
"Mas Rama nggak ngantor lagi?" Tanya Hasna.
Perempuan itu melihat ke arah suami yang tengah bergelung di bawah selimut selepas sholat shubuh tadi.
"Lagi mager." Sahut Rama dari balik selimut.
"Kamu pimpinan loh, Mas. Kalau mager, gimana nasib ribuan karyawan kamu?" Peringat Hasna.
Hasna berjalan mendekati Rama. Menarik selimut yang menutupi tubuh suaminya. Lihatlah, laki-laki itu masih betah memeluk guling dan memejamkan matanya kembali. Membuat Hasna menggelengkan kepala.
"Mas hari ini aku izin mau ke restoran, ntar aku minta ditemani Nayla aja. Kebetulan Mama minta aku ke rumah, jadi sekalian jalan. Soalnya kamu lagi mager juga." Ucap Hasna.
Tak perlu membangunkan dengan tenaga ekstra cukup membuat alasan dengan menyebutkan nama Nayla. Bisa Hasna pastikan, suaminya itu akan cepat merespon. Terbukti, sekarang Rama sudah duduk dengan sikap tegak sempurna.
"Kenapa minta antar Nayla? Mobil kamu bermasalah?" Tanya Rama. Suaranya pun bahkan tak terdengar parau khas bangun tidur.
"Mobil, oke kok. Cuma ntar sekalian nemenin Mama fitting baju sama Nayla. Jadi Mama bilang aku ke sananya nggak usah bawa mobil." Jawab Hasna. Perempuan itu memperhatikan raut wajah suaminya.
"Minta jemput Pak Yanto ajalah."
"Nggak bisa, sekalian Nayla mau mampir dulu ke kampus." Rama membuka matanya lebar-lebar saat Hasna mengatakan kata kampus, seolah radar bahayanya tengah berbunyi.
"Emang kenapa? Kita udah jarang hangout bareng loh. Ya... itung-itung quality time bareng ciwi-ciwi."
Rama menarik Hasna hingga terduduk di pangkuannya.
"Ciwi-ciwi gimana maksudnya?" Manik pekat itu memicing tajam pada Hasna.
"Ya... Aku sama Nayla, kita...." Nyali Hasna sedikit menciut gara-gara tatapan yang Rama berikan.
"Apa?" Desak Rama.
"Kita mau hangout ala gadis-gadis lah, Mas."
"Siapa yang gadis?" Suaranya sudah mulai tak enak di dengar.
"Ya...aku sa_"
Rama menjatuhkan tubuh Hasna dan menindihnya. Kedua tangan itu terkunci diantara kedua tangan Rama yang di arahkannya tepat di sisi kanan dan kiri kepala Hasna.
"Coba katakan, siapa yang gadis?" Ucap Rama.
"A_"
Belum sempat Hasna melanjutkan ucapannya, Rama sudah terlebih dahulu membungkam bibir ceri itu dengan ******* lembut.
"Kamu seorang wanita sekarang, bukan lagi seorang gadis." Bisik Rama.
Hasna sejenak menahan nafasnya, bisikan Rama membuat bulu-bulu halusnya meremang seketika.
"Apa butuh pembuktian sekali lagi, jika kamu_"
"Eng...nggak perlu." Sahut Hasna cepat.
"Coba katakan, siapa yang gadis?" Bisik Rama tepat di depan wajah Hasna.
Hasna melepaskan tangannya dari genggaman Rama, dan mengalungkannya di leher laki-laki itu. Gerakan Hasna membuat Rama semakin mencondongkan kepalanya. Tiba-tiba saja senyuman Hasna terlihat memikat di mata Rama. Diusapnya perlahan rambut Rama hingga ke leher. Lelaki itu memejamkan mata menikmati sentuhan lembut istrinya.
"Aku, aku gadis kecil yang dinikahi pria dewasa mesum, seperti Mas Rama." Bisik Hasna dengan nada sedikit sensual. Membuat Rama mengeram tertahan.
Setelah mengatakan itu, Hasna segera melarikan diri saat Rama kehilangan fokusnya. Perempuan itu meninggalkan kamar dan turun ke bawah. Lebih baik bersiap di kamar tamu dari pada berada di kamar yang sama dengan Rama. Bisa-bisa Rama akan bolos kerja lagi seperti kemarin. Dan dirinya tidak bisa kemana-mana seharian.
***
__ADS_1
Setelah drama panjang, akhirnya Rama sampai juga di kantor. Dan sebelumnya mengantarkan Hasna ke restoran terlebih dahulu.
"Selamat pagi, Pak." Sapa Vita.
"Pagi." Rama terus melangkah hingga menuju lift.
Sampai di lantai tujuh, Rama menyiapkan diri, jangan sampai terpancing emosi jika melihat sekretarisnya. Ini kantor, jangan sampai membawa masalah pribadi.
Rama berjalan menuju ruangannya, tapi meja Marissa masih kosong. Dilihatnya jam dinding yang menempel di atas lurus dengan pandangannya saat ini, sudah pukul delapan lewat tiga puluh menit. Seharusnya perempuan itu sudah berada di meja kerjanya, jam kantor sudah di mulai sejak tiga puluh menit yang lalu.
Rama berlalu masuk ke dalam ruangannya, tak mau ambil pusing dengan keberadaan Marissa. Seperti dugaannya pekerjaan sudah menantinya dengan setia di atas meja. Terlebih dua hari ke belakang, ia selalu meninggalkan kantor setelah jam makan siang. Dan kemarin malah tidak datang.
Tok, tok, tok.
Terdengar ketukan saat ia baru saja mendaratkan tubuh di kursi kerjanya. Ivan muncul dari balik pintu. Asistennya itu terlihat membawakan berkas lagi untuknya.
"Maaf, Pak. Ini berkas kerjasama dengan perusahaan Pak Dirga. Kemarin sekretarisnya mengirimkannya via email." Ucap Ivan. Ah, iya, tidak mungkin Rama melupakan itu, karena dirinya yang meminta langsung pada Bu Mala, sekretaris Pak Dirga.
"Terima kasih. Saya kemarin yang memintanya pada Bu Mala." Ucap Rama. Ivan meletakkan berkas itu di atas meja.
"Emm...maaf, Pak. Kemarin Marissa mengirimkan amplop kepada Bapak. Saya juga kurang tau apa isinya. Karena saya menerimanya dari Vita." Rama mengerutkan keningnya.
Amplop? Maksudnya amplop apa? Tangannya segera mencari apa yang asistennya maksud diantara tumpukan berkas, dan ketemu. Rama mengambilnya dan melihat Ivan sekilas.
Rama berusaha tenang, jangan sampai ia terpancing emosi jika mengetahui isinya nanti. Marissa perempuan nekat, jangan sampai sekretarisnya itu mengirimkan sesuatu yang bersifat pribadi.
Ivan masih setia berdiri di depan meja kerja Rama. Asisten muda itu sepertinya juga penasaran apa yang Marissa kirimkan pada atasannya itu. Segera Rama membuka amplop dan mengeluarkan isinya.
"Surat resign?" Kening Rama berkerut saat membacanya. Laki-laki itu menetap asisten yang masih berdiri di hadapannya.
"Resign?" Ulang Ivan memastikan. Rama mengangguk kecil membenarkan.
"Kenapa kesannya tiba-tiba sekali?" Ucap Ivan.
Rama menggedikkan kedua bahunya. Sebenarnya ia pun enggan menanggapi pengunduran diri Marissa. Di bacanya perlahan alasan pengunduran diri sekretarisnya itu. Rama melemparkan surat itu di atas mejanya, supaya Ivan bisa membacanya juga. Sungguh tidak masuk akal, membuat Rama menggelangkan kepalanya. Ivan pun menunjukkan ekspresi yang sama saat membacanya.
"Ya mungkin, Marissa menemukan pekerjaan dengan gaji yang lebih menjanjikan lagi." Ucap Rama acuh.
Ivan nampak tidak menerima alasan yang Rama berikan. Masalah gaji? Sepertinya tidaklah mungkin. Bahkan gaji di perusahaan ini lima belas persen lebih tinggi dari perusahaan lainnya. Tapi apapun itu, bukanlah menjadi urusannya. Mungkin itu adalah keputusan terbaik yang Marissa ambil. Semoga saja rekan kerjanya itu mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dari pekerjaan sebelumnya.
***
Rama kembali fokus dengan pekerjaannya. Beberapa berkas telah ia pelajari dan tanda tangani. Hingga tak terasa sudah waktunya jam makan siang.
Rama memeriksa ponselnya, ternyata benda pipih itu dalam mode sunyi tanpa adanya panggilan maupun pesan yang masuk. Ternyata Hasna tidak menghubunginya sama sekali. Rama menghembuskan nafasnya kasar.
Segera ia mendial nomer Hasna, namun hingga panggilan diakhiri secara otomatis, Hasna tak kunjung menjawab. Ia coba sekali lagi, tapi tetap saja tidak diangkat.
"Kemana dia?" Gumamnya.
~Hasna, kamu dimana?~ Rama.
~Kenapa panggilanku tidak di jawab?~ Rama.
~Hasna?~ Rama.
Bahkan beberapa pesannya tidak di jawab. Sekali lagi ia melakukan panggilan, semoga ada jawaban. Akhirnya panggilan tersambung juga.
"Halo, Hasna, kamu dimana?" Ucap Rama saat panggilan tersambung.
Tidak ada jawaban. Rama melihat layar ponselnya. Panggilan masih tersambung.
"Hasna? Sayang, kamu dimana?" Tanya Rama sekali lagi.
__ADS_1
Tidak ada jawaban, justru terdengar suara tawa yang tertahan. Tidak mungkin Hasna memperdengarkan percakapannya pada orang lain, bukan?
"Hasna?"
Justru sekarang suara tawa yang ia dengarkan. Rama sangat mengenali suara itu. Suara Mama juga adik tengilnya, Nayla. Dasar, pasti ponselnya mode loud speaker. Sudah dapat dipastikan setelah ini ia mendapatkan ledekan. Entah apa yang sudah ia ucapkan tadi.
"Iya, Sayang." Benar dugaannya, kini Nayla menirukan ucapannya.
"Dimana Hasna? Kenapa hapenya sama kamu?" Ucap Rama serius.
"Oh, sayangnya masih di toilet, zheyeng." Jawab Nayla sok manis, membuat Rama ingin sekali membungkam mulut gadis itu dengan burger jumbo yang ditambah saus pedas diatasnya.
"Kalian ada di mana sekarang?"
"Kami lagi makan siang di foodcourt mall xx."
"Tunggu tiga puluh menit lagi." Ucap Rama tanpa adanya bantahan.
"Kamu mau ngapain? Mau ngintilin kita, para kaum hawa? Kita juga pengen me time sesama perempuan, Rama." Kini suara Mama yang menyahut.
"Sampaikan pada Hasna, Rama tidak mengizinkan dia keluar hari ini." Rupanya Rama tidak mau kalah. Ia sangat tau jika Hasna tidak akan mengabaikan perintahnya.
"Aduh Rama, jangan posesif gitu sama istri. Kasian kalau menantu Mama merasa terkekang nantinya."
"Siapa yang nelpon?" Kini terdengar suara Hasna yang sedang menyahut.
"Mas Rama?" Kini suara Hasna yang terdengar jelas. Sepertinya perempuan itu mengambil alih ponselnya
"Kamu dimana?" Suara Rama mulai melunak.
"Aku masih ada di luar, makan siang bareng Mama sama Nayla. Bentar lagi kita mau ke butik. Ada apa?"
"Tidak. Nanti pulang jam berapa?"
"Masih belum tau, tapi nanti aku usahain pulang sebelum Mas Rama."
"Baiklah kalau begitu."
"Assalamu'alaikum." Sahut Hasna sebelum Rama menutup panggilannya.
"Wa'alaikumussalam."
Rama menatap ponselnya yang baru saja dipakainya untuk melakukan panggilan dengan istrinya. Sepertinya ia harus segera makan siang, karena perutnya pun sudah merasa lapar.
***
Di tempat lain Marissa tengah tersenyum melihat foto hasil USG yang di dapatkannya dua hari yang lalu. Tangan kanannya mengusap lembut perut yang masih rata itu.
"Sayang, sebentar lagi kamu akan menjadi anak dari Suryanata. Kamu mau panggil dengan sebutan apa? Ayah? Papa? Papi? Atau Daddy?" Marissa berbicara seolah anak dalam kandungannya bisa menjawabnya.
"Mama lebih suka kalau nantinya kamu panggil Daddy, itu terdengar sangat keren. Daddy Rama." Senyuman merekah di bibir Marissa.
"Hanya dengan membayangkannya saja, Mama...ah bukan, Mommy. Kamu harus panggil Mommy." Marissa kembali mengusap lembut perutnya.
"Mommy tidak sabar untuk segera bersatu dengan Daddy. Kamu pasti akan sangat bangga menjadi anak dari Rama Suryanata, Sayang. Jika kamu laki-laki, pasti akan setampan Daddy Rama. Dan jika perempuan, pasti akan secantik Mommy Marissa." Senyuman tak pernah surut dari wajah cantiknya.
"Sebentar lagi, kamu akan mencariku Rama. Kamu akan aku buat mempertanggung jawabkan perbuatan kamu tempo hari. Dan aku pastikan, kamu tidak akan bisa lagi menghindar, dan akan menikahiku. Nyonya Marissa Anindita Suryanata." Marissa tertawa bahagia saat menyebutkan namanya yang bersanding dengan nama Rama.
Perempuan itu tersenyum membayangkan kehidupannya bersama Rama kelak. Bagaimana mereka akan menjalani kehidupan yang bahagia sebagai sepasang suami istri. Bahagia bersama keluarga kecil mereka
***
Mohon maaf, kemarin tidak sempat nambah bab baru.
__ADS_1
semoga terhibur ya...