
"Ada kabar tentang anak gue?" Tanya perempuan itu penuh harap.
Sebaris kalimat yang kerap Marissa ucapkan di setiap kunjungannya menemui perempuan itu.
Marissa menunduk lesu, seolah bisa menebak jawaban apa yang akan Siska sampaikan kepadanya.
"Gue tau kalau kesalahan gue sangatlah besar. Tapi bagaimanapun juga, dia anak kandung gue. Sembilan bulan dia menjadi bagian dari diri gue, Siska."
"Gue memang bukan ibu yang baik. Tapi rasanya tidaklah adil jika gue nggak diperbolehkan untuk sekedar melihat wajahnya. Gue nggak di berikan kesempatan untuk sekedar memeluknya." Lolos sudah air mata yang sempat Marissa tahan.
Siska beranjak dan duduk di samping Marissa. Mengusap lembut punggung perempuan itu, berusaha menenangkan.
Andaikan ia bisa mengatakan, jika apa yang di lakukan Tomi tidaklah salah. Ini semua adalah hasil dari apa yang ia perbuat selama ini. Ia pun ingin agar Marissa menyadari kesalahannya dan mau menerima pernikahan juga buah hatinya.Tapi semua sudah terlanjur terjadi. Talak yang tak terelak, hingga menghilangnya Tomi beserta buah hatinya. Namun Ia tidak setega itu jika mengatakannya kepada Marissa di tengah keterpurukan yang dihadapinya.
"Gue pasti berusaha mencarinya, Sa." Kalimat berulang yang selalu Siska ucapkan untuk menjawab pertanyaan Marissa. Sungguh tidak ada kepastian yang bisa membuat hari Marissa tenang.
"Lo udah cari informasi dari kantornya?" Marissa kembali membuka suaranya, saat ia sudah merasa lebih tenang. Sedikit banyak, informasi akan di dapatkan dari tempat mantan suaminya itu bekerja.
"Udah."
"Trus gimana?" Dapat Siska lihat wajah Marissa yang menampakkan harapan yang begitu besar.
"Eee..."
"Siska?" Nampak raut ketidak sabaran tergambar jelas di wajah cantik itu.
"Tomi..."
"Tomi kenapa? Ngomong yang jelas!" Suara Marissa sedikit meninggi karena Siska tak kunjung mengatakan dengan kalimat yang jelas.
"Tomi udah resign, hampir dua bulan lalu." Marissa membolakan matanya dengan sempurna. Dua bulan?
"Re...resign?" Siska mengangguk sebagai jawaban.
"Lalu? Tempat tinggalnya? Kontrakan?" Siska menggeleng lemah. Bahkan ia pun tidak tahu dimana Tomi tinggal setelah membawa bayi yang baru Marissa lahirkan.
"Alamat ibunya?" Marissa pernah memberikan alamat ibunya Tomi pada Siska sebelum ia masuk penjara.
"Hanya ada ibu juga adik perempuannya." Bahu perempuan itu meluruh saat mendengar jawaban Siska.
Dua minggu yang lalu, Siska memang pergi ke kota kelahiran Tomi. Tapi ia tidak mendapati laki-laki itu di sana. Siska tidak mengatakan banyak hal tentang masalah yang Marissa dan Tomi hadapi. Hanya menanyakan keberadaan Tomi, sebagai seorang teman yang kebetulan mampir dari luar kota. Sebenarnya Siska pun merasa putus asa. Terlebih selama dua bulan ini ia benar-benar kehilangan jejak Tomi.
"Boleh, gue pinjem hape lo? Gue pengen telepon dia. Bentar aja. Gue pengen maki dia. Dia cukup keterlaluan hingga menghilang seperti sekarang." Ucap Marissa berapi-api.
Siska merasa iba dengan perempuan yang baru tiga bulan ini menyandang gelar sebagai seorang ibu. Setelah berhasil melewati masa-masa di mana ia selalu di dampingi oleh psikiater, justru sekarang ia bergelut dengan masalah yang tak kalah rumit. Semoga saja mentalnya tidak terguncang seperti kemarin.
"Sis?" Marissa mengernyit, manakala Siska tak kunjung memberikan ponselnya. Justru perempuan itu menunduk dan menghindari tatapan Marissa.
"Siska?"
"Nomornya udah nggak aktif." Marissa memejamkan matanya. Tomi benar-benar menutup semua akses, tanpa memberikan sedikit pun celah.
"Gue_"
"Maaf, jam kunjungan sudah berakhir." Ucap petugas. Siska menoleh sedikit mengangguk dan tersenyum.
"Gue bakal usahain, Sa." Marissa mengangguk pasrah.
"Gue pulang dulu, ya." Siska berdiri untuk memeluk Marissa sebagai tanda untuk berpamitan.
Siska pun segera keluar dari ruang kunjungan, menyisakan Marissa yang mengikuti gerak langkah sahabatnya itu dengan pandangan nanar.
***
Hasna berulang kali merubah posisinya untuk mencari kenyamanan. Namun tak kunjung menemukan posisi yang pas. Perempuan itu pun duduk dan membuang nafasnya dengan kasar. Kandungannya semakin membesar, semakin sulit pula ia menemukan posisi untuk tidur.
Rama baru saja kembali dari ruang kerja dan mendapati sang istri masih belum beristirahat siang, padahal sudah hampir jam dua.
"Belum tidur?" Rama mendekat ke arah ranjang dan duduk di sebelah Hasna.
Perempuan itu menggeleng, tangannya masih mengusap lembut perutnya yang semakin besar.
"Kenapa?" Hasna membuang nafasnya perlahan.
__ADS_1
"Dia terlalu aktif bergerak." Rama paham maksud sang istri. Pastilah perempuan itu merasa tidak nyaman dengan gerakan aktif dalam perutnya.
"Berbaringlah, akan aku temani kamu tidur."
Perlahan Hasna kembali membaringkan tubuhnya. Rama pun mengusap-usap perut sang istri dengan sangat lembut.
"Sayang, sudah waktunya tidur siang. Tidurlah, kasihan Bunda. Bunda juga butuh beristirahat." Ucap Rama, seolah mengajak bicara bayi dalam perut Hasna.
Perlahan gerakan mulai berkurang, tidak seaktif sebelumnya. Hasna mulai memejamkan mata saat usapan lembut dan gerakan bayinya yang mulai melembut.
"Anak pintar." Ucap Rama tanpa menghentikan usapannya.
Tek perlu menunggu waktu yang lama, Hasna pun benar-benar terlelap. Rama memperhatikan wajah teduh sang istri yang telah terbuai mimpi. Begitu tenang dan damai.
***
Rama tengah menyelesaikan pekerjaannya di ruang tengah. Sedangkan Hasna, perempuan itu tengah berada di meja makan, menikmati secangkir coklat hangat dan beberapa potong kue bolu pandan buatan Mbak Marni.
"Di makan, Mas." Ucap Mbak Marni. Sepiring bolu pandan tersaji di atas meja.
"Makasih ya, Mbak." Ucap Rama.
"Sama-sama, Mas. Permisi." Mbak Marni bersiap kembali ke dalam, namun suara Rama menghentikan langkah wanita itu.
"Mbak?"
"Iya, Mas?"
"Hasna belum selesai makan?" Tanya Rama.
"Belum, Mas. Masih makan bolu di belakang. Mau saya panggilin?" Ucap Mbak Marni.
"Tidak, biarkan saja."
Mbak Marni pun segera berlalu ke dalam. Rama gegas mematikan laptop yang sedari tadi menemaninya bekerja, lalu ke dalam untuk menemui Hasna. Dan benar saja, istrinya itu tengah menikmati bolu pandan dan secangkir coklat hangat di meja makan.
"Udah cukup, ya. Jangan terlalu banyak manis, ingat pesan dokter." Ucap Rama mengingatkan. Laki-laki itu duduk tepat di samping sang istri.
"Iya, lagian baru kali ini kok, Mas." Ucap Hasna.
"Mas Rama mau?" Tawar Hasna. Rama membuka mulutnya, dan satu potong bolu Hasna suapkan untuk suaminya itu.
"Ini terlalu manis loh." Protes Rama di sela kunyahannya.
"Enggak kok, malah aku minta Mbak Marni buat kurangin gulanya." Ucap Hasna.
"Iya, beneran, Sayang."
"Enggak, Mas."
"Enggak apanya? Manis banget ini."
"Mbak Marni, Pak Mamat." Panggil Hasna pada dua orang pekerja di rumah mereka yang kebelutan baru keluar dari dapur.
"Iya, Mbak." Jawab mereka secara bersamaan.
"Minta tolong, bisa kesini sebentar, nggak?" Kedua pekerjanya itu gegas menghampiri Hasna yang tengah berada di meja makan.
"Ada apa, Mbak?" Tanya Mbak Marni.
"Ada yang bisa dibantu?" Tanya Pak Mamat
Kebetulan sekali, Pak Mamat tengah membawa secangkir kopi dan sepiring bolu pandan buatan Mbak Marni.
"Udah cobain bolunya, Pak?" Tanya Hasna, tanpa menjawab pertanyaan mereka terlebih dahulu.
"Belum, Mbak. Ini mau saya bawa ke depan." Ucap Pak Mamat.
"Cobain dulu, Pak. Nanti bilang sama saya, gimana rasanya." Pinta Hasna. Keduanya mengerutkan kening mereka, tidak paham arah pembicaraan Hasna.
Sejenak keduanya terdiam penuh tanya, dan saling pandang, seolah mempertanyakan maksud Hasna.
"Mbak Marni juga cobain." Ucap Hasna sembari menyodorkan bolu yang tinggal tiga potong di piringnya pada Mbak Marni.
__ADS_1
"Emang kenapa, Mbak bolunya? Ada yang kurang pas?" Tanya Mbak Marni hati-hati. Pasalnya di sana ada Rama juga. Wanita itu takut jika melakukan kesalahan saat menyuguhkan makanan untuk Hasna.
"Nggak papa, Mbak, Pak. Cicipin saja dulu." Kini Rama mulai buka suara. Laki-laki itu tersenyum hangat. Rama menyadari jika kedua pekerjanya menatap penuh tanya padanya.
Ragu-ragu, Mbak Marni mengambil sepotong bolu pandan dari piring Hasna. Yang wanita khawatirkan bukan rasanya, karena Hasna tidak melayangkan protes saat memakannya tadi, malah terlihat sangat menikmatinya. Yang Mbak Marni khawatirkan justru kesalahan apa yang telah ia lakukan, karena beberapa saat yang lalu baru saja ia menyuguhkannya untuk Rama.
Rasanya tidak ada yang aneh saat bolu mulai mereka makan, hanya saja memang tidak terasa manis. Karena Mbak Marni membuatnya sesuai permintaan Hasna untuk mengurangi takaran gulanya.
"Gimana?" Tanya Hasna.
"Enak, Mbak. Tapi agak kurang manis." Jawab Pak Mamat.
"Rasa bolunya sesuai permintaan Mbak Hasna." Jawab Mbak Marni.
"Tuh kan, Mas. Apa aku bilang. Bolunya nggak manis, malah aku minta Mbak Marni buat kurangin takaran gulanya tadi." Ucap Hasna.
"Maaf, Mbak. Memangnya kenapa?" Tanya Mbak Marni hati-hati.
"Ini loh, Mbak, kata Mas Rama bolunya kemanisan. Perasaan aku makan tadi rasanya sesuai request deh." Jelas Hasna.
"Masa sih?" Rama kembali mengambil sepotong bolu dan menggigitnya.
Baik Hasna, Mbak Marni, juga Pak Mamat menantikan respon Rama selanjutnya. Wajah Rama sangat serius menatap Mbak Marni dan Pak Mamat bergantian. Membuat keduanya seolah telah melakukan kesalahan.
"Loh, iya loh. Rasanya tidak begitu manis." Ucapan Rama membuat Mbak Marni nampak lega.
"Tapi kenapa tadi saya makan, manis banget ya?" Hasna kembali mengerutkan keningnya.
"Mana ada Mas dalam satu loyang bolunya beda rasa?" Ucap Hasna.
"Tapi bener loh." Rama kembali memakan sisa bolu di tangannya dan menatap lurus pada sang istri.
"Nah, kan? Manis banget." Ucap Rama.
"Ngaco deh kamu. Nggak mungkin, ah." Protes Hasna.
"Iya beneran. Apa jangan-jangan...?"
"Udah, Mas, nggak usah ngaco."
"Aku nggak ngaco, Sayang. Kayaknya bolunya kemanisan gara-gara aku makannya sambil lihatin kamu deh. Buktinya, aku makan sambil lihatin Pak Mamat dan Mbak Marni, rasanya nggak begitu manis." Ucap Rama serius. Alasan macam apa itu.
"Kalau itu sih, Mas Rama nya saja yang modus, Mbak." Kekeh Pak Mamat. Laki-laki bertubuh gempal itu paham apa yang Rama maksudkan.
Hasna baru menyadari jika Rama tengah menggodanya. Dasar. Udah bikin yang lain ikut deg-degan.
"Kamu tuh ya, Mas. Ngeselin." Hasna menghadiahkan cubitan di pinggang suaminya.
"Aaawww..." Erang Rama.
"Kamu tuh, akunya manisin, kamunya kasih yang panas." Protes Rama.
"Maklumin saja, Mas. Mbak Hasna hanya peka sama rasa sosial dan kemanusiaan saja. Kalau masalah cinta-cintaan, walaupun kode keras juga, Mbak Hasna bakalan lempeng-lempeng saja." Ucap Pak Mamat yang membuat mereka semuanya tergelak.
"Wah, kalau seandainya saya kodein yang manis tapi panas, nggak bakalan peka dong, Pak?" Timpal Rama.
"Sepertinya gitu, Mas." Kekeh Pak Mamat.
"Mas Rama...ngeselin banget sih." Rengek Hasna.
Begitulah Hasna di mata Pak Mamat juga Mbak Marni. Hasna perempuan yang sangat peka dan peduli dengan orang-orang di sekitarnya karena jiwa sosialnya yang tinggi. Tapi kepekaan perempuan itu terhadap rasa dari hati, benar-benar kurang. Bahkan tidak peka sama sekali.
Bukan Pak Mamat dan Mbak Marni tidak tahu, bagaimana Dimas, teman masa kecil Hasna menaruh perhatian lebih pada cucu majikannya itu. Tapi Hasna justru menganggap laki-laki sebaik Dimas hanya sebatas sahabat dan seorang kakak. Padahal perhatiannya sungguh jelas sekali, walau tanpa laki-laki itu katakan.
***
selamat hari raya idul Fitri.
mohon maaf lahir dan batin ya manteman🙏😊
maaf akhir-akhir ini sering telat up🙏🏻😔
semoga selalu terhibur ya🥰
__ADS_1
Btw Mas Rama dan Hasna udah open house, ya. Langsung saja merapat biar kebagian THR an😁😁. Nggak usah cari Tomi, karena udah mudik duluan🤣🤣. Kalau Mas Kevin udah ngajakin aku liburan😂😂