
Tidak ada yang bisa Rama ucapkan untuk mengungkapkan rasa bangganya terhadap sang istri. Setelah sukses dengan pembukaan cabang rumah katering juga toko kue dengan waktu yang berdekatan, kini istri belianya itu kembali sukses membuka cabang restorannya yang berada di luar kota.
Sosok sederhana tanpa ada kesan manja, itu gambaran Rama untuk Hasna. Usianya tidak mempengaruhi kesuksesan yang perempuan itu capai. Bagaimana tidak, diusianya yang belum genap dua puluh empat tahun Hasna telah memiliki empat tempat katering, tiga toko kue juga dua restoran dengan ratusan karyawannya.
Rama bisa menilai bagaimana istrinya memperlakukan para pegawainya yang terlibat di acara grand opening restoran keduanya. Caranya memimpin meeting sehari sebelum acara, sungguh membuatnya tak bisa berkata-kata lagi. Bukan hanya kerja keras yang Hasna terapkan dengan timnya, namun juga kerja cerdas.
Bahkan Ivan dan Tania tak henti-hentinya memuji Hasna. Di balik kepolosannya, perempuan itu menyimpan berjuta pesona.
Setelah satu minggu menemani Hasna di luar kota, kini Rama sudah mulai kembali beraktivitas seperti sedia kala. Beberapa hari bahkan mengambil lembur untuk menyelesaikan pekerjaannya sebelum ia tinggal cuti untuk berbulan madu.
"Sayang, hari ini aku pulang malam lagi, tapi aku usahain sebelum jam delapan udah sampai rumah." Ucap Rama setelah menerima suapan dari istrinya.
"Atau kamu ke rumah Mama saja, nanti aku jemput sepulang kantor." Lanjutnya.
"Nggak perlu, Mas. Lagian hari ini aku mau nyantai aja di rumah. Rasanya capek banget." Ucap Hasna.
"Baiklah, aku berangkat dulu, kamu istirahatlah." Rama mengusap lembut puncak kepala Hasna.
Rama bangkit dari duduknya, hasna meraih tangan sang suami dan menciumnya. Satu kecupan pun mendarat di kening dan bibir ceri itu.
"Ahhh...kalau sudah kena manisnya ini, aku jadi tidak ingin pergi." Ucap Rama dengan mengusap bibir istrinya.
"Pergilah, aku akan menunggu Mas Rama dengan penuh rindu." Ucap Hasna diiringi senyuman yang begitu manis.
"Kalau begitu tambahkan energi lagi untukku."
Hasna meraih tengkuk sang suami agar laki-laki itu lebih condong. Perlahan tapi pasti, Hasna mulai ******* bibir Rama. Rama mempererat pelukannya agar Hasna tak segera menyudahi aktivitas mereka.
"Sangat manis." Ucap Rama setelah ciuman mereka berakhir.
Bibir Hasna terlihat semakin merah dan sedikit bengkak di bagian bawah. Rama mengusap lembut bibir ceri itu dengan senyuman yang tak luntur dari wajah tampannya.
"Andaikan tidak ada meeting penting hari ini, sudah pasti aku akan menggiring mu masuk ke dalam kamar seharian." Wajah Hasna semakin merona.
"Sudah sana, cepetan berangkat. Nanti keburu macet." Hasna mendorong pelan suaminya.
"Baiklah, baiklah, aku akan berangkat. Aku pasti merindukanmu." Rama kembali mencium kening Hasna.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam."
Hasna kembali masuk ke dalam setelah memastikan mobil Rama menghilang dari balik pagar.
***
Seharian Hasna hanya ingin menghabiskan waktu dengan rebahan. Bahkan ia membaca Al-Qur'an nya pun di atas tempat tidur sambil selonjoran. Sepertinya perempuan itu sedang dalam mode mager.
Drrrtt... drrrtt... drrrtt...
Sebuah panggilan masuk di ponselnya, pasti Rama. Siapa lagi. Segera ia meraih ponsel di sebelahnya, ternyata dari Mama.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum, Ma." Ucap Hasna.
"Wa'alaikumussalam, Sayang." Jawab Mama.
"Mama apa kabar, sehat?"
Banyak sekali yang mereka obrolkan, karena hampir tiga minggu mereka tidak berkunjung. Untung saja Mama memaklumi kesibukan anak dan menantunya.
"Insya Allah, jika Mas Rama sudah longgar, kami akan main ke sana." Ucap Hasna.
"Baiklah, Mama tunggu kedatangan kalian. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam."
***
"Ivan, minggu depan saya akan mulai cuti, pastikan rabu pekerjaan saya sudah beres, dan semua meeting penting sudah terlaksanakan." Ucap Rama sesaat setelah meeting dengan tim marketing.
"Baik, Pak. Hanya ada satu pertemuan lagi yang sudah terjadwal di hari rabu di jam makan siang, dengan perusahaan xx." Ucap Ivan.
"Baiklah, setelah itu tolong kamu kosongkan jadwal meeting. Jika mendesak, kamu yang memiliki wewenang mewakili saya."
"Baik, Pak."
Drrrtt... drrrtt... drrrtt...
"Kamu boleh keluar." Ucap Rama saat melihat id pemanggil di ponselnya.
"Iya, Sayang?" Ucapnya saat panggilan terhubung.
"Assalamu'alaikum, Mas." Ucap Hasna.
"Wa'alaikumussalam, Sayang. Ada apa?" Tanya Rama.
"Kangen?"
"Ckk...apaan sih, Mas." Ucap Hasna dengan nada manjanya.
"Lalu?"
"Tadi Mama nelpon, nanyain kapan kita ke sana? Mama protes karena hampir satu bulan kita nggak ke sana." Ucap Hasna.
"Kalau sekarang aku nggak bisa, Sayang. Besok ya,setelah aku meeting, kita ke rumah Mama. Nanti kamu aku jemput."
"Oke, kamu jemput di toko kue aja, ya. Soalnya aku mau cek toko."
"Katanya capek? Emang kamu udah mendingan mau cek toko?" Rama masih ingat wajah istrinya yang sedikit lesu tadi pagi.
"Udah segeran, emang lagi butuh istirahat. Tiga minggu kemarin rasanya kayak lagi maraton." Ucap Hasna yang diselingi tawa kecil.
"Ya sudah, kalau begitu kamu istirahat lagi, biar nanti malam makin fit."
__ADS_1
"Nanti malam?"
"Udah waktunya bakar lemak, Sayang. Udah seminggu olah raga belum terjadwal." Ucap Rama dengan nada yang terdengar berat.
"Hemmm.... Baiklah. Aku akan tidur setelah sholat isya', biar Mas Rama bisa olah raga dengan tenang di ruang gym."
"Loh, loh, loh, kok gitu. Aku kan ngajakin kamu olah raga malam. Kalau kamu nggak ikut, aku nggak bakalan bisa push up nanti." Terdengar gelak tawa yang begitu renyah dari istrinya.
Bukan Hasna tidak paham dengan arah pembicaraan suaminya, hanya saja butuh sedikit godaan saat suaminya tengah dalam mode turn on begini, pasti akan lebih seru.
"Udah, ah Mas. Lanjutin kerjanya, pikirannya jangan traveling dulu kemana-mana, ntar kerjaan nggak ada yang beres lagi. Aku tutup ya, assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam."
Sepertinya Rama akan mengusahakan untuk pulang lebih cepat hari ini. Ia tidak mau sampai acara olah raganya hanya berdurasi singkat nantinya. Lebih cepat pekerjaan selesai, akan lebih lama durasi olah raganya.
***
Rencana untuk pulang lebih cepat ternyata gagal, Rama masih harus menyelesaikan pekerjaannya yang masih tinggal beberapa lagi, padahal jam sudah menunjukkan angka tujuh lewat lima menit.
"Selesai. Apa ini yang terakhir, Ivan?" Tanya Rama pada Ivan yang dengan setia membantunya memeriksa laporan di ruangannya.
"Sudah, Pak." Rama terlihat begitu lega saat mendengarnya. Terlihat laki-laki itu merenggangkan otot-ototnya.
"Ternyata saya sudah terlambat." Gumam Rama, namun masih dapat Ivan dengar dengan jelas.
"Bagaimana, Pak?" Tanya Ivan memastikan perkataan atasannya itu.
"Saya sudah berjanji pada istri saya jika hari ini saya akan pulang lebih cepat. Tapi perkiraan saya meleset." Ucap Rama.
"Pengantin baru, vibes nya beda ya, Pak?" Goda Ivan.
"Makanya, kamu nikah biar bisa merasakan bagaimana beratnya menahan rindu." Ucap Rama seolah meledek kejombloan asistennya.
"Yang berat itu bukan nahan rindu, Pak. Tapi saat cicilan udah jatuh tempo tapi gaji udah ambyar." Kekeh Ivan. Dasar asisten tidak punya akhlak.
***
Rama masuk kedalam rumah yang sudah nampak sepi, bahkan lampu ruang tengah sudah padam. Ia benar-benar pulang larut hari ini. Apalagi sempat terjebak kemacetan. Rasanya complicated sekali.
Rama segera menaiki anak tangga menuju lantai dua. Jangan sampai Hasna terlelap lebih dulu.
Rama membuka pintu dengan sangat perlahan supaya istrinya tidak terganggu. Dan benar saja, perempuan itu sudah terlelap. Rama mendengus pelan, ternyata rencana yang sudah di susunnya berantakan.
Laki-laki itu langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk bersih-bersih. Badan sudah terasa sangat lengket sekali. Tak perlu berendam, hanya butuh guyuran air untuk menyegarkan tubuhnya kembali.
Rama sudah lebih segar sekarang. Laki-laki itu memilih untuk sholat isya' terlebih dulu sebelum ikut terlelap bersama sang istri. Selepas itu, ia langsung bersiap untuk tidur.
Dipandangnya wajah cantik yang terlihat begitu damai terbuai mimpi itu. Dikecupnya lembut kening sang istri yang menyelimuti seluruh tubuhnya, yang terlihat hanyalah kepalanya saja.
Rama segera mengambil posisi di sisi kosong sang istri. Kedua netranya terbelalak sempurna saat menyibak selimut yang menyelimuti sang istri. Nafasnya pun seakan terhenti.
__ADS_1
"Hasna."