Bidadari Penghapus Luka

Bidadari Penghapus Luka
Bab 163


__ADS_3

Rama berjalan mendekat pada Hasna. Perempuan itu tengah menatap langit dari jendela kamarnya. Entah apa yang ia lamunkan, hingga tak menyadari kehadiran Rama di kamar.


"Kenapa belum tidur? Sudah hampir pagi." Ucap Rama.


Hasna menoleh dan mendapati Rama tengah berdiri di belakangnya. Lantas perempuan itu tertunduk. Tak lama, isakan mulai terdengar.


"Kamu kenapa?" Rama berjongkok dihadapan Hasna dan mengusap lembut pipi istrinya yang basah.


"Maafkan aku, Mas." Lirihnya dengan diiringi isakan.


Rama menarik Hasna ke dalam pelukannya. Mengusap punggung yang bergetar itu dengan lembut.


"Maaf, karena sudah membuat Mas Rama marah. Aku tidak memikirkan posisi Mas Rama. Aku hanya....aku...." Isakan kembali mendominasi saat Hasna ingin mengungkapkan rasa bersalahnya.


"Ssttt... Sudah, tidak perlu kita membahasnya lagi. Sebaiknya kamu segera beristirahat. Sudah hampir pagi." Rama mengurai pelukannya dan mengusap sisa air mata di wajah Hasna.


Rama pun berdiri dan mengulurkan tangannya pada Hasna. Hasna hanya menatap tangan Rama yang terulur kepadanya, tanpa menyambutnya.


"Kenapa?" Rama mengerutkan keningnya.


"Gendong, Mas." Lirih Hasna dengan nada manja. Bahkan tatapan matanya seperti gadis kecil yang menggemaskan.


Rama membuang nafasnya dengan kasar. Ternyata istrinya itu sedang ingin bermanja kepadanya.


Rama kembali mensejajarkan tubuhnya dan mengangkat tubuh Hasna dengan perlahan. Perempuan itu menatap siluet wajah Rama di bawah temaram lampu tidur.


"Kenapa ekspresinya begitu?" Tanya Hasna yang melingkarkan kedua tangannya di leher Rama.


"Nggak apa-apa." Jawab Rama santai.


"Kenapa? Aku berat, ya?" Tanya Hasna dengan nada sinis. Sungguh sensitif sekali pertanyaan Hasna kali ini.


"Hmmm..."


"Kamu mau bilang kalau aku tambah gendut? Makanya berat." Tuh kan, mulai sewot sendiri. Padahal Rama tidak mengatakan apapun pada Hasna.


"Aku kan dari tadi diam, belum ngomong apa-apa juga. Orang kamu sendiri yang bilang gitu." Ucap Rama dengan tenang.


"Ya tapi ekspresi Mas Rama itu loh." Sewot Hasna lagi.

__ADS_1


Rama tetap diam sampai menurunkan tubuh Hasna di atas ranjang mereka. Nampak sekali jika Hasna sedang kesal. Dasar perempuan. Dia yang bertanya, dia yang mencari-cari jawaban, eh...dia juga yang merasakan kesal.


"Mas Rama mau kemana?" Tanya Hasna.


"Mau ke kamar mandi. Mau ikut?" Tanpa menjawab, Hasna segera menarik selimutnya.


***


Hari ini, Rama akan menghadiri persidangan Marissa. Rencananya Rama akan ke pengadilan di temani oleh Ivan juga Pak Darma.


"Mas." Rama menoleh ke arah Hasna.


"Aku boleh ikut ke persidangan?" Tanya Hasna hati-hati.


Rama meletakkan kembali sendoknya. Sepertinya selera makannya sirna sudah.


"Aku tidak akan menghalangi proses hukum Mbak Marissa. Aku hanya ingin melihat keadaannya." Ucap Hasna memberikan alasan.


"Aku rasa, tidak perlu. Sebaiknya kamu di rumah. Atau aku telepon Mama agar menemani kamu di sini." Ucap Rama yang kembali menikmati sarapannya.


"Sekali saja. Aku mohon, izinkan aku ikut." Rama membuang nafasnya dengan kasar. Tatapan itu sungguh membuat Rama tidak bisa menolaknya.


"Dengan syarat."


"Tetap berada di sampingku, apapun yang terjadi." Hasna mengangguk setuju.


Bukan tanpa alasan Rama mengatakan hal itu. Ia hanya ingin menjamin keselamatan sang istri juga calon anak mereka. Status Marissa memanglah sebagai seorang tahanan, tapi Rama pun tidak bisa memprediksi apa yang akan perempuan itu lakukan jika bertemu dengan istrinya kembali. Setidaknya, Rama sudah memberi peringatan kepada Hasna. Dan berharap jika sang istri benar-benar memperhatikan dan mematuhinya. La


***


Sesuai permintaan, Hasna tetap berada di sisi Rama selama persidangan. Bahkan ia pun tak berniat untuk beranjak, demi memenuhi persyaratan yang Rama ajukan tadi pagi sebelum ia ikut ke persidangan Marissa. Hingga persidangan selesai, Hasna tetap bertahan di posisinya.


Marissa tidak sengaja melihat ke arah Hasna, sebelum dirinya di bawa kembali ke dalam sel tahanan. Entah apa yang ia katakan pada petugas, hingga dirinya semakin mendekat ke arah Hasna.


Ivan dengan sangat sigap, berdiri di depan Rama, tepat di hadapan Marissa yang akan mendekat ke arah mereka. Ivan sudah bisa memprediksi jika Hasna lah tujuan Marissa.


"Sebaiknya jagalah sikap, agar kamu memperoleh keringanan masa tahanan." Ucap Rama memperingatkan.


"Maaf, Pak Ivan. Saya hanya ingin bertemu sebentar dengan Mbak Hasna." Ucap Marissa.

__ADS_1


Ivan tetap berdiri tegak di hadapan Marissa, tanpa berniat menggeser posisinya sama sekali. Ia tetap bersiap dan berjaga-jaga supaya Marissa tidak melakukan hal yang dapat membahayakan Hasna kembali.


"Mbak Hasna maafkan saya. Karena saya, Mbak Hasna dalam bahaya. Tolong maafkan saya, Mbak." Ucap Marissa dengan mata yang berkaca. Ia tidak mempedulikan jika saat ini ia berada di hadapan Rama juga Ivan.


"Mungkin ini adalah balasan yang harus saya terima, atas perbuatan jahat saya pada Mbak Hasna. Bahkan saya tidak di berikan kesempatan untuk melihat wajah bayi yang baru saja saya lahirkan, hingga akhirnya, saya berada di balik jeruji besi." Air mata pun tak dapat Marissa bendung lagi. Perempuan itu bahkan menangis sesenggukan dengan posisi bersimpuh di hadapan Ivan. Rama tetap menahan pergelang tangan Hasna saat perempuan itu hendak melangkah mendekati Marissa. Rama memastikan agar istrinya tetap aman berada di sampingnya.


Dapat Hasna lihat dengan jelas raut penyesalan yang terpancar di kedua mata Marissa. Namun, tidak ada yang bisa ia lakukan. Ia pun sudah berjanji pada Rama untuk tidak menghalangi proses hukum yang akan Marissa jalani.


"Mbak Marissa tidak perlu berlutut seperti itu, Mbak. Cukup sesali perbuatan Mbak Marissa. Mohonlah ampun kepada Allah. Insya Allah saya pun sudah memaafkan Mbak Marissa." Ucap Hasna. Rama menoleh sekilas pada Hasna. Laki-laki itu tidak habis pikir dengan sikap sang istri. Begitu mudahnya Hasna memaafkan kesalahan Marissa yang hampir saja melenyapkan nyawanya.


"Dosa saya sangat besar, Mbak. Pasti Tuhan pun tidak akan mengampuni saya." Ucap Marissa.


"Tidak ada dosa yang tidak bisa Allah ampuni, kecuali syirik. Selagi ada kesempatan, gunakanlah untuk bertaubat dan memperbaiki diri." Ucap Hasna. Rama kembali menahan tangan Hasna saat istrinya akan mendekat pada Marissa.


"Sebaiknya kita pulang." Ucap Rama dengan tegas.


Hasna menoleh pada Rama yang sudah menunjukkan raut yang tidak bersahabat. Sebaiknya ia tidak memaksa.


"Sebentar, Pak Rama. Izinkan saya, sekali saja mengusap perut Mbak Hasna. Saya_"


"Cukup!! Jaga batasanmu." Ucap Ivan memperingatkan.


"Sekali saja. Saya mohon." Marissa mengatupkan kedua tangannya di depan dada.


Ivan tetap siaga di depan Rama dan Hasna. Meskipun ada petugas yang mengawal Marissa, ia tidak boleh lengah. Begitupun dengan Rama, laki-laki itu menyembunyikan Hasna di balik tubuh kekarnya. Memastikan istri dan calon anaknya tetap dalam keadaan aman.


"Mas." Hasna mengusap lembut lengan Rama, dan menatap laki-laki itu penuh permohonan.


"Tidak, Hasna. Saya tidak mengizinkan kamu." Ucap Rama dengan serius dan terdengar tegas.


Beberapa detik sepasang suami istri itu saling berpandangan, hingga akhirnya Rama kembali membuka suaranya.


"Baiklah, tidak lebih dari tiga detik." Hasna mengangguk setuju.


Hasna mendekat ke arah Marissa dengan Ivan dan Rama di sisi kanan dan kirinya. Dengan gemetar, Marissa mengulurkan tangannya menyentuh perut Hasna. Air mata kembali luruh dengan isakan yang tak dapat di tahan.


"Maafkan saya." Hanya dua kata yang mampu Marissa ucapkan, tapi kenapa membuat Hasna begitu tersentuh?


***

__ADS_1


Up dua bab ya...🥰


Semoga selalu terhibur 😘


__ADS_2