
Selepas makan siang, Rama tidak kembali lagi ke kamarnya, tapi lebih memilih menghabiskan waktunya di ruang tengah sambil menonton televisi. Hal yang tidak pernah ia lakukan semenjak tinggal di rumah ini. Sedangkan Hasna beristirahat di kamarnya.
Pukul tiga sore Hasna bersiap melakukan rutinitasnya. Membersihkan rumah, serta memasak untuk makan.
Perempuan itu terkejut mendapati suaminya tengah berada di ruang tengah. Dia pikir setelah makan siang, Rama akan kembali beristirahat seperti dirinya. Tapi tidak, lelaki itu melakukan hal yang tidak pernah Hasna lihat sebelumnya.
"Mas Rama butuh sesuatu?" Hasna mendekat pada suaminya.
"Tidak." Pandangan laki-laki itu tetap fokus pada layar datar dihadapannya.
Hasna melanjutkan niatnya untuk membersihkan rumah. Hanya menyapu juga mengepel dan membersihkan debu yang menempel di perabot. Semua kegiatan yang dilakukannya tak luput dari pantauan Rama.
Laki-laki itu terlihat fokus pada televisi, namun ia memperhatikan gerak-gerik Hasna yang cekatan melakukan pekerjaan rumah seperti...Mbok Sumi, ART nya.
Kembali, ucapan Mamanya terngiang ditelinga.
Ini adalah pilihan istrinya, dan dia menyetujui saat Hasna mengatakan tidak perlu menggunakan jasa ART. Karena di awal menikah, ia ingin hidup mandiri tanpa ada campur tangan orang lain. Termasuk ART yang akan menjadi telinga saat hubungannya dengan Hasna tak selayaknya suami istri.
Perempuan itu melakukan semua tugasnya dengan baik. Dan kini mulai berkutat di dapur. Dengan cekatan ia mengolah bahan untuk dijadikan masakan. Aromanya yang sedap menguar sampai ke ruang tengah yang berada di depan dapur, di sebelah ruang makan. Entah apa yang perempuan itu masak, tapi dari aromanya seperti sup iga, dan itu sungguh membuat perut keroncongan.
Hasna memasak sup iga kesukaan Rama, juga membuat red velvet untuk camilan.
Hampir pukul lima, Hasna selesai dengan rutinitasnya. Hanya tinggal menunggu red velvetnya matang. Dan bersiap untuk mandi.
Tak lama perempuan itu keluar dari kamarnya, dia kelihatan lebih segar sehabis mandi. Dengan pakaian rumahan juga jilbab instan, ia terlihat cantik walau tanpa polesan make up di wajahnya.
Perempuan itu memeriksa cake buatannya. Ternyata sudah matang sempurna.
Sekali lagi, perut Rama meronta hanya karena mencium aroma kue yang baru dikeluarkan dari oven. Sungguh wangi.
"Masih hangat, semoga Mas Rama suka." Hasna meletakkan sepiring kue kesukaan suaminya diatas meja.
"Kata Mama dan Nayla, Mas Rama suka dengan red velvet. Semoga rasanya pas di lidah Mas Rama, ya." Hasna akan beranjak, namun suara suaminya menginterupsi langkahnya.
"Tunggu. Tolong bantu saya bersih-bersih."
Hasna menoleh dan mengerutkan keningnya. Bersih-bersih apa yang dimaksud Rama. Bukankah ia baru saja membersihkan rumah, walau hanya lantai satu juga depan kamar lantai dua.
"Bantu saya....membersihkan diri."
Ucapan Rama sukses membuat Hasna menahan nafasnya untuk sesaat. Selama di rumah sakit, rutinitas itu Rama lakukan dengan bantuan Anton. Dan sekarang, Rama meminta dirinya yang membantu?
"Apa kamu akan tetap diam di situ?"
Suara Rama membuat ia tersadar, dan mendapati suaminya sudah menaiki anak tangga terlebih dulu. Mau tidak mau, Hasna pun mengikuti suaminya.
Dan seperti sebelumnya, langkahnya terhenti tepat didepan pintu kamar Rama.
"Kenapa masih disitu? Masuklah."
Hasna diam, tak merespon ucapan suaminya. Tapi dari raut wajahnya, ia terlihat enggan melangkahkan kakinya, dan itu membuat Rama kesal.
Laki-laki itu menarik pergelangan tangan istrinya untuk masuk ke dalam kamar pribadinya. Hasna yang tidak siap, mau tidak mau, mengikuti langkah Rama hingga masuk ke dalam.
Perempuan itu terpaku melihat kamar yang ditempati suaminya, berbeda dengan kamar yang selama ini ia tempati. Kamar Rama kamar utama, sedangkan kamarnya adalah kamar tamu. Jelas nampak perbedaannya, dari ukurannya pun kamar Rama lebih luas, apalagi perabot yang ada di dalamnya.
__ADS_1
"Saya belum sholat ashar, bisakah kamu membantu saya sedikit lebih cepat?" Hasna tersentak dan menoleh pada Rama yang sudah berdiri di ambang pintu kamar mandi.
"A...apa... aku... ha...harus...ikut... ma...masuk... kedalam?" Ucapnya terbata. Jantungnya mulai berdetak tak karuan.
"Ya, tentu saja." Seketika wajah perempuan itu memanas, rona merah menghiasi kedua pipinya.
Ragu ia langkahkan kaki, mendekat pada suaminya. Rama mulai melangkah masuk kedalam kamar mandi, dengan Hasna berada dibelakangnya.
"Bismillah, aku bisa. Ini adalah salah satu baktiku pada suami. Semoga menjadikan ladang pahala untukku."
Rama menunggu reaksi istrinya sesaat setelah berada di dalam kamar mandi berdua. Sebenarnya ia juga sangat gugup melakukan rutinitas yang biasanya ia lakukan sendiri, dan kini dengan bantuan Hasna.
Hasna mulai mendekat, membuka arm Sling yang menopang lengan suaminya. Dengan tangan yang bergetar, ia mulai membuka kancing kemeja yang dikenakan Rama satu persatu.
Jangan tanyakan lagi bagaimana detak jantungnya yang mulai tak beraturan. Rama pun sama, detak jantungnya mulai menggila, saat pakaiannya terlepas sempurna, melewati kedua tangannya.
Hasna menunduk dalam saat kedua netranya tak sengaja melihat tubuh bagian atas suaminya yang sudah tak tertutup pakaian. Berulang kali menghirup nafas dalam, berusaha mengontrol degup jantungnya. Apalagi kini aroma tubuh Rama menguar memenuhi indera penciuman Hasna. Membuat perempuan itu semakin gelisah.
Ditengah kekacauan degup jantungnya, Rama menarik kedua sudut bibirnya membentuk lengkungan ke atas dengan sempurna. Reaksi alami yang ditunjukkan Hasna saat melihat tubuhnya, sungguh menggemaskan dimatanya. Rupanya istrinya itu sangatlah lugu.
"Ehem...sebaiknya tunggulah di luar." Seketika Hasna mengangkat kembali kepalanya yang semula tertunduk.
"Apa kamu akan membantu saya mandi juga?" Goda Rama dengan ekspresi datar.
Hasna menggelengkan kepalanya cepat, dan bergegas keluar dari kamar mandi, membuat senyuman diwajah tampan Rama lebar sempurna.
Hasna berjalan menuju walk in closet yang bersebelahan dengan kamar mandi. Disana ada beberapa lemari yang berjajar, sudah tertata rapi pakaian sesuai dengan jenisnya, banyak sekali.
Perempuan itu memilihkan pakaian yang sekiranya nyaman untuk suaminya kenakan. Rama terbiasa memakai celana pendek sebatas lutut jika berada di rumah. Maka ia ambilkan kemeja rumahan dan celana pendek.
Cklek
Rama keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk yang dililitkan sebatas pinggangnya. Refleks Hasna membelakangi suaminya itu.
Cobaan apalagi ini, rutuknya dalam hati. Jantungnya kembali berdegup lebih kencang dari sebelumnya. Perempuan itu terlihat gelisah, dengan meremas jari jemarinya.
"Pakaian saya?" Tanya Rama.
"A...ada di atas ranjang." Ucapnya terbata dengan menunjuk ke arah ranjang.
Rama mengambil pakaiannya, tapi tak menemukan apa yang ia cari. Hanya kemeja pendek juga celana pendek selutut.
"Dalaman saya, mana?"
Pertanyaan Rama seketika membuat Hasna menoleh ke arah suaminya dengan mata yang membola sempurna.
"Apa saya hanya memakai baju juga celana, tanpa dalaman?"
Pertanyaan yang sukses membuat perempuan itu dilanda kegugupan luar biasa.
"Tolong kamu ambilkan, ada di lemari paling ujung dekat tempat kaos."
Tiba-tiba saja pikirannya menjadi kosong, membuat Hasna tak bisa bertindak cepat.
"Hasna?"
__ADS_1
"I...iya, sebentar."
Gegas ia ambilkan barang yang diminta suaminya. Mencari ditempat yang telah ditunjukkan Rama. Saat membukanya, kenapa tiba-tiba dia jadi grogi melihat pakaian dalam yang tersusun rapi. Dengan tangan bergetar ia ambil salah satu dari barang itu. Dan segera memberikannya kepada Rama.
Rama membuang muka sambil tersenyum geli melihat tangan istrinya bergetar Raat menyerahkan pakaian dalam miliknya.
"Apa kamu_"
"Tidak, aku akan bantu mas Rama saat memakai baju nanti. Yang ini silahkan mas Rama belajar sendiri." Tolak perempuan itu.
Lagi-lagi Rama membuang muka menahan tawa. Belum selesai ia mengucapkannya tapi justru istrinya memberi penolakan terlebih dulu.
Rama duduk ditepi ranjang, berusaha memakai benda yang baru saja Hasna ambilkan. Sedangkan istrinya memunggungi dirinya karena malu.
"Kemarin kamu membantu saya melepaskan celana saya yang basah dan menggantikannya dengan yang kering. Tapi kenapa sekarang kamu tidak membantu saya memakai_."
"Itu karena aku tidak mau Mas Rama sampai demam. Dan juga aku membayangkan jika kakek yang aku gantikan pakaiannya."
Sial, jawaban Hasna sungguh menjatuhkan harga dirinya. Hasna menyamakan dirinya dengan almarhum kakeknya? Jadi kemarin saat perempuan itu membantu dirinya, istrinya itu membayangkan jika ia tengah merawat kakeknya?
"Maksud kamu apa? Apa kamu ngatain saya jika saya sudah tua?" Nada bicara Rama terdengar ketus, membuat Hasna seketika membalikkan badannya.
"Bu...bukan, maksud aku, selama ini hanya kakek laki-laki yang pernah aku gantikan pakaiannya saat beliau sakit." Hasna mencoba memberikan alasan yang tidak menyinggung perasaan suaminya.
"Pacar kamu? Maksud saya bagaimana dengan mantan pacar kamu?"
Rama ingin tau bagaimana istrinya dulu saat berhubungan dengan lawan jenis. Karena saat melihat Hasna menggantikan pakaiannya, istrinya itu salah tingkah. Apakah memang ia tak pernah ada kontak fisik dengan lelaki yang dulu pernah berhubungan dengannya.
"Aku tidak pernah punya pacar."
Terdengar tawa kecil meremehkan keluar dari bibir Rama. Sungguh, lelaki itu tidak percaya.
"Aku punya hubungan dengan laki-laki pertama kali itu dengan Mas Rama."
Benarkah seperti itu? Bahkan dirinya dulu ditinggalkan perempuan yang sangat ia cintai saat masih memiliki hubungan dengannya. Sungguh meragukan sekali.
"Kalau sudah tidak memerlukan bantuan, aku akan keluar."
Hasna tau jika Rama meragukan dirinya. Tapi ia tak perlu menunjukkan bukti kebenaran ucapannya. Sekuat apapun alasan yang diberikan, tak akan mampu mengalahkan prasangka pada seseorang. Jadi biarlah waktu yang akan menjawab.
"Tunggu, bantulah saya memakai pakaian. Saya butuh bantuan."
Hasna mengurungkan niatnya yang akan membuka pintu kamar.
Perempuan itu membantu Rama memakai pakaian yang tadi ia siapkan. Mengancingkan baju dengan wajah yang tertunduk malu. Malu menatap tubuh kekar suaminya.
Rama memperhatikan ekspresi wajah istrinya amat-lamat. Perempuan itu sangatlah cekatan saat melakukan pekerjaan rumah, tapi saat membantunya memakai pakaian, tiba-tiba saja perempuan itu kehilangan fokusnya.
"Sudah selesai. Aku ke bawah dulu."
Hasna memunguti pakaian kotor suaminya, dan membawanya turun ke bawah. Selama ini Rama menggunakan jasa laundry untuk cuci setrika pakaiannya. Tapi kini, Hasna yang akan melakukannya.
Rama menghembuskan nafas kasar. Sekarang ia akan berusaha memakai celananya sendiri. Istrinya itu sepertinya tersinggung dengan respon yang ia berikan barusan.
***
__ADS_1