Bidadari Penghapus Luka

Bidadari Penghapus Luka
Bab 102


__ADS_3

"Apa tidak sebaiknya kita menghabiskan beberapa hari lagi di sini?" Tanya Rama saat Hasna tengah mengemasi pakaian mereka.


Hari ini rencananya mereka akan check out dari hotel. Tapi sepertinya Rama enggan meninggalkan kamar yang mereka tempati semalam. Laki-laki itu masih nyaman bergelung di bawah selimut, sedangkan Hasna sibuk berkemas.


"Kemarin Mama mengatakan, jika kita diminta untuk menginap di rumah Mama untuk beberapa hari." Sahut Hasna.


"Lalu, kamu mengiyakan?" Hasna menghentikan gerakannya memasukkan pakaian Rama ke dalam koper, dan menatap ke arah sang suami.


"Emangnya harus di tolak? Kita jarang sekali menginap di rumah Mama loh." Perempuan itu kembali memasukkan barang-barang.


"Ckk...yang ada kita tidak akan pernah bisa menghabiskan waktu berdua. Pasti nanti Mama bakalan bilang, Rama jangan membuat istri kamu terlalu lelah." Ucap Rama menirukan ucapan sang ibu. Hasna tersenyum mendengarnya.


"Mama seperti tidak pernah menjadi pengantin baru saja. Padahalkan aku juga capek. Yang push up aku, kok dibilangnya kamu yang capek?" Hasna tergelak mendengar ocehan suaminya itu.


Makin kesini, Hasna semakin mengenal karakter Rama. Jika di awal pernikahan mereka Rama adalah sosok yang dingin, cuek juga arogan, berbeda dengan Rama yang sekarang. Laki-laki itu justru lebih kekanakan tingkahnya. Apalagi jika menyangkut ibu juga adik perempuannya, pastilah mudah merajuk.


"Mas, udah ah nggak baik ngomongin orang tua kayak gitu." Ucap Hasna di sela tawanya.


"Pokoknya aku nggak mau pulang hari ini. Lusa kita baru pulang. Kita puas-puasin dulu waktu kita berdua, sebelum Mama dan Nayla mengganggu kita." Sepertinya Rama memang benar-benar tidak ingin pulang.


Terlihat laki-laki itu mengambil ponselnya dari atas nakas. Seperti sedang menghubungi seseorang.


"Ma, Rama sama Hasna nggak bisa pulang hari ini." Rupanya Rama tengah menelepon Mama.


"Loh, kamu gimana sih? Hasna nggak bilang sama kamu, kalau Mama suruh kalian check out hari ini? Mama udah masak banyak loh. Kok malah nggak jadi pulang?" Protes Mama.


"Kita masih mau ngabisin waktu kita berdua di sini, Ma." Ucap Rama.


"Nggak bisa, kalian harus tetep pulang sekarang."


Tut, Tut, Tut.


Sambungan telepon pun terputus sepihak, Rama kembali berdecak kesal di buatnya.


"Gimana, Mas? Jadi lusa pulangnya?" Tanya Hasna setengah meledek Rama. Perempuan itu tau jika Rama mendapatkan penolakan dari Mama barusan.


"Jadi lah. Nanti malam kita ke rumah Mama. Setelah makan malam kita balik ke hotel. Mama nggak mau rugi masak soalnya." Ucap Rama yang kemudian menutup seluruh tubuhnya dengan selimut tebal.


Apa-apaan, habis dari rumah Mama, setelahnya tidur lagi di hotel.


Drrrt... drrrtt... drrrtt...


"Kalau Mama bujukin kamu, bilang nggak mau!" Sahut Rama dari balik selimut saat mendengar ponsel Hasna berbunyi.


"Dimas?" Gumam Hasna.


"Halo, assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam, Na. Na maaf, boleh minta alamat kamu?" Tanya Dimas dari sebrang telepon.

__ADS_1


"Alamat? Untuk apa?" Rama menyibak selimutnya saat mendengar sepenggal kalimat istrinya.


"Maaf, kemarin aku sama keluarga nggak bisa datang. Kebetulan aku ada di deket daerah tempat kamu gelar acara kemarin. Aku mau nyampein titipan orang rumah buat kamu." Ucap Dimas.


Dimas kemarin malam memang tidak datang di acara resepsi pernikahan mereka.


"Nggak perlu repot-repot, Dimas." Tolak Hasna halus.


Rama menegakkan tubuhnya manakala mendengar sang istri menyebut nama Dimas. Pemuda yang pernah ia jumpai di rumah kakek Rusdi waktu itu.


"Tapi, Na, aku udah deket loh, masa suruh balik lagi sih. Kamu kirim lokasi rumah kamu ya. Aku cuma ngasih kado doang, nggak lama juga." Desak Dimas.


Hasna menoleh pada Rama yang sudah duduk tegak dengan telinga yang mendengarkan dengan baik percakapan sepihak antara dirinya dengan Dimas.


"Dimas mau ketemu. Mau kasih kado katanya." Lirih Hasna dengan menutup speaker ponselnya.


"Suruh temuin di restoran hotel." Ucap Rama.


Rama hanya ingin memastikan jika laki-laki bernama Dimas itu memang benar-benar hanya mengirimkan kado pernikahan untuk mereka. Tidak perlu memberikan alamat, bisa bahaya nanti. Cukup di hotel ini saja.


"Aku masih ada di hotel kok, Dim. Kamu bisa temuin kami di restoran lantai dasar." Ucap Hasna.


"Oke, aku udah deket. Lima belas menit lagi, sampai."


"Oke, hati-hati, ya. Assalamu'alaikum."


Hasna kembali meletakkan ponselnya. Tak sengaja menoleh ke arah Rama yang sudah memasang wajah masamnya.


"Mas Rama kenapa?" Tanya Hasna yang heran melihat ekspresi suaminya.


"Lain kali kalau lagi teleponan sama laki-laki, nggak usah pake bilang hati-hati segala. Udah kayak sama pacar aja." Sewot Rama. Rupanya Rama tengah memasang mode cemburu.


Hasna berjalan mendekat ke arah Rama. Lalu merangkak naik ke atas ranjang. Perempuan itu pun duduk di pangkuan sang suami. Rama sedikit terkejut dengan tingkah Hasna. Pasalnya selama ini ia yang begitu dominan dan agresif. Tapi sekarang justru Hasna yang memulai.


"Maaass..." Hasna mengusap lembut wajah tampan sang suami.


"Mas Rama cemburu?" Tanya Hasna di sela usapannya di wajah Rama.


Cemburu? Jika Rama mengatakan ia cemburu, bisa malu dirinya nanti. Sedangkan Hasna jarang sekali mengatakan rindu kepadanya. Ya memang Rama akui jika ia sering merasakan cemburu dan over thinking jika Hasna membahas laki-laki lain. Bahkan saat hanya menyebutkan namanya.


Rama bersikap demikian bukan tanpa alasan. Sudah terbukti bagaimana teman kampus adiknya secara terang-terangan menyatakan cintanya kepada hasna. Lalu Ivan, asistennya yang beberapa kali menyatakan kekagumannya kepada istrinya itu. Belum lagi ucapan Mama beberapa waktu lalu, yang mengatakan jika ada seorang laki-laki yang pernah melamar istrinya lewat Mamanya itu. Dan semua itu cukup membuat Rama waspada.


Tapi untung saja mereka telah meresmikan pernikahan mereka. Sehingga publik mengetahui jika mereka sepasang suami istri. Setidaknya, jika ada yang berusaha mendekati Hasna, mereka akan berpikir tidak hanya dua kali, melainkan berkali-kali.


"Mas Rama kan tau kalau Dimas itu teman semasa kecil aku. Nanti aku bakalan kenalin Mas Rama sama Dimas, biar tidak ada salah paham. Dia juga kesini cuma mau anterin kado dari orang rumah buat kita. Kan kita juga undang Pak Hamid dan keluarganya." Kini usapan lembut itu turun menyusuri dada bidang laki-laki itu.


Rama memejamkan kedua matanya, menikmati setiap sentuhan lembut sang istri. Tiba-tiba saja Rama meraih tangan Hasna yang berada di dadanya. Digenggamnya erat tangan itu, dan ditatapnya sang istri dengan tatapan sayu.


"Jangan coba-coba merayuku, Sayang. Atau aku akan mengurungmu seharian di dalam kamar bersamaku." Bisiknya lembut.

__ADS_1


Hasna membolakan kedua netranya. Sepertinya ia salah strategi. Niatnya ingin membujuk Rama, malah berujung memancing singa tidur. Bisa gawat jika ia tidak gerak cepat.


Hasna mengecup singkat bibir Rama, membuat lelaki itu kehilangan fokusnya beberapa detik. Dan itu dipergunakan Hasna untuk segera kabur dan melarikan diri dari pangkuan laki-laki itu.


"Mas, sebaiknya kita bersiap, sebentar lagi Dimas sampai." Ucap Hasna sambil berlari kecil menuju kamar mandi.


"Hasnaaaa...." Rama mengeram tertahan manakala ada sesuatu yang membuatnya merasa gelisah.


***


Dimas sudah mengirimkan pesan pada Hasna jika ia telah sampai di restoran hotel. Dimas mengamati sekeliling, hotel tempat Hasna mengadakan resepsi begitu megah. Hotel bintang lima yang ada di kota mereka. Bisa di pastikan jika keluarga suami Hasna bukanlah orang sembarangan.


"Assalamu'alaikum, Dimas. Maaf menunggu lama, ya?" Suara lembut itu menyapa pendengaran Dimas.


Laki-laki itu pun menoleh dan mendapati perempuan berjilbab toska itu tengah tersenyum ke arahnya.


"Wa'alaikumussalam, baru aja kok, Na. Bahkan pesanan belum datang." Ucap Dimas. Laki-laki itu tersenyum hangat hingga nampak lesung di kedua pipinya.


"Dimas, kenalin. Mas Rama, suami Hasna." Hasna memperkenalkan Rama pada Dimas.


Sangat berbahaya sekali jika memiliki teman lawan jenis yang begitu dekat sedari kecil dan salah satunya telah menikah. Akan menjadikan fitnah jika tidak melibatkan pasangan saat ada pertemuan seperti ini.


"Rama." Rama mengulurkan tangannya ke arah Dimas.


"Dimas." Dimas menjabat tangan Rama. Dimas memperhatikan Rama dengan seksama.


"Sepertinya kita pernah bertemu. Kalau tidak salah, di rumah Pak Rusdi." Ucap Dimas. Rama mengangguk dengan senyuman yang tersimpul di bibirnya.


"Ya, kita pernah bertemu secara tidak sengaja waktu itu." Rama membenarkan ucapan Dimas.


"Jadi kalian udah pernah bertemu sebelumnya? Kalau begitu lebih baik kita lanjutkan obrolan kita dengan duduk santai." Ucap Hasna. Perempuan itu melambaikan tangannya memanggil waiters untuk sekedar memesan minuman juga camilan.


"Kamu tidak perlu memesan makanan sebanyak itu, Na. Aku cuma sebentar kok." Ucap Dimas.


"Nggak papa, Dim. Anggap aja ini jamuan dari kita." Ucap Hasna dengan senyuman yang tersungging, membuat Dimas ikut menarik kedua sudut bibirnya ke atas.


"Oh iya, ini ada bingkisan dari kami. Semoga kalian suka. Sekali lagi maaf, karena kemarin kami berhalangan datang. Nenek sedang tidak enak badan, jadi kami tidak tega untuk meninggalkannya sendirian di rumah bersama Kakek." Dimas meletakkan sebuah paper bag dan menyodorkannya di hadapan Hasna.


"Tidak apa-apa, Dimas. Kalian juga tidak perlu repot-repot begini." Ucap hasna.


"Salam buat Pak Hamid juga Bu Midah. Insya Allah, kalau tidak berhalangan, kami akan menjenguk Bu Midah nanti." Lanjutnya. Perempuan itu menoleh sekilas pada Rama yang tengah menatapnya.


"Tidak perlu repot, Na. Apalagi kalian pengantin baru. Cukup do'akan Nenek semoga selalu diberikan kesehatan." Ucap Dimas.


Rama memperhatikan interaksi antara keduanya. Cara Dimas menatap Hasna, cara laki-laki itu berbicara dan memandang istrinya, tidak ada yang membuatnya curiga. Sepertinya benar apa yang istrinya katakan, jika mereka hanya berteman, tidak lebih.


Dimas sosok yang menyenangkan. Bahkan laki-laki itu mudah akrab dengan orang baru. Terbukti jika Rama juga merasa nyaman juga nyambung saat berbincang dengan pemuda itu.


***

__ADS_1


__ADS_2