Bidadari Penghapus Luka

Bidadari Penghapus Luka
Bab 172


__ADS_3

"Mas Kevin?"


Kevin menghentikan langkahnya. Hasna, perempuan itu berdiri tak jauh dari tempatnya saat ini. Disaat semua orang mengatakan pangling dengan penampilannya, tapi Hasna? Bahkan perempuan itu langsung bisa mengenalinya.


"Assalamu'alaikum, Hasna." Sapa kevin. Hasna selalu nampak anggun di matanya.


"Wa'alaikumussalam. Kata Mas Rama, Mas Kevin ada di Singapur?" Hasna mendekat dengan menggendong putranya yang baru saja ia mandikan.


"Iya, benar. Aku menetap di sana kurang lebih selama tujuh bulan. Dan baru sampai kemarin malam, setelah Rama mengirimkan foto pangeran kecil ini kepadaku." Sekali lagi Kevin mencolek dengan gemas hidung mungil itu.


"Selamat, Hasna, atas kelahiran putra pertama kalian." Ucap Kevin.


"Terima kasih. Duduk dulu, Mas. Ma, nitip sebentar, ya." Hasna menyerahkan bayinya pada Bu Diana.


"Mau kemana?" Tanya Bu Diana.


"Ke depan sebentar, panggil Mas Rama." Hasna segera berlalu, meninggalkan Kevin dan ibu mertuanya.


"Boleh, saya gendong, Tante?" Ucap Kevin. Ia begitu gemas dengan bayi mungil itu.


"Tentu saja."


Kevin duduk lebih dekat dengan Bu Diana. Dengan senyuman yang mengembang dan tangan yang gemetar, ia menerima bayi mungil dan membawanya dalam pelukan.


"Tetap pertahankan posisinya, tahan kepala dan punggungnya. Nah yang ini, tahan bokoongnya." Bu Diana memberikan instruksi pada Kevin yang menggendong cucunya.


Kevin mengikuti arahan Bu Diana. Sejenak ia memandang wajah tampan lelaki kecil dalam dekapannya. Perpaduan sempurna wajah kedua orang tuanya.


"Sudah cocok itu." Ucap Rama yang baru saja masuk bersama Hasna.


"Kapan ada Kevin junior?" Lanjut Rama.


"Nunggu ibunya ada dulu lah." Jawab Kevin sekenanya.


"Cepetan halalin lah."


"Nggak ada yang mau di halalin." Ucap Kevin tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah bayi dalam dekapannya. Bu Diana dan Hasna tak sengaja saling berpandangan.


"Silahkan, Bu." Ucap salah satu ART yang membawakan minuman serta camilan untuk mereka. Syukurlah, ada hal yang mengalihkan topik pembicaraan sebelumnya.


"Makasih ya, Mbak. Nak Kevin, minum dulu." Ucap Bu Diana.


"Sebentar, Tante. Nanggung." Kevin berkali-kali mencium dengan gemas makhluk mungil itu. Seolah menjadikan kesenangan tersendiri baginya.


"Apa aroma tubuh bayi sama semua seperti ini?"

__ADS_1


"Aku rasa, iya. Karena mereka masih belum bisa lari dan angkat beban seperti kita." Jawab Rama asal.


"Kamu wangi sekali." Ucap Kevin pada bayi Hasna, dan kembali menciumnya berkali-kali.


"Ups...dia nangis. Kamu marah ya...maafin Om, ya. Habisnya Om gemes banget sama kamu." Hasna dan Rama berdiri menghampiri Kevin, dan meminta putra mereka.


"Sudah waktunya mengisi energi jagoan." Ucap Rama pada putranya. Ia mengambil bayi itu dari tangan Kevin, lalu memberikannya kepada Hasna.


"Masuklah." Hasna segera membawa putranya masuk ke kamar mereka.


Mereka semua menikmati suguhan dan berbincang ringan. Kecuali Hasna yang kembali ke dalam kamar bersama putranya, karena harus memberikan ASI.


***


Para tamu berdatangan, juga para anak yatim yang mereka undang dari dua panti asuhan yang berbeda. Semenjak Hasna menjadi bagian dari keluarga Suryanata, di setiap ada acara, mereka selalu mengundang anak-anak dari panti asuhan. Setelahnya, mereka akan berbagi dengan mengirimkan bahan makanan ke panti jompo juga kaum dhuafa yang dekat dengan kediaman mereka.


Acara doa bersama, juga serangkaian acara lainnya menjadi bagian dari acara sore hari ini. Lalu di tutup dengan santunan pada anak-anak yatim yang hadir.


Reynand Arvi Suryanata, nama yang disematkan untuk putra kecil mereka. Sebuah nama yang terselip doa Rama dan Hasna untuk buah hatinya.


Para tamu meninggalkan kediaman Suryanata setelah jamuan yang mereka nikmati usai acara. Hanya menyisakan keluarga inti, keluarga Ivan, Tania, juga Kevin, yang berada di ruang tamu dan ruang tengah.


Seluruh ART, dan pegawai Hasna yang terlibat dalam acara sedang menjalankan tugas terakhir mereka.


"Jadi, apa nama panggilan untuk pangeran kita? Reynand atau Arvi? Atau kalian akan merahasiakannya lagi hingga tamu pulang semuanya?" Tanya Kevin.


"Reyn? Hujan? Unik sekali, Pak." Ucap Tania. Perempuan itu datang bersama suami juga putranya.


"Bukan, Reyn bukan hanya bermakna hujan. Tapi Reyn kami, Reynand, keputusan yang kuat. Dia akan menjadi seorang pemimpin yang akan bijak dalam mengambil keputusannya kelak." Ucap Rama.


"Lalu Arvi? Apa artinya?" Sahut Kevin.


"Arvi... Raja elang. Dia akan tumbuh menjadi laki-laki yang tangguh. Karena semenjak dalam kandungan, ia sudah menunjukkan jika ia mampu bertahan dalam kondisi ibunya saat itu." Jawab Rama, lalu menatap Hasna yang berada di sampingnya dengan tatapan penuh cinta.


"Terima kasih, Sayang. Kamu telah menghadirkan dia diantara kita." Ucap Rama.


"Berhentiiii..." Pekik Nayla tepat saat Rama akan mendaratkan ciumannya. Entah itu di pipi, kening, atau bahkan di bibir Hasna. Dan tindakan Nayla sungguh membuat yang lain terkejut.


"Nay, pelankan suaramu." Peringat Ivan yang berada tepat di sampingnya. Laki-laki itu spontan menutup telinganya. Rasanya telinganya berdengung karena teriakan gadis tengil itu.


"Kalau udah gini nggak bisa selow lagi. Minta di gaspol. Kak Rama kebiasaan deh, nggak tau tempat banget. Ini kita masih ngumpul ya, sensor dikit napa. Jangan disamain pas kalian ada di kamar." Kesal Nayla.


"Tau nih, diantara kita masih ada yang jomblo ya." Sahut Kevin yang melirik Ivan.


"Kenapa Pak Kevin hanya melirik ke arah saya? Nayla juga jomblo, Pak. Termasuk komunitas kita juga." Celetuk Ivan.

__ADS_1


"Benarkah?"


"Kak Ivan jangan mulai, ya."


"Sesama anggota, dilarang saling menyakiti, mencubit misalnya." Ucap Ivan saat Nayla bersiap memberikan cubitan di lengannya. Lantas laki-laki itu merangkul pundak Nayla.


"Harus saling mendukung, oke, Nay." Lanjut Ivan.


"Kak Ivan kira, kita pasangan yang maju dalam pemilu, pakek minta dukungan segala? Jangan lupa coblos nomer dua, gitu?." Ucap Nayla dengan gaya layaknya tengah berkampanye.


"Ya anggap saja begitu."


Ocehan Nayla dan Ivan sungguh membuat suasana menjadi ramai. Bahkan membuat mereka tertawa, hingga tangisan Reyn membuat mereka terdiam.


"Maaf tuan muda, bukan saya yang memulai. Tapi bibi anda yang rempong ini." Ucap Ivan.


"Enak aja, bibi rempong." Nayla berhasil memberikan cubitannya di tangan Ivan yang melingkari pundaknya.


"Udah rempong, galak lagi." Gumam Ivan, seraya mengusap bekas cubitan Nayla di tangannya, yang menyisakan warna merah.


Rama segera mengambil alih sang putra dari dekapan Hasna. Rupanya laki-laki itu mulai lihai menggendong bayi. Gerakannya pun terlihat sangat cekatan.


Rama menimangnya dalam dekapan hingga tangis putranya mulai reda.


"Ada apa? Kok sampai nangis? Kedengeran loh sampai sini?" Tanya Bu Diana, saat Rama membawa Reyn ke ruang tamu.


"Nggak papa, Ma. Cuma kaget denger kita ketawa." Ucap Rama.


Bu Rosita berdiri dan menghampiri Rama.


"Boleh saya menggendongnya sebentar?" Tanya Bu Rosita.


"Tentu saja, silahkan." Ucap Rama.


Rama sangat berhati-hati saat memindahkan putranya pada Bu Rosita. Rupanya bayi itu kembali terlelap.


"Tampan sekali." Puji Bu Rosita.


Wanita paruh baya itu menggendong Reyn dengan penuh hati-hati.


"Rasanya kaku sekali, terakhir gendong bayi sekecil ini waktu Kevin masih bayi. Hampir dua puluh delapan tahun yang lalu." Ucap Bu Rosita.


"Pemanasan dulu, Tante, sebelum nanti menggendong cucu dari Kevin." Ucap Rama.


Bu Rosita hanya tersenyum mendengar ucapan Rama. Karena putranya masih belum bisa membuka hatinya untuk perempuan lain. Bu Rosita berharap sekali jika Kevin segera dapatkan pengganti Hasna.

__ADS_1


***


__ADS_2