Bidadari Penghapus Luka

Bidadari Penghapus Luka
Bab 154


__ADS_3

Dua hari Rama meninggalkan Hasna ke luar kota. Membuat laki-laki itu menegang kerinduan pada sang istri juga calon anaknya. Pekerjaannya kali ini memang tidak bisa di wakilkan. Untung saja segera dapat di selesaikan. Rama ingin segera sampai rumah dan bertemu dengan sang istri tercinta.


Dan seperti kejadian yang sudah-sudah, Ivan diminta untuk menjadi sopir saat perjalanan pulang. Karena saat berangkat, Rama yang mengemudikan mobil.


"Apa kita mampir makan dulu, Pak?" Tawar Ivan. Kebetulan sebentar lagi mereka akan melewati rest area.


"Tidak perlu. Kita langsung pulang saja." Ivan mendengus kesal. Yang benar saja, perjalanan masih tiga jam lagi dan Rama memilih langsung pulang? Bisa-bisa ia pingsan di tengah jalan nanti.


"Kalau begitu, saya izin untuk take away dari restoran cepat saji yang ada di rest area depan. Jika perut saya kosong, takutnya mendadak pusing. Bisa bahaya nanti." Ucap Ivan yang diselipi sedikit kebohongan.


Rama nampak berpikir sejenak. Benar juga apa yang dikatakan oleh Ivan. Perjalanan masih tiga jam lagi, dan jam makan siang sudah terlewat dua jam yang lalu. Jika dipaksakan tidak akan baik nantinya.


"Baiklah, kita cari restoran. Kita makan dulu." Ucap Rama pada akhirnya, yang membuat Ivan bernafas lega.


Dengan sangat bersemangat, Ivan melajukan mobilnya. Sejujurnya ia sangatlah lapar. Karena saat sarapan, ia hanya makan sedikit.


***


Hasna tengah menikmati buah-buahan segar di ruang tengah, ditemani oleh Mbak Marni. Perempuan itu sangat menikmati masa kehamilannya tanpa drama. Apapun bisa ia makan dengan nikmat.


"Makan malam nanti, Mbak Hasna ada request tidak? Mungkin ada yang pengenin?" Tanya Mbak Marni.


"Apa ya, Mbak? Sepertinya nggak ada deh." Jawab Hasna di sela kunyahannya.


"Sup iga mungkin, apa iga bakar kesukaan Mbak Hasna?"


Hasna sejenak menghentikan kegiatannya, lalu menatap Mbak Marni dengan mata yang berbinar.


"Mau, Mbak. Hasna mau iga bakar. Udah lama banget nggak makan iga bakar." Ucap perempuan itu antusias.


Hanya dengan menyebutkan namanya saja, Hasna sudah menelan ludah. Membayangkan betapa nikmatnya makanan favoritnya itu jika di santap saat masih hangat. Semenjak menikah, Hasna lebih sering memasak sup iga favorit Rama, daripada iga bakar favoritnya.


"Apa Mas Rama dimasakkan sup iga juga, Mbak?" Tanya Mbak Marni. Mumpung bahan dasarnya sama, jadi bisa sekalian masaknya.


"Kayaknya belum pulang deh, Mbak. Mungkin akan larut malam sampai rumah." Ucap Hasna.


"Ya sudah kalau begitu. Saya tinggal ke belakang. Mau siap-siap masak." Mbak Marni pamit dan meninggalkan Hasna seorang diri di ruang tengah.


Dua hari tanpa Rama rasanya rumah begitu tenang. Hasna bebas melakukan kegiatan tanpa larangan laki-laki itu. Semakin besar usia kandungannya, semakin protektif pula Rama terhadapnya. Padahal bukan hal berat yang ia lakukan. Tapi justru Rama memperlakukan dirinya layaknya orang yang tengah sakit parah. Ngapa-ngapain selalu dibatasi.


Drrrtt... drrrtt... drrrtt...


Panjang umur, baru saja di bicarakan, kini Rama melakukan panggilan.


"Assalamu'alaikum, Mas."


"Wa'alaikumussalam, Sayang. Sedang apa?" Sungguh basa basi layaknya remaja yang tengah kasmaran.

__ADS_1


"Lagi santai, menikmati buah-buahan. Mas Rama udah sampai mana?" Tanya Hasna.


"Masih ada di rest area kota B. Kenapa? Apa kamu merindukanku?" Hasna tersipu mendengar pertanyaan Rama.


"Halo? Sayang?"


"Iya, Mas?"


"Ckk...selalu saja. Kenapa kamu selalu tidak menjawab jika aku bertanya, apa kamu merindukanku?" Protes Rama.


"Cepatlah pulang, aku menunggu Mas Rama di rumah." Ucap Hasna lembut.


"Baiklah, Ivan akan ku minta untuk mengemudikan dengan kecepatan tinggi agar segera sampai."


"Tidak perlu ngebut-ngebut. Ingat, ada aku dan calon anak kita yang menunggu ayahnya pulang dengan selamat." Ucap Hasna lembut.


"Baiklah, ibu ratu. Hamba akan segera pulang dan sampai dengan selamat." Ucap Rama.


"Oh iya, mas Rama kira-kira sampai rumah jam berapa nanti?" Tanya Hasna.


"Kurang lebih jam tujuh. Kenapa?"


"Tidak papa. Apa perlu aku siapkan makan malam?" Tawar Hasna.


"Sepertinya tidak perlu. Kami baru akan makan. Kamu saja, jangan sampai telat makan." Ucap Rama.


"Baiklah, Sayang. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam."


***


Dengan sangat lahap, Hasna menikmati makan malam dengan menu favoritnya bersama Mbak Marni juga pak Mamat. Hal semacam ini yang selalu Hasna rindukan. Kedua pekerjanya itu sudah Hasna anggap seperti keluarganya sendiri.


Pak Mamat dan Mbak Marni saling pandang dan tersenyum, saat melihat bagaimana Hasna menikmati makanannya. Mereka seolah tengah melihat Hasna kecil yang selalu mereka temani saat makan.


"Enak, Mbak?" Tanya Mbak Marni.


Hasna mengangguk cepat dan mengacungkan jempolnya.


"Nggak pernah gagal." Puji perempuan itu.


"Pelan-pelan, Mbak makannya. Kita makan tempe sama bumbunya saja, nggak papa kok." Seloroh Pak Mamat.


Hasna baru menyadari jika dirinya telah menghabiskan beberapa iga bakar, dan telah menambah nasi dua kali.


"Maaf, keterusan. Habisnya enak banget."

__ADS_1


"Nggak papa, Mbak. Lanjutkan, supaya bayi Mbak Hasna tidak merasa lapar." Ucap Pak Mamat.


"Kalau mau nambah, masih ada kok, Mbak. Sebentar, saya ambilkan." Sahut Mbak Marni.


Mbak Marni beranjak menuju ke dapur, mengambil sisa iga bakar yang masih ada di sana.


"Biar Bapak yang buka. Mbak Hasna lanjut saja makannya." Ucap Pak Mamat saat mendengar bel rumah berbunyi.


Laki-laki bertubuh gempal itu segera membukakan pintu. Ternyata Rama. Masih jam tujuh kurang, majikan laki-lakinya itu sudah sampai rumah. Padahal tadi bilangnya akan sampai pukul delapan.


"Mas Rama." Sapa Pak Mamat seraya menunduk sopan.


"Istri saya sudah tidur?" Tanya Rama.


"Belum, Mas. Mbak Hasna masih makan malam."


Rama segara masuk ke dalam menuju ruang makan. Dan benar saja, ia mendapati sang istri tengah makan dengan lahapnya. Bahkan perempuan itu makan tanpa memakai sendok dan juga garpu.


Rama mendekat dan duduk tepat di sebelah sang istri. Hasna yang masih asyik dengan makanannya, tidak menyadari kedatangan Rama. Laki-laki itu mengamati bagaimana istrinya menikmati makanannya. Rama menarik sudut bibirnya membentuk lengkungan.


"Apa aku boleh gabung? Kelihatannya nikmat sekali." Hasna menoleh dan mendapati Rama telah duduk di sampingnya.


"Mas Rama?" Hasna sedikit terkejut karena Rama datang saat makan malam.


"Mas Rama mau saya ambilkan piring?" Tanya Mbak Marni.


"Iya, boleh. Tiba-tiba saja saya merasa lapar setelah melihat istri saya makan. Nampak begitu nikmat." Ucap Rama.


Mbak Marni segera menyiapkan piring bersih untuk Rama. Tanpa menunggu lama, Rama segera menyendok nasi dan mengambil lauk yang sama seperti Hasna.


"Iga bakar, ya?" Hasna mengangguk


"Favoritnya Mbak Hasna, Mas." Sahut Mbak Marni.


"Oh ya?" Rama menoleh pada Mbak Marni, lalu menatap ke arah sang istri.


"Mbak Hasna seneng banget loh sama iga bakar, sama seperti almarhumah ibunya." Sahut Pak Mamat.


"Saya ingat betul, kalau dulu almarhumah Bu Hesti masak buat Mbak Hasna, selalu ngajakin saya buat bantuin. Katanya, ini makanan kesukaan Hasna, Mbak. Nanti kalau saya tidak sempat buatin, tolong Mbak Marni buatin untuk Hasna, ya." Ucap Mbak Marni menirukan ucapan almahumah ibu kandung Hasna dengan mata berkaca-kaca.


"Saya tidak pernah menyangka, jika itu bagaikan sebuah wasiat, agar kami selalu merawat dan menemani Mbak Hasna kecil." Mbak Marni terlihat mengusap sudut matanya yang basah.


Suasana makan malam yang tadinya hangat berubah menjadi haru, karena cerita Mbak Marni tentang ibu dari Hasna yang telah tiada hampir empat belas tahun yang lalu.


"Hemmm...kapan mulai makannya? Saya sudah sangat lapar. Pak Mamat, segera ambil posisi. Kita makan sama-sama. Mbak Marni juga." Ucap Rama mengalihkan suasana. Laki-laki itu tidak mau melihat istrinya bersedih. Karena raut wajah Hasna yang tadinya penuh semangat, berubah menjadi sendu saat mendengar cerita Mbak Marni tentang almahumah ibunya.


***

__ADS_1


__ADS_2