Bidadari Penghapus Luka

Bidadari Penghapus Luka
Bab 125


__ADS_3

"Jadi waktu itu...?" Ucap Ivan dan Tania bersamaan, lantas keduanya saling pandang.


Rama memandang kedua orang kepercayaannya secara bergantian. Entah apa yang mereka ketahui tentang kejadian waktu itu. Tapi yang jelas, permasalahan waktu itu telah berlalu dan sudah selesai. Tapi sekarang justru timbul permasalahan baru.


"Maaf, Pak. Sebenarnya sudah sejak lama Marissa menaruh hati pada Pak Rama." Ucap Ivan yang membuat Rama fokus ke arah asisten pribadi itu.


"Mungkin Pak Rama yang tidak pernah menyadari perasaan Marissa untuk Bapak. Tapi di setiap ada kesempatan, Marissa pasti berusaha menarik perhatian Bapak. Dia semakin gencar mendekati Bapak saat kita akan berangkat ke Jepang. Juga setelah mengetahui keberadaan Mbak Hasna yang bapak kenalkan sebagai kerabat jauh Pak Andi, seolah merasa jika posisinya terancam dengan keberadaan Mbak Hasna." Ivan seketika menutup mulutnya rapat-rapat. Sepertinya ia menyadari jika ia salah berucap kali ini.


Tiba-tiba saja Ivan merasakan sulit menelan ludahnya sendiri. Rasanya seperti ada biji salak yang ikut tertelan, seret sekali. Belum lagi tatapan Rama yang siap membunuhnya secara perlahan.


"Maksudnya gimana?" Tanya Pak Andi, karena merasa namanya disangkut pautkan dengan permasalahan sang putra dengan mantan sekretarisnya.


"Eee...." Ivan terlihat gugup luar biasa manakala tatapan dua lelaki berkuasa itu menatap dirinya secara bersamaan. Laki-laki itu menggaruk kepalanya yang pastilah tidak gatal itu.


"Ivan?" Ucap Pak Andi penuh penekanan.


"Eee..." Ivan semakin gugup luar biasa. Bahkan kemeja lengan pendek yang digunakannya serasa lembab karena keringat yang tiba-tiba membanjiri tubuhnya.


"Kamu takut sama Rama?" Sergah Pak Andi. Laki-laki paruh baya itu memandang sekilas ke arah putra sulungnya.


"Padahal ayah kamu bekerja pada saya semenjak kamu masih kecil. Kami tidak pernah merahasiakan apapun." Ucap Pak Andi dengan santainya.


Rama membuang nafasnya dengan kasar. Sepertinya kali ini masalah yang telah ia kubur rapat-rapat dari kedua orang tuanya, terpaksa harus terkuak.


"Ini semua gara-gara Ivan, awas saja jika dia sampai mengatakan hal yang tidak-tidak."


Kedua manik pekat itu menatap lurus ke arah Ivan dengan sangat awas. Bagaikan mata elang yang memperhatikan gerak-gerik mangsanya.


"Ivan?" Ulang Pak Andi.


"Ini masalah sudah berlalu, Pa. Jadi tidak perlu lagi kita membahasnya. Apalagi ini di rumah sakit." Rama mencoba mengalihkan topik pembicaraan.


Papa membuang nafas dengan cepat. Ternyata ada masalah yang disembunyikan putranya selama ini.


"Tapi setidaknya, beri kami penjelasan maksud dari perkataan Ivan barusan. Hasna dikenalkan sebagai kerabat jauh Papa? Maksudnya bagaimana? Kamu tidak mengakui kalau Hasna istri kamu?" Kini ganti Bu Diana yang angkat suara. Seperti biasa, wanita itu selalu mendesak putranya.


Rama membuang pandangannya, menghindari tatapan sang ibu kepadanya.


"Kamu yang mau jawab sendiri? Atau Ivan yang akan membantu untuk menjawabnya?" Pilihan yang diajukan ibunya benar-benar pilihan yang sangat sulit.


"Itu dulu, Ma, saat Rama masih belum bisa menerima pernikahan Rama dengan Hasna." Jawab Rama sekenanya. Tapi memang seperti itu adanya.


"Dengan mengatakan jika Hasna kerabat jauh, Papa? Keterlaluan kamu, Rama." Bu Diana merasa jengkel mengetahui sikap putranya selama ini. Wanita paruh baya itu menghadiahkan cubitan di pinggang anak lelaki kesayangannya.


"Aawww...." Erang Rama seraya mengusap-usap pinggangnya yang terasa panas.


"Tau gitu, aku comblangin aja sekalian Mbak Hasna sama Bian waktu itu. Mana Bian cinta banget sama Mbak Hasna." Celetuk Nayla. Mata Rama membola sempurna karenanya.


"Iya, Mama setuju tuh. Masih mau kan Bian nerima Hasna dengan status barunya, sebagai janda beranak satu?" Timpal Mama yang sengaja menekan kata janda beranak satu. Terdengar sadis sekali memang.

__ADS_1


"Nggak usah jauh-jauh Bian, ada Ivan yang masih bujang." Sahut Pak Andi dengan entengnya, seraya menunjuk Ivan dengan isyarat dagunya.


"Memangnya Kak Ivan mau?" Tanya Nayla. Reflek kepala Ivan mengangguk. Kedua bola mata Rama membeliak sempurna, seolah akan terlepas dari tempatnya. Sepertinya asistennya itu cari gara-gara dengannya.


Tania tak kuasa menahan tawanya. Bahkan wajah cantiknya terlihat memerah dengan tangan yang membekap mulutnya, hingga membuat punggungnya terlihat naik turun. Perempuan itu menyembunyikan wajahnya di balik punggung sepupunya.


"Rejeki, Van, dapat jodoh pengusaha cantik, paket komplit." Bisik Tania di balik punggung Ivan. Perempuan itu sampai terkikik geli saat mengatakannya.


"Kalau gitu do'akan Mbak Hasna biar cepat sembuh. Biar bisa nikah sama Kak Ivan secepatnya." Wah benar-benar besar sekali nyali Nayla saat mengatakan itu di hadapan Rama.


Pletak


Satu sentilan mendarat sempurna di kening gadis cantik itu.


"Aduuuuhhh...sakit tau, Kak." Nayla mengusap-usap keningnya yang terasa berdenyut.


"Kamu, punya mulut minta dikasi minyak rem, biar nggak blong kalau ngomong." Omel Rama.


"Lagian kalian kenapa sih, harusnya mendo'akan yang terbaik buat pernikahan kami. Malah mendo'akan yang tidak-tidak." Sungut Rama kesal.


"Kamu juga, ngapain pakai acara ngangguk segala." Omel Rama pada Ivan.


"Namanya rejeki, Pak, nggak baik kalau ditolak." Ucap Ivan yang membuat Rama melotot ke arahnya dengan sempurna. Reflek Tania membekap mulut Ivan. Jangan sampai sepupunya itu mendapatkan SP dari atasan mereka setelah ini.


Cklek


"Dokter, bagaimana keadaan istri saya? Apa saya sudah bisa melihatnya?" Tanya Rama penuh harap.


"Pasien masih dalam pengaruh obat bius. Sebaiknya sampai satu jam kedepan pasien tetap terjaga ketenangannya." Ucap Dokter.


"Nanti satu jam lagi, kami akan kembali melakukan pemeriksaan pada pasien. Kalau begitu, kami permisi." Kedua tim medis itu pun pergi meninggalkan mereka samua.


Rama beralih menatap Ivan, membuat asisten itu kembali menelan ludahnya dengan susah payah.


"Ivan, saya serahkan masalah ini untuk kamu urus dengan pihak berwajib. Saya tidak mau ada kejadian serupa nantinya. Saya yang ditargetkan, tapi istri dan anak saya yang menjadi korban." Ucap Rama serius.


"Baik, Pak. Saya akan segera membuat laporan di kepolisian." Rama mengangguk kecil.


"Semoga kamu bisa di andalkan kali ini."


***


Rama baru saja menyelesaikan makan malam yang ia paksakan. Sebenarnya ia tidak berselera sama sekali, tapi pesan Kevin yang diucapkan sebelum laki-laki itu pulang, berhasil membuatnya Rama menyentuh makanannya. Kevin benar, Hasna dan calon anak mereka butuh sosok laki-laki yang tangguh, bukan laki-laki yang rapuh.


Drrrtt... drrrtt... drrrtt...


"Assalamu'alaikum, Mas Rama. Ini Pak Mamat." Terdengar sapaan dari sekuriti rumahnya melalui sambungan telepon.


"Wa'alaikumussalam, Pak Mamat. Ada apa?"

__ADS_1


"Ini, Mas. Tadi Mbak Nayla dari rumah, ngambilin baju ganti buat Mas Rama. Terus saya disuruh buat antar ke rumah sakit. Saya sudah di lobi, Mas." Ucap Pak Mamat.


"Ya sudah, saya segera turun."


"Baik, Mas. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam."


Rama memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya, dan bersiap untuk turun. Sekilas ia memandang wajah cantik Hasna yang terlelap dengan damainya.


"Sayang, aku turun sebentar, ya." Rama memberikan kecupan lembut di kening perempuan itu. Lalu keluar dari ruang rawat Hasna menuju lobi.


Rama mengedarkan pandangannya, mencari sosok Pak Mamat yang mengatakan sudah menunggunya di lobi rumah sakit. Ternyata laki-laki bertubuh gempal itu sedang duduk di kursi tunggu yang ada di depan resepsionis.


"Pak Mamat." Laki-laki berjaket hitam itu bangkit dari tempat duduknya.


"Mas. Ini pakaiannya, ada camilan juga buat Mas Rama." Pak Mamat menyerahkan ransel kecil berisikan pakaian Rama juga sekantong makanan ringan pada laki-laki itu.


"Terima kasih ya, Pak."


"Keadaan Mbak Hasna gimana, Mas? Saya syok banget loh saat mendengar berita Mbak Hasna mengalami kecelakaan dari adiknya Mas. Mana tadi bilangnya Mbak Hasna sempat kritis. Jujur saja, saya merasa tidak tenang, apalagi saya menganggap Mbak Hasna sudah seperti anak sendiri." Ucap Pak Mamat panjang lebar dengan logat khas jawanya.


Ya, Rama paham itu. Selama ini, istrinya selalu dekat dengan orang-orang yang bekerja dengannya. Selalu memperlakukan mereka dengan baik. Pantas saja jika banyak orang yang peduli pada istrinya.


"Alhamdulillah, Hasna sudah lewat masa kritis. Tapi sekarang masih istirahat, masih pengaruh obat bius." Ucap Rama.


"Kalau boleh, saya pengen ikutan jagain Mbak Hasna, Mas." Ucap Pak Mamat memohon.


"Nggak perlu, Pak. Pak Mamat pulang saja, jaga rumah. Lagian Hasna masih belum di perbolehkan untuk di jenguk dulu. Tadi Mama sama Papa juga langsung pulang setelah Hasna dipindahkan di ruang rawat." Jelas Rama. Pak Mamat terlihat mengangguk-angguk mendengar penuturan majikannya dengan raut wajah kecewa.


"Ya sudah kalau begitu, Mas. Mas Rama jangan lupa istirahat juga. Saya pamit pulang kalau begitu. Kalau butuh apa-apa, telepon ya, Mas."


"Pasti, Pak."


"Monggo, Mas, assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam, hati-hati, Pak."


Rama kembali melangkah dan masuk ke dalam lift menuju ruangan tempat Hasna di rawat.


***


selingan...biar nggak selalu tegang.


happy reading manteman🄰


jangan lupa berikan ulasan kalian ya...


makasih...

__ADS_1


__ADS_2