
Semenjak sore rumah Bu Rahayu terlihat sibuk. Malam ini rencananya Tomi akan melangsungkan akad nikah bersama Marissa. Hanya akad nikah saja, seperti apa yang laki-laki itu katakan sebelumnya pada Marissa. Namun perempuan itu tetap memberikan penolakan. Sedangkan tomi tetap pada pendiriannya, menikahi Marissa bukan hanya menyelamatkan kehormatan perempuan itu saja, namun demi memberikan kejelasan status pada anak yang tengah Marissa kandung saat ini.
Hanya mengundang tetangga kanan kiri sebagai saksi juga pemuka agama untuk menikahkan keduanya. Tidak akan ada pesta setelahnya.
Marissa tengah mematut dirinya di depan cermin. Tidak ada raut bahagia yang terpancar di wajah cantiknya. Tanpa balutan kebaya pengantin, hanya gamis sederhana milik adik Tomi, yang sengaja ditinggalkan untuk pakaian ganti saat pulang libur kuliah.
"Bersiaplah, sebentar lagi acara akan segera dimulai." Ucap Tomi. Laki-laki itu nampak rapi dengan mengenakan kemeja putih dengan celana hitam, juga songkok hitam yang ada di kepalanya. Terlihat berbeda dari biasanya.
Jangankan menjawab, menoleh pun tidak. Marissa tetap pada posisinya menghadap cermin. Tomi hanya memberikan waktu empat bulan untuk pernikahan mereka, hingga anak yang dikandungnya lahir lebih tepatnya. Setelah itu mereka akan berpisah sesuai kesepakatan.
"Nak, kamu belum siap?" Terdengar suara Bu Rahayu dari arah pintu kamar yang sedikit terbuka. Wanita itu menghampiri Marissa yang tengah duduk di depan kaca rias.
Marissa membuang pandangannya menghindari tatapan wanita itu. Semenjak kedatangannya semalam, hanya Bu Rahayu yang berbicara jika sedang ngobrol berdua. Sedangkan Marissa, perempuan itu mengatupkan rapat-rapat kedua bibirnya.
Bu Rahayu tidak menemukan raut bahagia di wajah cantik calon menantunya itu. Bahkan seulas senyuman pun tidak nampak di sudut bibirnya.
Bu Rahayu berjalan mendekati Marissa, dan berdiri tepat di belakang perempuan itu.
"Sekali lagi, maafkan putra ibu, Nak. Ibu tau jika pernikahan kalian bukanlah pernikahan yang mungkin tidak pernah kamu harapkan. Tapi, cobalah lihat dari sudut pandang yang berbeda. Anak dalam kandungan kamu berhak mendapatkan masa depan yang lebih baik, terlepas bagaimana ia hadir. Pikirkan perasannya kelak. Ibu tidak pernah memaksa jika seandainya kamu akan membatalkan pernikahan ini." Ucap Bu Rahayu dengan mengusap lembut pundak perempuan itu. Wanita paruh baya itu tersenyum hangat.
"Bersiaplah, penghulu dan para saksi sudah datang." Setelah mengatakan itu, Bu Rahayu keluar meninggalkan Marissa seorang diri di dalam kamar.
***
"Saya terima nikahnya Marissa Anindita binti Yahya dengan mas kawin seperangkat alat sholat dibayar tunai." Ucap Tomi lantang dengan satu tarikan nafas.
"Bagaimana, saksi? Sah?"
"Sah."
"Alhamdulillah." Ucap semua orang yang berada di ruangan itu.
Marissa meremas gamis yang ia kenakan. Detik ini juga, ia telah resmi menjadi istri dari Tomi. Tak pernah sekalipun ia membayangkan akan menikah dengan mantan kekasihnya itu. Apa yang menimpa mereka hanyalah sebuah kecelakaan, yang Marissa pikir akan dapat ia pergunakan untuk menjerat Rama. Namun ia salah, justru posisinya saat ini, ia resmi menjadi istri dari laki-laki yang merupakan ayah biologis dari anak dalam kandungannya.
__ADS_1
"Sekarang kalian telah sah menjadi suami istri. Saran saya, segeralah kalian mendaftarkan pernikahan kalian di kantor urusan agama. Supaya pernikahan kalian di akui secara negara." Ucap penghulu. Tomi hanya mengangguk dengan seulas senyuman.
Untuk saat ini Tomi belum memikirkan nasib pernikahan mereka kedepannya. Prioritasnya saat ini hanyalah anak dalam kandungan Marissa, darah dagingnya. Ia sudah mengambil keputusan akan melepaskan Marissa setelah anak itu lahir. Hanya empat bulan. Setelahnya mereka akan menjalani kehidupan mereka masing-masing.
Tamu yang hanya beberapa tengah menikmati hidangan yang telah disediakan dan sedikit berbincang. Setelahnya mereka pamit untuk pulang.
Tomi membantu Bu Rahayu untuk membereskan rumah. Sedangkan Marissa, perempuan itu memilih langsung ke kamar Tomi, bahkan sebelum para tamu pulang.
Pukul sembilan malam, Tomi baru selesai dan memutuskan ke kamarnya untuk beristirahat. Ia mendapati Marissa yang tengah terlelap di atas ranjang yang biasa ia gunakan. Terlihat perempuan itu masih mengenakan gamis yang dipakainya tadi. Tomi mengambil sebuah bantal dan selimut yang masih bersih dari dalam lemari. Laki-laki itu lebih memilih menggelar karpet yang biasa ia gunakan sholat untuk tidur malam ini.
Marissa menggeliat saat merasakan perutnya begitu lapar. Ia tidak sempat makan sebelum akhirnya tertidur tadi. Dan sekarang sudah pukul satu dini hari. Kedua netranya memindai sekeliling kamar namun tak menemukan sosok Tomi di sana.
Marissa pun turun dari ranjang, dan secara tidak sengaja menginjak sesuatu yang membuatnya sedikit berjingkat. Tanpa sengaja ia menginjak kaki Tomi yang tengah tertidur, dan membuat laki-laki itu terbangun.
Tomi memicingkan matanya menyesuaikan cahaya lampu kamar. Ia mendapati Marissa yang tengah terduduk dengan kaki yang sudah turun dari ranjang.
"Sori, nggak sengaja." Ucap Marissa datar.
Tomi terduduk menatap Marissa.
"Gue laper." Cicit Marissa.
Tomi membuang nafasnya kasar. Ia baru ingat jika Marissa tadi meninggalkan acara sebelum para tamu pulang. Otomatis perempuan itu melewatkan makan malamnya.
"Lo tunggu sini, gue ambilin bentar." Tomi pun beranjak keluar kamar.
Seluruh ruangan terlihat gelap. Tomi langsung menuju dapur tanpa menyalakan lampu agar ibunya tidak terbangun.
"Tomi?" Ucap Bu Rahayu saat mendapati putranya tengah berada di dapur di jam seperti ini.
"Ibu?" Tomi terkejut mendapati ibunya sudah berdiri di dekatnya. Padahal dia sengaja tidak menyalakan lampu agar ibunya tidak terbangun.
"Kamu mau makan, Nak?" Tanya Bu Rahayu saat melihat Tomi tengah membawa sepiring nasi.
__ADS_1
"Tidak, Bu. Marissa belum sempat makan tadi. Sekarang dia lapar." Jawab Tomi.
"Sini ibu bantu menghangatkan lauknya." Bu Rahayu mengambil rantang yang berisi lauk sisa menjamu tamu mereka tadi dari dalam lemari pendingin.
"Nggak usah, Bu. Biar Tomi saja." Tolak Tomi halus.
"Udah, kamu duduklah."
Tomi mengikuti permintaan ibunya. Ia duduk di kursi meja makan yang ada di dapur.
"Apa kalian akan tinggal di sini?" Tanya Bu Rahayu yang tengah berdiri di depan kompor.
"Tidak, Bu. Kami akan segera kembali ke kota. Tomi hanya mengajukan cuti selama tiga hari. Kami akan menginap sampai lusa." Jawab Tomi.
"Di mana kalian akan tinggal? Di kontrakan kamu, apa di rumah Marissa?" Bu Rahayu menoleh sekilas pada Tomi yang duduk di belakangnya.
"Kami sama-sama mengontrak, Bu. Mungkin nanti kami akan segera tinggal di kontrakan Tomi. Karena lebih dekat dengan tempat Tomi kerja, dan kebetulan Marissa juga sudah tidak bekerja." Jawab Tomi.
"Nanti bicarakanlah dulu baik-baik, dimana kalian akan tinggal setelah ini. Utamakan kenyamanan istri kamu, karena dia tengah mengandung. Ingat, wanita hamil butuh kenyamanan." Ucap Bu Rahayu yang terdengar seperti sebuah nasehat.
Tanpa mereka sadari ada sepasang telinga yang mendengarkan percakapan mereka. Marissa tengah berdiri diambang pintu kamar. Niatnya ia akan menyusul Tomi yang tak kunjung kembali, karena ia sudah sangat lapar. Tapi justru ia mendapati Tomi yang tengah membicarakan dirinya dengan Bu Rahayu di dapur.
Wanita yang telah resmi menjadi ibu mertuanya itu begitu memperhatikan dirinya. Bahkan meminta Tomi untuk mendahulukan kepentingannya. Lantas Marissa memutuskan untuk kembali masuk ke dalam kamar.
Tak berselang lama, Tomi pun kembali dengan membawakan sepiring nasi juga segelas air putih.
"Makanlah, gue akan keluar sebentar." Tomi meletakkan makanan Marissa di meja kecil di samping tempat tidurnya, lalu kembali keluar kamar.
Marissa menatap kepergian Tomi yang meninggalkan ia seorang diri, lalu beralih menatap makanan yang Tomi simpan di atas meja. Tidak ada yang istimewa, hanya masakan rumahan. Rendang daging beserta sambal goreng ati ampela.
Setitik bulir bening menetes menyusuri wajah cantiknya. Tiba-tiba saja ia teringat akan masa dimana ibunya masih hidup. Marissa rindu perhatian kecil seperti ini. Perhatian seorang ibu kepada putrinya. Dan kini, ia dapatkan perhatian itu dari Bu Rahayu, ibu Tomi.
Tinggal dua malam di rumah Tomi, Marissa merasakan ada sesuatu yang mengusik hatinya. Entahlah, bahkan ia tidak dapat mendeskripsikan apa yang tengah ia rasakan saat ini.
__ADS_1
***