
Baik Rama maupun Hasna, keduanya sama-sama membisu. Rama membuang pandangan menatap jalanan di sampingnya. Wajahnya masih menunjukkan kekesalan luar biasa. Sedangkan Hasna, tetap fokus menyetir dan berusaha meredam emosinya. Kejadian hari ini benar-benar membuatnya hilang kendali.
"Astaghfirullahal'adzim." Lirih hasna.
Berkali-kali bibirnya mengucap istighfar. Tindakannya kali ini tidak benar, seharusnya ia bisa menahan emosinya dan membicarakannya dengan Rama secara baik-baik. Bukan malah mengimbangi emosi suaminya.
Hasna membunyikan klakson mobilnya saat berada tepat di depan gerbang rumah. Dengan sigap Pak Mamat membukakan dan mengangguk hormat pada majikannya.
Hasna memarkirkan mobil di garasi dan segera turun. Tapi belum juga ia membuka pintu mobil, Rama sudah lebih dahulu turun. Rupanya laki-laki itu tidak perlu menunggu bantuan darinya.
Keduanya tetap membisu saat memasuki rumah. Rama langsung naik ke lantai atas menuju kamarnya, tanpa mengatakan apapun pada Hasna. Lebih baik seperti ini dulu, menenangkan pikiran daripada berselisih paham lagi nantinya.
Hingga jam makan malam, Rama tak kunjung keluar dari kamarnya. Hasna sedikit lahawatir jika Rama akan membutuhkan bantuannya. Tapi karena mereka saling diam membuat Rama tidak mengatakannya.
Hasna gegas naik ke kamar Rama, ia ingin memastikan keadaan suaminya. Ragu-ragu Hasna membuka pintu, kamar masih dalam keadaan gelap. Hasna meraih saklar di dekat ranjang dan menyalakan lampu. Ranjangnya kosong.
Hasna mengedarkan pandangannya memindai setiap sudut kamar Rama. Ternyata Rama tengah tidur bersandar di sofa. Bahkan pakaiannya masih sama. Rama belum sempat membersihkan diri rupanya. Hasna menghembuskan nafas pelan, mendekati suaminya.
"Mas, Mas Rama, bangun." Hasna mengusap lembut lengan suaminya.
"Mas, Mas Rama, udah hampir maghrib." Rama tetap tak bereaksi.
"Mas?" Hasna mengguncang pelan bahu Rama. Tapi tetap tak bereaksi. Biasanya Rama akan terbangun jika ia mengguncang pelan bahunya.
Sepertinya Rama masih marah padanya. Hasna mengambil posisi duduk di sebelah suaminya. Meraih tangan Rama, dan menggenggamnya hangat.
"Aku tau, Mas Rama pasti masih marah sama aku. Mas Rama kecewa. Aku cuma menyayangkan tindakan Mas Rama di tempat yang tidak semestinya. Kita hidup dengan budaya timur, dan norma agama yang kental. Dan hal yang demikian tidak patut untuk di pertontonkan di depan umum." Hasna mulai bicara dari hati ke hati dengan Rama. Semoga saja suaminya memahami apa yang membuatnya tidak menyukai sikapnya.
"Aku tau jika Mas Rama hanya ingin menunjukkan status pernikahan kita. Tapi..." Hasna menghembuskan nafas yang terdengar berat.
"Maafkan aku. Seharusnya aku bisa meredam emosi Mas Rama, bukan malah mengimbanginya. Hingga membuat kita berselisih paham dan saling menyalahkan. Maaf mungkin aku bukanlah istri yang baik. Bukan istri yang patuh dengan suami. Bukan juga istri yang bisa membuat suami merasa tenang, justru membuat Mas Rama semakin emosi. Maaf..." Lirih Hasna di ujung kalimatnya.
Hasna tak melanjutkan ucapannya justru isakan mulai terdengar. Bukan Rama tak mendengar semua yang dikatakan istrinya. Bahkan Rama tau jika Hasna berada di kamarnya dan sudah terbangun semenjak istrinya menyalakan lampu kamarnya tadi.
Rama juga menyadari bahwa tindakannya tadi memanglah tidak pantas dilakukan, terlebih istrinya perempuan dengan penampilan yang selalu tertutup. Tapi ucapan laki-laki tadi benar-benar keterlaluan, hingga membuat harga dirinya sebagai seorang suami terluka.
Hasna merasakan genggaman di tangannya, membuat ia menoleh pada Rama. Laki-laki itu diam menatapnya. Tapi sedetik kemudian Rama menarik Hasna kedalam pelukan.
"Maafin aku." Hasna kembali terisak di pelukan suaminya.
"Saya juga minta maaf, karena tindakan saya juga tidak pantas." Rama membuang nafas berat.
"Terima kasih sudah mengingatkan saya. Maaf jika tindakan saya tadi membuat kamu tidak nyaman." Lirih Rama.
Rama mempererat pelukannya. Menghirup dalam-dalam aroma rambut istrinya.
Rama membetulkan posisi duduknya. Tidur dengan posisi ini sungguh membuatnya tidak nyaman. Hasna mengikuti Rama untuk duduk dengan tegap.
"Mas Rama belum mandi, ayo aku bantu." Ucap Hasna. Suaminya itu nampak kusut.
Rama menatap lekat perempuan di sampingnya itu. Hasna begitu cantik dengan rambut setengah basah dan tergerai indah.
Rama mengikis jarak diantara mereka. Lebih mendekat lagi pada Hasna. Bahkan hangat nafas begitu terasa menyapu permukaan kulit wajah.
Sekali lagi, Rama menyatukan kedua bibirnya pada bibir Hasna. Mengulang apa yang tadi sore mereka lakukan. Melakukan ditempat yang semestinya.
Perlakuan Rama yang tiba-tiba membuat Hasna sedikit menggeser posisi duduknya ke belakang. Namun dengan cepat Rama menahan tengkuk istrinya agar bertahan di posisi itu.
__ADS_1
Kedua manik mereka bertemu, menimbulkan getaran yang semakin melenakan. Dengan perlahan, Rama mulai menjalankan perannya. Memberi *******-******* kecil pada istrinya.
Hasna mulai terbuai dengan perlakuan Rama. Perempuan itu memejamkan kedua matanya, menikmati setiap sentuhan yang Rama berikan. Sungguh perlakuan Rama membuatnya terlena.
Rama memperdalam ciumannya, berusaha menuntaskan emosi yang masih mengganjal di hatinya. Kedua tangan Hasna meremas kemeja yang Rama kenakan, berusaha mengurai kegugupan yang melanda. Katakanlah dia pemain amatiran, yang berusaha mengimbangi perlakuan suaminya.
Rama melepaskan ciumannya setelah beberapa saat. Nafasnya keduanya masih terdengar memburu. Detak jantung keduanya berirama tak terkendali. Hasna perlahan membuka matanya. Kedua pipinya terasa menghangat saat memandang wajah Rama yang berada tepat dihadapannya. Laki-laki itu tengah menatapnya intens.
Rama menyatukan keningnya dengan kening sang istri, berusaha menormalkan kembali degup jantung yang sempat menggila. Hanya hembusan nafas yang terdengar dari keduanya.
Rama menegakkan kembali kepalanya, menatap perempuan di hadapannya yang tengah menunduk malu. Rama mengangkat dagu Hasna dengan telunjuknya. Betapa cantik perempuan itu dengan rona merah jambu di kedua pipinya.
Rama tersenyum dan mengusap lembut bibir istrinya yang basah. Bibir ranum itu semakin merah karena ulahnya.
Hasna merasakan usapan lembut di bibirnya yang terasa kebas. Jantungnya kembali berdetak lebih cepat. Desiran halus menelusup hingga ke aliran darah.
Rama kembali tersenyum jika mengingat dialah laki-laki pertama yang menyentuh Hasna. Tindakan ini adalah tindakan terjauh yang pernah ia lakukan kepada Hasna.
"Aku ingin melakukan yang lebih jauh lagi denganmu, tapi aku masih harus menunggu karena ketidak berdayaanku." Bisik Rama.
Rupanya laki-laki itu menahan gejolak dari dalam dirinya yang tercipta di saat ia mulai mencumbu istrinya. Dan dengan sedikit tidak rela ia melepaskan pagutan di bibir manis istrinya.
Bukannya Hasna tidak memahami arah pembicaraan Rama. Sebagai perempuan dewasa yang telah menikah ia sangat paham akan hal itu.
Hembus nafas Rama yang menyapu telinga dan leher Hasna, membuat perempuan itu memejamkan mata. Tidak bisa lagi Hasna gambarkan perasaannya kali ini. Rama mulai melakukan sedikit demi sedikit peranannya sebagai seorang suami. Itu artinya Hasna harus siap dengan semua itu. Semua perlakuan dan kejutan lainnya yang akan Rama berikan.
Bahkan baru saja ia mendengar suaminya itu mengganti kata "saya" yang biasanya ia ucapkan dengan kata "aku". Apakah hubungan mereka sudah di tahap lebih dari belajar dan mengenal. Dan sudah saling menerima.
***
Setelah makan malam, Rama meminta Hasna untuk menemaninya sebentar di ruang kerjanya. Ruangan yang bersebelahan denga kamar Rama di lantai dua.
Rupanya Rama tengah memeriksa email yang Ivan kirimkan padanya sore tadi. Matanya tetap fokus pada layar laptop di hadapannya. Dan Hasna, perempuan itu sungguh tidak berani bergerak, dan tetap diam di posisinya.
"Mas, aku turun aja ya. Aku berat loh." Hasna memberi alasan.
"Kamu mau kemana?" Tanya Rama, mengalihkan fokusnya pada sang istri.
"Tidak, hanya saja kasihan kamu kalau kerja sambil memangku aku kayak gini. Aku kan berat."
Rupanya Hasna tengah duduk di pangkuan Rama. Laki-laki itu sepertinya sudah merasa sangat nyaman jika berada di dekat Hasna.
"Ckk..." Terdengar decakan tidak suka dari bibir laki-laki itu.
"Ada apa?" Tanya Hasna yang melihat raut tidak suka di wajah suaminya. Apa dia salah dalam berkata?
"Ada pekerjaan yang mengharuskan aku untuk ke luar kota." Rama mendengus kesal.
"Lalu kenapa? Bukankah Mas Rama sudah sering melakukannya?" Hasna masih memperhatikan raut suaminya.
Rama tak menjawab pertanyaan Hasna. Justru laki-laki itu mengambil ponsel dan menghubungi seseorang di seberang sana.
"Halo, Van. Tolong kamu wakilkan saya untuk ke luar kota selama dua hari kedepan. Karena saya ada urusan yang belum sempat saya selesaikan." Ucapnya melalui sambungan telepon.
"Mohon maaf, Pak. Tapi klien sudah mewanti-wanti agar Pak Rama sendiri bisa datang dan menghadiri pertemuan untuk kesepakatan kerja kali ini. Nanti saya juga Marissa akan menemani Bapak." Jawab Ivan.
Rama mendengus pelan. Itu artinya ia akan meninggalkan Hasna selama dua hari ini. Hal yang tidak pernah Rama pikirkan selama menikah, justru sekarang menjadi hal yang paling mengganggunya.
__ADS_1
"Baiklah, nanti coba kamu atur supaya pertemuannya bisa dilakukan hanya dalam waktu sehari saja. Satu lagi, Marissa tidak perlu ikut, karena ada beberapa pekerjaan yang perlu segera untuk direvisi." Ucap Rama serius.
"Baik, Pak."
Rama mematikan sambungan teleponnya dan kembali fokus pada layar laptop dihadapannya. Mendengar kata luar kota, Hasna jadi mengingat akan misinya siang tadi.
"Emm...Mas, aku pengen ngomong sesuatu sama kamu." Ucap Hasna setelah beberapa saat keduanya terdiam.
Hal yang seharusnya ia katakan saat mengantarkan makan siang tadi, gagal gara-gara banyak hal-hal yang tidak terduga lainnya.
"Apa?" Rama tetap mendengarkan perkataan istrinya tanpa mengalihkan fokusnya.
"Sebenarnya... aku mau minta izin. Aku...minta izin mau keluar kota, untuk melihat lokasi yang akan di jadikan restoran nantinya." Hasna berhati-hati sekali menyampaikan hal itu pada Rama. Jangan sampai menjadikan suaminya itu marah.
"Kemana?" Barulah fokusnya teralihkan pada istrinya.
Hasna menyebutkan salah satu nama kota yang berjarak dua kota dari kota tempat mereka tinggal saat ini.
"Dengan siapa kamu ke sana?" Rama mulai serius dengan pembicaraan ini.
"Sendiri, tapi nanti akan ditemani oleh notaris juga." Jawab Hasna.
"Laki-laki apa perempuan?" Mulai terlihat sisi posesifnya.
"Laki-laki." Lirih Hasna. Ia merasa aura suaminya sudah tidak baik.
"Tidak boleh." Jawab Rama cepat.
Tuh kan benar, pasti ia tidak akan di izinkan. Hasna memutar otak bagaimana caranya ia harus mendapatkan izin. Nayla, hanya nama itu yang ada dikepalanya saat ini.
"Kalau aku mengajak Nayla?" Tanya Hasna ragu.
Nayla? Adiknya itu tidak bisa diandalkan. Justru malah membuat dirinya dan Hasna bersitegang gara-gara teman kuliahnya itu.
"Tidak, aku tetap tidak mengizinkan." Rama tetap keukeuh dengan keputusannya.
"Apa harus dengan Mama juga? Semua pegawaiku tidak mungkin meninggalkan pekerjaan mereka. Karena mereka tidak paham masalah ini. Lagi pula tidak mungkin juga aku mengajak Mas Hamzah." Ucap Hasna putus asa.
"Siapa Hamzah?" Sahut Rama cepat.
Sepertinya radar bahaya dalam dirinya mulai menyala jika mendengar nama laki-laki lain disebut di hadapannya. Hasna harus berhati-hati menyampaikan jika itu berhubungan dengan lelaki pada Rama.
"Mas Hamzah itu pegawai senior aku di tempat katering. Dan semenjak aku buka restoran dia aku angkat sebagai menejer di sana." Jelas Hasna perlahan karena raut wajah suaminya mulai masam.
"Menejer? Kenapa harus panggil Mas?" Tanya Rama dengan nada tidak suka.
"Dia seusia Mas Rama. Mungkin lebih muda dari Mas Rama. Tapi sama saja dia lebih tua dari Hasna, kan?" Sepertinya dia salah berucap, karena tatapan tajam kini ia dapatkan dari Rama.
Reflek Hasna memeluk leher Rama dengan kedua tangannya. Sedikit merayu tidak masalah kan. Dan berhasil, ketegangan yang sempat Rama tunjukkan, berangsur menghilang.
"Tidak di izinkan juga tidak apa-apa. Nanti bisa aku bicarakan lagi dengan mereka, kalau aku tidak jadi membeli lahan yang mereka tawarkan." Ucap Hasna dengan nada putus asa, namun menyimpan harapan disana.
Terdengar hembusan nafas berat dari Rama. Sungguh hal ini membuatnya dilema. Tidak mungkin ia menghalangi kesuksesan sang istri. Tapi, sisi lelakinya tidak ingin membiarkan istrinya itu pergi hanya bersama laki-laki dari lingkup bisnisnya yang tidak ia kenal sama sekali. Bisa saja nantinya akan ada hubungan di luar pekerjaan.
"Baiklah, kamu boleh kesana." Mata Hasna berbinar mendengarnya.
"Tapi kesananya nanti sama aku, nanti aku coba hubungi Ivan untuk mengatur ulang jadwal di kantor." Tegas Rama.
__ADS_1
Ternyata ada syarat untuk itu semua, tapi Hasna tidak mempermasalahkannya. Yang terpenting ia mendapatkan izin dan segera bisa membuka usaha di tempat yang baru.