Bidadari Penghapus Luka

Bidadari Penghapus Luka
Bab 130


__ADS_3

Rama menggenggam erat jemari tangan Hasna. Memberi remasan lembut seperti yang biasa ia lakukan. Senyuman tersungging di kedua sudut bibirnya, namun kedua netranya mengembun.


"Sayang." Suaranya serasa tercekat di tenggorokan. Rama menghirup nafas dalam sebelum membuka suaranya kembali.


"Kapan kamu bangun? Aku sangat merindukan kamu." Rasanya teramat sesak di dada saat mengatakan itu pada Hasna.


"Aku merindukan saat kamu menyambutku sepulang dari kantor. Aku merindukan saat kamu membantuku bersiap, mengganti pakaian, dan menyuapiku setiap kita makan."


"Gara-gara kamu tidak bangun-bangun, sekarang ganti Mama yang menyuapi aku. Aku justru terlihat seperti bocah." Rama memaksakan tawanya.


"Apa kamu tau, kalau semua mengkhawatirkan kamu? Kamu sudah tidur terlalu lama."


"Bangunlah, Sayang. Bangun. Kasihan anak kita. Dia butuh ibu yang sehat. Dia butuh ibu yang kuat, Dia butuh..." Rama menengadahkan pandangannya, berusaha agar air matanya tidak menetes.


"Sayang, kamu harus kuat. Kamu harus cepat sembuh. Kita akan besarkan anak kita sama-sama."


Rama sudah tidak bisa lagi membendung laju air matanya. Laki-laki itu terisak dengan menelungkupkan kepalanya di sisi Hasna, dengan tangan yang masih menggenggam jemari sang istri. Berbicara dengan Hasna dalam kondisi saat ini, sungguh sangat menyakitkan. Bahkan tidak pernah ia bayangkan sama sekali.


Lebih dari satu jam Rama berada di ruangan itu. Mengajak Hasna untuk berbicara, walau perempuan itu tak menunjukkan responnya. Perempuan itu masih betah memejamkan kedua matanya.


Cklek


Atensi semua orang tertuju pada laki-laki yang terlihat kacau itu. Kedua matanya terlihat sembab dan memerah. Tanpa aba-aba, Nayla langsung menghambur ke dalam pelukan saudara laki-lakinya. Rama terdiam, tak membalas pelukan adiknya.


"Kak, kakak jangan seperti ini, ya. Kakak harus kuat. Ada Nay, Mama, juga Papa." Ucap gadis itu.


Entah mengapa, mendengar ucapan sang adik justru membuat Rama semakin terlihat lemah.


"Kakak harus kuat, Kak. Mbak Hasna butuh kita." Ucap Nayla berusaha menguatkan Rama.


Tanpa sengaja, Rama menatap sekilas ke arah Kevin yang tengah melihat ke arahnya. Laki-laki itu menggeleng pelan, seolah tengah mengisyaratkan agar Rama tidak perlu merasa terpuruk seperti saat ini.


Rama perlahan mengangkat kedua tangannya, membalas pelukan saudari kandungnya itu. Diusapnya lembut punggung gadis seusia istrinya itu.


"Ya, kamu benar. Kakak harus kuat, Hasna butuh kita." Ucap Rama yang terus menatap lurus ke arah Kevin yang tersenyum kepadanya.


***


Semua orang telah pulang, hanya tinggal Bu Diana juga Rama yang ada di rumah sakit. Wanita paruh baya itu tidak tega meninggalkan putra sulungnya sendirian menjaga Hasna. Hingga meminta izin pada suaminya untuk tetap tinggal dan menemani Rama di rumah sakit.


"Ma, Mama sebaiknya pulang. Rama bisa menjaga Hasna sendiri. Mama istirahatlah." Ucap Rama pada Bu Diana yang masih betah duduk di sofa kamar rawat Hasna.


"Kamu istirahat lah dulu, nanti kalau kamu sudah istirahat, Mama akan pulang." Ucap Bu Diana. Wanita itu menolak permintaan putranya.


Rama ikut duduk di samping ibunya itu.


"Mama tau kalau kamu belum beristirahat sama sekali semenjak kemarin." Ucap Bu Diana. Bisa beliau lihat lingkaran hitam yang menghias di kedua kantung mata Rama.


Semenjak Hasna di larikan ke rumah sakit, hingga dinyatakan koma. Rama benar-benar tidak dapat mengistirahatkan tubuhnya dengan baik. Laki-laki itu lebih banyak terjaga.


"Ingat, Nak, yang butuh sehat bukan hanya istri kamu. Tetapi kamu juga. Bagaimana bisa kamu menjaga dan merawat Hasna jika kamu sendiri sakit?"

__ADS_1


Sudah seringkali Rama mendengarkan perkataan yang sama. Entah dari ibunya, Nayla, bahkan dari Kevin. Tapi, nasehat sederhana dari mereka tidak semudah itu Rama lakukan.


Beristirahat dengan benar di saat keadaan genting seperti saat ini? Sungguh mustahil. Yang ada dirinya selalu dalam bayang-bayang hal buruk yang akan menimpa Hasna juga calon anak mereka. Bukan ia tidak berpikiran positif untuk kesembuhan Hasna, tapi hal semacam itu pasti selalu menghantuinya.


Perlahan Rama bergeser dan tidur di pangkuan ibunya. Hal yang selalu ia lakukan bersama Hasna jika ia ingin bermanja bersama istrinya.


Bu Diana mengusap lembut surai hitam yang terlihat berantakan itu. Padahal anak lelakinya itu selalu memperhatikan penampilannya. Tapi sekarang putranya benar-benar terlihat kacau.


Hasna, manantunya itu selalu memperhatikan kebutuhan Rama sekecil apapun itu. Tapi justru perempuan berhati lembut itu dalam keadaan tengah berjuang untuk bertahan hidup.


"Tidurlah, Nak. Nanti Mama akan pulang setelah memastikan kamu sudah beristirahat dengan benar." Ucap Bu Diana sembari mengusap lembut rambut sang putra.


Beberapa menit mereka bertahan dengan posisinya dalam keheningan.


"Rama, ingatlah satu hal, Nak. Kamu tidak sendiri. Ada Mama, Papa, Nayla...."


"Juga Kevin dan ibunya." Yang hanya mampu Bu Diana ucapkan dalam hati.


"Yang peduli dengan istri kamu. Kami akan selalu mendoakan kesembuhan Hasna."


Haning, tak ada sahutan dari Rama. Bu Diana sedikit mencondongkan tubuhnya, melihat Rama yang yang tengah bermanja di pangkuannya. Ternyata laki-laki itu telah terlelap.


Bu Diana masih setia memberikan usapan lembut di puncak kepala putranya. Berharap laki-laki itu benar-benar beristirahat dengan benar.


Perlahan Bu Diana mengangkat kepala Rama yang ada di pangkuan, dan berhati-hati menidurkannya di sofa, agar Rama tidak terbangun. Bu Diana mengambil bantal dan memposisikan di bawah kepala Rama agar tidurnya merasa nyaman. Namun laki-laki itu tidak menunjukkan pergerakannya sama sekali. Sepertinya Rama tidur dengan begitu pulasnya.


"Kamu terlihat begitu lelah, Nak. Beristirahatlah walau hanya sejenak." Bu Diana memberikan kecupan lembut di kening Rama.


***


Suara deringan ponsel membuat Rama menggeliat. Sebuah panggilan masuk dari asisten pribadinya, Ivan.


"Ya, Ivan?" Jawab Rama dengan suara serak khas bangun tidur.


Matanya sedikit memicing, menyesuaikan cahaya. Terlihat jam sudah menunjukkan pukul dua siang. Rupanya ia tidur cukup lama.


"Maaf, Pak jika menganggu istirahat Bapak." Ucap Ivan.


"Tidak apa, katakan." Rama memposisikan duduk bersandar di sofa.


"Polisi sudah mulai bertindak, tadi pagi dua orang polisi mendatangi ruang perawatan Marissa. Tapi ada kendala, Pak." Ucap Rama.


"Kendala apa?" Tanya Rama tidak sabar.


"Polisi mengatakan jika ada seorang laki-laki yang mengaku sebagai suami dari Marissa. Dia mengatakan jika kondisi Marissa sangat riskan jika harus di bawa ke kantor polisi. Sehingga polisi tidak bisa menindak lanjuti untuk sementara waktu." Jelas Ivan.


Tubuh Rama menegak seketika, rasa ngantuk yang tadi masih bergelayut pun lenyap dalam sekejap.


"Suami?"


"Iya, Pak. Laki-laki itu mengatakan demikian." Baik Rama maupun Ivan tidak pernah mengetahui jika Marissa telah menikah. Sehingga kedua lelaki itu merasa ragu dengan status laki-laki yang mengakui dirinya sebagai suami Marissa.

__ADS_1


Rama mengingat sosok laki-laki berkemeja biru yang ada di tempat kejadian. Apa jangan-jangan, laki-laki itu yang di maksud?


"Lalu?"


"Polisi sudah memastikan kondisi Marissa pada dokter yang menanganinya. Dan dokter membenarkan, jika Marissa benar-benar tidak di izinkan meninggalkan rumah sakit selama kurang lebih dua minggu ke depan. Dokter juga mengatakan, Marissa masih dalam perawatan intensif pasca pendarahan hebat yang dialaminya." Rama memejamkan matanya, dan menghembuskan nafas pendek. Penuturan Ivan benar-benar membuat kepalanya pening.


"Apa tidak bisa, jika di ambil kebijakan untuk merawat Marissa di kepolisian?"


"Tidak bisa, Pak, karena ini menyangkut dua nyawa."


"Lalu apa kamu pikir, istri saya tidak mempertaruhkan dua nyawa?" Suara Rama reflek meninggi.


"Nyawa istri dan anak saya di pertaruhkan juga di sini. Terlebih Hasna tengah dalam keadaan koma." Tekan Rama.


"Mbak Hasna, maaf, Bu Hasna koma, Pak?" Tanya Ivan.


"Ya, istri saya dinyatakan koma oleh dokter."


Terdengar hembusan nafas yang begitu berat dari dua lelaki yang tengah menelepon itu.


"Baiklah, terima kasih laporannya. Selalu kabari saya tentang perkembangan kasusnya." Pungkas Rama.


"Baik, Pak."


Rama membiarkan ponselnya tergeletak di sembarang tempat. Laki-laki itu kembali menyandarkan punggungnya di sofa, dan kembali memejamkan kedua matanya. Kepalanya benar-benar merasa pusing sekarang.


Marissa tidak berhasil di bawa ke kantor polisi dengan alasan keselamatan jiwanya beserta kandungannya. Lalu Hasna? Perempuan itu bahkan mengalami kondisi dimana tidak dapat dipastikan kapan akan kembali membuka matanya.


"Mama?" Rama baru mengingat jika tadi ia tidaklah sendiri. Dia bersama ibunya.


"Ma?" Panggilnya, namun tidak ada jawaban. Rama memindai sekeliling mencari sosok ibunya, namun tak mendapati siapin di kamar itu, selain dirinya dan Hasna. Rama bangkit untuk mencari keberadaan sang Mama.


"Mungkin di kamar mandi." Gumamnya.


Tok, tok, tok


"Ma? Mama di dalam?" Tanya Rama dari balik pintu yang tertutup rapat.


Rama kembali mengetuk pintu kamar mandi berulang tetap tidak ada jawaban. Rama meraih handle pintu kamar mandi yang tertutup rapat itu, dan membukanya. Kosong. Tidak ada siapapun di dalam.


"Kemana Mama?" Gumamnya.


Gegas ia kembali ke sofa, mencari ponsel yang ia geletakkan begitu saja.


Baru saja ia membuka kunci benda pipih itu, dapat ia lihat ada notifikasi pesan dari ibunya.


~Sayang, Mama pulang dulu. Nanti Mama ke sana lagi, sekalian bawain makanan buat kamu.~ Mama.


~Jangan lupa sholat, ya, Sayang. Tadi mau Mama bangunin, tapi kamu nya pules banget. Mama jadi nggak tega.~ Mama.


Rama kembali meletakkan ponsel di atas meja sofa, dan beranjak menuju kamar mandi. Sudah lewat dari jam dua, ia belum melaksanakan kewajibannya. Gegas ia mengambil air wudhu dan menunaikan sholat dhuhur.

__ADS_1


***


__ADS_2