Bidadari Penghapus Luka

Bidadari Penghapus Luka
Bab 165


__ADS_3

Hampir seharian, Hasna menghabiskan waktu bersama Mama mertua juga adik ipar kesayangannya. Mulai dari belanja keperluan calon bayinya hingga melakukan treatment di sebuah salon dan spa. Hal yang hampir tidak pernah Hasna lakukan sebelumnya.


"Sebaiknya kamu langsung istirahat, Sayang. Biar Mama sama Nay yang beresin semua belanjaannya." Ucap Bu Diana saat mereka baru saja sampai di rumah.


"Iya, Ma." Hasna akan beranjak, namun ia mengurungkan niatnya.


"Kenapa? Kamu butuh sesuatu?" Tanya Bu Diana.


"Emmm... Maaf, Ma. Hasna mau repotin Mama." Ucap Hasna hati-hati. Jujur saja, ia pun merasa tidak enak saat akan mengatakannya pada Mama mertua.


"Bilang aja, kamu butuh apa?"


"Maaf, Ma. Pakaian bayinya, bisa minta tolong di cuci dulu, nggak? Soalnya Hasna khawatir, karena kulit bayi kan sensitif. Kalau tidak di cuci dulu, takutnya malah muncul ruam-ruam pas di pakai nanti." Ucap Hasna.


"Oh, masalah itu, kirain apa."


Sebenarnya Hasna dan Rama sudah mempersiapkan keperluan calon bayi mereka di rumah, dan semuanya sudah Hasna cuci. Tapi Bu Diana bersikukuh ingin membelikan perlengkapan untuk calon cucu pertama keluarga Suryanata. Mana mungkin Hasna bisa menolaknya.


"Mbak, ini tolong di cuci ya. Jangan masukin mesin." Ucap Bu Diana pada salah satu ART yang membantu mereka membawa belanjaan.


"Baik, Bu."


"Ma, Hasna masuk dulu, ya."


"Iya, Sayang. Hati-hati."


***


"Ivan tolong atur jadwal meeting, jangan sampai ada meeting penting yang terlewat. Karena minggu depan, saya akan jarang ke kantor. Mungkin hanya sampai jam makan siang. Setelahnya, saya akan stay di rumah." Ucap Rama sebelum meninggalkan kantor sore ini.


"Baik, Pak. Nanti saya akan menghubungi Tania untuk me-reschedule jadwal Pak Rama." Ucap Ivan. Rama hanya mengangguk pelan.


"Maaf, Pak, apa Bu Hasna sudah waktunya melahirkan?" Tanya Ivan hati-hati, karena Rama sangat sensitif jika ada seorang laki-laki yang menanyakan sesuatu tentang istrinya. Apalagi dirinya.


"Iya, perkiraan dua minggu lagi. Makanya, saya tidak bisa meninggalkan istri saya terlalu lama."


"Bukannya Bu Hasna ada di rumah orang tua Bapak?"


"Iya, kami sementara tinggal di sana sampai istri saya melahirkan."


Keduanya berjalan hingga lobi, dan berpisah di sana.


***


Seperti biasa, makan malam selalu terasa hangat. Seluruh keluarga Suryanata lengkap berada di meja makan.


"Kamu sudah atur jadwal cuti?" Tanya Pak Andi.

__ADS_1


"Sudah, Pa. Rama meminta Ivan untuk me-reschedule jadwal meeting penting sebelum Rama mulai cuti minggu depan." Jawab Rama.


"Jika memang ada meeting yang mendesak, kamu bisa percayakan pada Ivan. Papa rasa, Ivan sangat bisa diandalkan." Rama mengangguk setuju.


"Ya, Rama hanya menghadiri meeting yang tidak bisa di wakilkan saja. Selebihnya, Ivan dan Tania yang handle." Ucap Rama.


"Keponakan Danu memang bisa diandalkan seperti Ivan. Dia dulunya bekerja di perusahaan besar di kota tempatnya tinggal dulu. Dan sekarang, kamu beruntung bisa mendapatkan staf seperti Tania di kantor. Pasti tidak perlu mengajarkan banyak hal, karena dia sendiri sudah sangat profesional saat bekerja." Ucap Pak Andi. Rama setuju itu, karena Ivan hanya memberikan poin-poin penting mengenai pekerjaan mereka, dan Tania bisa dengan mudah memahaminya.


Mereka semua makan malam seperti biasa, dengan sesekali diiringi obrolan ringan. Namun, ada yang tak biasa dengan Hasna. Perempuan itu nampak lebih diam dari sebelumnya.


"Ada apa, Sayang?" Tanya Rama.


"Nggak, apa-apa." Hasna sedikit memaksakan senyumannya.


"Trus? Kenapa nggak di makan? Mau aku suapin?" Tanya Rama.


Selama kehamilan, Rama tak pernah meminta Hasna untuk menyuapinya seperti biasa. Karena Hasna pun porsi makannya banyak, dan Rama ingin agar sang istri fokus pada dirinya dan anak mereka dalam kandungan Hasna.


Hasna menggeleng pelan dan menatap Rama dengan tatapan yang...


"Kamu ingin sesuatu?" Tanya Rama hati-hati. Dapat Rama pastikan, Hasna pasti akan mengangguk antusias. Dan benar saja, bahkan mata bulat itu terlihat berbinar.


"Apa?" Kenapa Rama jadi was-was begini.


"Pengen makan sate kerang sama cumi bakar." Ucap Hasna. Selalu saja di waktu yang tidak tepat. Tapi mendingan dari waktu Hasna meminta mie ayam tengah malam.


Rama sekilas menoleh pada kedua orang tuanya yang menghentikan suapan mereka. Lalu kembali menatap sang istri yang telah memasang wajah innocent dan penuh harapnya. Lihatlah, sekarang malah mengerjap beberapa kali. Jika sudah begini, mana mungkin ia sanggup menolak permintaan Hasna.


Jika hanya sekedar cumi bakar, di restoran seafood pasti banyak. Tapi jika sate kerang?


"Nay ikut." Ucap Nayla bersemangat.


Rama menatap sang adik dengan tatapan penuh selidik. Seperti ada yang tidak beres.


"Ayo, Mbak. Nanti aku kasih tau dimana tempat yang jual sate kerang dan cumi bakar terenak." Nayla langsung saja menggamit lengan Hasna dan mengajak perempuan itu keluar lebih dahulu.


"Kenapa?" Tanya Bu Diana saat putranya tak kunjung beranjak dari tempatnya.


"Sepertinya ini kerjaan Nayla." Ucap Rama tanpa basa-basi.


"Udah, mau gara-gara Nayla atau tidak, sebaiknya turuti saja. Papa rasa, tidak ada yang aneh dalam permintaan istri kamu." Ucap Pak Andi sambil menyelesaikan makan malamnya bersama Bu Diana.


"Udah, pergi sana. Kasihan kalau Hasna nungguin. Keburu ileran anak kamu." Ucap Bu Diana mengingatkan.


"Ngarang, mana ada bayi ngiler dalam kandungan." Sangkal Rama, k mudian beranjak dari duduknya.


"Rama pergi dulu, assalamu'alaikum."

__ADS_1


"Wa'alaikumussalam, hati-hati bawa mobilnya."


***


Dan di sinilah mereka sekarang. Di restoran di tepi pantai yang memang menjual makanan khas tangkapan hasil laut. Hasna sudah memesan beberapa menu yang membuatnya meneteskan air liur hanya dengan melihat gambarnya saja di buku menu. Begitu pula dengan Nayla. Gadis itu lebih antusias ketimbang Hasna yang tengah mengidam. Jangan tanyakan apa yang Rama pesan, bahkan laki-laki itu tidak menyentuh buku menu untuk memesan sesuatu. Karena menurut pengalaman sebelumnya, ia kebagian tugas untuk menghabiskan makanan Hasna nantinya. Dan Rama tidak mau jika cerita pak Somad bersama istrinya terulang versi dirinya bersama Hasna.


"Kak Rama nggak pesan?" Tanya Nayla yang sedari tadi memperhatikan jika kakak laki-lakinya itu tidak mengatakan apapun saat ia dan Hasna memilih menu.


Rama hanya menggeleng dan kembali fokus pada ponsel di tangannya. Hingga pesanan datang, Rama tetap pada posisinya.


Rama hanya memperhatikan lahapnya sang istri saat menikmati aneka macam seafood pilihannya. Hingga tiba saat gilirannya mendapatkan kesempatan untuk menghabiskan makanan Hasna seperti sebelumnya. Benar apa yang pepatah katakan, pengalaman adalah guru yang terbaik. Juga paling berharga tentunya.


Rama menggaruk pelipisnya yang tidak gatal. Hanya melihat makanan di depannya saja sudah membuatnya benar-benar merasa kenyang. Kerang bambu, cumi bakar, ikan bakar madu, dan kepiting asam manis. Semuanya memang Hasna makan, tapi sekedar untuk mencicipinya. Bahkan makanan yang tadi ia minta hanya dimakan setengahnya saja.


Nayla menatap saudara laki-laki yang duduk di antara dirinya dan Hasna. Gadis itu barulah mengerti kenapa Rama tidak memesan satu pun makanan. Karena pada akhirnya, Rama lah yang menghabiskan seluruh makanan yang Hasna pesan.


"Kak Rama, are you okay?" Nayla menatap saudara laki-lakinya penuh prihatin. Walaupun Rama laki-laki, tapi porsi makannya tak sebanyak itu.


"Nggak usah tanya Kakak oke. Ini semua gara-gara kamu." Gerutu Rama. Untung saja, Hasna pamit ke toilet. Jika tidak,


"Sorry, aku nggak tau kalau ujungnya bakalan kayak gini. Padahal tadinya aku sama Mbak Hasna hanya lihat video review kulineran. Nggak tahunya beneran pengen. Tapi, kenapa jadinya seperti review beneran ya?" Ucap Nayla merasa sedikit barsalah.


Rama pun mulai memakan makanan yang Hasna pesan. Untung saja, nasi hanya pesan sepiring dan habis oleh Hasna. Kalau tidak, bisa meledak perutnya di tempat.


"Kak Rama pernah sebelumnya kayak gini? Kok sepertinya udah antisipasi duluan?" Tanya Nayla yang sudah selesai menghabiskan makanan miliknya.


Rama mengangguk di sela kunyahannya.


"Serius?" Sepertinya Nayla tidak percaya, karena setahunya Hasna tak pernah mengidam hampir sembilan bulan kehamilannya.


"Ya, bahkan hampir jam satu dini hari, Kakak di minta kakak ipar kesayangan kamu itu menghabiskan seporsi jumbo mie ayam." Nayla membolakan kedua mata juga membuka mulutnya saat mendengar cerita singkat Rama. Sebanyak itu?


"Kak Rama serius?" Tanya Nayla tak percaya.


"Apa Kakak terlihat berbohong?"


"Lalu kenapa tidak Kakak tolak? Pagi buta makan mie? Ohemji, bisa muntah kalau aku." Nayla menggeleng pelan, seolah membayangkan dirinya yang tengah mengalami hal yang Rama ceritakan.


"Kamu tahu sendiri bagaimana kakak tidak bisa menolak permintaan Hasna. Apalagi dengan tatapan penuh harapan seperti itu. Dan untung saja, tadi Kakak belum sempat makan malam, kalau tidak, bisa pingsan Kakak di sini kerena kekenyangan." Kekeh Rama.


Ya, Nayla sangat mengerti bagaimana Rama memperlakukan istrinya. Terlebih Hasna tidak pernah meminta hal yang aneh selama kehamilan. Tapi sekalinya meminta, membuatnya menggelengkan kepala.


"Apa jangan-jangan, wanita hamil permintaannya selalu aneh?" Gumam Nayla yang masih dapat Rama dengar dengan jelas.


"Makanya, jangan minta yang aneh-aneh besok kalau kamu hamil. Sekarang tahu kan bagaimana perjuangan seorang suami demi menyenangkan hati istrinya yang tengah hamil? Apalagi jika ngidamnya tengah malam, bisa sahur awal kami." Ucap Rama, yang diiringi kekehan ringan.


"Jangan heran, jika kami para suami memiliki perut yang buncit layaknya istri yang sedang hamil. Karena ya begini nasib kita, menghabiskan sisa makanan istri. Dulunya six pack sekarang six month." Nayla terkikik geli mendengarnya. Bisa saja Rama mengibaratkan nasib perutnya.

__ADS_1


Benar apa yang Rama katakan, ia pun melihatnya sendiri. Bagaimana Kakaknya itu menghabiskan makanan yang bukan porsinya. Terlebih jika itu bukan makanan yang disuka, pastinya tidak akan bisa menikmati makanannya.


***


__ADS_2