Bidadari Penghapus Luka

Bidadari Penghapus Luka
Bab 64


__ADS_3

"Wah, jangan-jangan Mbak Hasna hamil." Pekik Nayla. Mata gadis itu terlihat berbinar.


"Hamil?" Ucap Bu Diana, Pak Andi dan Rama bersamaan.


Raut bahagia nampak di wajah kedua orang tuanya, tapi tidak dengan Rama. Justru raut wajahnya terlihat terkejut.


"Kak Rama kenapa? Kok kayaknya nggak bahagia gitu mukanya." Nayla mengamati ekspresi keterkejutan yang lebih mendominasi dari rasa bahagia di wajah Rama.


"Rama, kamu nggak suka kalau Hasna hamil?" Tanya Mama.


"Suka!." Pekik Rama dengan wajah menegang.


Suara Rama membuat yang berada di sana sedikit berjingkat.


"Biasa aja kali, Kak. Nggak usah treak-treak." Protes Nayla.


"Tau nih, bikin Mama kaget aja." Protes Mama.


"Dulu waktu Mama hamil kamu, Papa nggak seheboh kamu deh." Ucap Papa.


Bukan karena hebohnya, tapi karena keterkejutannya saat Hasna tiba-tiba mual dan berakhir muntah.


"Udah, cepetan samperin sana, kasihan istri kamu." Ucap Mama.


Rama segera ke belakang dimana Hasna tengah mengeluarkan isi perutnya di wastafel kamar mandi di dekat dapur.


"Hasna, kamu kenapa?" Tanya Rama.


Hasna tak menjawab, justru dirinya semakin tak bisa mengendalikan gejolak dari dalam perutnya. Rasanya seperti di aduk-aduk. Dan isi di dalamnya menerobos paksa untuk segera dikeluarkan.


"Ini ada minyak kayu putih, Den." Ucap salah satu ART.


Rama segera menuangkan minyak kayu putih di telapak tangannya. Ia sodorkan tepat di hidung Hasna. Hasna menghirup dalam-dalam aroma dari tangan suaminya. Berharap akan meredakan rasa mualnya.


"Udah mendingan?" Tanya Rama, Hasna mengangguk dengan wajah yang terlihat pucat.


"Langsung bawa ke kamar saja. Hasna sudah sangat pucat." Ucap Mama.


Hasna terlihat pucat dan tubuh yang sedikit gemetar. Mungkin juga karena perutnya mulai kosong. Keringat dingin membanjiri kening perempuan itu.


"Neng Hasna hamil ya, Bu?" Tanya mbok Sumi yang ikut berdiri di samping Bu Diana.


"Kok cirinya seperti perempuan yang hamil muda." lanjut ART itu.


"Enggak kok, Hasna cuma mual pas nyium bau_"


"Tuh kan, Bu. Sama kayak orang hamil muda. Suka mual kalau nyium bau tertentu." Sahut Mbok Sumi tanpa menunggu Hasna menyelesaikan kalimatnya.


"Semoga ya, Mbok." Ucap Bu Diana penuh harap.


Rama dan Hasna saling berpandangan dengan wajah penuh tanya.


"Sebaiknya ajak istirahat istri kamu." Ucap Bu Diana pada Rama.


"Iya, Ma."


Rama membantu Hasna untuk naik ke kamarnya. Kenapa jadi begini? Seluruh rumah menyangka jika Hasna tengah hamil muda. Padahal tidak seperti itu. Mereka hanya salah paham.


***


Rama membantu istrinya untuk berbaring. Wajah perempuan itu terlihat pucat, juga tubuh yang terlihat lemas. Di usapnya lembut, kening perempuan yang mulai memejamkan matanya itu.


"Istirahatlah, aku temani." Ucap Rama.


"Mas Rama turun saja. Aku nggak apa-apa." Lirih Hasna. Sepertinya perempuan itu benar-benar tak bertenaga.


"Kamu kenapa? Tadi perasaan kamu baik-baik saja." Tanya Rama.


"Aku tadi nyium bau durian di meja makan. Tiba-tiba kepalaku pusing, mual, dan berakhir muntah." Jawab Hasna tak bersemangat. Wajah cantiknya pun masih terlihat pucat.


Hmmm...jadi perkaranya berasal dari durian rupanya. Gara-gara buah berbau menyengat itu yang membuat seluruh rumah heboh dan menyangka jika Hasna tengah hamil.


"Kamu tau nggak, kalau semua orang ngiranya kamu lagi hamil." Ucap Rama.


"Hamil?" Rama mengangguk.


"Kok jadi hamil?" Tanya Hasna bingung.


"Kamu tiba-tiba mual dan muntah pas mau makan. Mereka bilang, itu salah satu ciri-ciri perempuan yang hamil muda." Jelas Rama.


Tok, tok, tok


"Masuk." Ucap Rama.


Mama dan Papa masuk ke dalam kamar Rama. Juga Nayla yang membawakan secangkir minuman untuk kakak iparnya itu.


"Di minum, Mbak. Masih anget." Ucap Nayla.


Rama membantu Hasna untuk duduk, mengambil cangkir dari tangan adiknya, dan meminumkannya pada sang istri.

__ADS_1


"Pelan-pelan." Ucap Rama.


Hasna menyesap minuman dari tangan sang suami. Perutnya terasa menghangat saat meminumnya. Kembali, sikap Rama terhadap Hasna membuat keluarganya tersenyum.


"Lagi?" Hasna menggeleng.


Rama meletakkan cangkir di atas nakas. Sepertinya Hasna sudah mendingan.


Bu Diana mendekat dan duduk di tepi ranjang. Menatap lekat menantu perempuannya.


"Gimana, Sayang? Udah mendingan?" Tanya Mama dengan lembut.


"Alhamdulillah, sudah, Ma." Hasna tersenyum pada ibu mertuanya.


"Kamu sudah periksa sebelumnya? Sepertinya kamu mabok parah." Kata Mama.


"Tidak usah, Ma. Hasna nggak papa kok."


"Eh...nggak boleh gitu. Kamu harus tetap periksa. Mual muntah memang wajar, tapi kalau parah bisa bahaya. Calon bayi kalian bisa kurang nutrisi nantinya." ujar Mama.


Rama dan Hasna saling pandang. Sepertinya memang semuanya sudah salah faham.


"Ma, Hasna tidak hamil. Hasna hanya_"


"Rama, yang namanya hamil muda itu kadang kita tidak menyadarinya. Apalagi istri kamu belum periksa." Potong Mama.


Rama menggaruk pelipisnya dengan jari telunjuknya. Dia berusaha memberi pengertian pada mereka, tapi sebelum ia jelaskan, Mama sudah berasumsi jika Hasna hamil.


"Tapi, Ma, Hasna hanya mual saat mencium bau durian." Sahut Hasna.


"Kayaknya beneran kamu hamil deh. Mama pas hamil Rama dulu suka mual kalau bau duren. Ini pasti anaknya nurun kelakuan bapaknya." Ucap Mama. Beliau menatap sinis pada Rama.


Rama hanya mengembuskan nafas kasar. Kenapa pula ia di bawa-bawa, bau durian bikin mual karena turunan dia. Hah, nasib.


"Maaf, dokter Yunia sudah datang." Kata salah satu ART.


"Segera antarkan ke sini." Ucap Bu Diana.


"Baik, Bu."


"Ma, siapa dokter Yunia?" Tanya Rama sepeninggal ART itu.


"Dokter Yunia itu, dokter spesialis kandungan, yang kebetulan adik kandung dari dokter Yunan." Jawab Mama.


Kalau dokter Yunan, Rama mengenalnya. Karena beliau adalah dokter keluarga Suryanata. Baiklah sepertinya mereka akan mengikuti alurnya saja.


"Silahkan, Dok." Ucap ART mempersilahkan dokter itu masuk ke dalam kamar Rama.


"Selamat malam." Sapa dokter Yunia.


"Malam, Dok, silahkan." Mama langsung mempersilahkan dokter itu untuk memeriksa Hasna.


Hasna menatap Rama, tapi justru lelaki itu mengisyaratkan jika ia perlu tenang dan mengikuti kemauan Mama.


"Perkenalkan, saya dokter Yunia. Dengan siapa?" Tanya dokter itu ramah.


"Saya Hasna, Dok." Perempuan itu tersenyum seperti biasanya.


"Baiklah, saya periksa dulu, ya."


"Silahkan, Dok."


Dokter Yunia mengeluarkan peralatan medis dari dalam tas jinjingnya. Dokter dengan seksama memeriksa keadaan Hasna.


"Mbak Hasna sudah pernah melakukan tes kehamilan sebelumnya?" Hasna menoleh pada Rama, laki-laki itu mengangguk kecil.


"Tidak, Dok." Jawab Hasna dengan tetap menatap suaminya.


"Pengantin baru, ya?"


"Iya, Dok." Jawab Hasna menoleh pada dokter Yunia.


"Pantesan, dari tadi kok main kode-kodean, Persis saya waktu pengantin baru dulu." Kekeh dokter Yunia.


Keduanya nampak salah tingkah mendengar candaan dokter cantik itu.


"Mbak Hasna kapan terakhir menstruasi?" Tanya dokter Yunia.


"Emmm...baru satu minggu yang lalu, Dok." Jawab Hasna, lagi-lagi ia menoleh pada Rama.


"Oke, tapi tidak perlu berkode juga." Goda dokter Yunia. Rupanya dokter cantik itu memperhatikan gerak-gerik Hasna dan Rama.


"Jadi gimana, Dok? Apa menantu saya hamil?" Tanya Mama antusias.


"Saya tidak menemukan gejala kehamilan pada Mbak Hasna. Mungkin Mbak Hasna hanya merasa mual karena sesuatu yang membuat perut tidak nyaman." Jawab dokter Yunia.


Raut wajah Mama terlihat kecewa mendengar penuturan dokter Yunia. Padahal beliau berharap sekali, jika Hasna hamil cucu pertamanya.


"Iya, Dok, saya sempat mual hingga akhirnya muntah karena tadi saya mencium bau durian." Ucap Hasna.

__ADS_1


"Mbak Hasna nggak suka durian?" Tanya Nayla. Hasna menggeleng.


"Yah...padahal aku kemarin beli beberapa loh, pengen diajarin bikin pancake sama Mbak Hasna." Sepertinya Nayla sedikit kecewa.


"Maaf ya, Nay. Mbak nggak suka durian, suka mual soalnya." Hasna jadi merasa tidak enak pada adik iparnya.


"Oh...ternyata kesalah pahaman ini berasal dari durian toh rupanya." Ucap dokter Yunia.


Setelah berbincang sesaat, akhirnya dokter Yunia pamit undur diri. Kini tinggal Rama berdua dengan Hasna di kamar.


"Mas, aku jadi nggak enak sama semua, terutama sama Mama." Hasna merasa telah mengecewakan mertuanya gara-gara durian.


"Udah nggak usah di pikirin. Kamu tunggu sini, aku ambilin makan." Rama mengusap lembut puncak kepala Hasna, kemudian keluar untuk mengambilkan makanan.


***


Rama menuruni anak tangga menuju ke dapur. Rumah terlihat sepi, hanya beberapa ART yang masih menyelesaikan pekerjaan mereka.


"Bi, tolong ambilkan makanan untuk porsi dua orang, tapi jadikan satu piring saja. Nanti sekalian antarkan ke atas ya."


"Baik, Den."


"Yang lain pada kemana?" Rama mengamati sekitar, tak nampak kedua orang tua serta adik perempuannya.


"Non Nayla tadi ke kamar, ibu sama bapak ada di ruang tengah." Jawab ART.


Rama hanya mengangguk, dan pergi menuju ruang tengah. Seperti biasa, kedua orang tuanya selalu berbincang setelah makan malam.


"Padahal Mama udah ngarep banget loh Pa, kalau Mama bakalan punya cucu." Sepertinya Bu Diana masih terlihat kecewa.


"Ya berarti memang belum rezekinya anak-anak, Ma. Doakan saya yang terbaik buat mereka. Mungkin Allah memberikan kesempatan buat mereka untuk menikmati masa pacaran mereka." Pak Andi lebih bijak menyikapi masalah putra dan menantunya.


"Ma, Pa."


Suami istri itu menoleh pada putra pertama mereka. Rama ikut duduk dan bergabung dengan kedua orang tuanya. Benar kata Hasna, Mamanya terlihat kecewa. Tapi bagaimana seandainya orang tuanya tau, jika hubungan mereka belum sejauh itu. Terlebih pasca cidera yang dialaminya, yang mengharuskannya untuk menunggu sebulan lagi.


"Gimana keadaan Hasna?" Tanya Mama.


"Udah mendingan, cuma lemes aja. Belum sempet makan juga. Tapi Rama udah minta Bibi buat anter makanan ke atas." Jawab Rama.


"Hasna merasa tidak enak dengan Mama." Rama sekilas melirik sang ibu yang berada di hadapannya.


"Hasna merasa sudah membuat Mama kecewa." Bu Diana menyimak perkataan putranya. Memang dirinya kecewa mendengar kabar jika menantunya tidak hamil seperti keinginannya.


"Hasna sangat perasa, jadi dia menyadari jika Mama merasa kecewa dengan keadaannya. Rama harap Mama bisa bersikap biasa, sama seperti sebelum kejadian hari ini. Rama hanya tidak mau jika Hasna merasa terbebani dengan perasaan bersalahnya." Rama berharap jika ibunya bisa memahami posisi Hasna saat ini.


"Papa tadi juga sempat bilang sama Mama, kalau memang belum rezeki kalian memperoleh keturunan. Kalian nikmati dulu masa pacaran kalian, tapi jangan sampai kena razia lagi. Kasihan Hasna, udah kayak kena razia bersama sugar Daddy." Ucap papa bijak.


Nasehat Papa memang baik untuk kebaikan semuanya, agar Mama juga paham akan kondisi hasna. Tapi tidak perlu menyangkut razia juga, apalagi mengatakan jika Hasna bersama sugar Daddy, kenapa rasanya Papa mengatakan jika Rama menikahi perempuan di bawah umur. Rama membuang nafasnya kasar.


"Maksud Papa apa mengatakan jika Hasna bersama sugar Daddy saat razia kemarin? Papa juga bilang kalau Rama ini tua?" Protesnya tidak suka. Papa orang ketiga yang mengatakan jika dirinya tua. Setelah Bian dan juga Hasna.


"Ya...nggak ada maksud apa-apa. Kalau Papa lihat-lihat kalian seperti om dan keponakan. Hasna masih seusia adik kamu, malah terlihat lebih muda dari Nayla. Sedangkan kamu_"


Bu Diana tergelak mendengar penuturan suaminya. Secara terang-terangan suaminya mengatakan jika Rama terlihat tua.


"Papa bilang kalau kamu tua, Sayang." Kekeh Mama.


"Aku itu belum tua ya, hanya matang saja." Belanya.


"Brewokan kamu itu makanya di bersihin. Biar makin ganteng." Ucap Mama.


Dasar suami istri sama saja, sama-sama menyebalkan. Rama pun beranjak.


"Mau kemana?" Tanya Mama.


"Mau ke atas, mau diner romantis sama sugar baby." Ketusnya.


Papa terkekeh mendengar jawaban Rama. Sepertinya putranya itu tidak terima di katakan tua olehnya.


"Anak kamu tuh." Tunjuk Papa pada Rama dengan isyarat mata.


"Lagian Papa ngapain bilang kayak gitu sama Rama? Jadi ngambek kan dia."


Dasar anak sama bapak sama saja, sama-sama menyebalkan.


***


Rama masuk ke dalam kamar dengan muka masam. Andaikan yang mengatakan tadi bukan Papa, pasti akan Rama ajak berantem saking keselnya.


"Mas Rama kenapa?" Hasna melihat wajah suaminya yang terlihat kesal setibanya dari bawah.


"Aku kelihatan tua banget ya?" Tembak Rama. Hasna hanya mengerutkan keningnya. Kenapa harus membahas masalah ini lagi?


"Mas Rama kok nanya itu lagi sih?" Rama membuang nafasnya kasar.


"Tadi Papa biang, kalau lihat aku sama kamu lagi jalan, aku lebih mirip seperti om-om yang ngajakin sugar baby-nya jalan." Hasna menahan tawanya.


Sungguh ucapan Papa mertua sudah tidak ada filternya lagi. Mengatakan jika putranya terlihat tua seperti sugar Daddy. Tapi Hasna setuju sih, Rama terlihat tua dengan jambang dan brewok yang menghiasi wajah tampannya. Berbeda saat awal menikah dulu, bulu-bulu halus yang menghiasinya, membuat Rama terlihat matang dan dewasa. Tapi sekarang terlihat lebih jelas menjadikan kesan tua.Tapi walaupun begitu, apalah daya, Hasna tidak berani mengungkapkannya, bisa perang dunia nantinya.

__ADS_1


"Besok aku bantu bersihin, sekarang kita makan dulu. Kita butuh tenaga untuk menghadapi kenyataan." Canda Hasna.


"Kamu benar, apalagi mendengar nyiyiran para deterjen. Makin laper aku jadinya."


__ADS_2