
Hari ini, hari pertama Rama untuk ke kantor kembali. Setelah dua minggu lamanya ia absen. Tidak terbayang berapa banyak pekerjaan yang akan menyambutnya pagi ini. Apalagi ia sempat mengatakan kepada Ivan jika ia tidak perlu datang kerumah untuk mengantarkan berkas. Cukup kirim via email untuk di cek dan di pelajari. Sudah dapat dipastikan, tumpukan berkas akan tertata rapi di atas meja kerjanya.
Sebenarnya bukanlah itu tujuan Rama. Tujuan terpentingnya adalah, supaya Ivan tidak terlalu sering berinteraksi dengan Hasna. Jika memikirkan itu, tiba-tiba saja moodnya akan memburuk.
Hasna membantu Rama bersiap. Ia membantu membetulkan simpul dasi di leher suaminya. Hanya mengenakan kemeja pendek agar lebih mudah bergerak. Untung saja saat kontrol kemarin, kondisi bahu Rama sudah membaik, dan sudah mulai bisa sedikit digerakkan. Dokter juga mengatakan jika proses penyembuhan Rama akan lebih cepat. Akan tetapi dokter tetap menyarankan agar tetap memakai arm Sling supaya tidak terjadi cidera yang lebih.
Rama menatap lekat wajah perempuan di hadapannya. Tangannya begitu terampil membetulkan simpul dasi yang melilit lehernya.
"Kamu sering membetulkan simpul dasi?" Hasna menghentikan gerakannya, sedikit mendongak untuk bisa melihat ke arah suaminya.
"Tidak." Hasna kembali membetulkan simpul di leher Rama, dan merapikannya.
"Selesai." Perempuan itu tersenyum.
Hasna mengambilkan jas yang tersampir di ujung ranjang, dan membawakannya untuk Rama.
"Ayo, sarapan dulu." Ucap Hasna.
Rama mengekori Hasna turun ke meja makan. Seperti biasa Hasna menyuapi Rama bergantian dengannya. Kini mereka tetap makan di piring yang sama, tanpa drama seperti sebelumnya.
"Nanti siang makan saya bagaimana?" Tanya Rama di sela kunyahannya. Hasna menghentikan suapannya.
"Bagaimana, maksudnya?"
"Apa harus saya meminta Ivan untuk menyuapi saya?" Rama sedikit memancing Hasna, ingin tau bagaimana tanggapan istrinya itu.
"Mas Rama mau Hasna ke kantor?" Hasna balik bertanya.
Selama ini Hasna tidak pernah tau dimana kantor Rama, mungkin hari ini ia akan mengetahuinya setelah mengantarkan suaminya nanti.
"Kalau kamu tidak keberatan." Jawabnya pendek.
"Baiklah, nanti aku akan ke sana." Rama bersorak dalam hati, semudah itu istrinya ditaklukkan. Benar-benar istri penurut.
Tapi seketika Hasna teringat ucapan Rama saat mengenalkan dirinya sebagai kerabat jauh Papa mertua. Ia tidak mau hal itu menjadi masalah nantinya.
"Tapi, apa tidak akan jadi masalah, jika seandainya aku sering ke kantor Mas Rama saat makan siang?" Tanya Hasna.
"Maksudnya?" kenapa harus jadi masalah, pikir Rama.
Hasna berdehem kecil untuk melegakan kerongkongan yang terasa tercekat.
"Mereka kan taunya, aku...kerabat jauh Papa." Ucap Hasna lirih di akhir kalimatnya.
Disaat Rama memikirkan Ivan yang akan mendekati Hasna, justru istrinya mengingatkan akan ucapannya saat itu.
"Maaf, waktu itu...saya belum siap dengan status hubungan kita." Ucap Rama.
Kenapa hubungannya serumit ini. Di saat dia dan Hasna mulai dekat, ada saja hal yang membuat mereka berjarak. Rama jadi menyesali ucapannya kala itu, jika pada akhirnya akan seperti ini jadinya. Seolah dia belum bisa menerima Hasna.
"Tidak papa, semua memang butuh waktu." Hasna menunduk lesu.
Rama meraih jemari Hasna di atas meja, membuat perempuan itu menatap ke arahnya.
"Kita akan adakan resepsi, setelah keadaan saya benar-benar pulih. Apa kamu tidak keberatan?" Tanya Rama hati-hati. Ia tak mau jika mereka sampai bertengkar lagi seperti sebelumnya jika membahas hal ini.
"Saya tidak memaksa kamu, hanya saja saya ingin memperkenalkan kamu sebagai istri saya kepada mereka." Ucapnya meyakinkan.
Hasna menatap lekat laki-laki dihadapannya itu. Dia bahagia, jika Rama mengakui dirinya sebagai istri. Mungkin ini yang terbaik.
"Bagaimana? Semua terserah kamu." Ucap Rama.
Hasna perlahan mengangguk. Membuat senyuman terbit di kedua sudut bibir Rama.
"Nanti kita bahas lagi masalah ini. Sekarang saya mau ke kantor. Nanti keburu macet." Ucap Rama.
"Ya sudah, aku bereskan ini dulu di dapur. Mas Rama tunggu di depan saja." Ucap Hasna.
Hasna membersihkan sisa makanan mereka di dapur. Untuk sementara, pekerjaan rumah tidak bisa ia kerjakan seperti sebelumnya, karena ia harus segera mengantarkan Rama ke kantor.
***
__ADS_1
Mobil Hasna berhenti tepat di depan lobi kantor Rama. Hasna mengamati sekeliling, kantor suaminya itu besar sekali.
"Saya berangkat kerja dulu, kamu hati-hati." Hasna menganggukkan kepalanya.
Beberapa detik Rama tak kunjung keluar mobil. Membuat Hasna menatapnya heran. Mungkin suaminya itu menunggu ia bukakan pintu.
Hasna melepaskan seat belt yang ia pakai, dan hendak melakukan pula pada Rama.
Cup
Satu kecupan mendarat di kening perempuan itu saat ia hendak membantu Rama membuka seatbelt nya.
Hasna terdiam di posisinya. Jantungnya berdetak tak karuan mendapatkan kejutan itu secara tiba-tiba.
"Nanti siang kemarilah, saya tunggu kamu."
Ucapan Rama membuatnya kembali mendapatkan kesadarannya.
"Terima kasih. Hati-hati."
Rama turun dari mobil. Entah kapan laki-laki itu melepaskan seatbelt nya, tau-tau sudah turun saja.
Hasna menatap punggung lebar suaminya yang semakin menjauh. Laki-laki itu benar-benar tidak bisa ditebak. Kemudian kembali melajukan mobil meninggalkan kantor Rama menuju restoran.
***
Senyuman tipis tersungging di kedua bibir Rama. Sepertinya mood laki-laki itu sedang baik pagi ini. Bahkan sapaan karyawannya ia jawab dengan senyuman, tidak seperti biasanya yang selalu acuh dan memasang wajah dingin.
Rama berpapasan dengan Ivan saat di depan lift khusus yang biasa ia gunakan.
"Selamat pagi, Pak." Sapa Ivan.
"Pagi." Jangan lupakan senyuman itu, mood Rama benar-benar baik kali ini.
Ekspresi Rama sukses membuat Ivan mengangkat ke dua alisnya. Tumben sekali Bos nya itu bersikap demikian.
Keduanya menaiki lift yang sama dan sempat berbincang mengenai pekerjaan yang Ivan handle dua minggu belakangan ini. Keduanya berjalan beriringan hingga sampai di depan ruangan Rama.
Laki-laki itu selalu sempurna di matanya. Bahkan cidera yang membuat Rama memakai arm Sling dan hanya menyampaikan jas di kedua pundaknya, sungguh membuatnya semakin menawan.
"Selamat pagi, Pak." Sapanya ramah.
"Pagi."
Rama memberikan senyumannya, dan itu membuat Marissa salah tingkah. Rupanya perempuan itu salah mengartikan senyuman yang Rama berikan. Ia mengira Rama sudah mulai tertarik padanya.
Pandangan matanya tak lepas dari lelaki yang berstatus sebagai bos nya itu. Bahkan ia tak mengalihkan pandangannya dari pintu ruangan Rama yang telah tertutup rapat.
***
Hasna baru saja sampai restoran. Jam masih menunjukkan pukul sembilan pagi, masih ada satu jam untuk buka.
"Assalamu'alaikum." Ucap Hasna yang baru masuk ke dalam restoran.
Perempuan itu langsung menuju lantai dua tempatnya bekerja. Masih ada sisa pekerjaan yang belum sempat di selesaikannya.
"Mbak Hasna." Panggil Mila, salah satu pegawainya.
"Iya, Mil?" Hasna mengurungkan niatnya naik ke lantai dua.
"Kemarin ada yang cari Mbak Hasna." Ucap Mila.
"Siapa?" Tanya Hasna.
"Katanya sih pihak notaris yang akan membantu untuk mengurus akta jual beli tanah yang akan Mbak beli." Jawab Mila.
"Astaghfirullah, saya lupa kalau notaris akan datang kemari." Hasna menepuk pelan keningnya.
Hasna benar-benar tidak mengingat jika ada janji temu dengan notaris. Dua minggu ini ia benar-benar sibuk mengurus Rama.
"Ya udah, makasih ya, Mil. Nanti akan saya hubungi mereka."
__ADS_1
"Iya Mbak sama-sama."
Hasna merogoh ponsel yang ada di dalam tasnya. Menanyakan perihal akta jual beli tanah yang akan ia jadikan restoran berikutnya.
"Iya, Pak. Mohon maaf sebelumya, dan saya ucapkan banyak terima kasih karena pihak bapak sudah berkenan membantu saya. Dan maaf, saya tidak sempat bertemu langsung dengan bapak. Tapi insyaallah saya akan usahakan untuk segera meninjau lokasi, agar surat-suratnya segera bisa di urus." Ucap Hasna melalui sambungan telepon.
"Sekali lagi terima kasih atas bantuan bapak. Semoga semuanya berjalan dengan lancar. Kalau begitu saya tutup dulu teleponnya, assalamu'alaikum." Hasna mengakhiri percakapannya di telepon.
Hasna memijit pelan keningnya. Sekarang hanya perlu minta izin pada suaminya untuk ke luar kota. Tapi jika ia meninggalkan Rama, bagaimana suaminya itu akan mengurus dirinya sendiri. Karena selama ini, Rama bergantung pada Hasna.
Tapi apa salahnya juga mencoba. Siapa tau Rama mengizinkan. Semoga saja.
***
Hasna menyiapkan beberapa kotak makanan yang akan ia bawa ke kantor Rama. Masih ada satu jam sebelum jam makan siang. Sepertinya ia bisa mampir dulu di toko kuenya.
Gegas ia pergi meninggalkan restoran. Jangan sampa jika Rama menunggunya terlalu lama.
***
Ivan baru saja menyelesaikan tugasnya, mendampingi Rama memeriksa laporan dan membantu untuk membubuhkan tanda tangan.
"Apa Bapak mau saya pesankan makan siang?" Tawar Ivan setelah selesai membereskan berkas di meja Rama.
"Tidak, terima kasih. Kamu boleh keluar." Tolaknya.
"Baik, Pak." Ivan meninggalkan ruangan Rama.
Ivan menatap heran pada Marissa yang berdiri diambang pintu ruangan Rama yang baru ia buka. Apa dia ada kepentingan?
"Maaf, Pak Ivan, apa Pak Rama tidak keluar untuk makan siang?" Tanya Marissa.
Ivan mengernyitkan keningnya. Menatap Marissa penuh selidik.
" Tidak, kenapa?" Tanya Ivan.
Belum sempat menjawab pertanyaan Ivan, perhatian mereka tertuju dengan kehadiran Hasna.
"Assalamu'alaikum." Sapa Hasna ramah.
"Wa'alaikumussalam." Jawab Marissa dan Ivan bersamaan.
"Mbak Hasna?" Ivan tersenyum ramah kepada Hasna.
Marissa menatap Ivan jengah, pasalnya laki-laki itu selalu jutek saat berbicara dengannya. Tapi pada Hasna, air mukanya berubah 360 derajat. Ramah sekali.
"Ada perlu apa?" Tanya Ivan.
"Saya mau mengantarkan makan siang buat Mas Rama. Apa dia ada di dalam?" Hasna mengangkat sedikit paper bag ditangannya.
"Iya, Pak Rama di dalam." Jawab Ivan pendek.
"Maaf, makan siang buat Pak Rama, biar saya saja yang mengantarkan ke dalam." Marissa hendak mengambil paper bag dari tangan Hasna.
"Hasna?"
Gerakan tangan Marissa terhenti saat mendengar suara Rama. Laki-laki itu tiba-tiba muncul dari balik pintu ruangan yang semula tertutup rapat.
Rama keluar ruangan saat mendengar suara berisik dari luar. Tadi Hasna sempat mengabarkan pada Rama jika ia sudah sampai di lobi kantor. Rama meminta agar ia langsung naik ke lantai tujuh menuju ruangannya.
"Masuklah."
Rama menggeser sedikit tubuhnya, agar Hasna segera masuk ke dalam ruangannya.
"Kenapa kalian masih di sini?" Tanya Rama dingin.
"Saya permisi, Pak." Ivan undur diri.
"Saya juga, Pak. Permisi." Ucap Marissa yang kemudian mengekori Ivan sampai di depan lift.
Rencana PDKTnya gagal kali ini, karena Hasna tiba-tiba datang. Padahal dia berniat untuk menawarkan makan siang pada Rama. Mumpung ada kesempatan, siapa tau dia berkesempatan untuk menyuapi Rama juga. Tapi semuanya gagal dan membuat ia kecewa.
__ADS_1
***