Bidadari Penghapus Luka

Bidadari Penghapus Luka
Bab 124


__ADS_3

"Kamu?" Ucap Kevin dan Nayla hampir bersamaan dan saling menunjuk satu sama lain.


"Kamu yang ada di parkiran tadi, kan?" Kevin memastikan jika gadis di hadapannya itu memanglah gadis yang sama, yang tak sengaja menabraknya di parkiran tadi.


"Iya, sekali lagi maaf, tadi buru-buru soalnya." Ucap Nayla merasa tidak enak, dan sedikit memaksakan senyumannya.


"Tidak apa-apa." Ucap Kevin.


"Kalian saling kenal?" Tanya Rama pada Kevin juga adiknya. Nayla menggeleng cepat


"Tidak, hanya saja kami tidak sengaja bertemu di parkiran bawah tadi." Ucap Kevin yang menoleh sekilas pada gadis di sampingnya.


"Oh, kalau begitu kenalkan, ini adikku, Nayla." Ucap Rama.


"Nay, ini Kevin, teman Mbak Hasna." Lantas keduanya saling menjabat tangan.


Drrrtt... drrrtt... drrrtt...


"Maaf, aku angkat telepon dulu." Lantas Kevin sedikit menjauh dari mereka.


Tak lama Kevin kembali menghampiri Rama yang berbincang dengan Nayla juga kedua orang tua mereka.


"Rama, maaf, sepertinya aku harus kembali. Papa sudah menunggu di parkiran. Insya Allah lain waktu aku akan menjenguk Hasna bersama Mama. Semoga Hasna cepat sembuh." Ucap Kevin.


"Ya, sekali lagi terima kasih banyak, Vin, kamu sudah banyak membantu kami, terutama untuk Hasna." Ucap Rama tulus.


"Jangan berlebihan, itulah gunanya teman. Kalau begitu aku pamit. Tetaplah tegar, Hasna dan calon anak kalian membutuhkan ayah yang tangguh." Kelakar Kevin.


"Pasti, pasti, terima kasih telah mengingatkan." Ucap Rama dengan senyuman seraya menepuk pelan pundak Kevin.


"Om, Tante, Nayla, saya permisi dulu." Kevin mencium tangan Bu Diana dan Pak Andi secara bergantian. Lalu tersenyum ke arah Nayla yang mengangguk kecil ke arahnya.


"Salam sama Pak Agung." Ucap Papa.


"Pasti akan saya sampaikan, Om." Ucap Kevin.


"Mari, aku antar." Ucap Rama.


"Tidak perlu, aku bisa sendiri. Sebaiknya kamu tetap di sini. Tunggulah Hasna. Jangan sampai saat dia siuman, kamu tidak berada di sampingnya." Tolak Kevin.


"Baiklah, hati-hati." Kevin hanya mengangguk.


"Semuanya, assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam."


Kevin pun pergi meninggalkan keluarga Suryanata. Laki-laki itu merasa begitu lega saat mengetahui dan memastikan Hasna berhasil melewati masa kritis, itu yang terpenting.


***


Ivan dengan langkah cepat menyusui koridor bersama Tania. Ia sudah berjanji pada Rama untuk mencarikan pendonor untuk Hasna. Namun, ada sedikit insiden yang membuat mereka terlambat datang ke rumah sakit.


"Lantai tiga dari lift belok kanan." Ucap Tania.

__ADS_1


Mereka segera menuju arah yang Tania instruksikan. Dan benar saja mereka mendapati keluarga Suryanata berkumpul di depan ruangan yang bertuliskan ruang operasi.


"Maaf, Pak, kami terlambat. Mobil pecah ban." Ucap Ivan merasa bersalah pada atasannya.


"Kali ini, kamu tidak bisa saya andalkan. Untung saja ada orang baik yang bersedia menjadi pendonor untuk istri saya." Ucap Rama tanpa ekspresi.


"Sekali lagi maafkan saya, Pak." Ucap Ivan benar-benar merasa tidak enak.


"Sudah, lagi pula Hasna sudah mendapatkan pendonor. Dan yang terpenting, alhamdulilah Hasna sudah melewati masa kritisnya." Papa berusaha menengahi, jangan sampai mereka bersitegang di tempat yang tidak semestinya.


"Maafkan saya juga, Pak Rama." Timpal Tania. Perempuan itu merasa tidak enak, kerena dari awal dia telah bersedia untuk mendonorkan darahnya. Namun kejadian yang tidak terduga saat dalam perjalanan membuatnya datang terlambat. Tapi setidaknya ia bisa bernafas lega karena istri atasannya itu telah melewati masa kritis.


Rama hanya mengangguk mendengar ucapan sekretarisnya itu. Mau di sesali pun tidak akan bisa, karena memang kejadian di luar dugaan.


Cklek


Tim medis mendorong keluar brangkar Hasna. Perempuan itu terbaring lemah dengan wajah yang nampak pucat. Rama seketika menghentikan brangkar yang sebagian sudah keluar ruangan.


"Kenapa, Pak?" Tanya seorang perawat.


"Maaf, tolong tahan sebentar." Ucapan Rama membuat semua yang ada di sana terheran.


"Sebentar saja." Pinta Rama memohon.


"Bolehkah saya meminta selembar kain?" Ucap Rama pada para perawat.


"Kain, Pak?" Tanya perawat memastikan.


"Apakah ada?" Tanya Rama lagi tanpa menghiraukan pertanyaan sang ibu.


Ketiga perawat itu saling berpandangan, sungguh aneh permintaan keluarga pasien mereka ini.


"Kenapa berhenti, Sus?" Tanya Dokter yang baru saja keluar dari dalam ruangan recovery.


"Maaf, Dok, keluarga pasien yang menghentikan kami. Bapak ini meminta kain." Jelas salah satu perawat.


"Maaf, kain untuk apa?" Tanya Dokter.


"Untuk menutup bagian kepala istri saya, Dok." Bukan hanya Dokter yang terkejut dengan dengan penuturan Rama. Tapi semua yang ada di sana.


Bagian kepala Hasna memang terbuka, mengingat perempuan itu baru saja selesai menjalani operasi di bagian kepalanya karena kecelakaan yang menimpanya beberapa jam yang lalu.


"Rama, untuk apa? Itu tidak perlu." Cegah Mama.


"Ma, Hasna istri Rama. Dan hanya Rama satu-satunya laki-laki yang boleh melihat aurat istri Rama." Tekan Rama.


Semua saling berpandangan mendengar perkataan Rama. Aneh saja di saat seperti ini, laki-laki itu masih memikirkan bagian tubuh istrinya yang tak boleh orang lain lihat. Bahkan tadi ada beberapa dokter dan perawat laki-laki yang ikut ambil bagian saat melakukan tindakan operasi pada Hasna.


"Rama ini darurat." Mama masih berusaha menahan keinginan Rama.


"Ma, masa darurat tadi saat proses operasi berlangsung, dan sekarang sudah lewat." Keukeuh Rama.


Sepertinya Bu Diana tidak akan berhasil mencegah kemauan putranya.

__ADS_1


"Suter, tolong ambilkan jubah operasi." Ucap Dokter pada salah satu perawat.


"Baik, Dok."


"Maaf, hanya ada kain itu di sini, Pak." Ucap Dokter.


"Tidak apa-apa, Dokter. Sebelumnya terima kasih banyak." Ucap Rama.


Tak lama perawat menyerahkan jubah berwarna hijau itu kepada Rama.


"Terima kasih." Lantas Rama memakaikan jubah itu untuk menutup bagian kepala sang istri.


Cantik, kata itu yang terlintas di benak Rama saat memandang sekilas wajah pucat istrinya. Perempuan itu tetap nampak cantik. Kedua netranya mengembun. Perlahan tangannya terulur menyentuh pipi perempuan tercintanya itu dan mengusapnya lembut. Terasa dingin.


"Silahkan." Rama sedikit menyingkir untuk memberikan jalan kepada perawat.


Brangkar kembali di dorong dan masuk ke dalam lift untuk diantarkan ke ruang perawatan.


***


Hasna telah dipindahkan di salah satu ruangan VVIP. Rama ingin menjaga privasi istrinya. Hanya keluarga dan Dokter yang diperkenankan untuk masuk ke dalam. Bahkan Ivan tidak Rama perbolehkan melihat Hasna di dalam.


Semua masih menunggu dokter melakukan pemeriksaan, dan menunggu di luar ruangan termasuk Rama.


"Sebenarnya apa yang terjadi, hingga membuat Hasna seperti ini?" Sepertinya bukan hanya Papa yang ingin mendengar jawaban Rama, tapi semua yang ada di sana.


"Semua gara-gara Marissa." Ucap Rama dengan rahang yang mengeras dan tangan yang mengepal erat di kedua sisi tubuhnya.


"Marissa, Pak?" Ivan berusaha memastikan.


"Mantan sekretaris kamu?" Kini giliran Papa.


Anggukan Rama membuat mereka semuanya terkejut.


"Musibah ini, semua bermula karena ulah perempuan itu." Geram Rama.


Rama menceritakan kejadian yang baru saja istrinya alami dan ia saksikan dengan mata kepalanya sendiri. Semua hampir tidak percaya jika kecelakaan disebabkan oleh Marissa.


"Padahal, Marissa perempuan yang baik di mata Mama." Ucap Mama saking tidak percayanya dengan penuturan Rama.


"Perempuan baik kata Mama? Bahkan perempuan itu yang membuat pernikahan kami hampir saja hancur." Ucap Rama yang masih berusaha menahan emosinya.


"Maksudnya?" Tanya Mama. Selama ini memang permasalahan dalam rumah tangganya, Rama tidak pernah menceritakan pada kedua orang tuanya. Terlebih Marissa yang selalu menjaga sikapnya dihadapan kedua orang tua Rama. Hingga memunculkan image sebagai perempuan baik-baik.


"Apa Mama masih ingat saat Hasna pergi meninggalkan rumah?" Mama mengangguk.


"Itu semua, karena perempuan itu mengatakan jika dirinya hamil anak Rama. Dan saat itu Hasna tidak sengaja mendengarnya, karena Hasna sedang berada di kantor Rama untuk mengantarkan makan siang."


Tania baru mengingat jika waktu itu memanglah ada Marissa yang datang ke kantor, dan tak lama setelahnya, Hasna datang. Tapi ia tidak mengetahui kejadian apa yang terjadi saat itu, karena ia tengah keluar untuk makan siang. Begitu pula dengan Ivan yang tak sengaja berpapasan dengan Hasna di parkiran dengan mata yang basah.


"Jadi waktu itu...?" Ucap Ivan dan Tania bersamaan, lantas keduanya saling pandang.


***

__ADS_1


__ADS_2