Bidadari Penghapus Luka

Bidadari Penghapus Luka
Bab 93


__ADS_3

Hasna sudah berada di dalam ruangan khusus untuk mempelai. Perempuan itu terlihat meremas kedua tangannya yang saling bertautan. Ia benar-benar gugup. Saat menikah dengan Rama waktu itu bahkan ia tidak merasakan apapun. Hanya rasa cemas akan kondisi Kakek yang semakin menurun.


Tapi berbeda untuk sekarang. Hasna terlihat sangat tegang. Bahkan berkali-kali perempuan itu terlihat menghirup nafas panjang.


"Sayang, Mama mau keluar sebentar. Mama akan menemui Papa. Kamu di sini dulu bersama Nayla. Mama akan segera kembali." Ucap Mama. Hasna hanya mengangguk.


"Nay, kamu temenin kakak kamu sebentar, ya." Tak seperti biasanya, gadis itu hanya mengangguk lemah.


Hasna melirik ke arah Nayla. Gadis itu terlihat cemberut. Lihat saja bibirnya sudah memanjang ke depan beberapa senti. Entah apa yang terjadi padanya. Moodnya cepat sekali berubah.


"Nay, kamu kenapa?" Bahkan gadis itu membisu saat Hasna bertanya padanya.


"Apa Mbak ada salah sama kamu?" Gadis itu hanya menggeleng.


Hasna memilih diam saat Nayla tak menyahut perkataannya. Kini fokus Hasna hanya mengurai kegugupan di dadanya.


"Mbak, Nay boleh minta tolong nggak?" Di tengah keheningan mereka, akhirnya Nayla buka suara.


"Apa?" Hasna kembali menoleh pada Nayla.


"Tolong mintain hape Nay di Kak Rama ya, Mbak." Ucap Nayla setengah memelas.


"Hape di Mas Rama?" Hasna mencoba memastikan. Nayla hanya mengangguk.


Perasaan tadi nayla memegang ponselnya sendiri. Bahkan berselfie dengannya. Tapi kenapa sekarang tiba-tiba ponselnya ada pada Rama?


"Bukannya hape tadi kamu pakai buat selfie sama Mbak, ya?" Nayla kembali mengangguk.


"Gara-gara foto sama Mbak Hasna, hape Nay disita sama Kak Rama." Gadis itu mendengus kesal.


Nayla menceritakan keisengannya pada Rama. Niat hati ingin menggoda, eh tidak taunya justru ini yang gadis itu dapat. Sama dengan bunuh diri namanya.


"Nanti, Mbak coba ambil. Semoga saja hape kamu belum diapa-apain." Hasna jadi merasa tidak enak kalau begini. Hanya karena berfoto bersamanya, kini ponsel Nayla jadi korban.


Tak berselang lama, Mama pun kembali.


"Lima belas menit lagi acara di mulai. Hasna, kamu bersiap ya, Nak." Ucap Mama.

__ADS_1


Dua orang kru MUA ikut masuk ke dalam ruangan. Kedua perempuan itu sigap membantu Hasna untuk merapikan gaun yang di kenakannya.


"Nay, ayo."


Nayla berdiri di sisi kiri Hasna, sedangkan di sisi kanannya ada Mama. Hasna berjalan perlahan keluar dari ruangan menuju ballroom hotel.


Hasna di antarkan menuju meja panjang yang berisikan enam kursi yang mengelilinginya. Di sana terlihat lima orang pria dewasa duduk memenuhi kursi yang tersedia, dan salah satunya adalah Rama.


Hasna di dudukkan tepat di sebelah kiri Rama. Bisa ia lihat ada Pak Mamat yang duduk di sebelah kirinya. Dan Pak Darma di sebelah kanan Rama. Ada Papa juga yang duduk tepat di hadapannya, juga seseorang seperti pemuka agama duduk tepat di hadapan Rama.


"Rileks ya, Sayang. Mama sama Nayla kembali ke kursi kami dulu." Bisik Mama.


Terlihat Papa mengambil mikrofon dan berdiri di hadapan tamu undangan yang telah datang.


"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh. Selamat malam para hadirin, tamu undangan yang kami hormati. Hari ini adalah hari di mana putra kami, Rama Suryanata akan melangsungkan resepsi pernikahannya dengan Hasna Ayudia. Perlu hadirin ketahui, jika putra kami, Rama, telah menikahi perempuan cantik yang tengah duduk di sisinya, sekitar empat bulan yang lalu. Dan hari ini, putra kami akan melakukan ijab qobul untuk yang kedua kalinya, agar dapat di saksikan oleh tamu undangan sekalian."


Setelah Papa memberikan sambutannya, ijab qobul pun di mulai. Tapi kini, hakim lah yang menjadi wali Hasna.


"Nak, hari ini yang menikahkan kalian adalah Pak hakim. Maafkan Papa jika, Papa mengatur acara ini tidak sesuai dengan keinginan hati kamu. Tapi percayalah, jika ini semua Papa lakukan untuk kebaikan kalian. Pernikahan kalian sebelumnya tetaplah sah, dengan wali Pak Rusdi. Hanya saja Papa ingin pernikahan kalian ini di saksikan oleh tamu undangan yang hari ini hadir di acara kalian." Papa dengan sangat lembut mengucapkannya pada Hasna. Laki-laki paruh baya itu sangat memahami jika nantinya Hasna merasa keberatan. Tapi demi kebaikan keduanya, beliau mengambil jalan ini.


Hasna tersenyum kepada Papa Andi dan mengangguk. Jika memang pertimbangannya adalah demi kebaikan, maka tidak ada alasan untuk menolaknya. Terlebih pernikahan mereka sebelumnya hanya dilakukan di rumah sakit dan tanpa sepengetahuan orang lain selain keluarga inti dan juga dokter yang menjadi saksi waktu itu. Hingga beberapa kali mereka mendapatkan masalah dengan alasan yang sama.


"Nak Rama, silahkan jabat tangan saya. Jangan grogi, karena sudah pernah melakukannya sebelumnya." Goda Pak penghulu.


Pria yang usianya lebih tua dari pak Andi itu melihat ketegangan yang begitu kentara di wajah Rama, maka dari itu beliau mencoba mencairkan suasana terlebih dahulu sebelum memulai acara inti.


Rama menjabat tangan Pak penghulu yang terasa hangat. Berbanding terbalik dengan telapak tangannya yang terasa dingin.


"Sepertinya, akad belum bisa di mulai, Pak Andi." Ucap penghulu yang membuat kelima orang yang mengelilingi meja khusus untuk ijab qobul saling lirik dan bertanya.


"Maaf, apa ada sesuatu hal yang belum terpenuhi?" Tanya Papa Andi.


"Tidak, semua sudah kami siapkan dengan rapi, bahkan semua dokumen pernikahan sudah dibawa oleh Pak Darma." Jawab Pak Penghulu itu dengan tenang, dan menoleh pada Pak Darma selalu saksi dari mempelai pria.


"Lalu kenapa tidak bisa di mulai, Pak?" Tanya Papa lagi.


"Baru saja berjabat tangan dengan saya, tapi tangan Nak Rama terasa begitu dingin seperti es. Saya takut nantinya saat saya mengucapkan ijab, belum sempat di jawab qobulnya, Nak Rama keburu pingsan." Ucap penghulu, lantas terkekeh sendiri dengan candaannya.

__ADS_1


Tak pelak apa yang Pak Penghulu katakan memancing gelak tawa para undangan, tak terkecuali Hasna. Perempuan itu terlihat menunduk dan menutup mulut dengan tangan kanannya. Bahunya sedikit terguncang, sepertinya tawa Hasna menggelikan hingga tak berani mengangkat wajahnya.


Sedangkan Rama tersipu malu mendengar ucapan penghulu. Sepertinya apa yang dikatakan Pak penghulu tidaklah seratus persen salah. Bahkan Rama sendiri khawatir jika ia tiba-tiba pingsan saking gugupnya.


Beberapa kali Rama membuang nafasnya kasar, berusaha mengurai kegugupan yang menguasai dirinya. Tanpa Rama sangka sebelumnya, Hasna meraih jemari tangan kiri Rama. Perempuan itu meremas pelan jari Rama dalam genggamannya. Seolah tengah menyalurkan ketenangan untuk sang suami.


Rama menoleh pada Hasna yang tak mengalihkan pandangannya. Perempuan itu masih terlihat menunduk, seolah tidak ada yang terjadi sebelumnya. Tapi genggaman tangannya begitu erat menggenggam jemari Rama.


"Bisa di mulai, Pak?" Tanya Rama. Laki-laki itu sudah terlihat lebih tenang dari sebelumnya.


"Oh, tentu saja Nak Rama." Jawab Penghulu.


Rama kembali menjabat tangan Pak penghulu.


"Alhamdulillah, sudah hangat tangannya. Berarti bisa di mulai akad nikahnya." Penghulu masih sempat menggoda Rama.


"Baiklah Nak Rama, setelah nanti saya selesai mengucapkan kalimat ijab, mohon langsung Nak Rama jawab dengan kalimat qobulnya, dengan satu tarikan nafas. Jangan gugup, tetap fokus." Ucap penghulu memberikan arahan kepada Rama. Rama mengangguk dengan yakin.


"Bismillahirrahmanirrahim, Saudara Rama Suryanata bin Andi Suryanata. Saya nikahkan engkau dengan saudari Hasna Ayudia binti Firmansyah dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan uang tunai sebesar lima ratus juta rupiah dibayar tunai." Penghulu sedikit menyentak jabatan tangannya, agar Rama segera menjawab dengan kalimat qobul.


"Saya terima nikahnya Hasna Ayudia binti Firmansyah dengan mas kawin tersebut di bayar tunai." Sesuai arahan Rama menyebutkan kalimat sakral itu dengan sekali tarikan nafas.


"Bagaimana para saksi?" Tanya penghulu.


"SAH." Jawab para saksi dengan lantang.


"Alhamdulillah."


Jika saat akad nikah pertama mereka, Hasna menitikkan air mata kesedihannya akan kondisi Kakek, sekarang ia menitikkan air mata bahagia. Begitupun dengan Rama. Jika diawal mereka menikah dirinya terpaksa mengucapkan ijab qobul, kini Rama begitu yakin dengan pernikahannya. Rama begitu bangga bisa memperistri perempuan secantik Hasna. Cantik paras juga hatinya.


"Baarakallahu laka wa baaraka 'alaika wa jama'a bainakumaa fii kheir." Doa penghulu setelah para saksi mengucapkan kata sah.


Hasna mencium punggung tangan Rama dengan penuh takzim. Begitu pula Rama, laki-laki itu mengusap puncak kepala Hasna. Memanjatkan doa dan harapan untuk pernikahan mereka. Lantas mengecup kening sang istri dengan penuh kelembutan.


Di salah satu sudut diantara tamu-tamu yang hadir, seseorang menitikkan air matanya. Air mata kebahagiaan juga air mata kesedihan. Bahagia melihat perempuan yang pernah menghuni tahta tertinggi di hatinya, memulai lembaran baru kehidupannya dengan laki-laki yang dipilihnya. Juga sedih saat perempuan yang paling istimewa di hatinya bersanding dengan laki-laki lain.


"Berbahagialah selalu Hasna. Semoga laki-laki yang telah engkau pilih, tak hanya memberikanmu limpahan materi. Tapi juga limpahan cinta. Semoga dia benar-benar lelaki yang tepat untuk menjadi penyempurna hidupmu."

__ADS_1


***


__ADS_2