
Lebih dari dua jam, Tomi dan Siska menghabiskan waktu di kafe yang berada di seberang rumah sakit. Banyak hal yang mereka bicarakan. Terutama permasalahan yang tengah Tomi hadapi secara tidak langsung, yaitu kasus hukum yang tengah Marissa hadapi.
"Perlu gue temenin?" Tanya Siska.
"Nggak perlu, gue bisa sendiri. Lo nggak kembali ke kantor?" Tomi baru menyadari jika mereka berbincang terlalu lama. Bahkan lewat jam makan siang.
"Baru nyadar, Pak?" Sindir Siska. Laki-laki itu menggaruk kepalanya yang pastinya tidak gatal.
"Gue izin tadi. Gue bilang kalau lagi jagain saudara di rumah sakit." Lanjut Siska.
"Sori banget, Sis. Gue udah terlalu sering ngerepotin lo." Tomi merasa tak enak sendiri jadinya.
"Bukan sering lagi, tapi selalu." Gurau Siska yang berujung tawa renyah perempuan itu.
"Iya, iya, maaf. Habisnya gue nggak tau lagi harus minta tolong sama siapa." Ucap Tomi.
"Serius amat sih. Bercanda kali, Pak. Marissa yang hamil, lo yang sensi." Kekeh Siska.
"Ee... Kalau gitu tolong lo temenin Marissa aja di kamarnya." Jawab Tomi.
"Oke."
Gegas Tomi meninggalkan Siska yang masih berada di depan resepsionis menuju ruang rawat Hasna. Tomi telah mengambil keputusan untuk menemui Rama. Walaupun nanti pada akhirnya Rama akan memberikan penolakan, tapi setidaknya ia sudah berusaha.
Tomi menghentikan langkahnya di depan bangunan tiga lantai bertuliskan "Paviliun Teratai." Berulang kali laki-laki itu terlihat menghembuskan nafasnya dengan kasar, berusaha menghilangkan kegelisahan yang mendera hatinya.
"Bismillah, setidaknya gue masih berusaha melindungi anak gue." Lirih Tomi.
Tomi kembali melangkahkan kaki menuju lift untuk ke lantai dua. Ia pasrah, apapun keputusan Rama nantinya.
Hatinya kian gelisah, manakala telah sampai di depan pintu kamar nomer 52. Tomi mengurungkan niatnya untuk mengetuk pintu yang tertutup rapat itu.
"Huft...ckkk...gue gugup banget." Tomi berjalan mondar-mandir di depan ruang rawat Hasna. Laki-laki itu benar-benar nampak gelisah.
"Tapi, gue nggak akan tau hasilnya, sebelum gue mencobanya." Ucap Tomi menyemangati dirinya sendiri.
Tok, tok, tok.
Akhirnya tangannya terayun juga, mengetuk pintu kamar Hasna.
Hening, tidak ada tanda-tanda seseorang yang akan membukakan pintu untuknya.
Tok, tok, tok
Sekali lagi Tomi coba, semoga saja kali ini ada yang membukakan pintunya.
Cklek
Tomi seketika menahan nafas, manakala mendapati Rama berdiri tepat di hadapannya. Laki-laki itu sendiri yang membukakan pintu untuknya.
__ADS_1
"Ya?" Kening Rama berkerut mendapati seorang laki-laki yang tengah berada di depan kamar istrinya. Terlebih mereka tidak saling kenal.
Rama memperhatikan laki-laki di hadapannya dengan begitu seksama. Sepertinya pernah bertemu, tapi di mana?
"Ya?" Ulang Rama.
Tomi nampak sangat gugup berhadapan dengan seorang Rama Suryanata secara langsung seperti ini. Keberanian yang ia kumpulkan sejak beberapa saat yang lalu menguap tak bersisa.
"Emm...e..." Kenapa mendadak ia menjadi seorang yang gagu seperti ini. Semua kalimat yang telah ia persiapkan serasa tercekat di kerongkongan.
"Maaf, sepertinya anda salah ruangan." Rama hendak menutup kembali pintu kamar Hasna.
"Tidak, saya tidak salah kamar." Ucap Tomi menahan pintu yang belum sempurna tertutup itu.
Rama menautkan kedua alisnya, menatap lurus ke arah laki-laki yang tengah berdiri di ambang pintu kamar istrinya.
"Saya..." Tomi menelan ludahnya dengan susah payah.
"Saya..." Rama mendengus kesal, karena laki-laki itu tak kunjung mengatakan apa tujuannya kemari.
"Maaf, saya tidak punya banyak waktu." Ucap Rama kesal.
Lagi-lagi Tomi menahan pintu yang hampir tertutup sempurna itu.
"Saya mencari anda, Pak." Akhirnya kalimat itu terucap dengan sempurna.
Rama menahan gerakannya karena mendengar ucapan laki-laki itu. Rama kembali membuka pintu.
"Tapi kita tidak saling mengenal." Ucap Rama.
"Iya, memang kita tidak saling mengenal. Tapi, kecelakaan yang istri anda alami...." Rama kembali fokus pada laki-laki berkaos merah itu. Kecelakaan Hasna? Apa yang laki-laki itu ketahui tentang kecelakaan yang istrinya alami?"
"Bisa saya minta waktunya sebentar, Pak?" Ucap Tomi yang terdengar seperti sebuah permohonan.
Rama terdiam sejenak, berusaha mencerna maksud kedatangan laki-laki di hadapannya itu.
"Baiklah, silahkan." Ucap Rama pada akhirnya. Rama menutup pintu ruangan Hasna dan mempersilahkan Tomi untuk duduk di bangku panjang di depan ruang rawat.
Kedua lelaki itu duduk bersebelahan dengan jarak yang tak begitu lebar. Keduanya terdiam cukup lama, tak ada yang membuka suara.
"Kalau kedatangan anda hanya meminta waktu untuk duduk santai, maaf, saya tidak ada waktu." Rama segera berdiri dari duduknya.
"Maaf, Pak. Saya..."
"Hanya lima menit, cepat katakan, atau saya akan pergi." Tegas Rama.
Susah payah Tomi menelan salivanya. Aura Rama benar-benar membuatnya tak bisa berkata-kata.
"Tiga menit lagi." Ucap Rama dengan melihat jam yang melingkari pergelangan tangannya.
__ADS_1
"Saya..."
"Sisa dua menit."
"Saya minta untuk menunda proses hukum atas kasus kecelakaan yang menimpa istri anda." Ucap Tomi.
Rama menoleh cepat dan menatap tajam ke arah Tomi yang tengah melihat ke arahnya.
"Saya mohon, saya mohon untuk menundanya." Ulang Tomi.
"Apa maksud anda?" Tanya Rama.
"Saya meminta kemurahan hati Pak Rama agar menunda proses hukum yang melibatkan Marissa. Saya mohon." Pinta Tomi dengan menangkupkan kedua tangannya di depan dada.
"Ada hak apa anda mengatakan itu? Anda tidak berhak sama sekali." Tekan Rama. Laki-laki itu menunjuk tepat ke arah Tomi.
"Saya memang tidak memiliki hak apapun, tapi saya memiliki kewajiban untuk memberikan jaminan keselamatan untuk calon anak saya." Lancar sekali Tomi mengatakannya. Entah mendapatkan keberanian dari mana laki-laki itu.
Tatapan Rama semakin menajam mendengar penuturan Tomi. Calon anak? Jadi, laki-laki ini ayah kandung dari bayi yang Marissa kandung? Apa laki-laki ini juga yang Ivan maksudkan sebagai suami Marissa?
"Maaf jika saya terkesan egois. Tapi...saya tidak ingin kehilangan calon anak saya." Ucap Tomi dengan suara yang bergetar.
"Saya tidak menghalangi proses hukum yang akan Marissa jalani nantinya. Saya hanya meminta untuk menundanya. Saya hampir saja kehilangan calon anak saya karena keegoisan Marissa. Saya_"
"Dan karena keegoisan perempuan itu, istri saya sekarang sedang koma." Potong Rama cepat, tanpa menunggu Tomi menyelesaikan kalimatnya.
"Istri saya sekarang dalam keadaan koma. Dalam ketidak pastian antara hidup dan mati. Terlebih istri saya sedang mengandung buah cinta kami." Ucap Rama.
Tomi kehilangan kata-katanya saat mendengar penuturan Rama. Jadi, istri Rama tidak hanya kritis, tapi sekarang justru dinyatakan koma? Tomi mengusap kasar wajahnya. Tiba-tiba saja ia merasa bersalah meminta Rama untuk menunda proses hukum yang melibatkan Marissa. Itu artinya, sama saja ia menghalangi Rama memperjuangkan keadilan untuk istri dan calon anak mereka.
"Selama ini saya diam atas tuduhan yang Marissa lontarkan kepada saya. Karena tuduhan itu pula pernikahan kami diambang kehancuran. Tapi untuk kali ini, saya tidak akan pernah bisa diam dan mentolelir tindakan Marissa yang hampir menghilangkan nyawa istri dan calon anak kami." Ucap Rama penuh ketegasan.
"Anda?" Rama kembali menunjuk ke arah Tomi yang sedari tadi bergeming di posisinya.
"Anda meminta saya untuk menunda proses hukum demi keselamatan perempuan itu juga anak dalam kandungannya. Lalu, saya harus tetap diam dengan kondisi istri saya yang berjuang antara hidup dan mati?" Pandangan Rama mulai berkabut saat mengatakannya. Rasanya susah sekali untuk sekedar menelan ludah. Dadanya bergemuruh hebat. Sebisa mungkin Rama mengendalikan emosinya.
"Bayangkan jika posisi kita terbalik? Istri anda mengalami koma dalam keadaan mengandung."
"Coba katakan, apa yang anda lakukan jika saya meminta untuk menghentikan sementara kasus ini?"
Tomi mengatupkan kedua bibirnya rapat-rapat, tak mampu memberikan jawaban yang Rama minta. Bahkan untuk sekedar membayangkan jika posisi itu untuknya pun, ia tidak sanggup.
"Kenapa anda diam? Katakan, apakah anda akan menundanya atau tidak?" Desak Rama.
Tomi menyugar kasar surai hitamnya. Ia benar-benar tak memiliki jawaban.
"Tak perlu anda menjawab. Cukup tanyakan pada hati nurani anda." Rama menunjuk dada Tomi yang berbalut kaos merah.
"Permisi."
__ADS_1
Rama kembali masuk ke dalam kamar Hasna meninggalkan Tomi yang tetap terdiam di posisinya.
***