Bidadari Penghapus Luka

Bidadari Penghapus Luka
Bab 27


__ADS_3

Sudah beberapa hari ini, Hasna terlihat menghindari Rama. Bukan lelaki itu tak menyadarinya, hanya saja ia berpikir akan lebih baik seperti ini keadaannya. Hasna menjaga jarak dengannya.


Seperti hari-hari sebelumnya, Hasna tetap melayani kebutuhan Rama di meja makan. Senyum pun tak pernah pudar dikedua sudut bibirnya. Namun senyuman itu tak seperti senyuman yang menjadi ciri khas perempuan itu.


"Ehemmm...untuk beberapa hari ini, saya ada kerjaan diluar kota. Sebaiknya kamu ke rumah Mama, supaya ada yang menemani." Ucapnya Rama ditengah acara sarapan mereka.


"Tidak perlu mengkhawatirkan aku, aku sudah biasa sendiri." Jawab Hasna.


Rama tak melanjutkan obrolan, karena lima belas menit lagi, Ivan akan sampai untuk menjemputnya.


Selesai sarapan, terlebih dahulu Rama mengambil barang juga dokumen yang akan dibawanya.


Terdengar suara bel dari luar. Sepertinya ada tamu, tapi siapa yang bertamu pagi-pagi buta seperti ini. Gegas Hasna membukakan pintu, ternyata Ivan.


"Selamat pagi, Mbak Hasna." Sapa Ivan dengan senyuman ramahnya.


"Assalamu'alaikum, selamat pagi, Pak Ivan." Ucap Hasna.


"Wa, wa'alaikumussalam." Jawab Ivan dengan tersenyum canggung.


Ivan memperhatikan penampilan perempuan dihadapannya, sudah rapi sepagi ini, seperti hendak pergi.


"Ehemmm... Mbak Hasna mau pergi?" Tanya Ivan memecah keheningan.


"Iya, Pak Ivan. Saya mau berangkat kerja." Jawabnya ramah.


Ivan mengernyitkan keningnya, di jam sepagi ini Hasna akan berangkat kerja. Bahkan ini baru jam enam lewat lima belas menit. Mungkin saja tempat kerjanya jauh, pikir Ivan.


Obrolan ringan terjadi diantara keduanya. Sesekali terdengar tawa Ivan, dan terlihat senyuman yang tak surut dari bibir perempuan cantik itu.


Keduanya tak menyadari jika Rama sudah berada tak jauh di belakang Hasna, dengan membawa koper kecil juga berkas ditangannya.


Laki-laki itu memperhatikan raut wajah Hasna yang nampak ceria. Bahkan senyuman yang menghiasi wajahnya begitu berbeda dari yang ditunjukkannya beberapa hari terakhir. Tawa dan senyuman itu nampak ringan tanpa beban.


"Ivan, ayo segera kita berangkat. Jangan sampai kita terjebak macet."


Rama mendekat ke arah mereka, berhenti tepat diantara Ivan dan istrinya. Sejenak ia melirik ke arah Hasna, nampaknya senyuman perempuan itu perlahan menyurut.


"Saya pergi, jaga diri kamu baik-baik." Rama pun melangkah meninggalkan keduanya.


Hasna sedikit terkejut mendengarnya. Selama mereka menikah, baru kali ini ia mendengar suaminya itu berpamitan.


"Ivan, ini sudah terlalu siang. Jangan buang-buang waktu." Rama sedikit mengeraskan suaranya, karena ia sudah berada di dekat mobil.


"Baiklah Mbak Hasna, kami pergi dulu." Pamit Ivan sopan.


"Hati-hati Pak Ivan. Assalamu'alaikum"


"Wa'alaikumussalam."

__ADS_1


Ivan segera berlalu memasuki mobil, tersenyum melihat ke arah Hasna yang masih berdiri di ambang pintu. Bukan pemandangan yang aneh memang, karena hampir setiap pagi perempuan itu selalu melakukannya saat mengantar Rama bekerja. Walaupun hanya mengekori langkahnya dari belakang.


Tapi kini, seorang laki-laki tersenyum ke arah istrinya itu. Ada sedikit perasaan aneh disudut hatinya.


"Jangan terlalu mengagumi perempuan, bisa-bisa nanti malah kamu yang sakit hati."


"Mbak Hasna itu patut dikagumi loh, Pak. Dari awal bertemu, sepertinya mbak Hasna bukan tipe perempuan yang suka menyakiti perasaan." Sanggah asistennya.


"Jangan sok tau kamu." Tukas Rama.


"Tapi bukan berarti semua perempuan suka mainin perasaan, Pak." Sanggah Ivan lagi.


Ivan tidak setuju dengan penilaian dari Rama yang terkesan terlalu subjektif. Terlepas dari masa lalu yang di alaminya, sungguh itu bukanlah penilaian yang bijak menurut Ivan.


Ivan melajukan mobil meninggalkan kediaman Rama, menuju tempat mereka mengadakan pertemuan kerja dengan rekan bisnis mereka.


Rama merogoh ponsel di saku kemejanya, menghubungi sang mama.


"Halo, Ma. Rama mau minta tolong sama Mama."


"Minta tolong apa?" Kata suara dari seberang telepon.


"Rama ada pertemuan bisnis dengan beberapa rekanan di luar kota. Mungkin tiga sampai empat hari. Jika Mama tidak keberatan, tolong bujuk Hasna untuk tinggal sementara di rumah."


"Kenapa bukan kamu sendiri yang membujuk Hasna?" Aneh juga, Hasna kan istrinya, kenapa pula harus Mamanya yang membujuk.


"Baiklah, nanti akan Mama telepon."


"Terima kasih, Ma."


Ivan terdiam menyimak perkataan yang diucapkan atasannya. Terdengar agak aneh ditelinganya. Kerabat jauh Pak Andi kenapa memilih tinggal di rumah pribadi Rama, sedangkan rumah keluarga Suryanata masih cukup luas. Apalagi mendengar jika Rama mengkhawatirkan Hasna. Sepertinya ada sesuatu diantara mereka.


Tapi sepertinya Ivan tak mau ambil pusing dengan masalah ini. Dia tetap fokus mengemudikan mobil yang dikendarainya.


***


Hasna kembali masuk ke dalam rumah setelah mobil yang ditumpangi Rama dan Ivan menghilang dibalik gerbang. Perempuan itu kembali melanjutkan aktifitasnya membersihkan sisa makanan di meja makan. Dan lanjut ke restoran.


Baru selesai mencuci piring bekas sarapan, ponsel di atas meja makan berdering. Segera ia raih benda pipih itu dan melihat siapakah yang melakukan panggilan di ponselnya.


"Assalamu'alaikum, Ma."


"Wa'alaikumussalam, sayang. Kamu ada di mana sekarang?"


"Masih di rumah, kenapa, Ma?"


"Barusan Rama telepon Mama, katanya dia ke luar kota untuk beberapa hari. Dia bilang, sebaiknya kamu pulang ke sini sementara waktu. Dia khawatir sama kamu."


Khawatir, benarkah seperti itu? Terlalu berlebihan sepertinya. Mengingat perkataan Rama beberapa waktu lalu yang menyebut dirinya sebagai kerabat jauh. Sepertinya mustahil jika laki-laki itu mengkhawatirkan dirinya.

__ADS_1


"Hasna, kamu masih di sana, sayang?" Bu Diana memastikan jika menantunya masih mendengarkan perkataanya barusan.


"Iya, Ma. Nanti Hasna akan pulang ke rumah Mama setelah dari restoran. Sekarang Hasna sudah bersiap mau berangkat." Sepertinya Hasna tak dapat menolak permintaan mertuanya.


"Baiklah, hati-hati di jalan ya, sayang. Assalamu'alaikum."


"Iya, Ma. Wa'alaikumussalam."


Hasna kembali ke dalam kamarnya untuk mengambil beberapa baju yang akan dia bawa saat menginap di rumah mertuanya nanti. Setelah itu gegas ia berangkat ke restoran.


***


Hasna melajukan mobil dengan kecepatan sedang, saat melintas di depan toko cake and pastry miliknya, tiba-tiba saja ia ingin berbelok. Tak berpikir panjang, segera ia membelokkan mobil ke arah tokonya.


Toko masih terlihat sepi, hanya ada beberapa pegawainya yang berlalu lalang, karena memang toko baru saja buka.


"Assalamu'alaikum." Ucap Hasna saat memasuki toko.


"Wa'alaikumussalam." Jawab mereka.


"Mbak Hasna, kangen banget. Sudah jarang nengokin toko." Seorang pegawai perempuan menghampiri Hasna.


"Alhamdulilah, bisa nengokin mbak Nadia dan teman-teman hari ini. Gimana, aman-aman aja kan?"


"Aman terkendali, Mbak." Jawab pegawai perempuan yang dipanggilnya Nadia itu.


"Oh iya mbak Nadia, Hasna mau minta tolong disiapkan red Velvet, croissant sama puff pastry. Nanti sore saya ambil sekitar jam empat an."


"Siap, mbak Hasna."


Sejenak Hasna memeriksa dapur juga gudang penyimpanan bahan, ternyata stok masih aman. Setelah itu segera menuju ke restoran miliknya.


***


Hasna menekuri beberapa laporan keuangan gerai usaha miliknya, memeriksanya satu persatu dengan teliti. Hingga tak terasa sudah waktunya jam makan siang.


Sejenak ia merenggangkan persendian, guna merilekskan tubuh. Sungguh bekerja seperti ini, sedikit banyak dapat mengalihkan pikirannya dari masalah rumah tangganya.


Perutnya mulai terasa lapar, sepertinya mencari makan di luar bukanlah ide yang buruk. Selama ini ia selalu memesan makanan di dapur restorannya. Mencari suasana baru mungkin akan sedikit menambah moodnya.


Hasna memutuskan pergi ke restoran Italia yang tak jauh dari restoran miliknya. Hanya lima belas menit sudah sampai di restoran kekinian itu. Rupanya restoran lumayan padat pengunjung. Hasna mengedarkan pandangannya mencari meja yang masih kosong. Setelahnya memesan pasta juga minumannya.


Hasna menikmati hidangan dihadapannya sambil sesekali memeriksa ponselnya yang beberapa kali berbunyi.


"Assalamu'alaikum, Hasna."


Suara yang begitu familiar menyapa pendengarannya. Seketika pandangannya teralihkan pada sosok yang berdiri tepat dihadapannya saat ini. Sedetik kemudian senyuman terbit dikedua sudut bibirnya.


***

__ADS_1


__ADS_2