
Dengan pakaian yang hampir basah seluruhnya, Hasna perlahan menuruni anak tangga kembali ke kamarnya. Jantungnya masih berdegup tak karuan.
Segera ia tutup pintu kamar rapat-rapat. Bayangan bersama Rama di kamar mandi membuatnya sulit mengendalikan perasaan. Saat dirinya tak sengaja dalam dekapan suaminya. Saat Rama mengungkungnya di bawah guyuran air shower. Semuanya berputar memenuhi pikirannya, dan membuat degup jantungnya semakin tak terkendali.
Hasna segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Gara-gara Rama ia harus mandi lagi.
Tak lama ia pun sudah bersiap untuk sarapan. Namun tak mendapati suaminya di ruang makan. Apa mungkin Rama masih di kamarnya? Hasna melihat jam yang melingkar dipergelangan tangannya, sudah hampir satu jam.
Hasna segera ke kamar Rama di lantai atas, memastikan jika suaminya sudah selesai mandi dan bersiap.
Hasna terlihat ragu saat akan membuka pintu kamar. Tapi jika dibiarkan, mereka akan terlambat ke rumah sakit.
Hasna pun membuka pintu dan sedikit melongokkan kepalanya ke dalam. Sepi. Tak ada tanda-tanda jika suaminya berada di dalam sana.
Ragu-ragu ia masuk ke dalam. Benar-benar sepi. Bahkan tidak ada handuk bekas suaminya mandi di atas tempat tidur. Kemana laki-laki itu?
"Mas?" Hasna mengetuk pintu kamar mandi, hanya ruangan itu yang belum ia periksa.
"Iya?" Sahut Rama dari dalam.
Ternyata benar, Rama belum menyelesaikan ritualnya. Padahal sudah hampir satu jam.
"Mas Rama belum selesai?" Teriaknya dari luar.
" Belum, saya tidak bisa melakukannya." Sahut Rama.
Apa yang tidak bisa Rama lakukan sendiri di kamar mandi? Hanya memikirkan jawabannya saja sudah membuat Hasna pusing.
"Bisa bantu saya?" Teriak Rama lagi.
"I...iya sebentar."
Hasna jadi ragu masuk ke kamar mandi lagi. Rama tidak sedang mengerjainya lagi kan? Tapi jika dibiarkan berlama-lama di dalam sana, bisa-bisa lelaki itu demam.
Cklek
Hasna mendorong perlahan pintu kamar mandi, tak berani ia edarkan pandangan disembarang arah. Takut jika ada kejadian yang tidak terduga.
"Kenapa masih berdiri di situ? Kemarilah!" Panggil Rama.
Suara Rama membuat Hasna hampir terlonjak kaget. Rupanya lelaki itu sudah menutupi sebagian tubuhnya dengan handuk. Syukurlah.
"Tolong bantu saya membereskan pakaian yang basah. Keranjang laundry sepertinya ada di luar. Kalau di biarkan di sini akan membuat bau tidak sedap dalam kamar mandi." Ucap Rama.
Hasna pikir apa, ternyata membereskan baju-baju yang basah karena insiden tadi. Aneh sekali laki-laki satu ini. Dia yang membuat basah tapi dia juga tidak mau jika sampai kamar mandinya bau tidak sedap.
"Kalau hanya membereskan pakaian kotor, biar Hasna yang lakukan. Tidak perlu berlama-lama di dalam kamar mandi. Bisa-bisa nanti Mas Rama demam. Maaf keranjangnya belum sempat Hasna kembalikan ke atas. Masih ada di ruang laundry di bawah." Ucap Hasna.
"Ya sudah, sekarang mas Rama ganti baju dulu, setelah itu sarapan. Nanti keburu macet." Hasna lantas keluar terlebih dahulu.
Rama mengikutinya dari belakang, namun ternyata Hasna langsung ke arah pintu.
"Kamu mau kemana?" Cegah Rama saat Hasna sudah di ambang pintu kamar.
"Aku mau turun dulu, aku tunggu Mas Rama di meja makan."
"Ckk, lalu siapa yang akan membantu saya berganti pakaian?" Rama berdecak kesal.
Hasna menepuk keningnya pelan. Ia hampir saja melupakan jika suaminya masih membutuhkan bantuannya hingga tiga Minggu kedepan.
Hasna segera berbalik dan mengambilkan pakaian di walk in closet. Kemeja lengan pendek dan celana panjang. Ah ia hampir melupakan benda keramat suaminya, ****** *****.
Hasna meletakkan semua pakaiannya di tepi ranjang. Kemudian membalikkan badan memunggungi Rama.
"Kenapa kamu berbalik?" Rama mengernyit heran.
__ADS_1
"Mas Rama pakai dulu **********, nanti Hasna bantu pakai bajunya." Jawab Hasna tanpa menoleh.
Rama duduk di tepian ranjang, berusaha memakai apa yang diperintahkan Hasna. Hampir lima menit, benda itu akhirnya sampai juga di tempat semestinya.
"Sudah." Ucapnya.
Hasna pun berbalik, dan...
"Kenapa celananya tidak dipakai sekalian sih?" Terdengar protes dari istrinya.
"Hasna, ini celana panjang, akan sangat sulit saya memakainya. Memakai yang berbentuk segitiga kecil saja saya susah, apalagi yang panjang begini." Rama pun memprotes balik istrinya.
Hasna menutup matanya rapat-rapat, dan meraih celana panjang suaminya. Hasna pun berjongkok di hadapan Rama yang masih setia duduk di tepi ranjang.
"Mas Rama masukin kakinya." Hasna menginstruksikan.
Rama menurut, memasukkan kakinya satu persatu di lubang celana. Dengan mata yang masih terpejam, Hasna meraba kaki Rama memastikan jika kakinya sudah sampai di ujung celana.
"Sial, kenapa jadi begini? Bisa bahaya jika Hasna melakukannya terlalu lama." Umpatnya.
Rabaan di kaki, membuat Rama menjadi gelisah. Respon alami dalam dirinya membuat tubuhnya bereaksi.
"Bisa cepat sedikit?" Pintanya tidak sabar.
"Iya sebentar." Hasna masih berusaha menaikkan celana suaminya dengan mata yang masih tertutup.
"Buka saja mata kamu, akan terlalu lama jika sambil merem begitu. Kamu pikir ini lomba agustusan?" Rupanya tidak hanya kesal yang Rama tahan, tapi yang lainnya juga.
Hasna tertegun mendengar suaminya yang tiba-tiba cerewet. Tak biasanya. Tapi tangannya tetap bekerja. Tinggal setengah lagi.
Rama menahan nafasnya, saat celana itu hampir terpasang sempurna. Gesekan kulit istrinya membuat kepalanya makin berdenyut.
"Hasna..." Lirihnya setengah mengeram tertahan. Bahkan jemari tangannya pun meremas sprei.
"Mas, bisa berdiri nggak?" Tanya Hasna.
"Kok apanya? Ya kakinya lah. Yang cidera kan tangan, bukan kaki mas Rama." Hasna jadi ikutan kesal.
Rama sudah tidak bisa fokus, logikanya sudah tidak bisa bekerja dengan baik, tidak sejalan dengan ucapan.
Rama menurut dan berdiri. Hasna mengikuti pergerakan suaminya. Sungguh, perempuan itu masih bertahan dengan memejamkan kedua matanya.
"Sudah, biar saya saja." Rama mengambil alih pekerjaan Hasna, saat sudah hampir selesai. Bisa gawat jika sentuhan itu kemana-mana.
Hasna membalikkan kembali badannya memunggungi Rama. Jangan tanyakan lagi bagaimana kondisi jantungnya saat ini. Sudah tak beraturan lagi degupannya. Hasna berusaha mengurangi rasa gugupnya dengan menghirup dan menghembuskan nafas berulang.
"Sudah." Suara Rama hampir saja membuatnya terlonjak.
Kini Hasna mengambilkan kemeja untuk suaminya, memasangkannya perlahan seperti biasanya. Tapi entah kenapa, hanya karena mengingat kejadian pagi tadi, membuatnya salah tingkah. Apalagi aroma parfum yang menguar memenuhi indera penciumannya, semakin membuatnya hilang fokus.
"Apa yang kamu lakukan, kenapa kancing bajunya acak-acakan begini?" Protes Rama.
Hasna melihat kancing kemeja yang tak beraturan, bahkan ada dua lubang yang tak terisi. Ingin tertawa, tapi ia juga malu. Dirinya tidak fokus gara-gara wajah yang sejajar dengan dada bidang sang suami.
"Maaf." Hasna kembali membetulkan pakaian suaminya.
"Kenapa, kamu grogi berdekatan dengan saya?" Goda Rama.
"Ti...tidak." Sangkal Hasna. Pipinya bersemu merah.
"Nanti setelah ini, kamu belajar mengancingkan baju dengan benar. Jangan sampai saat nanti saya masuk kantor, baju saya berantakan." Sindir suaminya.
"Eh?"
Hasna mendongakkan wajah menatap suaminya. Tingginya hanya sebatas pundak Rama. Manik pekat itu menatapnya dalam.
__ADS_1
"Su...sudah selesai." Hasna membuang pandangannya. Ia tak mau berlama-lama terbuai oleh tatapan sang suami.
"Ayo kita sarapan." Hasna kemudian meninggalkan Rama seorang diri di kamarnya.
Rama suka dengan wajah Hasna yang bersemu merah, terlihat menggemaskan.
***
Setelah drama mandi dan berganti pakaian, kini akhirnya keduanya telah sampai di rumah sakit. Hasna membukakan pintu untuk Rama dan membantu suaminya untuk turun.
Tanpa berucap, Rama kembali menggamit tangan kanan istrinya. Dan perlakuan ini selalu membuat Hasna terkejut.
Keduanya berjalan beriringan memasuki lobi, dan langsung menuju ke ruang praktek dokter ortopedi, karena telah membuat janji sebelumnya.
Keduanya disambut oleh seorang perawat, dan langsung dipersilahkan untuk masuk. Kebetulan Dokter sudah menunggu kedatangan mereka.
Rama menjalani serangkaian pemeriksaan pada cidera yang dialaminya. Sejauh ini kondisinya semakin membaik. Apalagi tak ada keluhan.
"Apa saya sudah bisa melakukan aktivitas seperti sediakala, Dok?" Tanya Rama.
"Kalau aktivitas ringan, dan masih dalam tahap wajar, dalam artian tidak menimbulkan keluhan pada cidera yang Pak Rama alami, saya rasa itu tidak masalah. Kalau untuk aktivitas berat, saya sarankan jangan dulu sampai benar-benar pulih." Jawab Dokter.
Rama bisa bernafas lega mendengarnya, ia tidak perlu berlama-lama meninggalkan pekerjaan yang pastinya sudah sangat menumpuk.
Dokter kembali menuliskan resep dan vitamin untuk Rama.
"Ini nantinya diminum secara teratur, dan jangan lupa pekan depan untuk kembali terapi." Ucap Dokter seraya menyodorkan kertas resep di hadapan Rama.
"Terima kasih, Dokter." Ucap Rama.
"Oh iya, saya hampir lupa. Untuk sementara hindari dulu aktivitas suami istri, apalagi jika posisi Pak Rama ada di atas. Ditakutkan nanti akan menimbulkan cidera baru." Papar Dokter.
Ucapan Dokter membuat keduanya reflek beradu pandang. Hubungan suami istri? Hanya mendengarnya saja membuat keduanya merona.
"Tidak perlu malu, hal ini sudah biasa dipertanyakan oleh pasangan muda seperti kalian." Kekeh Dokter, saat menangkap ekspresi keduanya.
"Tapi tidak perlu khawatir, ada satu alternatif, agar kalian tetap bisa menikmati indahnya bulan madu, yaitu ganti Bu Hasna yang memegang kendali."
"Maksudnya?" Tanya Rama. Kendali yang seperti apa yang Dokter maksudkan?
"Ya, hanya atur posisi saja. Yang biasanya Pak Rama berada di atas, karena cidera yang tidak memungkinkan Pak Rama untuk melakukannya. Bisa digantikan Bu Hasna. Jadi Bu Hasna yang pegang kendali, Pak Rama tinggal menikmatinya dari bawah." Dokter tersenyum setelah menjelaskannya.
Seketika Rama tertunduk malu dan Hasna membuang pandangannya. Penjelasan dokter barusan membuat keduanya salah tingkah.
***
Hasna mampir sebentar di restoran miliknya untuk mengambil makanan untuk makan siang mereka nanti. Karena kebetulan sudah waktunya jam makan siang saat mereka meninggalkan rumah sakit.
Hasna meminta Rama untuk menunggunya di mobil, sedangkan ia mengambil makanan yang tadi sempat ia pesan. Hasna mengambil beberapa menu sekaligus. Terlihat dari banyaknya kantong makanan yang ia bawa.
"Banyak sekali?" Tanya Rama saat Hasna memasukkan bawaannya ke dalam mobil.
"Iya, kebetulan aku ambil beberapa menu. Semoga mas Rama suka." Perempuan itu tersenyum dan melajukan kembali mobilnya.
Keduanya pun langsung menuju rumah agar Rama segera bisa beristirahat.
Pagar rumah terbuka saat mereka sampai. Sepertinya ada yang datang. Mobil Hasna memasuki pekarangan dan berhenti tepat disebelah mobil hitam yang terparkir di sana.
"Ivan?" Gumam Rama saat mengetahui pemilik mobil yang tengah terparkir di halaman rumah mereka.
"Sepertinya ada Pak Ivan." Ucap Hasna yang melihat asisten Rama itu tengah duduk di kursi teras rumah mereka.
Mau apa asistennya itu kemari? Kenapa tidak memberitahukan kedatangannya terlebih dahulu? Apa ada hal penting yang asistennya itu akan sampaikan? Apa justru laki-laki itu sengaja datang untuk menemui Hasna?
Ah...sial sekali, dia bahkan melupakan jika Ivan adalah salah satu pengagum istrinya.
__ADS_1
***