mellow kalau ingat kalian. Lihat Nayla, katanya ingat Hasna, karena seumuran. Mbok Sumi bikin sup iga, mewek, ingat kamu. Mama kamu seperti dalam fase mood swing nya wanita hamil saja. Dikit-dikit mewek. Padahal kalian kan pergi umroh, bukannya pergi perang. Tapi meweknya itu loh." Ucap Papa.


"Emang Rama mau punya adik lagi, Pa?" Tanya Rama.


"Hush, punya mulut mbok ya di kasih minyak rem, biar nggak blong." Mama reflek memukul pundak Rama.


"Enak aja, Nay nggak mau ya, kalau harus punya adik lagi. Bisa-bisa nanti uang jajan Nay harus di bagi dua." Sahut Nayla.


"Lah, kirain aja, kita yang usaha, Mama Papa yang berhasil." Kekeh Rama.


"Mama berharap sekali, setelah ini akan ada anggota keluarga baru di keluarga kita. Penerus keturunan Suryanata." Ucap Mama penuh harap.


"Aamiin..." Ucap yang lain.


"Ya sudah ayo kita segera pulang." Ajak Papa.

__ADS_1


Mereka semua berjalan beriringan menuju mobil untuk segera pulang.


***


__ADS_2