Bidadari Penghapus Luka

Bidadari Penghapus Luka
Bab 58


__ADS_3

Marissa menghirup dalam-dalam udara agar memenuhi rongga paru-paru yang terasa kosong. Dadanya terasa sesak.


Siska masih menunggu Marissa membuka suara. Ada ketegangan di wajah sahabatnya itu. Hingga pada akhirnya, Marissa mulai membuka suara.


"Gue hamil." Lirihnya, namun kalimat itu sungguh jelas terdengar di telinga Siska.


Perempuan itu membolakan matanya sempurna. Tidak mungkin ia salah dengar. Marissa hamil?


"Hamil?" Ulangnya, dan mendapatkan anggukan dari sahabatnya itu.


Siska terlihat sangat syok dengan pernyataan yang baru saja ia dengar. Sahabatnya itu hamil? Tapi dengan siapa? Setahu dirinya, Marissa tidak sedang memiliki hubungan dengan lelaki manapun. Kecuali Rama.


Marissa sering menceritakan bagaimana perasaannya terhadap atasannya di kantor itu. Perasaan kagum yang telah berubah menjadi perasaan cinta. Tapi laki-laki itu acuh terhadap Marissa. Apa jangan-jangan laki-laki itu yang menghamili sahabatnya.


"Jangan bilang lo hamil sama Bos lo itu. Dasar laki-laki beren*sek." Umpat Siska.


"Bukan Rama." Lirih Marissa.


Siska menoleh cepat pada Marissa. Jika bukan Rama, lalu siapa? Pertanyaan itu yang sekarang memenuhi kepala Siska.


"Tomi." Lirih Marissa sekali lagi. Perempuan itu seolah tau arti tatapan Siska.


Siska menutup mulut dengan telapak tangannya. Sungguh ia tidak menyangka, jika sahabatnya itu hamil dengan mantan pacarnya. Tapi tunggu, bukankah beberapa minggu yang lalu Tomi menanyakan Marissa padanya. Apa itu artinya Tomi sudah tau jika Marissa tengah hamil?


"Dia tau kalau lo hamil?" Marissa menggeleng.


Bahu Siska meluruh dengan jawaban Marissa. Perempuan itu membuang nafasnya kasar.


"Gue yang akan beri tahu dia. Dia harus mempertanggung jawabkan perbuatannya." Ucap Siska berapi-api. Lantas perempuan itu berdiri.


"Jangan." Cegah Marissa, membuat Siska mengurungkan langkahnya, dan menatap tajam sahabat karibnya.


"Jangan katakan apapun pada laki-laki itu. Gue nggak mau sampai dia tau. Karena gue nggak sudi. Gue nggak sudi mengandung benih dari laki-laki bereng*ek seperti dia." Ucap Marissa penuh emosi.


"Gue akan le**apin kandungan ini secepatnya." Geram Marissa.


*Lo jangan gi*a. Cukup lo udah berdosa sampai anak ini ada di kandungan lo. Jangan nambah dosa lagi buat ngebu**h dia yang tidak bersalah." Cegah Siska, menunjuk perut Marissa yang masih terlihat datar.


"Anak dalam kandungan lo ini tidak bersalah, jangan buat dia menanggung dosa kedua orang tuanya. Andaikan dia bisa memilih, mungkin dia tidak akan mau tumbuh di rahim perempuan yang belum memiliki kejelasan ikatan seperti lo." Siska mencoba memberikan nasehat pada sahabat baiknya. Jangan sampai Marissa salah langkah.


Benar sekali perkataan Siska, tapi perempuan itu tidak merasakan berada di posisinya saat ini. Memberikan nasehat memang jauh lebih mudah dari saat menjalankan nasehat itu.


"Anak ini berhak hidup, Sa. Jangan ambil hak dia hanya demi keegoisan lo. Kita bisa mencari jalan keluar terbaik untuk masalah ini." Ucap Siska penuh penekanan.


Siska mencoba berbicara dari hati ke hati pada Marissa. Perempuan dihadapannya itu sedang kalut saat ini. Masih belum bisa berpikir jernih. Sebagai sahabat sudah menjadi tugasnya untuk mengingatkan jika sahabatnya berada di jalan yang tidak semestinya. Terlepas dia bukan orang baik sekalipun.


Siska meraih pundak Marissa, mengusapnya lembut dan membawanya ke dalam pelukan. Mengusap lembut punggung perempuan itu.


"Gue nggak mau hamil anak laki-laki itu. Harapan terbesar dalam hidup gue, gue bisa mengandung anak dari laki-laki yang gue cintai." Lirih Marissa dalam dekapan Siska. Perempuan itu sedikit terisak. Siska hanya mengangguk untuk menenangkan Marissa.


Tiba-tiba Marissa mengurai pelukannya dan mengusap kasar sisa air mata di kedua pipinya.


"Gue hanya mau jika Rama yang menjadi ayah dari anak dalam kandungan gue. Bagaimanapun caranya, Rama harus bisa mengakuinya." Ucap Marissa penuh penekanan. Siska menggeleng, menolak ucapan Marissa.


"Enggak, lo nggak boleh lakuin itu. Lo nggak boleh membawa orang lain ke dalam masalah lo. Lo jangan egois. Rama tidak seharusnya mengakui sesuatu yang tidak ia lakukan." Peringat Siska.


"Pilihannya hanya dua. Melenyapkan atau pengakuan Rama." Tekan Marissa.


Perempuan itu menatap tajam pada Siska yang tidak berada di pihaknya. Terserah apa yang akan Siska katakan tentang dirinya. Sungguh Marissa sudah tidak memperdulikan itu lagi. Kini tujuannya hanya satu, membuat Rama mau mengakui anak dalam kandungannya sebagai anak kandungnya. Bagaimanapun caranya.


***


Malam sudah semakin larut, saat Rama meminta Ivan untuk segera kembali untuk pulang. Walaupun klien sudah menyiapkan tempat untuk mereka bermalam, tapi Rama tetap bersikeras untuk segera pulang.


Ivan mendengus sebal. Sungguh atasannya kini serasa menyiksanya. Betapa tidak, pulang pergi dia yang berada di balik kemudi, karena Rama tidak bisa menggantikannya.


Sebelum-sebelumnya mereka selalu bergantian mengemudi jika ada pekerjaan di luar kota, atau bermalam untuk sekedar melepas lelah. Karena mereka tidak pernah membawa sopir bersama mereka. Tapi kali ini sungguh membuat laki-laki itu harus merelakan tulang-tulangnya serasa di lepas paksa dari persendian.


Ivan membunyikan klakson saat berada di depan gerbang rumah Rama. Pak Mamat yang memang tengah menunggu kedatangan Rama, dengan segera membukakan gerbang untuk majikannya.


"Kamu langsung kembali saja, terima kasih." Ucap Rama pada Ivan sebelum turun dari mobil.


Ivan kembali mendengus, ia benar-benar kesal pada Rama. Malam semakin larut tapi atasannya itu tidak menawarkan sesuatu kepadanya. Minuman mungkin untuk sekedar menghangatkan tubuh. Atau tempat beristirahat. Terlebih rumah Rama cukup besar, kamar tamu pun ada beberapa.


"Baik, Pak." Jawabnya masam. Untung saja di dalam mobil pencahayaannya remang-remang. Kalau tidak, sudah pasti Rama akan melihat jika tanduk sudah tumbuh di kedua sisi kepalanya, saking kesalnya.


Rama segera masuk ke dalam dan Ivan kembali melajukan mobil, meninggalkan kediaman atasan yang sangat menyebalkan itu.


Jarum jam sudah menunjukkan angka dua belas lewat. Sepertinya Hasna sudah tidur. Tadi Rama sempat menelepon istrinya sesaat sebelum pulang, kurang lebih tiga jam yang lalu.

__ADS_1


Rama membuka pintu utama, lampu-lampu sudah padam. Berarti istrinya tengah beristirahat sekarang. Rama langsung menuju ke kamarnya di lantai dua, pasti istrinya itu berada di sana.


Perlahan ia membuka pintu, jangan sampai pergerakannya membuat sang istri terbangun. Keningnya mengernyit heran manakala lampu kamar masih menyala terang.


Ranjangnya kosong. Gegas ia mengetuk pintu kamar mandi, tak ada jawaban. Terpaksa ia buka, namun tidak ada siapapun di sana. Kemana istrinya itu.


Rama kembali akan menuruni anak tangga berniat memeriksa kamar tamu, siapa tahu Hasna berada di sana. Tapi baru saja membuka pintu, sosok yang ia cari kini berdiri tepat dihadapannya. Membawa secangkir minuman di tangannya.


Hasna melewati tubuh suaminya yang berdiri diambang pintu begitu saja, meletakkan minuman yang ia bawa dari dapur di atas nakas. Membuat Rama mendengus sebal. Dasar bocah tidak peka.


Rama memeluk tubuhnya sebelum Hasna sempat berbalik. Laki-laki itu menghirup dalam-dalam aroma tubuh istrinya. Menyandarkan kepalanya diceruk leher Hasna.


"Aku merindukanmu." Lirih Rama, membuat Hasna tersipu.


Kenapa ia merasa jika Rama menjadi sebucin ini padanya. Hubungan mereka semakin menghangat semenjak pertengkaran kemarin. Dan sudah banyak kemajuan dalam hubungan mereka saat ini.


"Mas Rama tidak ganti dulu?" Tanya Hasna.


"Aku akan ganti setelah kamu bilang kalau kamu juga merindukan aku." Bisiknya.


Sungguh ucapan Rama membuat Hasna tergelak.


"Kenapa tertawa?" Protes Rama.


"Lucu saja, tiba-tiba Mas Rama bersikap kekanak-kanakan. Padahal udah tua juga." Kekeh Hasna.


Rama melepaskan pelukannya. Wajahnya terlihat masam saat mendengar Hasna mengatakan jika dirinya sudah tua.


"Kamu ngatain saya?" Mulai mode serius rupanya.


"E...ti..tidak." Elak Hasna. Perempuan itu menggeleng.


"Yang barusan apa?" Todong Rama.


"Yang mana?" Pura-pura Hasna.


"Yang barusan."


"Yang mana sih?"


Rama mendengus sebal.


"Emang iya, aku ngomong gitu?" Kekehnya.


"Pakek ngelak lagi, dasar bocah." Rama menarik ujung hidung sang istri.


"Biarin, bocah-bocah gini bisa bikin Mas Rama kangen kan?" Ledek Hasna, mengusap bekas tarikan Rama di hidungnya.


"Lama-lama kamu ketularan tingkahnya Nayla, nyebelin."


"Kan kita emang seumuran."


Rama memposisikan duduk diatas ranjang, hendak membuka sepatunya. Namun dengan cekatan, Hasna membantu untuk membukakannya. Kemudian menyodorkan secangkir minuman hangat yang sempat ia buatkan untuk Rama. Perutnya terasa hangat saat ia meminumnya.


"Aku mau bersih-bersih dulu." Hasna mengangguk. Rama menyerahkan cangkirnya kepada Hasna.


Rama tetap pada posisinya, tak beranjak sedikitpun.


"Katanya mau bersih-bersih?" Tanya Hasna heran.


"Kamu nggak mau bantuin aku?"


Oh ternyata, Rama menunggu sang istri melayaninya seperti biasa. Padahal ia sudah melepaskan arm slingnya semenjak memasuki rumah tadi. Dasar abege mateng.


Hasna membuka kancing kemeja yang Rama kenakan satu persatu. Setelahnya melepaskan kemejanya. Sekarang sudah lebih mudah, karena Rama sudah jarang mengenakan arm slingnya di rumah. Jadi pergerakannya sedikit bebas.


"Udah." Ucap Hasna saat selesai melepaskan kemeja dan menyampirkannya di lengan kirinya.


"Celana?" Rama melihat celana yang ia kenakan dan Hasna bergantian.


Hmmm....dasar modus.


Hasna membuka gesper ikat pinggang suaminya. Ia mulai terbiasa akan hal itu, tapi tetap saja, dia masih saja deg-degan. Ditariknya perlahan ikat pinggang yang membelit pinggang Rama. Membuka pengait celana panjang yang Rama kenakan. Dan menurunkan sedikit resletingnya.


Jantungnya berdetak kencang manakala tangannya tak sengaja bersentuhan dengan sesuatu yang...


"Mas, udah. Nanti lepasnya di dalam aja." Hasna memalingkan wajah, menyembunyikan rona di wajahnya. Rama menarik ujung bibirnya, ternyata sang istri menyadarinya.


Ia segera masuk ke kamar mandi untuk sekedar membersihkan diri. Dan seperti biasa Hasna sudah mempersiapkan pakaian ganti untuk dirinya.

__ADS_1


Rama segera mengganti pakaiannya. Sepertinya sudah terlalu larut jika terus menggoda istrinya.


***


Rama sudah meminta Ivan untuk mengosongkan jadwalnya selama tiga hari kedepan, karena ia sudah berjanji untuk menemani Hasna ke luar kota.


"Mas Rama nggak capek?" Tanya Hasna saat Rama mengajaknya berkemas.


"Nanti sesampainya di sana, kita istirahat dulu. Besoknya baru kita lihat lokasi." Jawab Rama.


"Apa tidak sebaiknya Mas Rama istirahat dulu? Kemarin pulangnya juga larut banget." Hasna masih mencoba membujuk Rama.


Hasna benar, dirinya memang sangat letih, terlebih ia dan Ivan tidak beristirahat sama sekali. Ia jadi teringat Ivan saat mengajak asistennya itu langsung pulang. Wajah tampan asistennya terlihat letih juga kesal, namun Ivan tetap menuruti permintaan Rama.


"Haaahh...baiklah kalau kamu maksa. Aku akan beristirahat seharian ini." Ucap Rama seolah pasrah akan paksaan istrinya.


Hasna menggeleng pelan, siapa juga yang memaksa. Dasar.


"Mas, aku minta izin ya. Nanti aku mau ke toko kue sebentar. Kemarin ada laporan jika ada sedikit insiden. Ada konsleting listrik. Tapi udah panggil teknisi juga sih. Aku cuma mau cek aja." Ucap Hasna setelah duduk di samping Rama.


"Berapa lama?"


"Nggak lama sih, cuma cek situasi aja di sana. Terus langsung pulang."


"Toko kamu ada di mana?" Kenapa mendetail sekali pertanyaannya. Sudah macam interogasi saja.


"Kalau yang ini, kebetulan ada di jalan xx, palingan kalau dari sini satu jam an lebih dikit. Kenapa?" Jangan sampai ia tidak mendapatkan izin.


"Tidak. Emang ada berapa toko kamu?" Tanya Rama penasaran.


"Kalau toko kue, baru dua, insyaallah udah ada rencana nambah satu lagi. Masih tahap renovasi soalnya." Jawab Hasna sekenanya.


"Emang apa lagi?" Rama sedikit kaget dengan jawaban Hasna.


"Maksudnya?"


"Tempat usaha kamu."


"Oh...ada tempat katering."


"Ada berapa?" Rama makin penasaran dengan usaha sang istri.


"Kalau tempat katering, alhamdulilah udah ada tiga." Jawabnya enteng.


Gila, perempuan seusia adiknya ini mampu menjalankan semua tempat usahanya seorang diri. Bahkan dia saja mesih memerlukan asisten dan sekretaris.


Huft... benar-benar tidak bisa diremehkan.


"Oke, nanti aku temenin." Ucap Rama pada akhirnya.


Rama merebahkan diri untuk tidur dipangkuan sang istri. Lagi-lagi membuat Hasna sedikit berjengkit dengan tindakannya yang tiba-tiba.


"Hasna."


"Ya?" Rama meraih tangan Hasna dan diletakkannya di atas kepala.


Rupanya Rama sedang ingin bermanja. Diusapnya lembut surai halus sang suami. Sepertinya laki-laki itu menikmati usapan di kepalanya, terbukti ia sampai memejamkan matanya.


"Apa aku terlihat tua?" Tanya Rama dengan mata yang masih terpejam. Hasna mengernyit. Pertanyaan macam apa itu.


"Kenapa nanya gitu?" Hasna menghentikan usapannya.


"Dua kali kamu bilang kalau aku tua, juga laki-laki berengsek itu." Rama masih sangat ingat saat Bian menghinanya.


"Bukan tua, hanya matang saja." Jawab Hasna, tangannya kembali mengusap lembut surai hitam sang suami.


"Sama saja. Mangga tua juga di sebut matang." Dengusnya sebal.


"Beda lah, Mas." Kekeh Hasna. Apa-apaan menyamakan dirinya dengan mangga.


"Bedanya?"


"Kalau tua, ya...nggak perlu dijelasin lah ya, kamu pasti tau sendiri. Tapi kalau matang itu lebih ke dewasa dan lebih berkharisma." Rama menegakkan tubuhnya kembali.


"Jadi menurut kamu seperti itu?" Hasna mengangguk perlahan.


"Menurut kamu, apa aku tampan?" Hasna menoleh terkejut, terlalu to the point sekali pertanyaannya.


Mas Rama udah mulai mode on rupanya. peke nanya tampan segala.

__ADS_1


***


__ADS_2