Bidadari Penghapus Luka

Bidadari Penghapus Luka
Bab 118


__ADS_3

"Baiklah. Aku merindukanmu, assalamu'alaikum."


Uhukk...


Sepenggal kalimat yang berhasil membuat Ivan tersedak makanan yang baru saja ia telan. Bagaimana tidak, sedari tadi ia menyimak obrolan Bos dengan istrinya lewat telepon. Terdengar percakapan sang Bos yang posesif dan istrinya yang penurut, pastinya. Dan barusan ia mendengar kata rindu terucap dari mulut atasannya itu.


Aneh saja, selama mengenal dan bekerja bersama Rama, dirinya tak sekalipun melihat perlakuan dan ucapan Rama yang terkesan bucin seperti ini. Untung saja tidak di sertai kecupan jarak jauh, bisa muntah di tempat Ivan nanti.


Ivan mengambil gelas minumannya untuk melegakan tenggorokannya yang serasa terbakar. Sekilas ia melirik Rama yang duduk di sebelahnya. Terlihat sekali rona bahagia di wajah tampan itu. Bahkan Rama sepertinya tak acuh dengan kehadiran asistennya itu.


Klien terlebih dahulu pamit, sedangkan mereka masih melanjutkan makan siang yang belum selesai.


"Kamu kenapa?" Tanya Rama. Ivan menatap ke arah Rama sekilas. Baru sadar rupanya jika ia tidak sendirian.


"Tidak, Pak. Saya kok tadi sepertinya dengar bisikan ghoib, ya." Ucap Ivan. Sepertinya asisten pribadi Rama itu memiliki nyali yang cukup besar saat mengucapkan kalimat yang lebih mirip sebuah sindiran untuk Bosnya itu.


"Ya?" Rama mengerutkan keningnya. Tatapannya lurus pada asisten pribadinya itu.


"Eee...silahkan di lanjut lagi, Pak, makan siangnya. Keburu dingin nanti." Ucap Ivan dengan diiringi senyuman yang sangat manis.


Terlihat Rama menganggukkan kepalanya lalu kembali menikmati makan siangnya yang tertunda. Ivan bisa bernafas lega karena Rama tidak menyimak perkataannya dengan baik. Lebih baik melakukan misi penyelamatan selagi bisa. Dan Ivan, berhasil.


***


Cukup lama Hasna berada di dalam kamar mandi. Kedua netranya nampak basah dengan bibir bergetar mengucapkan kalimat pujian. Pandangannya nampak mengabur kerena genangan air mata.


"Allah... Alhamdulillah..." Sangat sulit ia mengungkapkan dengan kata, sehingga hanya kalimat itu yang terucap.


Tangannya bergetar memegang benda pipih seperti stik itu. Dua garis nampak muncul di sana, dengan satu garis samar di bagian bawah.


Tangan kanannya terulur menyentuh perutnya yang masih datar. Mengusapnya dengan begitu lembut. Sangat sulit ia menggambarkan perasaannya saat ini. Rasa bahagia yang membuncah, juga rasa haru di dada.


"Allah, apa ini artinya amanah itu Engkau percayakan kepada kami?" Lirihnya. Bulir bening itu kembali lirih dari kedua sudut mata teduhnya.


Ini benar-benar anugerah terindah yang pernah ia terima di sepanjang perjalanan pernikahannya dengan Rama. Bahkan ia hampir tidak percaya saat melihat hasil tes yang barusan ia lakukan.


Hasna mengusap lembut air mata yang membasahi kedua pipinya. Segera mengambil air wudhu dan menjalankan kewajibannya sebagai seorang muslimah.


Doa yang bagitu panjang ia panjatkan, juga lantunan ayat suci yang selalu ia istiqomahkan setelah sujudnya. Tapi hari ini, semuanya terasa berbeda. Setiap lantunannya selalu membuat hatinya luar biasa bergetar, hingga membuatnya berkali-kali mengusap sudut matanya yang basah.


Hasna menutup kembali mushaf kecil yang selalu ia bawa. Walau matanya terlihat sembab, namun senyuman tidak surut di kedua sudut bibirnya.


Hasna melirik jam dinding di ruangannya, sudah jam satu lewat. Tapi ia belum makan siang. Gegas ia bereskan peralatan sholat dan menunju meja tempat ia meletakkan makanannya tadi.


"Bismillahirrahmanirrahim, berikanlah selalu kami kesehatan. Berikan keberkahan disetiap suapan. Dan selalu berikan kemudahan kepada kami." Lirih Hasna.


Perempuan itu mulai menyuap makanan ke dalam mulutnya. Rasanya masih sama. Tidak ada rasa mual seperti kata kebanyakan orang di luaran sana.

__ADS_1


"Alhamdulillah." Lirihnya saat satu suapannya berhasil ia telan tanpa drama. Kembali ia menyuapkan makanan hingga piringnya kosong.


Hasna tak kembali ke bawah untuk membantu pegawainya, ia lebih memilih untuk beristirahat sejenak. Walaupun ia tak benar-benar terlelap.


***


Tring


Satu notifikasi pesan dari Rama masuk ke dalam ponselnya. Masih pukul tiga, tapi laki-laki itu sudah menghubunginya.


~Sayang, aku merindukanmu.~ Rama.


Hasna tersenyum membacanya. Makin kesini, suaminya itu semakin bucin saja. Ternyata istilah bucin juga berlaku untuk lelaki dewasa seperti Rama. Hasna pikir hanya untuk muda-mudi seusianya atau di bawahnya yang sedang terjerat cinta monyet, namun sepertinya tidak.


Tring


Belum sempat ia membalas pesan pertama, pesan ke dua sudah masuk terlebih dahulu.


~Kenapa tiba-tiba aku pengen peluk kamu, ya?~ Rama.


Hasna kembali tersenyum.


"Peluk? Sepertinya aku menginginkan hal yang sama."


Segera ia mengetikkan balasan sesuai apa yang ia pikirkan. Dan tak menunggu lama, balasan pun sudah ia terima dari Rama.


~Benarkah?~ Rama.


Hasna tersipu membaca pesan Rama. Ini memang seperti bukan dirinya yang selalu malu mengungkapkan perasaannya secara gamblang pada Rama. Tapi entah mengapa ada dorongan dari dalam dirinya untuk mengungkapkan hal itu kepada laki-laki yang telah menjadi suaminya itu.


~Kenapa tidak di jawab? Apa kamu menyesal mengirimkan balasan itu untukku?~ Rama. Kali ini pesan disertai emotikon kecewa.


~Tidak, aku memang ingin dipeluk, aku merindukan suamiku.~ Hasna.


~Aahhh...rasanya seperti sebuah mimpi. Aku jadi tidak ingin terbangun kalau begini.~ Rama.


~Jangan, aku ingin mengatakan satu hal tentang mimpi kita yang nantinya akan membuat Mas Rama ingin selalu terjaga.~ Hasna.


~Apa? Cepat katakan. Jangan membuatku penasaran.~ Rama.


~Sampai ketemu nanti, Mas. Aku merindukanmu.~ Hasna.


Rasanya seperti remaja yang tengah jatuh cinta saja. Apakah memang seperti ini rasanya cinta pertama? Selalu membuat hati berbunga-bunga. Jantung berdebar saat mengingat seseorang yang di cintai. Ahhh....rasanya sungguh manis sekali.


***


Hasna segera mengemasi barang-barangnya. Hari ini ia sengaja meninggalkan restoran lebih cepat dari biasanya. Karena ia berencana akan mampir ke pusat perbelanjaan terlebih dahulu. Dan setelahnya, ia akan meminta Rama untuk menemaninya periksa.

__ADS_1


"Mbak saya tinggal dulu, ya." Ucap Hasna pada beberapa pegawainya.


"Iya, Mbak, hati-hati." Ucap salah seorang dari mereka.


"Mas Hamzah, nitip semuanya, ya."


"Siap, Mbak." Ucap menejernya itu.


"Assalamu'alaikum, semua." Ucap Hasna berpamitan.


"Wa'alaikumussalam." Ucap mereka serempak.


~Mas, aku udah keluar restoran. Kamu nyusulnya kalau kerjaan udah kelar ya. Jangan terbiasa ninggalin kerjaan.~ Hasna.


Hasna mengirimkan sebuah pesan pada Rama, lalu pergi dengan menggunakan jasa taksi onlineenuju pusat perbelanjaan terdekat dari restoran miliknya.


Hasna menyusuri rak-rak yang berjajar, mencari kebutuhan yang akan di belinya, lalu memasukkan semuanya ke dalam troli besar. Hasna kembali memeriksa list belanjaan sebelum akhirnya mengantri di meja kasir.


"Totalnya satu juta enam ratus delapan puluh lima ribu. Cash apa kartu kredit?" Tanya seorang perempuan di balik meja kasir itu.


"Cash." Hasna mengeluarkan lembaran uang pecahan seratus ribuan dan memberikan pada perempuan berseragam itu.


Setelah menyelesaikan pembayaran, Hasna kembali mendorong troli belanjaannya untuk di bawanya ke lantai dasar.


Tring


~Aku sudah di basement mall. Kamu di mana?~ Rama.


~Aku baru saja selesai belanja.~ Hasna.


~Oke, tunggu aku di atas. Kamu cari foodcourt dulu, aku segera menyusul.~ Rama.


~Baiklah, aku ada di restoran italia di lantai tiga~ Hasna.


Hasna memasuki restoran khas Italia yang ada di dalam sana. Lantas menitipkan troli belanjaannya pada petugas yang kebetulan berada di depan restoran.


Hasna memindai sekeliling. Mencari tempat kosong yang bisa ia tempati. Namun netranya terfokuskan pada sosok perempuan yang pernah menjadi sebab cerita menyakitkan dalam rumah tangganya beberapa waktu lalu.


"Mbak Marissa?" Lirihnya.


Bahkan tatapan perempuan berambut panjang itu pun terfokus kepada Hasna.


Hasna tetap mematung di posisinya. Jangan sampai ada hal yang tidak diinginkan terjadi di tempat umum seperti ini. Apalagi sebentar lagi Rama akan menyusulnya kemari.


Hasna segera berbalik untuk meninggalkan restoran, namun langkahnya terhenti saat sebuah tangan menahan bahu kirinya.


Hasna perlahan menoleh, dan mendapati sosok Marissa tengah berdiri tepat di belakangnya. Kini kedua perempuan itu saling berhadapan. Pandangan keduanya beradu, Hasna dengan tatapan teduhnya, dan Marissa dengan tatapan tajamnya.

__ADS_1


"Akhirnya kita ketemu juga."


***


__ADS_2