
Hasna melajukan mobilnya meninggalkan kantor Rama. Sesuai arahan, mereka akan ke salah satu pusat perbelanjaan untuk membeli barang yang Rama inginkan. Tak memberitahu apa dan di mana ia akan membeli barang. Membuat Hasna berjalan mengekor di belakangnya.
Rama berhenti secara tiba-tiba, membuat Hasna ikut menghentikan langkahnya.
"Saya kemari mengajak istri saya, bukan asisten saya. Kenapa kamu malah berjalan di belakang saya?" Ucapnya pada Hasna.
Perempuan itu melangkah mendekat di samping Rama. Seperti biasa Rama menggamit tangan kanan Hasna agar tetap berjalan disisinya.
"Tidak perlu melotot. Kita sudah berkali-kali melakukannya." Tanpa menoleh Rama mengatakan hal itu.
Hasna segera tersadar akan hal itu. Perlakuan Rama selalu membuatnya terkejut. Mungkin dia harus berusaha membiasakan diri setelah ini.
Keduanya melangkah hingga masuk ke dalam sebuah toko perhiasan. Tak bertanya, Hasna mengikuti kemana Rama pergi.
"Tolong tunjukkan koleksi cincin pernikahan terbaik di toko ini." Ucap Rama pada salah seorang pramuniaga di sana.
Hasna sejenak menoleh ke arah Rama, jadi ini tujuan laki-laki itu mengajaknya kemari. Senyuman tipis tercetak di bibir perempuan berjilbab itu.
"Baik, mari ikuti saya, Pak." Jawab perempuan berseragam di toko itu.
Keduanya mengikuti pramuniaga hingga di depan sebuah etalase yang mendisplay koleksi cincin disana.
"Silahkan, Pak. Ini koleksi cincin terbaik kami." Pramuniaga itu menunjukkan beberapa koleksi terbaik mereka.
"Pilihlah mana yang paling bagus menurut kamu." Ucap Rama pada Hasna.
Hasna melihat satu persatu cincin dalam kotak beludru di hadapannya. Pilihannya jatuh pada cincin dengan model yang begitu simpel namun elegan. Cincin dengan hiasan batu safir biru yang berada di bagian bawah berlian yang menghias melingkari cincin, menarik perhatian Hasna. Sungguh cantik sekali.
"Saya mau yang ini." Tunjuk Hasna.
"Selera Mbaknya bagus sekali. Ini limited di toko kami. Baru datang dan hanya satu." Kata pramuniaga itu.
Hasna hendak mengambil cincin yang dipilihnya, namun Rama lebih dulu mengambilnya.
"Biar saya saja."
Hasna mengulurkan tangan kanannya pada Rama. Laki-laki itu memasangkan cincin di jari manis Hasna. Pas sekali ukurannya, dan cantik seperti yang memakai.
Rama sekilas memperhatikan wajah istrinya, nampak senyuman terbit di wajah cantiknya.
"Bisa bantu saya memasangkan cincin di jari saya?" Pinta Rama.
Hasna mengambil pasangan cincin miliknya dan memakaikannya di jari manis Rama.
"Kalau begitu, silahkan pembayarannya di sebelah sana ya, Pak." Pramuniaga itu mengarahkan keduanya pada kasir yang terletak di ujung kanan toko.
Rama segera menyelesaikan pembayarannya. Cukup fantastis harganya, namun sebanding dengan kualitas barangnya.
"Setelah ini kemana?" Tanya Rama saat mereka baru saja keluar dari toko perhiasan.
"Aku ikut Mas Rama saja." Jawab Hasna.
"Bisa tolong lepaskan dasi saya?" Pinta Rama.
Hasna membantu Rama melepaskan simpul dasi di lehernya, serta membuka satu kancing kemeja bagian atas yang Rama kenakan.
Hasna menatap Rama beberapa saat sebelum memasukkan dasi kedalam tasnya. Suaminya itu selalu tampan di matanya.
"Hai cantik." Terdengar seseorang yang menyapa di dekat Hasna.
Orang itu mendekat, dan
"Hasna, kan?" Laki-laki itu mengarahkan telunjuknya pada Hasna.
"Astaghfirullahal'adzim, kenapa harus bertemu dia di sini?"
Hasna menoleh pada suaminya. Sudah bisa dipastikan jika laki-laki itu sedang menatap pemuda yang baru saja menghampiri mereka dengan tatapan tidak suka.
__ADS_1
"Masih ingat kan sama aku?" Tanya pemuda itu.
Siapa yang tidak mengingat laki-laki yang berdiri dihadapan mereka saat ini. Tidak mungkin Hasna lupa. Dia satu-satunya laki-laki yang dengan terang-terangan menyatakan perasaannya, walau berkali-kali mengatakan bahwa dirinya telah menikah.
Rama masih diam menyimak. Dan memperhatikan laki-laki yang tengah berbicara pada istrinya. Siapa lagi laki-laki yang sok akrab dengan sang istri kali ini.
"Bian, teman kuliah Nayla." Akhirnya nama itu disebut juga.
Rama membulatkan matanya saat nama itu terucap. Jadi ini laki-laki itu, laki-laki yang menyebut istrinya sebagai "perempuan istimewaku" seperti yang pernah laki-laki itu tuliskan di kartu ucapan murahan untuk istrinya waktu itu. Hanya mengingatnya saja membuat darah naik ke ubun-ubun.
Rama mengamati laki-laki yang berdiri dihadapan istrinya. Tak bisa dipungkiri jika Bian lelaki yang cukup menarik. Dia tampan. Berperawakan tinggi tegap, berkulit bersih dan berpenampilan sedikit badboy, menjadi daya tarik tersendiri bagi laki-laki itu.
Rama menggamit pinggang istrinya, agar lebih mendekat ke arahnya. Seperti biasa, perlakuan Rama yang tiba-tiba selalu membuat Hasna sulit untuk bernafas.
"Kamu sudah terima kado yang aku titipkan lewat Nayla? Kemarin aku sempat nitip lagi tapi malah kena semprot sama dia. Kayaknya lagi sensi tuh anak." Cerocos Bian.
"Oh iya, kamu lagi nyari apa?" Sepertinya laki-laki itu tidak menghiraukan keberadaan Rama yang berada disisi Hasna.
"Ehem..."
Perhatian Bian teralihkan saat mendengar suara deheman Rama. Rupanya pemuda itu baru sadar jika Hasna tidaklah sendiri. Karena sedari tadi ia hanya fokus pada Hasna. Gadis yang ia incar belakangan ini.
"Dia siapa?" Bian mengarahkan dagunya pada Rama.
Sungguh tidak sopan.
"E...kenalkan ini_"
"Rama, SUAMI Hasna." Sahut Rama. Ia menekan kata suami saat mengucapkannya.
Tiba-tiba saja Hasna merasakan tenggorokannya mengering karena hawa panas sedang menyelimuti lelaki yang kini memeluk pinggangnya erat.
Bian memindai penampilan laki-laki yang tengah bersama Hasna itu. Postur tubuhnya hampir sama dengannya. Hanya saja penampilannya yang begitu rapi menjadi perbedaan di antara mereka. Rama juga terlihat lebih dewasa.
"Jangan bercanda, aku tau kalau kamu menghindari aku. Tapi jangan se ekstrim ini caranya." Masih sempat ia tertawa.
"Dia_"
Sialan sekali mulutnya. Mengatakan jika dirinya adalah om dari Hasna, istrinya. Penampilan Rama memang layaknya laki-laki dewasa penuh dengan kharisma. Mungkin menurut Bian, ia terlihat tua karena bulu-bulu halus di sekitar pipi dan rahangnya yang mulai nampak jelas.
"Hasna, kalau kita berjodoh, walau bagaimanapun cara kamu menghindar, takdir akan selalu mempertemukan kita. Seperti sekarang ini." Ucap Bian. Senyuman Bian sungguh memikat.
Makin pusing Hasna mendengar ocehan Bian.
"Bian dengarkan aku. Aku dan Nayla sudah pernah mengatakan ini sebelumnya sama kamu. Aku Perempuan bersuami, dan Mas Rama..." Hasna menoleh pada Rama yang masih menatap tajam pada Bian.
"Suami aku." Lanjutnya. Bian justru terkekeh mendengarnya.
"Sudahlah kamu jangan bohong lagi. Mana mungkin kamu mau menikah dengan laki-laki, maaf setua..." Tak menyebutkan siapa tapi pandangan matanya mengarah pada Rama.
Rahang Rama mengeras, bukan karena hinaan yang ia dapat tapi lebih kepada sikap Bian yang terang-terangan menunjukkan ketertarikannya pada Hasna.
"Lagian, kamu juga Nayla tidak bisa menunjukkan buktinya kan, kalau kamu_"
Ucapan Bian terhenti manakala Hasna mengangkat tangan kanan dan menunjukkan cincin pernikahan yang tersemat di jari manisnya.
Untuk beberapa saat mata Bian fokus pada cincin di jari manis Hasna. Lalu kemudian ia sadar jika sedari tadi laki-laki yang tengah bersama Hasna itu memeluk pinggang gadis pujaannya erat. Dan...cincin yang sama melingkari jari manis laki-laki itu.
"Tidak mungkin, kalian bercanda, kan?" Bian sedikit memaksakan senyumannya.
Akan bertambah panjang jika menjelaskan pada orang yang tidak bisa menerima kenyataan. Dan akan membuat Rama semakin emosi mendengarkan bualan dari laki-laki macam Bian.
Tanpa aba-aba Rama mencium bibir Hasna, tepat dihadapan Bian. Hanya menempelkannya untuk beberapa detik saja.
Jangan tanyakan lagi, bagaimana Hasna saat di posisi itu. Serasa lemas semua persendiannya. Jantungnya pun serasa akan meledak. Ini tempat umum, tidak seharusnya Rama melakukan hal itu. Terlepas status keduanya adalah pasangan suami istri yang sah, tapi tetap saja, ini tidak pantas dilakukan di tempat seterbuka ini.
Beberapa saat Bian merasa jika nyawanya terlepas dari raga. Perempuan yang ia harapkan menjadi belahan jiwanya kini telah dimiliki lelaki lain. Tidak mungkin perempuan seperti Hasna mau diperlakukan demikian dengan lelaki yang bukan pasangannya.
__ADS_1
Jadi selama ini memang benar apa yang dikatakan Nayla kepadanya? Selama ini dia berusaha meyakinkan hatinya jika Hasna perempuan bebas yang belum memiliki ikatan. Terlebih tidak ada bukti jika Hasna perempuan bersuami. Tapi detik ini, keyakinannya runtuh. Hatinya patah, dan cintanya hancur.
"Masih perlu bukti apa lagi kamu?" Ucap Rama dingin pada lelaki seusia adiknya itu.
Bian tak menjawab, hanya diam memperhatikan keduanya secara bergantian. Lidahnya kelu, bibirnya serasa kaku hanya untuk mengucap kalimat yang sudah berada di ujung lidahnya.
"Hasna istri saya, jadi jangan pernah kamu mengharapkan cinta dari perempuan bersuami." Ucap Rama tegas.
"Dan satu lagi, jangan pernah kamu mengirimkan apapun kepada istri saya."
Setelah mengatakan itu, Rama menggandeng tangan Hasna untuk segera pergi meninggalkan Bian seorang diri.
Bian melihat perempuan yang dia cintai pergi menjauh dengan seorang laki-laki yang berstatus sebagai suaminya. Bahkan perempuan itu tidak lagi menoleh ke arahnya. Hatinya benar-benar hancur.
"Hasna, kamu berhasil membuatku patah hati. Bukan hanya patah, namun hancur sudah."
***
Rama menggandeng Hasna hingga ke basement. Moodnya seketika hancur. Niatnya ingin mengajak Hasna menghabiskan waktu berdua seperti pasangan lainnya, malah gagal total gara-gara pertemuan yang tidak disengaja dengan salah satu pengagum berat istrinya.
Hasna langsung membuka pintu mobil, dan segera masuk ke dalam diikuti Rama. Emosi perempuan itu memuncak karena perlakuan Rama tadi. Bukan karena ciumannya. Bahkan mereka boleh melakukan hal lebih dari itu. Tapi ia tidak suka dengan sikap arogan Rama yang menciumnya di tempat umum.
Dia perempuan beragama, tidak sepatutnya mengumbar hal keintiman seperti itu di tempat umum. Namun ia juga harus menjaga wibawa sang suami. Bisa saja ia menolak bahkan mendorong Rama saat itu. Tapi tidak ia lakukan. Menjaga kehormatan Rama dihadapan laki-laki yang menyatakan rasa cintanya jauh lebih penting. Membuat ia tidak kuasa melakukan apa-apa.
"Aku tidak suka Mas Rama melakukan hal tadi di tempat umum." Akhirnya Hasna mengeluarkan unek-unek yang sedari tadi ditahannya.
"Melakukan apa maksud kamu?" Rama ingin istrinya itu memperjelas maksud dari ucapannya.
"Mencium aku di tempat umum." Hasna memperjelas maksud perkataanya.
"Jadi kamu lebih suka mendengarkan bualan lelaki itu, daripada pembelaan yang saya lakukan?" Sergah Rama.
Rama menganggap tindakannya adalah sebuah bentuk pembelaan atas status pernikahannya yang Bian sangsikan.
"Tapi tidak di tempat umum juga." Nada bicara Hasna mulai sedikit meninggi, mengimbangi Rama.
"Lalu kita harus mengajak laki-laki itu untuk masuk ke dalam kamar kita, dan menyaksikan bagaimana kita melakukannya, iya?"
"Tidak seperti itu juga." Emosi Hasna mulai ikut tak terkendali.
"Lalu seperti apa yang kamu mau? Laki-laki itu tetap mengejar cinta kamu?" Emosi Rama sudah sampai ke ubun-ubun dan mulai meledak-ledak.
"Aku tidak suka tindakan Mas Rama yang arogan. Menunjukkan kepemilikan Mas Rama dengan cara yang salah."
"Dimana letak kesalahan saya?" Rama menekan setiap perkataannya.
Ketegangan menyelimuti keduanya. Hasna yang biasanya bisa mengendalikan emosinya dengan baik, justru sekarang ikut hilang kendali.
Perempuan itu tidak menjawab. Hasna berusaha kembali mengontrol emosinya. Ia sadar ia hilang kendali. Bukannya membantu Rama menurunkan emosinya justru ia mengimbangi emosi Rama.
"Bahkan kamu tidak bisa menjawabnya. Tindakan saya sudah benar. Dan bisa saya pastikan jika laki-laki itu tidak akan pernah lagi mengejar kamu." Ucapa Rama membenarkan tindakannya.
Hasna masih tidak bisa menerima itu. Suaminya salah, ia berkewajiban untuk mengingatkannya. Tapi justru berujung pertengkaran.
"Terserah Mas Rama jika menganggap tindakan Mas Rama sudah benar. Tapi tidak menurut aku." Ucap Hasna datar
Rama menatap tajam perempuan yang berstatus sebagai istrinya itu. Pun dengan Hasna, yang menatap dengan tatapan tidak suka.
Hasna membuang pandangannya, menghindari tatapan sang suami. Untuk beberapa saat keduanya terdiam, larut dalam pikirannya masing-masing.
***
Bab ini aku up lebih awal sebagai ganti kemarin telat up gara-gara ketiduran, 😁🤭
semoga menghibur ya.
jangan lupa dukungannya buat Rama dan Hasna.
__ADS_1
Like, komen, vote, dan giftnya.
makasih❤️