
Kini hanya tinggal Rama dan juga Nayla di rumah. Kedua kakak beradik itu sama-sama bungkam sejak kepergian Hasna dan juga mama mereka.
Sesekali, Nayla melirik sang kakak dan memperhatikan ekspresi lelaki itu. Masih sama, wajahnya masih terlihat masam.
"Nay."
Jantung Nayla berdetak sedikit lebih cepat, hanya karena sang Kakak memanggil namanya.
Gadis itu mendongak, mengalihkan fokus yang sedari tadi menatap layar ponselnya, kepada Rama.
"Jika teman kamu mengirimkan hadiah lagi sama Hasna, tolak saja." Bukan hanya sekedar peringatan tapi Sudah lebih kepada penolakan keras.
Yes! Nayla bersorak dalam hati. Hampir saja dia berteriak kegirangan gara-gara ucapan Rama. Namun bisa gadis itu tahan. Ia ingin tau sampai dimana perasaan Kakak lelakinya terhadap Hasna, istrinya.
"Emang kenapa? Ada yang salah?" Sekarang ia pura-pura acuh dengan permintaan Rama.
"Menurut kamu?" Sewot sekali dia sekarang.
"Apa pantas, jika seorang laki-laki mengirimkan hadiah kepada perempuan bersuami?" Lanjut Rama.
Nayla berusaha mencari jawaban yang akan membuat Rama merasa posisinya sebagai suami terancam. Nayla ingin, Kakak laki-lakinya itu tau, jika perempuan seperti Hasna layak untuk diperjuangkan.
"Menurut Nay sih, sangat tidaklah pantas."
"Nah itu kamu tau." Tukas Rama.
"Tapi, yang namanya perasaan kan kita tidak bisa mencegahnya. Apalagi perasaan orang lain. Berkali-kali Nay jelaskan siapa Mbak Hasna, berkali-kali pula Bian nggak percaya. Semua itu butuh bukti, Kak, bukan hanya bualan semata." Lanjutnya mulai berapi-api.
Rama nampak mulai berpikir ulah ucapan adiknya.
"Mau, Nay kasih saran?" Tawar Nayla.
Rama diam mendengarkan tanpa berkata sepatah kata pun. Nayla mendengus kecil melihatnya.
"Oke, karena Nay sayang sama Mbak Hasna. Dan pengen Mbak Hasna jadi kakaknya Nay, Nay kasih saran gratis buat Kak Rama." Mulai menyebalkan tingkah gadis satu ini.
"Pertama, belikan Mbak Hasna cincin. Ini yang paling mudah dikenali seseorang, apakah ia sudah nikah apa belum." Masuk akal, pikir Rama.
"Kedua, belajar romantis sama istri." Reflek Rama menoleh ke arah adiknya.
"Masa iya, yang udah halal kalah sama yang masih pacaran." Sindir Nayla.
"Ketiga_"
"Udah, nggak usah diterusin. Malah ngelantur kemana-mana." Sergah Rama, membuat adiknya berdecak kesal.
Tanpa diberikan nasehat pun, Rama sudah sangat paham akan tugasnya sebagai suami. Mungkin ia akan mulai belajar menerima pernikahannya dengan Hasna. Belajar menerima perempuan itu sebagai a istrinya.
***
Setelah pertemuan dengan Kevin yang tidak disengaja, Bu Diana terlihat lebih diam, tak seperti saat berangkat tadi. Sesekali Hasna melirik Mama mertua dengan tetap fokus menyetir. Terlihat Bu Diana membuang pandangannya ke arah jendela mobil.
"Saya suka sama Hasna, Tante."
"Mama berharap bisa menjadikan putri Tante sebagai menantu di keluarga kami."
"Saya ingin menjadikan putri Tante sebagai istri saya."
"Semoga niat baik saya disambut dengan baik pula."
Semua perkataan Kevin berputar memenuhi pikiran Bu Diana. Pun dengan raut kebahagiaan yang terpancar dari wajah tampannya. Pemuda sebaik Kevin melamar Hasna untuk dijadikan istrinya. Sedangkan putranya sebagai suami Hasna, tidak menghargai Hasna sebagai seorang istri.
Tiba-tiba saja terjadi pergolakan batin dalam diri Bu diana. Nalurinya sebagai seorang ibu membuatnya tidak sampai hati, hanya dengan membayangkan jika seandainya lelaki sebaik Kevin tau Hasna adalah istri putranya, bagaimana perasaan pemuda itu? Tapi disisi lain, Bu Diana memiliki harapan yang begitu besar pada pernikahan putranya.
__ADS_1
"Allah, berikanlah jalan terbaik bagi permasalahan putra putri hamba."
***
Di sepanjang perjalanan pulang, Bu Diana lebih banyak diam. Beliau membuang pandangan ke arah luar jendela mobil. Sesekali Hasna melirik dengan ekor matanya sambil tetap fokus menyetir.
"Ma, Mama kenapa?" Tanya Hasna Tanpa menoleh ke arah ibu mertuanya.
Rupanya Bu Diana tak mendengar ucapan menantunya.
"Ma, Mama oke?" Bu Diana tetap bergeming dengan pandangan yang fokus menatap ke arah luar jendela mobil.
"Ma?"
Hasna menepuk halus lengan mertuanya itu. Bu Diana sedikit berjingkat dan menoleh ke arah Hasna yang duduk dibalik kursi kemudi.
"Ya, Sayang?" Ucap beliau sedikit terkejut.
Hasna tersenyum menoleh sesaat ke arah ibu suaminya itu.
"Maaf, Hasna ngagetin Mama, ya?"
"Tidak, Sayang. Ada apa?" Wanita paruh baya itu tersenyum simpul.
"Apa Mama baik-baik saja? Hasna perhatikan dari tadi Mama lebih banyak diam. Mama oke, kan?" Terdengar kekhawatiran dari nada bicara Hasna.
"It's okay, Sayang. Mama baik-baik saja." Bu Diana kembali tersenyum.
Kembali hening.
"Kamu sama teman kamu tadi, siapa namanya, Mama lupa." Bu Diana mencoba mengingat nama Kevin.
"Mas Kevin?" Sahut Hasna, melirik sekilas pada mertuanya.
"Ah iya, Kevin. Apa kalian berteman lama?"
Laju mobil melambat, jalanan mulai memadat dan membuat sedikit macet.
"Tidak apa-apa. Sepertinya kalian akrab sekali. Mama kira kalian teman dekat, maksud Mama, sahabat." Bu Diana berhati-hati sekali saat mengatakan 'dekat' pada Hasna. Jangan sampai menantunya itu tersinggung.
Hasna tersenyum mendengar ucapan mertuanya.
"Tidak, kami hanya berteman. Kami tidak sengaja bertemu waktu itu. Dan kami hanya beberapa kali bertemu lagi setelahnya." Jawabnya disertai senyuman khas di wajahnya.
Bu Diana memperhatikan ekspresi Hasna saat menceritakan Kevin, terlihat biasa saja. Berbeda dengan Kevin. Pemuda itu terlihat bersemangat saat menceritakan pertemuannya dengan Hasna. Ada binar bahagia di mata laki-laki itu.
"Kenapa, Ma?" Hasna kembali menoleh sekilas pada mertuanya.
Lampu merah lalulintas menyala, Hasna menghentikan mobilnya dan menoleh pada ibu mertuanya.
"Tidak apa-apa, kalian sepertinya terlihat begitu akrab. Mama pikir kalian teman lama." Wanita paruh baya itu tersenyum simpul.
"Mas Kevin memang tipikal orang yang mudah akrab, ya mungkin karena sifatnya yang humble kami seperti orang yang sudah lama kenal. Tapi sebenarnya tidak sedekat itu hubungan kami."
Suara klakson yang bersahutan membuat keduanya tersadar jika lampu hijau sudah kembali menyala. Perlahan Hasna melajukan kembali mobilnya.
"Hubungan Hasna dengan Mas kevin, hanya sebatas hubungan kerjasama. Hubungan antara penjual dan pembeli." Hasna menoleh sekilas pada Mama mertua.
"Hasna hanya membangun hubungan baik dengan semua customer, dengan harapan kerjasama yang kami bangun akan bertahan lama. Apalagi kantor Mas Kevin mengambil katering dari tempat Hasna saat makan siang."
Bu Diana merasa jika menantunya ini terlalu naif. Mungkin bagi Hasna hanya sebatas hubungan pekerjaan, tapi tidak bagi Kevin. Pemuda itu jatuh hati pada Hasna karena kenyamanan yang perempuan itu berikan. Hingga pemuda itu melamar Hasna melalui dirinya.
"Ma, apa Mama berpikiran jika kami ada hubungan?" Hasna sedikit tidak enak hati saat mengucapkannya.
__ADS_1
"Maaf, jika yang Hasna tanyakan ini bisa menyinggung Mama. Tapi kami memang tidak memiliki hubungan selain hubungan kerjasama kami. Kami melakukannya dengan profesional."
"Terlebih, Hasna adalah seorang istri. Hasna menghormati suami Hasna, dan Hasna berkewajiban untuk menjaga kehormatan Mas Rama sebagai suami Hasna."
Bu Diana mendengar kebenaran dari setiap ucapan menantunya. Selama ini bahkan menantu perempuannya itu tak pernah mengeluhkan sikap putranya.
"Maafkan Mama, jika pertanyaan Mama menyinggung kamu, Sayang." Bu Diana mengusap lembut lengan Hasna yang tengah menyetir.
"Nggak apa-apa, Ma. Hasna juga minta maaf jika ada sikap Hasna yang kurang berkenan." Mata teduh itu memancarkan ketulusan.
Bu Diana kembali terdiam menatap lurus jalanan yang mereka lewati. Hasna kembali fokus pada kemudi. Keduanya kembali terdiam.
"Hasna, apa kamu bahagia dengan pernikahan ini?" Hati-hati Bu Diana menanyakan hal yang bersifat pribadi kepada menantunya.
Hasna sedikit kaget mendengar pertanyaan Mama mertua. Tapi bukankah itu hal yang sangat wajar ditanyakan oleh seorang ibu. Terlebih pernikahan mereka hasil perjodohan.
"Hasna bahagia, Ma." Hasna menjawab dengan senyuman, tapi tatapannya lurus menatap jalanan di depannya.
"Mama senang jika kamu bahagia dengan putra Mama. Mama sangat yakin, kamu bisa menyembuhkan luka masa lalu Rama."
Hasna bergeming mendengar penuturan mertuanya. Sanggupkah ia seperti itu, karena pada kenyataannya Rama menjaga jarak dengannya.
"Oh iya, tentang teman kampus Nayla. Bagaimana menurut kamu?"
Hasna tertegun mendengarnya, Kedua alisnya bertaut.
"Maksud Mama?" Hasna ingin tau arah pembicaraan random mertuanya.
"Ya.... Menurut kamu, teman Nayla itu ganteng ngga? Kalau dibandingkan sama teman kamu tadi, Kevin, ganteng mana?" Tak menjawab, justru Hasna tertawa kecil.
"Mama, lama-lama kok ketularan Nayla sih, Ma." Kekehnya.
"Ya, Mama kan pengen tau saja, gimana penilaian kamu dengan kedua laki-laki yang menyukai kamu."
Hasna menoleh heran pada mertuanya. Apa maksudnya dua laki-laki yang menyukainya?
"Anggap saja, Kevin juga menyukai kamu. Ibaratnya, kamu diperebutkan oleh tiga laki-laki." Bu Diana mencoba beralasan, tak mungkin kan mengatakan jika Kevin menyukainya dan sempat melamar tadi.
Biar itu diselesaikan sendiri oleh menantunya.
"Mama, ada-ada saja yang ditanyakan." Kekeh Hasna. Sepertinya sifat Nayla menurun dari ibunya.
"Jadi gimana?"
Bu Diana sedikit mendesak agar Hasna menjawab pertanyaannya kali ini. Beliau hanya ingin tau apakah Hasna benar-benar menerima putranya sebagai seorang suami.
"Mereka berdua sama-sama tampan. Dan memiliki kelebihannya masing-masing. Mas Kevin, lebih berpikiran dewasa, mungkin karena usianya juga. Sedangkan Bian, masih labil. Masih suka-suka dia kalau bertindak."
Bu Diana menyimak dengan baik setiap perkataan Hasna, agar beliau tau bagaimana respon menantunya saat ada dua lelaki yang mendekatinya secara bersamaan.
"Jadi kesimpulannya?"
Sekilas, Hasna menoleh dan tersenyum pada Mama mertua sebelum memberikan jawaban.
"Seperti yang Hasna katakan tadi, keduanya memiliki kelebihan tersendiri. Kalau masalah tampan, bohong kalau Hasna bilang mereka tidaklah tampan." Kekeh Hasna.
"Tapi, setampan apapun mereka, Hasna harus bisa menjaga pandangan Hasna. Karena hanya Mas Rama yang tampan di mata Hasna." Pipi perempuan itu menghangat saat mengucapkannya. Bu Diana tersenyum simpul mendengar penuturan menantunya kali ini.
"Saat Mas Rama mengucapkan janji pernikahan dihadapan Allah. Saat itu juga Hasna harus menutup mata dari keindahan makhluk lainnya, selain suami Hasna. Menutup hati dari rasa yang diciptakan iblis untuk menggoyahkan hubungan pernikahan. Karena hidup Hasna, sepenuhnya adalah milik suami Hasna. Bahkan jika kedua orang tua Hasna masih hidup, mereka tidak berhak lagi atas kehidupan putri kandungnya setelah menikah. Walaupun mereka yang merawat serta menjagakan Hasna hingga dewasa."
Air mata Bu Diana meleleh mendengar penuturan menantunya. Betapa perempuan muda disampingnya ini begitu menjaga diri juga kehormatannya. Dia juga mampu memposisikan diri sebagai seorang istri yang menjaga kehormatan suaminya. Tak pernah sekalipun Hasna mengeluh dan mengadu atas perilaku putranya.
Usia Hasna memang hanya terpaut satu tahun dengan putrinya. Tapi Hasna memiliki pengendalian emosi yang sangat luar biasa. Pemikirannya jauh kedepan. Dan sangat bijak menyikapi masalah.
__ADS_1
Mereka tidak salah pilih. Semoga saja kehadiran Hasna, akan membawa perubahan dalam hidup putranya.
***