Bidadari Penghapus Luka

Bidadari Penghapus Luka
Bab 121


__ADS_3

Hasna membeliakkan matanya saat ada mobil boks yang melaju kencang dari arah kanan, dan marissa semakin bergerak ke belakang.


Hasna melepas paksa pelukan Rama dan berusaha menarik Marissa kembali ke bahu jalan. Tapi...


Brakkk


Benturan cukup keras terdengar di telinga mereka, saat tubuh dari salah satu perempuan itu terpelanting membentur kendaraan yang melaju.


"Aaakkhhh..." Marissa mengerang manakala tubuhnya terjatuh karena ditarik cukup kuat oleh Hasna. Nyeri ia rasakan di perutnya. Bahkan dapat ia rasakan cairan yang mulai merembes mengaliri di antara kedua kakinya.


"Astaghfirullahal'adzim, Hasna." Teriak Rama.


Marissa menoleh ke arah dimana Rama berlari. Perempuan itu sangat syok manakala menyadari jika Hasna yang menjadi korban di sini.


Perempuan yang sangat ingin ia singkirkan justru menyelamatkan hidupnya. Tubuh Marissa bergetar hebat menyaksikan perempuan berjilbab itu bersimbah darah.


"Hasna, Hasna jangan tinggalin aku. Kamu perempuan yang kuat. Jangan tinggalin aku." Ucap Rama di samping tubuh Hasna. Menggenggam erat tangan perempuan yang dicintainya.


Laki-laki itu tidak berani mengangkat tubuh istrinya. Jangan sampai tindakannya mengakibatkan sesuatu yang fatal nantinya.


"Ma...afin... Has...naaahh, Mas. Ra...sa...nyahh... sa...kit...se...kali... Has...naahh...nggak...ku...at..." Ucap Hasna terbata. Bahkan nafasnya mulai tersengal.


Siska dengan sigap menelepon ambulan, agar Hasna bisa secepatnya mendapatkan pertolongan.


"Hasna saya mohon, jangan tinggalkan saya." Jika biasanya Rama dalam mode serius seperti ini, Hasna tidak akan pernah bisa menolaknya.


"All...lahh...Allah... la... ilaa...ha...illall...lahhh..." Perlahan Hasna mulai kehilangan kesadaran. Telapak tangannya pun mulai terasa dingin, membuat Rama semakin dilanda ketakutan.


"Hasna, kamu harus tetap membuka mata. Hasna, saya mohon." Lirihnya.


Hasna masih berusaha mempertahankan kesadarannya yang perlahan menghilang. Semua terdengar berdenging di telinganya.


Mobil ambulans tiba, dan segera membawa Hasna agar mendapatkan pertolongan. Rama dengan setia menggenggam tangan istrinya. Mengajaknya berbicara agar jangan sampai Hasna kehilangan kesadaran.


"Lebih cepat, korban semakin kehilangan kesadaran." Ucap salah satu kru.


"Hasna, bertahanlah, aku mohon." Air mata perlahan mengaliri pipi Rama. Hal yang tidak pernah ia lakukan selama ini.


"Ma....ssss.... a...ku... ha....us..." Lirih Hasna. Bibirnya nampak semakin memucat.


"Tolong berikan minum pada istri saya." Pinta Rama.


"Tidak, Pak. Itu sangat membahayakan jiwa korban nantinya. Cukup Bapak jaga agar kesadarannya tetap ada." Ucap kru itu.


Rama sedikit lega manakala ambulans sudah memasuki area rumah sakit.


"Bertahanlah, Sayang." Lirihnya. Rama mengecup kening Hasna yang sudah terasa dingin.


Brankar Hasna segera di dorong menunju ruang tindakan, dan Rama masih setia menggenggam erat tangan yang semakin lemah itu.


"Tolong Bapak tunggu di luar, doakan yang terbaik untuk pasien." Pinta salah satu petugas.

__ADS_1


Rama pasrah dan harus merelakan genggaman tangannya terlepas. Wajahnya terlihat begitu frustasi.


Tak lama beberapa dokter masuk ke dalam ruangan tindakan, membuat pikiran Rama semakin tak karuan.


"Maaf, keluarga pasien?" Tanya seorang dokter.


"Saya suaminya."


"Maaf, Pak. Istri anda kehilangan banyak darah dan harus segera dilakukan tindakan operasi. keadaanya kritis sekarang." Ucapan dokter membuat pikiran Rama semakin tak karuan.


"Lakukan apapun yang terbaik untuk istri saya." Ucap Rama memohon.


"Baiklah, kami butuh persetujuan dari keluarga pasien secepatnya. Tolong segera urus semuanya." Dokter itu menoleh pada perawat disampingnya.


"Baik, Dok." Perawat menyerahkan surat pernyataan yang harus Rama tanda tangani agar dokter dapat melakukan tindakan selanjutnya.


Dengan tangan bergetar, Rama menanda tangani surat pernyataan yang bahkan tak ia ketahui isinya. Baginya yang terpenting adalah keselamatan Hasna.


"Kami mohon bantuan keluarga pasien untuk mencarikan pendonor darah, karena di rumah sakit hanya tersisa dua kantong darah yang memiliki golongan yang sama dengan pasien."


"Apa golongan darahnya, Dokter?"


"Golongan darah pasien, O. Kami harap keluarga segera mendapatkan pendonor secepatnya."


***


"Sa, bertahan, Sa." Ucap Siska.


"Kami mohon, keluarga untuk menunggu di luar. Biarkan kami melakukan tugas kami dengan baik." Ucap salah seorang tim medis sebelum akhirnya pintu di tutup rapat.


Tomi dan Siska menunggu di luar ruangan. Tak ada percakapan diantar mereka. Raut wajah keduanya terlihat menegang. Tomi menatap ke sembarang arah, pikirannya benar-benar kacau.


Tak lama seorang perawat keluar dari ruangan dan menghampiri mereka.


"Keluarga pasien?" Tanya perawat.


"Tomi." Siska menepuk pelan pundak laki-laki itu. Tomi menoleh ke arah Siska.


"Keluarga pasien?" Ulang perawat.


"Iya, Sus." Ucap Tomi.


"Bisa ikut sebentar, Dokter ingin menyampaikan hal penting terkait keadaan pasien." Ucap perawat itu.


Tomi hanya mengangguk dan mengikuti perawat itu ke dalam ruangan. Perawat itu masuk ke dalam ruangan yang Marissa tempati. Bisa Tomi lihat beberapa dokter sedang menangani Marissa di dalam sana. Tak lama, perawat itu keluar bersama seorang Dokter.


"Dengan...?"


"Tomi, Dok."


"Hubungan dengan pasien?" Tomi sekilas menatap Marissa yang mengerang kesakitan dari balik pintu kaca.

__ADS_1


"Saya...suaminya." Tomi kembali fokus pada dokter di hadapannya.


Dokter menyampaikan kondisi Marissa beserta kandungannya. Bahu Tomi meluruh mendengar penjelasan Dokter. Sekilas ia kembali melihat ke arah Marissa. Dan tanpa sengaja perempuan itu pun menatap ke arahnya.


"Kami butuh persetujuan dari pihak keluarga untuk melakukan tindakan selanjutnya." Ucap Dokter.


"Tolong, lakukan yang terbaik untuk mereka, Dok." Ucap Tomi penuh harap. Laki-laki itu menatap sendu ke arah Marissa.


"Baiklah, kalau begitu tolong segera urus administrasinya, agar kami bisa segera melakukan tindakan pada pasien." Ucap Dokter. Tomi hanya mengangguk menyetujui ucapan Dokter.


Suster yang mendampingi Dokter tadi menyerahkan beberapa lembar kertas yang harus ia tanda tangani. Dengan hati tak karuan, Tomi membubuhkan tanda tangan di berkas administrasi pasien itu.


Dengan langkah gontai Tomi kembali keluar dari ruangan itu. Siska yang ada di depan ruangan, dengan tergesa berjalan menghampiri Tomi.


"Tomi? Gimana keadaan Marissa? Apa kata dokter?" Siska mengajukan rentetan pertanyaan pada Tomi. Berharap laki-laki itu segera memberitahukan kepadanya mengenai kondisi sahabatnya.


Tomi terdiam tak mengucapkan sepatah kata pun untuk menjawab pertanyaan Siska. Laki-laki itu hanya menatap sekilas ke arah Siska, lantas menundukkan kepalanya.


"Tomi, jawab!!" Siska mengguncang kedua bahu Tomi karena laki-laki itu tak kunjung menjawab pertanyaannya.


"Tomi!! Jawab gue!!!" Siska meninggikan suaranya, berharap lelaki itu segera memberikan jawaban atas pertanyannya.


"Gimana kondisi Marissa?" Siska masih berusaha menuntut jawaban dari Tomi.


"Tomi!!!"


Tomi menghirup nafas dalam-dalam, sebelum mengatakan bagaimana kondisi istri beserta calon anaknya.


"Marissa..." Tomi tak kuasa melanjutkan ucapannya. Sungguh lidahnya terasa kaku. Bahkan sangat sulit sekali untuk sekedar membuka mulutnya.


"Marissa kenapa, Tomi?" Air mata kembali mengalir dari sudut mata perempuan itu. Siska begitu kesal karena Tomi masih bungkam.


Tubuh Tomi meluruh. Laki-laki itu terduduk bersimpuh di atas lantai. Siska bisa merasakan bahwa kabar yang akan ia dengar, bukanlah kabar yang baik. Siska mengikuti posisi Tomi, duduk di hadapan laki-laki itu.


"Jawab pertanyaan gue. Gimana kondisi Marissa, juga kandungannya?" Ulang Siska. Perempuan itu kembali mengguncang kedua bahu Tomi dengan kuat.


Tomi kembali menghirup nafas sepenuh dada. Laki-laki itu berusaha mengatur emosinya. Sungguh dadanya merasakan sesak yang luar biasa.


"Kondisi Marissa..."


"Marissa kenapa? Jawab!!!" Sentak Siska tidak sabar.


"Tomi, lihat gue." Pinta Siska. Bahkan perempuan itu menangkup kedua pipi sahabat semasa kuliahnya itu.


Tomi mengangkat pandangannya. Kedua matanya terlihat mengembun. Wajah tampannya nampak kusut. Laki-laki itu sedang tidak baik-baik saja.


Perlahan cairan bening itu menerobos paksa di kedua sudut matanya. Selama mengenal Tomi, tak pernah Siska melihat Tomi serapuh ini. Bisa Siska lihat betapa kacaunya laki-laki itu.


"Tomi?" Lirih Siska.


***

__ADS_1


__ADS_2